Perjodohan

878 Kata

Perjodohan Aku masih diam setelah mendengarkan penjelasan dokter tadi pagi. Rupanya ibuku didiagnosis terkena serangan jantung, untung masih bisa diselamatkan. Aku menyandarkan tubuhku pada kursi yang tersedia. “Ya Allah, astaghfirullah.” Aku mengusap mukaku dengan telapak tangan. Kupandangi wajah Ibu yang masih sangat pucat. Suara pintu terbuka mengalihkan perhatianku. “Mbak Ambar.” “Anggi.” Kami berpelukan bahkan kami sudah menangis bersama. “Mbak.” Aku melepas pelukanku pada Anggi dan menyambut Saras dan Wulan. Kami berempat berpelukan lagi. Tak ada satupun yang bicara. Kami hanya menangis, saling memeluk dan menguatkan. “Maafkan Mbak. Mbak lalai. Maaf.” “Enggak, Mbak. Ini semua musibah. Bukan salah Mbak Ambar,” hibur Saras. “Iya Mbak, kita semua tahu kok. Mbak Ambar udah jagai

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN