Sandaran Hidup

872 Kata

Sandaran Hidup Aku, Ibu dan Umi sedang bersantai di teras belakang rumah sambil bercerita. Umi hampir seminggu sekali juga pulang. Maklumlah, calon cucu pertama makanya beliau sangat antusias. “Coba Umi udah pensiun. Selama kamu hamil umi disini aja nemenin kamu.” “Terus suami kamu gimana Kinan?” “Hahaha. Sejujurnya aku dilema In. Satu sisi suami, satu sisi calon cucu pertama. Aku jadi galau.” “Hahaha.” Kedua sahabat itu masih bercerita. Aku hanya menjadi pendengar dan kadang menyahut. Sesekali aku mengurut punggungku. Pegel. “Sakit , Nduk?” “Bengkek, Bu.” “Lagian, kamu makan terus makin melebar, ‘kan badannya.” “Iya. Mana hidung Ambar jadi makin minimalis ini? Gara-gara pipinya makin chubby.” “Hahaha. Yang penting Akbarnya suka. Eh, Nduk. Kamu kasih pelet apa sama Akbar? Bucin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN