Grace akhirnya memberanikan diri untuk mengatakan hal yang disampaikan oleh Edward beberapa hari yang lalu saat mereka makan malam berdua di sebuah restoran besar dan berbintang di pusat kota.
Dengan langkah yang masih terasa ragu, Grace mulai membuka pintu kamar sang ibu untuk mengatakan apa tujuannya. Sebenarnya Nova tidak akan pernah marah sama sekali. Tapi kalau dia berusaha menyembunyikan ini semua juga tidak boleh. Karena bagaimanapun juga, satu-satunya teman dia bercerita adalah Nova—ibu yang merawatnya sejak kecil.
“Kenapa Grace?” tanya Nova ketika ia melihat Grace berdiri di ambang pintu menunggu Nova selesai menunaikan sholat dan doanya.
Grace tersenyum lalu menghampiri Nova yang sudah kembali duduk di atas ranjang lapuk miliknya.
Ranjangnya begitu rapuh dan mungkin saja jika tak di perbaiki bagian paku yang sudah terlepas itu akan membuat ranjang Nova ambruk. Tentu saja Grace akan tak tahu hal ini karena Nova selalu saja menyembunyikan hal yang seperti ini dari anak-anaknya bahkan kakak-kakaknya yang lain.
Grace merasa iba pada keadaan mereka saat ini. Semua harus dicukup-cukupi bahkan makanan pun adik-adiknya harus berbagi satu ikan menjadi dua, kadang sepiring harus berdua, itu tidak akan sama sekali membuat adik-adiknya kenyang dan fokus belajar. Dia tidak paham lagi bagaimana caranya agar semuanya merasa cukup. Dia kerja pun tidak sama sekali mencukupi kebutuhannya dan adik-adiknya.
Tak bisa dipungkiri, uang kuliahnya saja sering nunggak kalau sudah benar-benar tidak ada pegangan sama sekali dan Grace kadang harus mencari pekerjaan lain demi ibunya tidak tahu kalau dia tidak bayar uang kuliah.
Ah, berat memang tapi semua juga untuk Nova bangga melihat Grace lulus kuliah dengan gelar yang memang Grace impikan selama ini.
“Kasurnya nggak layak pakai lagi, Bu.”
Nova menatap kasur yang dilihat oleh Grace. Lalu dia tersenyum. “Masih layak kok. Kamu tenang aja.”
“Tapi bentar lagi ini bakal ambruk.”
“Nanti Ibu paku lagi biar kenceng lagi.”
Grace meringis. Setidak mampu inikah Grace menolong perekonomian panti ini? Lalu Grace gunanya apa?
“Tapi—“
“Kamu tenang aja. Ini bakal kuat kok sampai kita punya uang lebih buat beli yang baru.”
Nova meyakinkan Grace yang sudah menatapnya dengan air mata tertahannya.
“Kamu kerja sudah buat Ibu bangga, apalagi kalau kamu lulus kuliah dengan gelar, ibu pasti makin bangga sama kamu.”
Nova memeluk Grace dan benar saja Grace langsung menangis begitu saja di pelukan ibunya. Menumpahkan semua yang ada di pikirannya ke dalam pelukan hangat itu.
Grace tahu, dia cengeng, lemah dan tak berdaya.
Tapi, Grace juga mau jadi kuat seperti apa yang diamanahkan oleh kakak-kakaknya untuk selalu kuat, menjadi pelindung ibunya, penguat dan support system ibunya saat wanita paruh baya itu sedang rapuh.
“Ada apa kau masuk ke kamar? Ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Nova kembali ke topik.
Grace mengangguk. “Iya, ada. Dan Grace siap untuk cerita.”
“Kalau begitu, apa yang akan kau sampaikan?”
Grace terdiam sejenak... Sedikit ragu.
“Kenapa menatap lama?” tanya Nova. “Masih ragu atau memang kamu belum siap cerita? Ibu akan tunggu sampai kau mau bercerita.”
Grace bergumam. “Hm!”
“Kenapa?” tanya Nova lagi.
“Sebenarnya... Grace diundang lagi untuk makan malam sama Edward atas permintaan Rey Thomas dan Diandra Thomas.”
Damn. Keluarga itu. Mau apa lagi? Apakah mengikuti keinginan anaknya sudah cukup bagi mereka?
“Ibu izinkan?” tanya Grace bertanya penuh keraguan. Dia takut, ibunya akan merasa tidak nyaman dengan ini.
Betapa dia tahu kalau ibunya benar-benar takut jika harus berhubungan dengan orang kaya dan terkenal seperti Thomas. Dia takut semua kehidupan normalnya bersama anak-anak panti yang lain akan menjadi sorotan publik dan membuat anak-anaknya merasa tidak nyaman. Iya, tidak nyaman. Karena setiap anak tidak semua akan merasa biasa saja.
Semua anak berbeda. Ada yang bisa menerima atau bahkan ada yang begitu risih.
“Baiklah, ibu izinkan.”
“Benarkah?” tanya Grace meyakinkan.
“Dengan syarat... Jangan jadikan panti ini jadi sorotan publik. Ibu tidak nyaman.”
Setelah mendapat izin dari ibunya, Grace kembali ke kamar dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Edward atas kabar ini. Ya, sebenarnya kabar ini tak begitu Special. Yang paling dia nantikan sekarang adalah kapan Edward berhenti mengganggunya?
“Halo? Aku ada keputusannya sekarang.”
‘Katakan!’
“Aku diizinkan untuk dinner bersama kedua orang tuamu.”
‘Bagus. Besok kita dinner.’
“Apa? Secepat itu?” tanya Grace kaget.
‘Lebih cepat lebih baik.’
Sial. Kenapa dia harus punya kenalan seperti Edward yang tak mau dibantah keputusannya dan satu orangpun tak bisa membantah keputusannya.
Sial sekali.
Grace menutup telfon itu dengan perasaan kesal. Aneh sekali. Kenapa dia harus kenal orang seperti Edward yang minim bicara, kalau bicara irit, kalau bicara sekalipun pasti akan seperti orang yang perintahnya tak mau diganggu gugat.
Dasar bayi besar.
Dengan perasaan yang masih kesal, Grace membanting ponselnya ke kasur lalu pergi untuk mandi.
•••
To Be Continued.