Keempat sahabat sedang menikmati kebersamaan di sebuah kantin kampus. Semuanya tenggelam menikmati makanannya masing-masing. Tidak ada yang akan memulai obrolan sebelum selesai makan.
Terlihat Rania sudah selesai dengan makanannya, dia mengaduk- aduk es jetuk kesukaannya. Disusul Arka yang sudah menghabiskan makanannya.
"kok cuma makan sedikit. Diet lagi ya lo?" Tanya Arka memecah keheningan.
"Ratunya kampus kan memang harus jaga berat badan. Biar tetap menjadi idola para cowok-cowok, iya kan Ran..hahaha?" Celetuk Ruri yang juga sudah menyelesaikan makannya.
"Lo itu udah kurus baget, mau diet gimana lagi. Lihat aja tu tulang selangka Lo, udah jelas banget, kayak tengkorak di ruang laboratorium." Ungkap Arka prihatin melihat Rania yang kurus tinggal tulang yang hanya menyisakan sedikit daging.
"s****n, malah nyamain gue kayak tengkorak di laboratorium" kesal Rania tak terima di katain kayak tengkorak.
"Beneran kok Ran, tiap gue lihat tulang selangka lo yang benunjul kayak gitu gue jadi teringat tengkorak di laboratorium.'' kata Arka dengan Nada serius.
"Sudah ya, mulai besok gue pastiin kamu ga bakalan kekurangan makan lagi. Gue takut aja kalau Lo bakalan keterangan gizi" nambah Arka.
"Idih.., siapa juga yang kekurangan makan dan kekurangan gizi. Justru karena keluarga gue ada riwayat kolesterol makanya gue diet. Karena tidak menutup kemungkinan gue juga beresiko kolesterol" Ucap Rania bemberi penjelasan kepada sahabat laki-laki itu yang sekarang sangat cerewet kayak aki-aki.
"Lo kurus banget, gue hawatir kalau ada angin kencang lo akan ikut terbang" kata Arka asal.
Pletakkk… suara benda tumpul mendarat di kepala Arka.
"Aduh, sakit ran, lo mau memecahkan kepala gue.? Kata Arka sambil memegangi bagian kepala yang di pukul Rania pakek sendok makan.
"Makanya, kalau bicara jangan asal, mana ada angin biasa yang menerbangkan seseorang. Emangnya p****g beliung?." Jawab Rania cuek, tidak peduli sakit di kepala sahabatnya yang di pukul sekuat tenaga oleh Rania.
Terlihat Vielonica masih mengonyah makanannya, sambil menyaksikan siaran langsung perdebatan yang tengah berlangsung di hadapannya, membuat dirinya senyum-senyum geli.
Arka mengalihkan pandangannya ke arah Vielonica, menyudahi perdebatan dengan Rania karena, jika tidak, maka di pastikan benda apapun yang di temukan Rania akan berpindah ke kepala Arka.
"Vielo, apa lo belum kenyang juga, dari tadi gur perhatiin lo makan terus." Seru Arka dengan nada kesal. Mulai mencari pelampiasan lain akan kekesalannya pada Rania yang memukul kepalanya pakek sendok.
"Iya, namanya juga orang lagi makan. Mana bisa berhenti kalau belom kenyang." Jawab Vielonica dengan santai.
"Lo itu kenapa sih arka? Tadi si Rania makannya sedikit Lo protes, giliran Vielo yang makan banyak, Lo protes juga. yang benar deh lo jadi cowok. Jangan plin-plan nanti tidak ada cewek yang mau pacara sama lo " sergah ruri yang sadari tadi hanya jadi penonton.
"s***s banget sih omongan Lo Ruri, itu sama saja Lo nyumpahin gue supaya tidak dapat pacar" dengan jegah Arka beranjak dari duduknya, membuat ketiga temannya menduga kalau Arka tersinggung dengan ucapan Ruri.
"Arka… lo mau kemana?! Apa lo tersinggung dengan ucapan gue barusan. please deh, gue kan cuma bercanda arka." Hawatir Ruri kalau-kalau Arka tersinggung dengan perkataannya.
"Melas, ngompul lama-lama sama emak-emak rempong" ketus Arka sambil melangkahkan kakinya hendak meninggalkan para gadis-gadis.
"Eh… Arka, lo mau kemana" teriak Ruri kepada Arka yang semakin menjauh. "Kepo aja urusan cowok" jawab Arka sekenanya. Para cewek itu menghembuskan nafas kasar, masih memandang punggung Arka yang semakin menjauh. Merekapun memilih membiarka Arka selesai dengan urusannya yang tidak bisa dicampuri cewek.
Tak lama sejak kepergian Arka. Datang laki-laki lain yang langsung mendaratkan dirinya di tempat Arka duduk sebelumnya.
Dia adalah Moreno, datang Tampa diundang. Bahkan demi apapun ketiga gadis itu tak berniat memberi sang playboy undangan dalam bentuk apapun.
"Hei, Rania. Boleh aku duduk disinikan?" Sambil mengedipkan sebelah mata mureno menggoda Rania. Jiwa playboy nya meronta jika sedang berdekatan dengan Rania yang cantik jelita.
"Mau apa lo? Jangan mengganggu ketentraman kami. Kami tidak mau berurusa sama playboy. Jika tidak ada yang penting mending pergi aja lo playboy" sarkas Rania yang tidak suka dengan kedatangan Moreno yang tiba-tiba. Bukan hanya Rania yang tidak suka, kedua sahabatnya pun memasang wajah masam, tidak nyaman dengan Moreno yang hadir ditengah-tengah mereka bertiga. melihat reaksi ketiganya yang tidak bersahabat kepadanya, dia langsung menyatakan maksudnya.
"Gue cuma ada perlu sama si cupu, mau minta bantuan buat menyelesaikan tugas. Cupu, lo kan sangat baik hati, dan suka membantu teman yang sedang kesulitan, lo mau kan bembantu gue?" kata Moreno yang kalimatnya terdengar mengejek, padahal dia sedang meminta bantuan. Tak bisakah si playboy memanggil dengan panggilan yang lebih sopan.
"Dasar playboy tidak ada akhlak. Apa pantas Lo meminta bantuan dengan panggilan menghina itu. Walaupun pada kenyataannya benar adanya. Tapi apa pantas itu terucap dari seorang yang sedang mengharap sebuah bantuan?" Rania berteriak tak terima dengan panggilan Moreno kepada Vielonica. Hingga seisi kantin terlonjak kaget dengan suara cempreng Rania.
"Pergi sekarang juga dari hadapan gue playboy tak tau ahlak, pergi kalau kepalamu tidak mau gue timpuk pakek mangkok" kata Rania yang suaranya sudah naek bebera oktaf dari sebelumnya, sambil berdiri memegang sebuah mangkok, Rania mengambil ancang-ancang bersiap memukul kepala mureno jika belum pergi juga.
Melihat itu mureno segera beranjak dengan terburu-buru, takut jika Rania beneran menimpuk kepalanya pakek mangkok. Moreno pergi di disertai komat-kamit mengumpat Rania yang cantik-cantik tapi barbar, bagitulah kira-kira yang ada di fikiran Moreno saat dia pergi.
Dasar moka tembok, pria modus. Jika ada maunya saja baik-baikin Vielo, padalah dia hanya mau memanfaatkan Vielo demi keuntungannya sendiri. Gue sumpahin deh, semoga saja Lo tidak lulus-lulus, selamanya akan menjadi mahasiswa karatan.
"Sabar deh Lo Rania, bukannya Lo itu lagi menjaga pola makan supaya tetap sehat tidak kena kolestrol. Tapi gue perhatiin dari tadi Lo kerjaannya cuma marah-marah terus. Pertama si Arka yang Lo pentong kepalanya pakek sendok. Sekarang Lo emosi tingkat dewa pada moreno si penjahat wanita itu. Yang ada Lo selamat dari kolesterol yang Lo anggap turunan dari nenek moyang Lo. Namun malah kena serangan jantung karena selalu marah-marah. Nah rugi sendiri kan Lo" cerocos Ruri panjang kali lebar.
"s****n Lo, nyumpahin gue kena serangan jantun. Gue kan marahnya jelas dan terarah. Bukan cuma marah yang gak jelas" jawab Rania yang mulai menurunkan volume suaranya. Sambil sibuk mencari minuman Mungkin tenggorokannya sudah kering habis melatih pita suaranya. Vielonica yang sedari tadi hanya diam. Mulai cekikikan melihat tingkah kedua sahabatnya itu.