Di panti kini sudah ada Ibu Nova, Diva, Lia dan Alya beserta suami-suami mereka dan anak-anak mereka.
Para anak tengah bermain di ruang tengah. Sedangkan mereka tengah berbicara di kamar ibu. Dan dari sinilah mereka tahu keadaan yang sebenarnya terjadi di rumah panti ini. Tempat sempit, berkecukupan, bahkan kekurangan tempat tidur saking banyaknya anak panti dan sedikitnya kamar di tempat yang berukuran seratus meter ini.
“Dek, kondisi kamar Ibu seperti ini?” tanya Lia pada Grace berbisik.
Nova tengah mengambil air minum untuk dirinya sendiri karena seharian belum minum apa-apa dan saatnya ibunya juga minum obat.
“Aku juga tahu kemarin beberapa hari yang lalu.”
Diva—kakaknya kini menatap dua orang itu dengan tatapan mengernyit.
“Lia sibuk, Dek. Makanya kaget liat kondisi panti yang seperti ini,” celetuknya.
Bisa dikatakan, Lia tengah sibuk karena pekerjaan barunya kali ini adalah seorang ibu RT. Di mana suaminya menjabat jadi RT sejak usia pernikahan mereka masih dua tahun dan belum memiliki anak.
“Kalau begitu, kenapa tidak beli kasur baru untuk Ibu?” usul Alya. Diantara ketiga kakak beradik yang sudah memiliki suami ini, gaji suami Alya lebih besar karena memiliki jabatan yang lebih tinggi yaitu menjadi seorang guru sejak dua tahun yang lalu juga.
“Kau senang bicara! Yang terjadi bukan semudah itu. Ibu pasti menukarnya dengan adik-adik yang lain agar kasurnya tidak itu itu saja.”
“Jadi sebisa mungkin kita harus beli juga buat adik-adik.”
Ketiganya mengangguk. Menyetujui usul mereka.
“Tapi...tunggu aku gajian ya!”
•••
Ternyata Grace tidak bisa memberanikan dirinya mengatakan yang sebenarnya pada Nova maupun ketiga kakak-kakaknya. Meskipun sampai selesai makan siang seperti ini, akhirnya mereka istirahat sambil lalu Grace mencoba meyakinkan dirinya jika ini pasti akan ada hal yang baik.
“Bagaimana jika kita mengumpulkan tabungan kita untuk membeli kasur untuk ibu dan adik-adik yang lain?” usul Alya lagi setelah mereka kembali ke dalam kamar Grace tanpa Nova karena wanita itu masih mengurusi beberapa anak panti yang sedang makan dan ada juga yang sedang manjanya minta disuapi oleh Nova.
“Sebenarnya, boleh-boleh saja. Sekarang pun, Grace punya tapi mungkin takkan cukup.”
“Aku juga ada. Tapi, aku harus minta izin pada suamiku.” Diva menjawabnya dengan pelan.
Lia pun ikut menjawab, “boleh. Kebetulan tabunganku bulan ini belum dipakai sama sekali.”
Mereka akhirnya keluar dari kamar Grace menemui suami-suami mereka dan meminta izin pada mereka. Untungnya, mereka semua dan suaminya kompak untuk membantu perekonomian keluarga panti di sini. Mereka tidak egois. Mungkin karena janji-janji mereka di awal pernikahan adalah alasannya.
Beberapa menit kemudian, ketiga kakak Grace kembali ke kamar dan menemui gadis dua puluh dua tahun itu yang terduduk di atas kasur dengan pikiran yang masih kacau.
Ya, kacau. Bagaimana ia menjawab penawaran Thomas dan keluarganya yang lain untuknya bekerja menjadi sekretaris Edward.
“Kenapa Grace? Kusut sekali wajahmu. Ada masalah?” tanya Diva yang duduk paling dekat dengan Grace.
Grace menggeleng. “Tidak ada.”
“Lalu kenapa wajahmu? Kuliah lancar kan?” tanyanya lagi.
“Lancar kok.”
“Lalu kenapa kau kelihatan kebanyakan berpikir?” tanya Lia meneruskan.
“Ah, tidak. Aku hanya ingin meminta pendapat kalian tapi sepertinya kita harus menyelesaikan tentang kasur ini dulu baru aku cerita pada kalian.”
Ketiganya mengangguk. Biarkan saja, mungkin Grace juga memiliki masalah lain di kehidupannya yang lain.
Lia lebih dulu memperlihatkan uang yang ia tabung selama ini. Sekitar lima puluh dollar. Diva juga akhirnya memberikan tabungannya yang tak seberapa ini. Tujuh puluh delapan dollar sedangkan Alya memberikan tabungannya lebih banyak dari kedua saudaranya itu yaitu sekitar sembilan puluh lima dollar. Dan kali ini, tinggallah Grace yang memperlihatkan uang hasil tabungannya selama ini. Hasil jajan yang tak pernah ia beli sekitar seratus empat puluh dollar karena kemarin sudah dibayar untuk obat sang ibu dan biaya sekolah adik-adiknya.
“Wow, lumayan sekali.” Diva sedikit kaget. Mungkin ia pikir takkan sebanyak ini walaupun mereka mengatakan itu adalah tabungan mereka selama ini.
“Kira-kira dapat berapa kasur ya kak?” tanya Grace. “Siapa tahu minggu depan Grace ada waktu dan ada rejeki lebih untuk membeli kasur yang kurang.”
“Ini sudah kebeli tujuh kasur. Ya, walau kasurnya dengan harga termurah. Tapi, setidaknya Ibu bisa enak tidurnya kan?” tanya Diva. “Kalau kita punya uang, suatu hari nanti kita beli yang lebih baik dan lebih nyaman.”
“Oke, baiklah.”
Setelah uang mereka terkumpul, akhirnya uang itu disimpan oleh Diva untuk ia beli kasur besok bersama Alya.
Dua orang itu waktunya untuk besok ada waktu senggang sedangkan Lia ia harus mengantar kedua anaknya sekolah dan mengurus rumah sendirian.
“Sekarang, apa yang ingin kau katakan?”
Diva bertanya pada Grace yang ternyata hampir lupa apa masalahnya akhir-akhir ini.
“Grace sedang bingung.”
“Kenapa?” tanya Lia. “Ada laki-laki melamarmu?”
Sial. Kenapa Lia langsung berpikiran seperti itu?
“Tidak, Kak.”
“Lalu apa?” tanya Lia lagi.
Grace masih terlihat berpikir. Apakah ini adalah hal yang perlu ia lakukan?
“Kak Diva tahu kan jika aku sempat ada acara makan malam dua kali dengan keluarga Thomas?” tanya Grace pada Diva dan mulai menjelaskan pada kakak-kakaknya yang lain soal apa yang menjadi beban di pikirannya.
“Tahu.”
“Sebentar! Apa maksudnya? Dua kali dinner bersama Thomas family?” tanya Alya terlihat terkejut begitu pula dengan Lia yang melebarkan bola matanya.
“Ya, jadi, beberapa hari ini Grace diajak dinner. Aku tidak tahu maksudnya apa mungkin nanti Grace bisa jelaskan maksud mereka. Tapi, kupikir ini akan biasa saja. Tapi, katanya ada beberapa hal yang dijelaskan oleh mereka dan apa maksud dari undangan mereka.”
“Dinner dua kali?” tanya Alya masih tak percaya.
“Dinner pertama Grace hanya berdua dengan Edward. Tapi yang kedua lengkap beserta kedua orang tua Edward.”
“Ibu tahu?” tanya Lia.
“Tahu.”
“Jadi maksudnya dari undangan itu apa?” tanya Diva pada Grace langsung pada intinya.
“Jadi–!”
Sebelum Grace menjelaskan, Lia memotong pembicaraan mereka. “Kau pernah ketemu Edward? Memangnya kenapa dia bisa tahu kau?”
“Nah itu Grace tidak tahu. Yang jelas, Rey Thomas menawarkan aku untuk menjadi sekertaris dari Edward Thomas mulai bulan depan. Kira-kira aku harus terima atau tidak?”
•••
TBC