Grace tak mengerti kenapa harus dia yang menjadi orang yang dipilih oleh seorang Edward Thomas. Padahal kalau dipikir-pikir, wajahnya tak secantik karyawan-karyawan yang ada di Thomas Corp, penampilannya juga tak begitu menarik. Hanya yang menjadi sorotan seorang Edward karena kepintarannya kan? Ah, apa itu hanya sebuah alasannya saja atau memang ada maksud lain dari semua itu?
“Kenapa diam saja?” tanya Nova melihat ke arah Grace yang tengah menatap langit-langit kamar.
“Ibu...”
“Kamu ada masalah apa lagi?” tanya Nova pada Grace. “Apa makan malam tadi ada yang membuat hatimu tak nyaman?”
Sebenarnya, Grace ingin memberitahu ini semua pada ibunya. Tapi dia rasa belum saatnya. Nanti saja kalau Nova sudah tidak sesibuk ini. Sekarang saja Nova baru saja selesai mengajar anak-anak panti mengaji dan mengerjakan PR mereka.
“Makan malamnya mewah. Grace merasa tidak enak.”
“Namanya juga Edward Thomas. Memangnya pernah seorang Edward tidak bersikap berlebihan? Semua dianggap sama. Mau dia berkencan dengan siapapun atas suruhan orang tuanya, konsepnya memang mewah.”
“Sampai jemput Grace ke rumah pakai kendaraan mewah?” tanya Grace dengan pemasaran.
“Soal itu, setahu Ibu tidak seperti itu. Hanya ya sekedar makan malam dan menyewa restoran.”
“Banyak maid dan bodyguard?” tanya Grace lagi.
“Hanya privat. Tidak sebanyak di rumah Thomas.”
“Memangnya Ibu pernah ke sana?” tanya Grace lagi. “Maksudku, ke mansion Thomas.”
Nova menggeleng. “Memang Ibu tidak tahu terlalu banyak. Tapi, Ibu tahu mansion semewah dan sebesar itu, pasti banyak maid yang tinggal di sana. Bahkan pagar mansionnya saja dari luar ada bodyguard. Entah uang mereka habis digunakan untuk apa bahkan ibu yakin uangnya tidak akan habis-habis.”
Grace berpikir. Jika dia menerima tawaran Edward, pasti dia bisa mengangkat derajat ibunya bahkan nama panti ini juga akan ikut terangkat. Perekonomian mereka akan membaik bahkan mereka akan memiliki sekolah yang terjamin kualitasnya nanti. Dan bahkan adik-adiknya akan memiliki masa depan lebih baik dari sebelumnya kan?
Tapi, dia juga tidak menjamin jika Edward akan bersikap baik padanya nantinya. Entah mengapa, Grace seperti yakin jika Edward memiliki niat terselubung selain membantunya meringankan biaya kuliahnya. Apa Edward suka padanya?
Tapi, apa mungkin? Memangnya apa yang istimewa dari dirinya? Semua terlihat biasa saja. Bahkan lebih biasa dari semua orang yang sempat dia temui.
Tapi—bagaimana jika semua hanya sebuah jebakan? Misalnya, Edward seorang mafia?
Grace menggelengkan kepalanya dengan keras. Dia tidak boleh mengatakan hal ini lagi. Tidak. Dia harus berpikir positif tentang lelaki itu. Bagaimana pun juga, dia baik.
“Kamu kenapa diam?” tanya Nova lagi. “Apa yang kamu pikirkan?”
“Tidak ada,” sahut Grace lalu tersenyum ke arah Nova.
“Benar?”
Grace mengangguk. “Iya, sebenarnya ada—hanya saja, Grace belum siap cerita. Beri Grace waktu ya?”
•••
“Bagaimana?” tanya Diandra ketika Edward baru saja keluar dari mobil yang ia tumpangi ke restoran tadi.
Diandra memang sengaja menunggu Edward di luar hanya ingin memastikan apakah anaknya bahagia atau tidak. Dia juga penasaran akankah wanita pilihan Edward itu mau makan malam bersama mereka?
“Berjalan lancar.”
“Dia cantik?” tanya Diandra mengejar anak tunggalnya ke dalam. Mensejajarkan langkah mereka.
“Cantik, manis, imut dan dia pintar.”
Diandra membola. Dia memang benar-benar suka dengan pilihan Edward kali ini. Yang dia butuhkan adalah menantu wanita karir yang pintar.
“Bagus. Jadi, kapan mommy bisa bertemu dengan gadis itu?”
“Gadis yang mana?” tanya Rey ikut dalam obrolan ibu dan anak itu.
Edward hanya menoleh ke arah Rey tanpa menjawab.
“Yang kau pilih.”
Edward hanya menganggukkan kepalanya. Menatap ke arah ibunya lalu berlalu. “Iya, aku sudah mengatakannya. Tapi sepertinya dia ragu. Mungkin keadaan Edward yang menjadi sorotan adalah hal yang paling membuatnya ragu.”
“Ya, memang kalau kau mencintai orang yang jauh derajatnya dari kita, kau harus memiliki lebih banyak perjuangan lebih agar kau bisa mendapat keyakinan itu dari dia. Sampai sini paham?”
Edward mengangguk. Iya, ternyata mencintai orang yang lebih di bawah kita itu tidak semudah kita mencintai orang yang memang memiliki cinta dan derajatnya sama dengan kita. Itulah pentingnya sebuah pengorbanan sejak awal barulah kita merasakan arti dihargai pada akhirnya.
•••
TO BE CONTINUE