Ronda Malam *Ambar* Aku menghirup aroma wangi bercampur bau ketek yang tiga hari ini sangat kurindukan. Asem ... tapi aku suka. Beberapa hari ini rasanya berat sekali. Aku bahkan hampir menyerah. Syukurlah semuanya sudah diluruskan. Aku dan Mas Syafiq sudah saling mengungkapkan isi hati dan sudah saling memaafkan. Aku memilih mendusel ke arah ketek Mas Syafiq. “Wangi ya?” “Asem.” “Kalau asem kenapa malah ndusel?” “Tahu nih, dikasih pelet ya Mas?” “Hooh. Pelet cinta,” ucapnya sambil mencubit hidungku. “Maaas. Sakit ... ih,” rengekku manja. “Habis hidung kamu gemesin.” Lihatlah dia malah tertawa, aku mengerucutkan bibirku. “Gak usah manyun gitu ah, nanti Mas khilaf.” “Mana khilafnya?” “Nantang mas, nih?” “Coba saja!” tantangku namun pipiku menghangat. Cup. Kecupan panas dan mema

