Malam yang cerah. Semua keluar untuk menikmati bahagia. *** Kayonna mengambil ancang-ancang dengan berjongkok dan salah satu kaki maju ke depan. Ini posisi seperti seseorang bersiap melakukan lari jarak pendek. Ketegangan merayap di seluruh nadinya, membuatnya berkeringat. Konsentrasinya penuh menatap Cintia yang melangkah mendekati dirinya, tepatnya mendekati meja rias yang terletak tak jauh dari sisi Kayonna. Dua puluh sembilan! Kayonna memejamkan mata. Menajamkan fokusnya. Tiga puluh! Tap! Lampu menyala sangat benderang. Biasnya menyusup ke sela-sela mata yang tertutup. Meski Kayonna tidak bisa melihat, tapi mendengar pekik lirih Cintia, dipastikan mata Cintia belum siap. Dari gelap menjadi terang, pupil butuh waktu untuk adaptasi dan waktu itulah yang dipakai Kayonna sebagai ke

