Mobil sport warna merah berhenti tepat di depan restoran di mana Edward sejak tiga puluh menit yang lalu menunggu di dalam sana bersama beberapa bodyguard serta maid yang lain.
Hal ini begitu spesial baginya karena pertama kalinya ia mau repot-repot mempersiapkan ini semua setelah sekian lama dia tidak melakukan hal ini sebelumnya.
Grace turun dari mobil dan pintu mobilnya dibuka oleh seseorang membuat Grace refleks langsung menundukkan kepalanya mengucapkan terima kasih.
“Silakan Nona. Tuan muda sudah menunggu nona di dalam.”
“Edward Thomas?” tanya Grace pada bodyguard yang memakai seragam serba hitam, jas hitam dan sebuah pin bertuliskan Thomas lengkap dengan warna emasnya.
Seseorang itu menunjukkan jalannya hingga sampai di ambang pintu dan di bukakan pintunya oleh seorang maid dari dalam sembari menunduk. Dengan sopan, Grace juga menundukkan kepalanya sebagai bentuk hormat pada mereka. Dia merasa, ini terlalu berlebihan jika ia harus diperlakukan layaknya ratu seperti ini.
“Tempatnya ada di bagian depan Nona. Mau saya antar?” salah satu maid menawarkan bantuan namun dengan cepat Grace menggeleng.
“Tidak usah. Sudah cukup. Terima kasih sebelumnya.”
Maid itu akhirnya mengangguk dan izin pergi lebih dulu sebelum pada akhirnya Grace melanjutkan jalannya menuju ke tempat yang maid itu katakan.
Jadi seperti ini rasanya di undang oleh orang kaya seperti Edward Thomas? Semua tempat di sewa bahkan tidak diperbolehkan untuk ada satu orangpun yang boleh masuk ke sini sebelum acaranya selesai.
Perlu ia akui, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia begitu takjub dan kagum yang sudah berkali-kali ia katakan pada hal luar biasa ini di malam ini.
Dress hitam panjangnya ia pegang guna melancarkan jalannya untuk sampai.
“Silakan Nona,” ujar salah satu maid lagi yang ada di belakang seorang laki-laki yang membelakangi mereka.
Kemudian laki-laki itu balik ke arah mereka dan merapikan jasnya sebelum berbalik penuh padanya.
“Grace Nathalie... Selamat datang.”
Detak jantung Grace tiba-tiba saja hampir copot. Bagaimana tidak, lihat saja bagaimana seorang Billionaire sukses ini mampu meluluhlantakkan seluruh sendi-sendi di dalam tubuhnya.
Dia... Terlalu tampan. Bahkan jika dilihat dari sisi manapun juga, dia begitu sempurna di matanya. Hampir tak ada celah untuknya jika di komentari.
Rambut rapi, wajah yang begitu sempurna dengan hidung mancung serta mata elang tajamnya mampu menghipnotis Grace. Oke! Balik lagi. Bukan ini yang harusnya Grace pikirkan. Tapi ... Pikirkan dulu apa maksud orang ini menyuruhnya ke sini.
“Duduk!” titahnya.
Satu kata yang diucapkan olehnya begitu dingin namun membuat jantungnya terpacu lebih cepat. Ah, dia terlalu lebay atau memang ini kenyataannya?
Grace menurut. Duduk di depannya. Berdua—hanya berdua.
Ditemani lampu remang-remang mampu membuat bulu kuduk Grace berdiri menikmati sensasi dingin, sepi dan hening.
Beberapa menit kemudian beberapa pelayan restoran ini membawa beberapa makanan dan membuat Grace tertegun. Terlalu berlebihan untuknya yang bukan siapa-siapa ini.
Pelayan itu mulai membuka makanan-makanan yang masih ditutup itu satu per satu. Betapa terkejutnya dia. Lagi-lagi makanan yang disajikan begitu mahal dan terlalu sayang untuknya makan karena harga satu porsinya saja bisa saja sampai dengan dua kali gajinya di restoran tempat dia kerja.
“Wow,” gumam Grace tak sadar membuat Edward menghentikan makannya.
“Hm? Kenapa?” tanyanya masih dingin.
“Ini beneran buat aku?” tanyanya.
Edward mengangguk. “Kau tenang saja ini tidak ada racunnya dan kau tak perlu memikirkan harga per porsinya.”
“Ya, aku tahu. Dan kalaupun aku suruh bayar, pasti aku bayarnya nyicil.”
Edward menyembunyikan kekehannya. Lucu sekali gadis ini. Begitu polos dan terlihat tidak tahu apa-apa.
“Jangan dipikirkan. Makan saja,” ketusnya lagi.
‘Ketus sekali!’ Grace membatin.
Gadis itu mengambil makanannya dan mulai menyendok makanan itu masuk ke dalam mulutnya. Baru dia sadar jika perutnya saja sudah berbunyi berkali-kali karena sejak tadi sore dia sibuk menyiapkan dirinya untuk pergi ke tempat yang begitu mewah seperti ini meskipun acaranya hanya dinner berdua dengan bos dari perusahaan Thomas.
Setelah makan, akhirnya Grace memberanikan diri untuk bertanya ada masalah apa sampai dia di panggil ke sini, disiapkan makan malam di restoran berbintang, di siapkan semewah dan seromantis ini tempatnya. Memangnya Grace ada salah apa dengan keluarga Thomas ini? Apakah ini salah satu jebakan saja?
“Kau mau tahu apa alasanku mengundangmu ke sini?” tanya Edward menyelesaikan makannya dan meletakkan sendok serta pisau kecil itu ke atas piring.
Grace mengangguk lemah.
“Ada beberapa hal yang harus aku katakan padamu.”
“Apa itu?”
“Sebelum itu, apa kau sudah lulus kuliah?” tanyanya. “Dan kenapa kau bisa bekerja di restoran?”
Bagaimana caranya orang ini bisa tahu perihal dia bekerja di mana?
“Kau tahu dari mana?” tanya Grace lagi penasaran.
Dia begitu yakin. Pasti Edward ini sudah dari lama mengincarnya. Tapi, kenapa harus Grace? Bukankah banyak orang yang menyukai Edward dan bahkan hartanya bisa menandingi kekayaan Thomas? Lalu kenapa Edward harus mengajaknya dinner?
“Kau tak perlu tahu. Tugasmu hanya menjawab apa yang aku tanyakan.”
Grace menghela napasnya panjang. Percuma juga kalau bicara soal ini pada orang yang egois, keras kepala dan semaunya kan? Anak sultan juga akan bersikap seenaknya saja pada Grace kalaupun dia tahu siapa Grace.
Sayangnya, hanya Edward yang bodoh. Ya, bodoh sudah memilih dia sedangkan banyak yang lebih baik darinya.
“Ya, aku masih kuliah mau semester akhir. Dan tujuanku ambil part time kerja pun untuk menutupi dan membiayai kuliah dan sekolah adik-adikku.”
“Kau anak paling tua?” tanya Edward lagi.
“Bukan. Saya anak panti asuhan dan saya memiliki beberapa kakak perempuan namun mereka semua memiliki keluarga masing-masing dan tinggallah saya yang menjadi tulang punggung mereka.”
Tertegun. Kuat sekali dan beban Grace berat sekali. Iya, Edward harusnya dari dulu bersyukur memiliki apa yang sudah ia punya selama ini.
Dan Edward juga sempat terkejut ketika tahu kalau Grace anak panti asuhan dan mengingatkannya pada cinta masa kecilnya—dulu.
Sekarang? Semuanya seolah berubah begitu saja. Edward kehilangan cinta masa kecilnya sudah bertahun-tahun hingga membuatnya malas jatuh cinta ke sekian kalinya lagi.
“Lalu?”
“Ya, saya tulang punggung keluarga di panti.”
“Lalu, dengan menjadi pelayan restoran apakah kau bisa menutupi semua kebutuhan hidup di sana?” tanya Edward lagi.
Grace menggeleng. Jujur, itu terlalu kurang dengan pendapatannya yang hanya tak seberapa itu. Sedangkan dia juga harus kuliah dan memiliki banyak kebutuhan lain.
“Tidak sama sekali. Tapi setidaknya, aku bisa berusaha walaupun tak terlalu banyak yang bisa kulakukan.”
Edward terlihat berpikir. “Kalau begitu, coba kau menjadi sekertarisku saja.”
Grace mengernyit. Apa katanya? Sekertaris dengan dia saja belum lulus kuliah?
“Tapi saya belum selesai kuliah. Bagaimana bisa?” tanya Grace.
“Kau cukup pintar dan aku yakin kau bisa melakukannya.”
“Benarkah?”
Edward mengangguk.
“Kutunggu jawabannya seminggu lagi.”
Dengan ragu, Grace mengangguk. Setidaknya dia bisa menanyakan hal ini pada ibunya kan?
“Satu lagi.”
“Apa itu?” Grace bertanya dengan begitu penasaran.
“Kedua orang tuaku ingin bertemu denganmu.”
Astaga. Ada apa lagi ini?
•••
TBC!