“APA?!”
Ketiga kakak Grace kembali melongo. Mereka sama-sama kaget. Kenapa bisa Grace ditawarkan seperti itu. Padahal mereka pikir Edward mengundang Grace hanya sebuah perkenalan biasa. Kenapa jadi seperti seolah Grace memiliki orang dalam untuk dapat hal seperti ini?
Ya, maksudnya—previllege yang dikatakan oleh orang-orang zaman sekarang.
“Iya–maksudnya Grace ditawarkan eh bukan lebih tepatnya ibunya Edward yang begitu ingin aku menjadi sekretaris dari Edward.”
“Tunggu, tunggu! Masih leg! Jadi kamu suruh kami kumpul untuk meminta pendapat kami atau meminta izin pada kami?” tanya Lia pada Grace.
“Jadi, kemarin yang waktu undangan pertama Edward ibu yang terima undangan itu. Jadi awalnya aku tidak mau datang dan ternyata malah ibu menyuruhku untuk pergi asal jangan berbuat masalah pada mereka. Lebih tepatnya mereka orang penting dan berbahaya bagi ibu. Tapi pada pertemuan kedua, ternyata dikasih penawaran ini. Jadi tidak enak minta izin pada ibu maupun menolak permintaan ibunya Edward. Jadi aku bingung harus terima apa tolak. Menurut kakak-kakak sekalian bagaimana?”
Grace mencoba menjelaskan semuanya. Tentang alasan-alasan dan awal mula kenapa bisa berhubungan dengan Thomas.
“Dan pertemuan kedua, kau jujur pada ibu?” tanya Alya.
“Kak Diva tahu. Aku hanya bilang makan malam tapi ibu ataupun kak Diva tidak tahu kalau sehari sebelum itu aku pulang malam jalan-jalan seharian bersama Edward atas permintaan ibunya Edward.”
“ASTAGA!” pekik Diva setengah berteriak. Ia benar-benar kaget. Bisa-bisanya adik gadisnya ini berbohong ke semua orang dan kalau sudah keadaan genting seperti ini baru mau jujur seperti sekarang. Adik macam apa ini?
“Kau dapat apa saja dari Edward?! Kakak tidak ajarkan kau untuk meminta-minta pada orang yang lebih ada daripada kita ya Grace!”
“Grace juga tidak melakukan itu. Grace terpaksa terima dan Grace tak satupun menyentuh barang-barang itu!” Grace membela dirinya sendiri.
Dari sejak ia bertemu dengan Edward tidak ada satu kali pun ia berpikir akan menguras semua harta Edward walaupun Edward mencintainya sekalipun dan akan melakukan apa saja untuk dirinya.
“Kakak tahu. Kamu pasti takkan melakukan itu kan? Kamu itu adik kakak jadi kamu takkan mempermalukan kakak di depn keluarga Thomas.”
Ya, semua tahu sifat Grace yang tidak enakan pada semua orang termasuk juga pada Edward dan keluarganya.
“Tapi, menurut kakak aku harus jawab apa?” tanya Grace lagi langsung pada intinya.
“Kak Lia dulu yang lebih tua dari kami semua.”
Itu kata Diva sang kakak yang paling dekat dengan Grace.
Lia berdehem. “Agak susah sih. Jadi, menurut aku pribadi, lebih baik kautanyakan saja pada hatimu sendiri.”
“Kamu memang benar kalau kita juga tidak enak kalau ditawarkan tapi menolak itu hanya karena sebuah kata ‘dia orang kaya, kita bukan siapa-siapa’. Ya, kita juga tidak enak. Karena bisa jadi orang akan mengatakan kita orang yang sombong menolak kesempatan. Tapi, menurut kakak tidak ada salahnya kau mencoba untuk menerima tawaran itu.”
“Menurut kak Alya?”
Grace menoleh ke arah kakak keduanya. Gadis yang sampai saat ini bingung itu pun akhirnya pasrah dengan semua keputusan sang kakak.
“Aku senang jika kau bisa diajak kerja sama dengan Thomas cooperation karena tak banyak orang bisa sampai ke ranah sana jika bukan orang-orang terpilih.”
“Dan aku setuju dengan alasan itu,” ujar Diva memotong pembicaraan Grace.
“Jadi? Kalian setuju?” tanya Grace lagi.
Ketiga kakaknya akhirnya mengangguk. Sungguh hanya karena sebuah hal seperti ini saja kenapa seribet ini?
•••
Di kamar, setelah kakak-kakaknya pulang, Grace terus berpikir tentang apa yang akan dia lakukan setelah ini. Besok, dia harus menjawab penawaran itu dan memutuskannya. Namun, dia juga tidak enak kalau terus bersembunyi dibalik kata ‘tidak enak’ pada orang lain sedangkan dia terus menerus menyembunyikan hal ini pada Ibunya.
Cuma satu yang ia takutkan. Nova takut kepikiran.
“Ada apa?” tanya Grace ketika ponselnya berdering dan nama Edward yang tertera di sana.
‘Aku hanya ingin mengingatkan besok batas waktu kau berpikir atas penawaran yang diberikan oleh Daddy.’
“Hm, ya, tengah kupikirkan.”
‘Oke, sampai ketemu besok.’
Tut.
Panggilan diputuskan begitu saja. s**l, tidak habis-habisnya Edward mengingatkan tentang ini dan tak habis-habisnya pula kepala Grace ditambah pusing.
Keputusannya sudah bulat. Meskipun dengan atau tanpa persetujuan Nova, mungkin satu-satunya cara agar dia bisa membalas budi pada Nova dengan cara ini.
Setelah memantapkan keputusannya, Grace menghela napas panjang. Dan menelfon seseorang.
“Halo, Pak? Bisakah saya berbicara penting dengan bapak nanti malam?”
•••
TBC!