Perdebatan

1007 Kata
“Ada kabar apa?” tanya Diandra masuk ke ruang kerja Edward ketika perempuan paruh baya itu mendengar bahwa Edward ada kabar gembira untuknya. “Nanti saya kabari langkah selanjutnya apa.” Edward memutuskan telefon itu secara sepihak sebelum si lawan bicaranya menjawab apapun. “Mom? Sudah kembali dari rumah aunty?” tanya Edward tak menjawab apa yang ditanyakan oleh ibunya itu. “Mommy mendengar kau ada kabar gembira. Mommy akhirnya ke sini cepat-cepat agar bisa mendengar kabar gembira itu.” Edward berdeham. “Baiklah. Memang mommy yang selalu kepo terhadap urusanku.” “Iya karena memang semuanya tentang dirimu mommy rasa penting.” Edward terkekeh. Dia tahu, Mommynya memang terlalu mencintainya hingga ia rasa, semuanya yang dilakukan Mommynya untuknya yang terbaik adalah yang Edward pilih. “Kabar apa yang akan kamu berikan pada mommy hari ini?” tanyanya lagi. “Hm... sedikit kabar yang buat mommy akan merasa kalau sedikit lagi harapan mommy akan terwujud.” “Apa itu?” tanyanya. “Ya, wanita itu mau diajak dinner bersama mommy and Daddy.” Wajah senang Diandra benar-benar tak dibuat-buat. Wanita paruh baya itu seketika langsung teriak-teriak seolah sedang menerima sebuah kejutan yang begitu berharga dan membuatnya benar-benar terlihat bahagia. “Benarkah?” tanya Diandra memastikan. “Mommy tak mau tahu! Daddy harus tahu ini dan kita buat dinner ini lebih Special dari yang kau buat beberapa waktu lalu.” Edward mendelik. “Tidak bisa. Edward tidak mau kalau kalah dengan kalian. Pokoknya jangan sampai mewah seperti yang Edward bikin. Karena kesan yang menjadi berharga di hidup dia harus dari Edward bukan mommy ataupun keluarga Thomas lainnya.” “Apa-apaan kamu! Ini terserah mommy!” “Tapi mom! Edward tak akan izinkan ini terjadi. Kalau perlu, mommy saja sama Daddy yang makan malam berdua.” “Lalu kau dan calon mantu mommy?” “Buat acara sendiri. Lebih romantis, lebih mewah dan lebih dari segalanya.” “Edward! Apa-apaan kau ini. Itu tidak adil bagi Mommy. Pokoknya mommy mau, kita harus buat yang mewah, elegan dan tak bisa dilupakan begitu saja.” Edward merasa tak terima. Ia menelfon orang-orang dibalik rencana cemerlang dan tangan kanannya untuk menyiapkan acara itu dengan semewah dan tak pernah dibuat oleh siapapun termasuk saat hari ulang tahun pernikahan mom dan dad dari Edward sekalipun. Begitu juga dengan Diandra. Yang meminta bantuan beberapa temannya untuk merekomendasikan tempat yang begitu mewah, tempat yang mahal bahkan lebih mahal dari apa yang pernah Edward pesan untuk teman-temannya dulu bahkan teman-teman gadis Edward saat zaman kuliah dulu. “Begini saja. Bagaimana jika Daddy-mu saja yang memilih tempat yang mana yang harus kita jadikan tempat makan malam bersama wanita itu. Ya, nanti kita harus mengalah salah satunya jika Daddymu yang sudah turun tangan. Kita turunkan ego kita dan kita buat acara dinner itu lebih Special dan lebih tak bisa dilupakan oleh wanita berharga bagimu itu. Bagaimana?” tanya Diandra mengusulkan diri. Edward terlihat sedikit mengerutkan keningnya. Tipis namun lama kelamaan mendalam. Iya, memang. Ini merupakan ide yang bagus. Dia juga akan setuju jika tidak ada perlombaan siapa paling mewah dan siapa paling bagus dekorasinya. Toh, itu tidak akan membuat mereka merasa lebih baik. “Oke. Edward setuju.” ••• Diandra menghampiri Rey yang baru saja duduk di sofa panjang di tengah-tengah kamar mereka. Ya, Rey baru saja pulang dari Turki untuk melihat perkembangan proyek hotel di sana. Sudah setengah jalan namun Rey merasa perkembangannya terlalu lambat sehingga Rey harus memantaunya secara langsung selama dua hari ini. “Capek?” tanya Diandra pada Rey. Memijat bahu suaminya. “Hm. Apa ada maunya?” tanya Rey menebak. “Siapa?” tanya Diandra seperti tahu maksud Rey. Jadi, dia harus bersikap tidak tahu saja. “Kau jangan berpura-pura!” Terkekeh. “Baiklah. Nyatanya kau sama saja. Tetap paham apa maksudku.” “Katakan saja. Apa yang kau mau.” Diandra menghentikan pergerakannya untuk memijat bahu suaminya lalu berpindah duduk di samping Rey. “Kita makan malam bersama calon sekertaris Edward ya besok?!” ••• “Daddymu sudah setuju.” Diandra mengatakan itu ketika mereka sudah selesai makan malam hari ini. Rey melirik ke arah istrinya dengan tajam dan dingin. “Aku bahkan belum mengatakan ‘iya’ atau ‘tidak’ tadi. Kenapa kau jadi mengatakan aku setuju?” tanyanya. “Kalau begitu, katakan saja apa keputusan Daddy.” Edward berucap dengan dingin. Edward bahkan sama sekali tidak menjawab dan tak melirik ke arah Daddynya akhir-akhir ini bahkan lebih jarang dari biasanya. Entah ada masalah apa diantara mereka. Yang Edward tahu, semua berawal dari dirinya masih berumur sepuluh tahun. “Kau yakin dengan gadis itu?” tanya Rey bertanya pada Edward. Tanpa melihat ke arah putranya. Edward membalasnya dengan tak menatap ke arah Rey juga. Fokus laki-laki itu hanya pada Mommynya yang mengelus punggung tangan Edward dengan lembut. “Kalau Edward tidak yakin, buat Edward dengan begitu niat membuat acara seromantis kemarin.” Jawaban dari Edward mampu membuat Diandra menatap ke arah putranya kaget. “Ed! Itu Daddymu. Kau jangan seperti itu.” “Biarkan saja anakmu itu bersikap semaunya. Jangan salahkan jika dia akan hancur karena sikapnya sendiri.” “Dan jangan salahkan keturunanmu akan bersikap kurang ajar padamu jika hanya dengan kata ‘maaf’ begitu berat untukmu.” Edward membalas menyindir. Rey menoleh ke arah Edward dengan tatapan tajam namun bukannya takut, Edward lebih memilih membalas tatapan tajam itu. “Hei?! Kenapa jadi berantem?” “Ayo! Selesaikan diskusi ini di sini.” “Baiklah, aku memilih tempat yang dipilih oleh Edward dan aku mau, mommymu yang mengurus dekorasi dan konsepnya.” Ini baru adil. Rey akhirnya pergi dari ruang makan ini. Melanjutkan semua pekerjaannya. Bagi Rey, ini benar-benar terlaku berlebihan harus mengajak dinner calon sekertaris Edward ke tempat mahal, mewah dan di berikan konsep yang begitu baik dan mewah seperti orang sedang ulang tahun saja. “Jadi gimana? Apa kau setuju dengan keputusan Daddymu?” tanya Diandra pada Edward di meja makan. “Bagus. Mommy saja sana yang buat apa yang Mommy suka.” “Dan tugasmu... Ajak dia bahagia seharian.” ••• TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN