Tiga orang sedang duduk di sebuah restoran mahal. Dia adalah Vielonica, Erlangga dan Aruna Ravendra adalah adik kandung Erlangga yang masih seusia Vielonica. Namun sepertinya mereka tak tertarik untuk memesan apapun untuk saat ini. Mereka masih saling terdiam berkutat dengan fikirannya masing-masing.
Dua orang kakak beradik Erlangga dan Aruna memandangi seorang gadis di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Vielonica yang di tatap seperti itu hanya terdiam seribu bahasa. Bak erdakwa yang siap dientrogasi Vielonica menunduk kan kepada menyembunyikan wajahnya di balik topeng cupunya.
Aruna menatap calon kakak iparnya lekat-lekat memindai setiap inci penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kacamata tebal yang bertengger di atas hidungnya agak melorot, rambut yang di kepang dua, pakaian yang kedodoran. Membuat Aruna tak percaya bahwa gadis di hadapannya ini adalah sekasih sang kakak. Erlangga yang sangat pemilih itu tak di sangga memiliki selera yang gak banget di mata adiknya.
"Di.. dia beneran kekasih mu kak..?" Dengan nada tidak percaya, Aruna bertanya kepada sang kakak.
"Ea. Dia Vielonica, calon kakak ipar mu" jawab Erlangga yang masih belom mengalihkan pandangannya dari Vielonica yang terlihat salah tingkah.
"Tapi kak, apa tidak salah.? Eh, maksudku dia tidak terlihat seperti tipe kakak loh?. Menurutku tidak mungkin gadis cupu ini yang menjadi kekasih kakakkan?" kata Aruna dengan bingung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Takut perkataannya menyinggung gadis di depannya. Apalagi sudah jelas-jelas barusan kakaknya mengakui kalau gadis cupu ini memang adalah kekasihnya.
"Tuk.!"
"Aduh!, Kakak sakit" cupan Aruna mengaduh, yang kepalanya kena toyor oleh Erlangga.
"Bukan tipenya, bukan tipenya. Emang kamu tau tipe aku seperti apa?. Anak kecil aja sok tau"
"Siapa yang anak kecil? Aku bukan anak kecil ya.." ketus Aruna yang tidak mau dibilang anak kecil.
"Kamu itu yang masih kecil…" jawab Erlangga sambil mencubit pipi adiknya gemes.
"Aduh, kakak! Jangan cubit pipi aku dong!. aku bukan anak kecil" teriak Aruna masih tidak terima di bilang anak kecil.
" Kamu yang masih kecil, Titik tidak pakek koma" jawab Erlangga.
"Kalau begitu kakak berpacaran sama anak kecil dong. Bukankah Vielonica itu masih seusia aku ya kak? Bahkan kakak bilang usia aku lebih tua satu Minggu dari kekasih Kaka itu. Kekasih kakak aja yang anak kecil aku tidak termasuk." Ucapnya sinis sambil menunjuk nunjuk si gadis cupu di hadapannya.
"Aruna, jaga bicaramu. Dia kakak ipar mu." Kata Erlangga mengingatkan.
"Ih… dasar om-om p*****l"
"Aruna…" teriak Erlangga, kesal pada mulut adiknya yang tidak ada saringannya itu. Aruna hanya memanyunkan bibirnya sambil menatap kakak iparnya yang menurutnya pendiam karena dari tadi hanya menonton live berdebatan sengit kakak beradika tampa menyela sedikitpun. Dia jadi berfikir, apa jangan-jangan kakak iparnya ini bisu. Kalau memang benar bisu, kasian kakaknya jadi kesulitan membangun komunikasi fikirnya. Sambil mendekat Aruna berbisik di telinga kakaknya.
" Kak, dari tadi aku tidak mendengar dia berbicara. Apa dia bisu? Terus begaimana caranya aku berkenalan kalau dia bisu?" Bisaik Aruna pada Erlangga. Hingga Erlangga sadar dia belum memperkenalkan sang kekasih pada adiknya.
"Ehem" menetralkan kecanggungan, Erlangga sedikit berdehem. Baru setelah itu berbicara untuk memperkenalkan secara resmi kedua wanita tersebut.
"Sweetheart…, perkenalkan ini Aruna adik iparmu, maafkan berkataan dia dari tadi ya. Maklumin aja, dia masih belum bisa dewasa" ucap Erlangga dengan lembut pada kekasihnya. Sedangkan adiknya mengepalkan tangan kesal terus di anggap kekanakan dan tidak dewasa. Kemudian Erlangga beralih menatap adiknya dan berujar
" Adikku sayang…, perkenalka ini kekasi kakak, calon kakak iparmu. Aku barharap kalian bisa menerima satu sama lain. Oke..!"
Aruna mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Vielonica, yang di sambut oleh tangan Vielonica sambil tersenyum malu-malu.
Setelah itu mereka memesan makanan dan menghabiskannya bersama-sama