Edward baru saja turun dari helikopter yang memang disediakan oleh keluarganya untuk ia tumpangi setiap ia pergi kerja. Bagian belakang mansion, terdapat lapangan luas tempat parkiran helikopter itu. Jika sewaktu-waktu Edward membutuhkannya, dia bisa saja menyuruh pilotnya untuk mengantarnya pergi ke mana saja. Termasuk pergi ke luar negeri ini sekarang juga.
“Bagaimana? Sudah dapat apa yang kau mau?”
Rey menatap putra tunggalnya. Ia tengah duduk di ruang tamu bersama dua maid yang berbaris di ambang pintu serta beberapa bodyguard di ruangan ini.
“Sesuai janjiku.”
“Bagus.”
Edward langsung meninggalkan ayahnya dan di ruang tengah menuju tangga, ibunya memanggil membuat pria itu menoleh.
“Mommy sudah tahu tentang gadis itu. Apa kau sudah mengatakan hal itu pada Daddymu?” tanya ibunya pada Edward.
“Belum. Ya, aku bahkan belum sempat berpikir ke sana. Aku hanya akan mengajaknya makan malam nanti malam.”
“Hanya itu?” tanya Mommynya menatap putranya. “Apa kau tak ada niat untuk mengajaknya ke sini?”
“Menjadi sekertarisku? Tentu saja Mommy harus membantuku untuk ini. Jika itu terjadi, aku berjanji akan membuatnya jatuh cinta padaku. Segera.”
“Deal?” ibunya mengulurkan tangan ke arah Edward membuat pria itu mengernyit kemudian menjabat tangan ibunya.
“Deal.”
***
“Sekertaris baru?” tanya seorang pria paruh baya itu menatap ke arah istrinya yang tengah menuangkan teh ke dalam gelas di hadapannya.
“Iya, Edward sudah menemukan orang itu.”
“Seorang pria?” tanyanya lagi.
“Tentu saja seorang wanita, Rey! Kau tak tahu, baru kali ini Edward mau menerima sekertaris wanita selama ia bekerja di kantor.”
“Memangnya kau tahu pendidikannya?” tanya Rey lagi mengenyitkan kening pada istrinya.
Dia—Diandra Thomas selalu saja membela putra satu-satunya. Apapun yang dimau oleh pria itu pasti selalu bilang ‘oke’ tanpa tahu apa saja yang menjadi konsekuensinya.
Memang benar kalau sudah menjadi kesayangan akan susah untuk diajak kompromi tanpa memikirkan perasaan.
“I don’t know. Tapi aku tahu, kalau dia akan menjadi menantu kita.”
“Kenapa kau percaya begitu saja? Apa kau pernah bertemu dengannya, apa kau mau kalau kita salah pilih menantu? Aku tak mau jika Edward salah cari pasangan.”
“Aku percaya pada putraku.”
“Jangan terlalu banyak bermimpi.” Rey meletakkan kacamata yang tadi masih bertengger di atas pangkal hidungnya lalu meletakkan kacamata itu ke meja. “Kalau cari menantu itu harus tahu siapa dia dan berasal dari mana dia.”
“Dia orang baik, Rey!”
“Memangnya kau sudah pernah bertemu dengannya?”
Diandra menggeleng. “Ya, walaupun aku belum tahu dia sebenarnya, tapi kuyakin Edward kali ini tidak akan salah pilih melabuhkan hatinya. Anakku pria pintar.”
“Pintar? Berapa kali wanita baik-baik dia tolak mentah-mentah sampai umurnya sekarang sudah 27 tahun belum ada pasangan juga? Itu karena dia terlalu banyak memilih pasangan. Aku takut kalau Edward salah pasangan. Siapa yang akan disalahkan? Edward? Itu bukan salahnya. Kita saja yang terlalu percaya.”
“Hust! Kau itu! Kenapa kau jadi berpikir seperti itu? Tidak baik kau mendoakan anakmu yang tidak baik seperti itu!” ketus Diandra pada Rey. “Begini saja. Kita ketemu gadis itu dulu sebelum kita memberi izin pada Edward untuk menjadikan gadis itu sekertarisnya. Bagaimana?”
“Boleh.”
Rey menyahut. “Aku akan menilai segimana baiknya gadis itu.”
•••
“Bagaimana undangannya? Apakah sudah sampai atau bahkan sudah siap-siap?” tanyanya pada seseorang di dalam telfon.
‘...’
“Bagus. Kalau begitu, kau jemput dia tepat waktu. Siapkan tempatnya sebagus dan seromantis mungkin. Pesan tempatnya untuk jangan sampai ada seorangpun yang masuk ke sana saat kami sedang berkencan!”
Tut. Panggilan itu akhirnya ditutup kemudian pria itu memilih melanjutkan pekerjaannya sebelum waktunya habis untuk menyiapkan segala hal yang perlu ia lakukan sebelum malam itu menyapa.
Tok... Tok...
Suara ketukan pintu ruang kerja membuat Edward sedikit menoleh ke arah pintu lalu berujar, “masuk!”
Diandra menyembulkan kepalanya dan tersenyum ke arah Edward yang masih menatapnya.
“Mommy? Kenapa?” tanya Edward menghentikan pekerjaannya.
“Kau sedang sibuk?” tanya Diandra sebelum mengatakan apa tujuannya menemuinya lagi.
“Sedikit. Nanti malam Edward akan menemui wanita pilihan Edward itu.”
“Itu yang sebenarnya Mommy akan bicarakan padamu.”
“Gadisku?” tanyanya lagi.
Diandra mengangguk.
“Ada apa? Apa Mommy mulai meragukan pilihan Edward?” tanyanya ‘lagi’. Pembicaraan mereka tiba-tiba saja berubah menjadi serius.
“Mommy sudah mengatakan hal ini pada Daddy. Tapi ...,”
“Kenapa?” tanya Edward menatap ke arah ibunya dengan tatapan tajam khas lelaki itu.
“Daddy-mu tidak begitu setuju. Dia belum mengizinkan.”
“Memangnya apa yang salah?” Edward lagi-lagi bertanya. “Pilihan Edward kali ini sudah pasti takkan salah, Mom.”
“Mommy percaya padamu. Tapi untuk meluluhkan kepercayaan Daddymu—itu sulit.”
“Sesulit apa? Daddy tinggal mengatakan ‘iya’. Edward akan bertanggungjawab dengan semua konsekuensinya, Mom.”
“Iya, iya, paham. Kami akhirnya memiliki kesepakatan untuk menyelesaikan perselisihan ini.”
“Apa itu?”
“Kami harus bertemu dengan orang itu lebih dulu sebelum Daddy-mu memberi keputusan.”
“What do you mean? Mom and Dad?” tanya Edward lagi. “Setidak yakin itukah Dad against me?”
“Bukan! Jangan salah paham dulu, Nak.”
Edward memutar bola matanya bosan. Pasti setiap dia mau selalu ditentang oleh Daddynya termasuk keinginannya pada gadis yang selama ini dia cari. Setidaksuka itukah dia terhadap keputusannya? Apakah dengan cara dia menerima apapun dari Daddynya dia akan merasa lebih baik? Bahkan itu tidak pernah dia terima sama sekali.
“Kami sayang kau. Kami ingin yang terbaik untukmu termasuk yang terbaik untuk pasanganmu nanti. Meski ini terkesan kami tidak suka atau menentang keputusanmu, tapi percayalah ini salah satu cara kami mencintaimu. Memberikan hal yang terbaik dari yang baik. Baik itu pasangan, jodoh, sekertaris atau bahkan masa depanmu nanti bagaimana. Kami berterima kasih kepadamu sudah mau menjadi sosok Edward dari versi terbaik yang sempat kami inginkan dan impikan pada Aaroon. Tapi, kau bukan Aaroon. Kau Edward Thomas. Otakmu, kepintaranmu, kepribadianmu itu sama dengan your Dad. Mom percaya kau sudah memikirkan hal ini lebih beribu-ribu kali. Tapi, tetap. Kami orang tuamu. Apapun yang kamu mau harus kami seleksi lebih dulu sebelum pada akhirnya kamu mengatakan kamu siap untuk bertanggung jawab terhadap istri dan anakmu nanti. Tujuan kami baik kok sayang. Karena Mom tahu kamu akan menolak, tapi ini semua baik. Tidak ada buruknya. Ayolah, mengertilah keadaan mommy and your Dad!”
Edward mendelik mendengar semua penjelasan Mommynya membuat moodnya kembali turun dan tak berminat melakukan apapun.
“Jadi bagaimana? Kamu setuju?”
Edward menatap manik mata ibunya begitu dalam. Dia tidak tega dengan itu. Walaup tidak sepenuh hati menyetujui, apa salahnya dia turuti dulu kemauan mereka.
“Terserah kalian. Edward capek!”
•••
TBC!