BAB. 1 mimpi
Aku berlari dalam gelapnya malam mencari titik cahaya yang jauh di sana. dingin merambari pori pori, menerobos hingga masuk dalam tubuh, menyatu bersama setiap sel darah, di bawa kejantung membuat detak tak berukuran. aku masih berlari menjauhi dari bayangan yang berteriak.
"Terkutuklah engaknya!" terkutuklah engakau, Bunga anak Rendy!"
......
"bung,, bunga! bangun, nak. Bunga.
Aku terbangun dengan napas masih memburu. sesak dan panas.keringat basah di tubuh. Mama di hadapan ku menatap ku dengan bingung. Teriakan mama yang
Membangun kan aku dalam mimpi buruk yang akhir-akhir ini menghantuiku. mimpi itu kembali lagi. aku terjaga masih dalam ketakutan dan rasa panik kegelapan yang membayang.
Ku lempar pandangan sekeliling memindai ruangan sebelum kembali menatap mama yang terus membelai rambutku. sesuatu yang sulit tapi bukan sekarang saatnya membahas.
"untuk sekarang aku masih lega setidaknya aku masih di sini. terjaga di dalam kamar sendiri. kupandang mama cukup lama membaca wajahnya yang bingung dan kahwatir.
"mengapa mama ada di kamar aku???
justru seharusnya mama yang bertanya padamu, bunga. mama pikir ada maling masuk kekamar kamu, loh" Mama terlihat benar benar khawatir, ia meraih tubuhku dan memeluk erat. sebuah pelukan yang rasanya sedikit asing dari seorang perempuan yang melahirkan aku.
aku tidak harus mengatakan apa-apa, cukup diam dan menikmati hangatnya pelukan mama yang jarangku rasakan. Di luar angin kencang menerbangkan
"titik titik hujan menerpa jendela, mendesir basah, pilu ,dan juga geraman dalam mimpiku. aku coba mengingat mimpi-mimpi aneh dan menyeramkan yang selalu mengangu dalam tidur malamku selama beberapa malam ini. mimpi yang tidak asing, selalu sama dan berahir mengelisahkan.
,,ia kembali lagi.
"Mimpi seperti apa sih bung?"
Mama membuyarkan lamunanku, kembali pada pertanyaan yang paling tidak ingin ku dengar.
"entahlah, ma. mimpi yang aneh tetapi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas". aku sengaja tidak mau memperpanjang pertanyaan mama. Tidak saat ini dan entah untuk nanti. mama merapikan rambutku, menyeka lagi
" keringat yang masih mengalir di kening." sudah jam berapa, ma?"
kenapa belum tidur?"
aku sengaja mengalihkan pertanyaan sembari melepas diri dari pelukannya. Mama masih menatap penuh selidik.
"Sudah jam sebelas tapi papa belum pulang mangkanya mama masih menunggu." aku menyibak selimut.
"Perusahaan tempat papa bekerja
,Sudah buka cabang di daerah jadi sekarang papa sering telat pulang." Aku mendengus, tidak peduli kemajuan apa yang sudah di alami oleh papa. berbicara tentangnya hanya akan semakin merusak suasana hatiku.
Beranjak dari tempat tidur aku menuju dapur. mama diam diam mengekori. aku butuh air. Di luar masih hujan belum menandakan akan reda dan sesekali cahaya langit
Membias di cendela di susul gemuruh guntur yang menggetarkan tirai cendela. Hunjan Ahir November kali ini benar benar meneror ketengananku. lagi dan lagi. seperti yang sudah sudah. aku benci musim hujan.
Di meja makan aku menuangkan segelas air. menenguk separuh dan kembali kekamar membawa gelas yang masih separuh. kupijaki kaki satu persatu anak tangga.
akan tetapi pikiranku menerawang jauh, jauh ketempat yang tidak aku kenal.
Gambaran tempat tempat yang muncul dalam mimpi yang simpang siur. kalabu dan dingin. mama yang menyandar pada tangga aku abaikan begitu saja. langkah demi langkah, satu persatu anak tangga kulalui kehendak kaki hingga tanpa kesadaran penuh aku telah berdiri di depan cendela kamarku.
"aku menengk seteguk air sambil menyibak tirai merah marun yang tipis. Titik-titik cahaya dari rumah tetangga menari di antara hujan yang mengguyur, redup dan gemetar. Titik-titik Air mengembun di balik cendela, Tampak seperti garis-garis yang mengerikan ketika terpapar cahaya petir.
Sambil mengamati garis-garis itu, aku terus mencoba
Mengingat kepingan-kepingan mimpi buruk itu. tidak ada yang jelas. semua sangat abstrak seperti biasanya. Di langit. petir dan guntur berlomba-lomba menguasai malam. menakutkan.
"Bunga...."
Siapa itu?" aku berbalik mencari suara yang memangil.
mungkin mama tetapi tidak ada siapa pun yang berbisik serak seperti itu? aku kembali menatap
"jendela dan......"
"prak!!
Gelas di tanganku meluncur begitu saja beradu dengan lantai, pecah berkeping-keping. sistem saraf ku beraksi cepat. memaksa jantung berdetak sangat cepat dan kuat.
suara tak....tak...tak... dari balik badanku bahkan mengalahkan Guntur di langit. Aku mundur, sendi lutut semakin lemah menopang tubuhku, tumpuan kaki mulai goyah tetapi tidak pandanganku. aku masih menatapnya. waktu seakan berhenti, kegelapan semakin menghisap duniaku.
Di sana, di permukaan jendela kaca yang gelap dan datar, bayangan sosok wajah tergambar jelas, melayang bagai gambar tiga dimensi.
Gambar wajah wanita seorang wanita tua. mata sehitam tinta seperti dua lubang kegelapan, mulut hitam arang menyeringai menapakan gigi-gigi kuning tak beraturan, menyeringai menebarkan aroma paling busuk. megerikan.
"Bunga anak galang."
ia memanggilku lagi. serak dan berat mengema di dalam kamar. terdengar seolah memangilku dari kejauhan yang
sangat jauh namun di saat yang sama namun terasa sangat dekat di telinga.
Dengan sedikit kesadaran yang tersisa, aku melawan rasa takut dan memangil nama.
Namun tercekik oleh rasa takut yang jauh lebih besar dari bau busuk yang menyergap, tak ada satu katapun yang terucap.
Langkah mundurku semakin berat seakan di Bebani lima puluh gram beras.
perlahan luturku bertekuk dan jatuh terduduk di atas p****t.
kudai tangan terkulai lemas, seluruh tenaga terhisap habis.
dingin membungkus tubuh yang sudah tak berdaya. ia masih di sana mengambang di udara, mengemakan tawa memekak kan.
"tubuh dan mataku dikunci hingga tak sanggup untuk beralih sedikit pun darinya.
"saya tunggu kau pulang."
"Bunga! apa yang kamu lakukan di bawah sini? lihat , mama, Sayang. apa yang terjadi? ya ampun, bunga, tangan kamu berdarah kena beling. bung, bunga! liat mama!" bentak mama mengusir suara yang bergaung di pengeranku seiring hilangnya gambar itu.
Mama menepuk-nepuk lembut wajahku dan mengusap bahuku sambil mengoceh. Tubuhku belum seutuhnya pulih, masih gemetar dan dingin meski berkeringat. Aku masih terpaku pada kaca hitam. Mama menyadarinya, ia bangun dan menarik tirai menutupi jendela lalu menatapku aneh, ia kemudian beralih pada lantai yang basah dan banyak pecahan gelas.ia merangkul tubuh lemahku dan membantuku keranjang.
Aku duduk di tepi ranjang, hati-hati mencabuti kepingan gelas yang entah kapan menusuk telapak tangan. Darah menetes perlahan menuju lantai, mengukir noda merah yang kontras dengan keramik yang warna putih, aku menghitung tiap tetes tiap jatuh. Tujuh. angka keramat yang ganjil, aku bergidik ngeri pada kebetulan itu.
Sebuah tangan menarik tangan ku yang luka itu,
melihat sejenak dan membersihkannya.
Mama entah sejak kapan keluar dari kamar ku dan kembali membawa kotak P3K. aku bahkan tidak menyadi pergerakan manusia nyata di sekitarku.
"tanpa banyak tanya, mama membersihkan lukaku dengan alkohol, mengolesi obat merah dan membalitnya dengan kasa. cepat sekali. isi kotak kembali di benahi lalu ia menidurkan aku.
mama mengecup kening ku sangat lama, sesuatu yang sangat tidak biasa bahkan baru bagiku.
"Tidurlah", bunga. jangan lupa berdoa. Harus terus meminta perlindungan dari Tuhan.Yang ini, mama yang membereskan."
Dari tempat tidur aku melihat bagai mana seorang mama yang sangat acuh membereskan segala yang kacau.
Ya, mungkin hanya malam ini melihatnya demikian, ia keluar sambil tersenyum hangat, hal yang selalu aku tunggu.
Sebelum terpejam, aku berdoa. Berharap tidak akan ada lagi mimpi buruk yang menghantui tidur malamku. Semoga!