Dinner Terjadi

1203 Kata
Grace kini tengah bersiap-siap untuk pergi ke restoran yang sudah disediakan oleh keluarga Thomas untuknya. Sebelum itu, Grace harus di hadapkan oleh dua orang yang ternyata dari tadi sudah mengintip ke kamarnya. Dia adalah Diva—kakak pertama Grace di panti beserta Nova—ibunya. “Mau ke mana lagi, Dek? Katanya kemarin sudah ke restoran tempatmu di undang Edward Thomas.” Diva melirik tajam ke arah Grace membuat wanita dua puluh dua tahun itu menundukkan kepalanya. Dia takut Diva marah kalau tahu ini semua. Tapi, selain itu dia pasti tahu jika ekonomi keluarga di panti ini benar-benar berada di titik terendah. “Makan malam bersama keluarganya Edward.” “Wah, kenapa akhir-akhir ini kau sering di ajak ke sana? Ada apa ini?” tanyanya lagi dengan nada sindirannya. “Mmm... Kami kan berteman.” “Maksud lain dari berteman, pendekatan?” tanyanya lagi. “Memangnya kau tak bisa mencari teman yang diajak pendekatan yang lain? Setidaknya tidak menyusahkan hidup kami.” “Maksud kakak?” tanya Grace tak mengerti. “Kami berteman. Memangnya apa salahnya?” “Tidak ada yang salah.” “Lalu kenapa kakak terus-menerus menyalahkan cara bertemanku dengan Edward?” tanya Grace balik menyindir. “Dek, sampai saat ini, kakak tidak ada masalah sekalipun kau bilang hanya berteman dengan orang kaya seperti dia. Tapi yang perlu kau tahu, efeknya jika kau ketahuan menjalin pertemanan dengan orang yang levelnya sangat jauh di atas kita, hidup kita akan selalu dipertanyakan dan dianggap kita hanya sebuah benalu. Berteman boleh asal kita tahu batasan berteman.” Grace paham. Diva hanya khawatir. Dia takut ketenangan panti di sini menjadi buyar. Namun bukan ini maksudnya. Grace hanya ingin membuat keadaan panti ini lebih sejahtera seakan jika tidak bisa menyejahterakan diri sendiri, setidaknya dia bisa menyejahterakan dengan cara ini. Walaupun efeknya akan berbeda. “Kakak tenang saja. Aku tahu dan paham soal ini. Dan aku sudah memiliki keputusan ini jauh dari yang kakak pikirkan saat ini.” ••• Sebenarnya Grace tidak langsung pergi ke restoran, melainkan Grace dijemput oleh beberapa bodyguard Edward dan di suruh pergi ke salon sebentar untuk mempercantik dirinya. Sebenarnya Grace benar-benar tidak mau ke salon karena menurutnya itu hanya buang-buang waktu saja. Setelah selesai didandani oleh tukang make up, Grace buru-buru memakai pakaian yang sudah disediakan oleh tukang salon ini. Dress putih selutut, rambut yang di Curly bagian bawahnya serta memakai mahkota putih kecil sebagai pemanis di atas kepalanya. Sepatu heels warna putih bling juga tak lupa menjadi sorotan objek malam ini. Mobil ferari yang sudah ada di depan salon yang membawa gadis usia dua puluh dua tahun ini kemudian masuk ke dalam dan meminta untuk sopirnya agar on time dan tak mau masalah ini di besar-besarkan lagi. Dua puluh menit kemudian akhirnya mereka sampai di depan sebuah restoran yang berbeda dari sebelumnya yang sempat Edward dan Grace berkencan. “Nona, silakan masuk!” Bodyguard dengan pakaian serba hitam itu menunduk. Lalu melanjutkan ucapannya. “Tuan besar, nyonya besar dan tuan muda sudah menunggu Nona di dalam.” Ah? Mereka cepat sekali sampainya. Apakah Grace memang selelet itu? ••• Black Bean Relish menu yang dipesan oleh Diandra dalam makanan yang termasuk soups & Rele itu. Sedangkan bagian menu salad, Diandra memesan Fresh baby spinach. Bagian dessert juga Diandra memesan Chocolate Mousse Cake dan yang Grace tahu harganya akan mahal sekali. Grace membelalakkan matanya dengan sempurna. Menu seperti ini, apakah Grace tidak akan alergi setelah ini? Jujur saja, Grace tidak pernah makan makanan yang begitu membuat lidahnya akan gatal-gatal ah bukan makanan yang mahal seperti ini maksudnya. Pastinya, itu akan membuat rasa makanan itu akan terasa aneh di lidahnya. “Makan Nak.” Dia Diandra, dengan senyum manisnya menatap ke arah Grace yang hanya menatap makanan di depannya dengan tatapan anehnya. “Ini—“ “Ini makanan sehat semua,” potong Edward yang ada di samping Grace membuat gadis dengan dress putih itu menatapnya dengan tatapan tidak peduli. “Kau belum merasakannya makanya kau merasa makanan ini adalah makanan teraneh.” “Sekarang, kau makan!” titah Edward membuat Grace merotasikan bola matanya lalu kembali mengangguk menatap ke arah Diandra dan Rey yang sejak tadi diam saja. Grace mengangguk. Ia langsung memakan makanan yang sudah ada di sini dengan perasaan yang masih bingung. Kenapa keluarga Edward seperti ingin mengatakan sesuatu padanya? “Selepas makan, kita bisa berbicara serius.” ••• “Kau mau menjadi sekertaris Edward dalam waktu dekat ini?” Pertanyaan itu masih terus terngiang-ngiang di lubuk hatinya. Meskipun mereka sudah menyelesaikan acara malam ini dan Grace sudah diantar pulang oleh Edward satu jam yang lalu, Grace malah tidak ada keinginan untuk masuk ke dalam rumah. Pikiran dan otaknya masih memikirkan jawaban apa yang akan dia katakan pada Diandra lusa. Grace memang meminta waktu untuk berpikir matang-matang dan meminta waktu untuk ia izin pada ibu Nova dan kakak-kakaknya yang lain. Bagaimana pun juga mereka adalah keluarganya sekarang. Kehadiran Grace di hidup Edward juga memang tak bisa ia lupakan. Diandra mengatakan, hidup Edward lebih tenang setelah menemukan dirinya seolah Edward kenal padanya sudah sejak lama. Tapi, Grace sampai sekarang tidak tahu di mana dan kapan mereka sempat bertemu pertama kali. Rey pada acara dinner tadi hanya banyak diam. Yang mendominasi pembicaraan di meja makan itu hanya Diandra sedangkan Edward memang sifatnya seperti Rey—tidak banyak bicara namun fokus. ‘Kau di mana? Sudah larut malam loh ini. Kau belum pulang?’ Pertanyaan dari sambungan telfon itu membuat Grace membuyarkan pikirannya yang terus berpikir apa yang akan jawab lusa pada Diandra. “Sebentar lagi Grace pulang, Bu.” Grace ada di taman. Tak jauh dari rumah pantinya. Ia hanya ingin menenangkan diri sembari mencari jawaban apa yang akan dia katakan pada Diandra. Setelah dia pikir akan lebih baik Grace tanyakan pada Nova dan kakak-kakaknya yang lain, akhirnya Grace beranjak dari duduknya dan pulang ke rumah panti. Namun sebelum itu, Grace mengirimi pesan pada kakak-kakaknya untuk meminta berkumpul besok di rumah panti. Grace Nathalie: Besok kakak bisa kan ke rumah panti? Penting. ••• “Bagaimana menurutmu Rey?” tanya Diandra ketika mereka sudah ada di rumah. Setelah acara makan malam, Rey dan Diandra langsung pulang dan menanyakan semua hal tentang keputusan Edward serta Diandra pada Rey di rumah saja. Diandra tahu Rey orangnya adalah terbuka. Dia akan mengatakan jika mereka tidak akan mau jika tidak setuju namun akan mengatakan iya jika Rey suka. Pada kenyataannya, Rey tak menjawab. Dia hanya menuruti apa yang dua manusia ini. Meskipun terkadang tak sama dengan apa yang sudah ia inginkan sejak dulu. “Edward sudah berusia matang, kupikir tidak ada salahnya untuk menyuruh Edward mencoba Grace menjadi sekertarisnya.” “Jadi kau setuju?” Rey mengangguk. “Asal apapun yang terjadi ke depan, kuharap kalian bisa melakukan solusinya sendiri. Aku akan membantu jika sudah dalam keadaan yang begitu genting.” Tak lama dari itu, Edward datang. Duduk di dekat Diandra dengan satu kaki ia letakkan di atas satu kaki lainnya. “Edward! Ada Daddymu! Tolong kakinya yang benar!” Edward mengangguk. Ia kembali membenarkan duduknya kemudian ia menatap ke arah ayahnya yang hanya menatap Edward dengan datar. Biasanya, Edward selalu ditatap tajam oleh lelaki ini. Kenapa sekarang tidak? “Lusa kau antarkan mommymu menemui Grace.” ••• TBC!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN