“Apa? Jalan berdua?” tanya Grace kaget ketika mendapat kabar dari Edward jika mereka harus jalan berdua sebelum dinner itu terjadi.
Bagaimana caranya ia meminta izin pada ibunya?
‘Ini permintaan mommy.’
“Ya, tapi kenapa harus jalan? Bukankah permintaannya hanya makan malam?” tanya Grace tak habis pikir. Iya, memang semua akan menjadi biasa saja jika sudah berhubungan dengan Thomas. Tapi, dia tak bisa dengan gampangnya meminta izin pada ibunya. Dia takut ibunya berpikir Grace memanfaatkan cara ini agar bisa menolong perekonomian panti ini.
Yang ada kakak-kakaknya akan marah besar jika melakukan itu.
Meskipun mereka orang yang kekurangan ekonomi, tapi setidaknya mereka bukan pengemis yang meminta apapun ke orang kaya hanya sebuah privillage yang ada. Hanya karena Edward memilihnya untuk menjadi sekertarisnya dan ibunya suka padanya. Tapi kan dia bukan seperti perempuan lain yang memanfaatkan keadaan ini untuk merubah segala hidupnya.
‘Kau tahu, semua memang harus kau lakukan jika kau ingin menolongku untuk membuat perempuan yang aku sayang senang. Beliau jarang menyukai gadis yang sempat aku kenalkan.’
Edward berbohong. Selama ini, Edward tidak pernah memperkenalkan partner kerja ataupun teman sekolahnya pada sang ibu. Ya, mungkin Edward yakin saat itu ketika dia besar pasti akan bertemu dengan gadisnya yang dulu menjadi cinta pertamanya.
Bukan berarti juga Edward tidak pernah memiliki teman atau partner kerja yang merangkap menjadi teman dekatnya. Banyak bahkan berbeda-beda. Dan alasan mereka pergi juga berbeda-beda.
Ya, ini mungkin saja Grace belum tahu siapa Edward sebenarnya. Kalau tahu, ia tak yakin akan bersikap seperti ini. Seolah Edward bukan siapa-siapa di mata Grace.
Tapi ini lebih baik.
“Oke, baik. Tapi siang ini aku sedang tidak bisa karena aku harus kuliah dulu. Selepas jam makan siang, sepertinya aku memiliki waktu free.”
‘Bagus. Aku akan menjemputmu—‘
“NO! JANGAN!”
‘Kenapa?’
“Kau tahu, aku ini tidak mau jadi bahan omongan orang-orang. Mana mungkin teman-temanku tidak tahu kau apalagi kau memiliki segalanya jauh dibanding aku yang hanya punya rumah panti. Kau tahu, alasan aku ragu menemuimu, karena aku takut kau malu karena aku.”
‘Kenapa kau jadi memikirkan apa kata orang? Semua orang memang berhak bicara, tapi kau tahu, aku tidak peduli apa kata mereka bahkan—“
“Sudahlah! Cukup. Oke. Kita akan bertemu di tempat yang aku tentukan.”
•••
Sebenarnya malas sekali Grace bertemu dengan Edward di saat-saat yang seperti ini. Rasanya, terpaksa. Karena, ya, mungkin akibat keinginan kedua orang tuanya.
Setelah acara kuliah selesai, Grace langsung menemui Edward yang ada di tempat di mana Grace memberitahukannya.
Ya, Grace memang sempat memberi tahu dan men-share lokasi pada Edward sehingga ia tidak perlu sampai bertemu di area kampus.
Usia Grace yang masih polos ini begitu mudah untuk di tebak oleh orang-orang. Ya, contohnya saja, saat dirinya berbohong.
“Habis ini mau ke mana?” tanya Grace ketika mereka sudah bertemu di suatu tempat yang begitu rahasia. Begitu tidak dikenal oleh orang-orang. Lebih tepatnya belum.
Tempat ini begitu sangat terpencil namun beberapa orang mungkin pernah melewati tempat ini namun tidak begitu ngeh jika tempat ini adalah tempat yang disukai oleh Grace kalau diam-diam bertemu dengan beberapa orang yang mungkin tidak boleh orang-orang tahu.
“Makan.”
“Ini sudah di tempat makan. Kau masih mengajakku makan?”
“Makanan di sini tidak enak.”
“Karena kau tidak bersyukur.”
Edward berdiri dan menarik sebelah tangan Grace membuat wanita itu akhirnya menuruti apa kemauannya.
“Fine.”
•••
Setelah makan, mereka langsung pergi ke tempat pertama. Mall.
Tempat pertama mereka adalah toko tas yang bermerk dan mahal. Tentu saja Grace akan menolak ini namun demi sebuah ketidakkacauan yang akan diperbuat oleh dirinya, maka Grace akhirnya mengalah.
Ya, Grace menerima barang yang diberikan oleh Edward. Tapi otak kecilnya tengah memikirkan setelah ini mereka akan ke mana. Dan barang-barang ini bagaimana caranya tidak diketahui oleh Nova—ibu pantinya.
“Tas ini berat.”
“Biar aku bantu.”
Edward mengambil alih tasnya dari tangan Grace membuat wanita dengan topi putih dan Hoodie kebesaran itu menatap tak percaya.
“Ingat, ini demi my mom.”
•••
Grace mengendap-endap di hari yang sudah mulai gelap ini. Ya, jam sepuluh malam mereka baru sampai di rumah. Dan untung saja jendela kamar Grace tidak ia kunci maka dia bisa meletakkan belanjaan dan beberapa barang yang lain ke dalam kamar lewat jendela.
Setelah selesai semuanya, Grace berpura-pura tengah buru-buru mengetuk pintu seolah dia merasa bersalah.
Tok. Tok. Tok.
Clek.
Pintu terbuka dan menampilkan Nova dengan tatapan mata tajam namun sendunya.
“Kamu kenapa baru pulang?” tanyanya. Nova menatap Grace yang menatap Nova dengan tatapan bingung namun merasa bersalah.
“Hm—ak—aku habis kerjain tugas beberapa makalah yang belum selesai sama teman. Maaf belum atau nggak sempet buat kasih tahu Ibu soal ini.”
Nova tersenyum. “Nggak perlu. Kamu kan kuliah jadi mungkin emang kamu butuh banget waktu lebih banyak di kampus dari pada di sini. Maafin ibu ya udah bersikap berlebihan sama kamu.”
Sumpah. Ini kali pertama Grace merasa paling bersalah pada ibunya hanya karena dia tidak mau Nova kepikiran tentang Grace yang berhubungan dengan orang paling penting di kota ini yaitu keluarga Thomas.
“Ibu tak bersalah. Justru Grace merasa bersalah. Hari ini Grace tidak bekerja. Dan pendapatan kita otomatis berkurang.”
“Tidak masalah. Kau bisa cari uangnya nanti setelah kau selesai kuliah.”
“Tapi—“
“Ibu tidak marah, Nak.” Nova tersenyum. “Asal kamu jujur, Ibu tidak masalah jika kau pulang malam karena kuliah atau tugasmu yang lain.”
•••
TBC!