“Ada apa kau ingin berbicara denganku?” tanya Kevin saat mereka sudah duduk di ruang kerja milik Kevin yang ada di salah satu ruangan di restroan ini.
Grace terlihat gugup. Iya, dia sangat tidak enak kalau berkata seperti ini saat ini. Kevin benar-benar baik padanya bahkan dia selalu membantunya jika dia merasa tidak memiliki pilihan lain.
Kevin sempat menjadi pahlawan di hidupnya. Meminjamkan uang untuk pengobatan sang ibu dan sering memberikan beberapa makanan yang sehat untuk adik-adik pantinya.
“Maaf, Pak. Sa-saya mau izin untuk resign kerja.”
Kevin terlihat kaget. Ia menatap Grace dengan tatapan tak percayanya. “Kenapa begitu?”
“Maaf, Pak. Saya memiliki beberapa kendala di perkuliahan saya dan memiliki tawaran pekerjaan yang lain di bidang usaha lain.”
“Apa ini bersangkutan dengan Edward Thomas?” tanya Kevin langsung membuat Grace semakin terdiam dan membisu.
Grace ingin mengelak namun lihatlah! Kevin tahu soal dia yang jalan bersama Edward tapi semuanya ia tutupi. Ah, manusia macam apa dia ini?
“Jika ini tentang Edward, kau bisa mengambil shift malam atau sore sampai jam sembilan malam. Karena kutahu, jam kantor hanya di jam delapan pagi sampai jam empat sore. Setelah itu, tidak ada lagi namanya jam kantor.”
“Ta-tapi,” ujar Grace menggantung.
“Grace! Kau jangan polos. Jika Edward memintamu bekerja di waktu saat semua karyawan lain sudah pulang, itu artinya Edward memiliki niat lain padamu selain ini.”
“Tapi, Pak! Saya—“
“Kau tetap bekerja di sini saat malam tiba, karena restoran ini benar-benar membutuhkan banyak karyawan akhir-akhir ini disebabkan tengah ramai-ramainya, jadi saya mohon untuk tidak resign karena mencari penggantimu itu tidak semudah itu.”
•••
Jadi Grace harus bagaimana? Besok dia harus bertemu dengan Diandra—mamanya Edward sedangkan dirinya saja belum sepenuhnya resign secara resmi dari restoran milik Kevin.
Pertama, kalau dia tetap dipaksa untuk bekerja, maka akan berakibat pada kuliahnya yang tidak akan berjalan mulus.
Kedua, jika ia menolak penawaran dari Edward dan keluarganya, ia akan menyesal kemudian hari karena hal yang paling memungkinkan untuk dia mendapat apa yang dia mau.
Lalu Grace harus apa?
“Halo kak?” sahut Grace dengan lemas ketika ia baru saja mengangkat telpon dari seorang Diva di seberang sana.
‘Bagaimana?’
“Gagal. Aku tidak secara resmi resign.”
‘Kok bisa?’
“Intinya, Pak Kevin membutuhkan pekerja sepertiku untuk meringankan karyawan yang lain karena restoran sedang ramai pengunjung apalagi saat weekend seperti ini.”
‘Lalu?’
“Aku tidak boleh berhenti kerja. Jam empat setelah dari Thomas Corp aku harus lanjut ke restoran.”
‘Bisa-bisa kau capek karena bekerja pagi sampai malam. Belum lagi kau juga masih kuliah, Dek!’
“Ya, aku tahu. Makanya aku masih bingung harus jawab apa pada Tante Diandra nanti.”
‘Kau minta tolong panjangin waktu saja. Kalau perlu kau katakan yang sebenarnya.’
”Bukannya ini akan menjadi Boomerang nanti buatku?” tanya Grace ragu. “Aku takut karena ini Kevin dan Edward berselisih.”
‘Jangan khawatir! Selama mereka tidak saling mengenal, itu mungkin saja bisa kau lakukan. Sembari kau carikan penggantimu di restoran.”
“Ba-baiklah.”
•••
“Jadi bagaimana, Nak?” tanya Diandra pada Edward yang pria itu tengah selesai mengerjakan berkas-berkas yang ada di depannya serta yang sudah menghabiskan sepanjang waktunya hari ini untuk ini.
“Hm. Iya, bisa, Mom.”
“Sudah ada jawaban?” tanya Diandra lagi setelah wanita paruh baya itu menghela napasnya lega.
“Belum. Mungkin mommy saja yang terima jawabannya langsung besok.”
“Jadi? Besok Mommy akan bertemu dengan gadis baik hati itu lagi?” tanya Diandra dengan ekspresi yang begitu senang dan kegirangan seolah dia tengah mendapat harta yang berlimpah dari papanya setahun lalu.
“I—“
Drt... Drt... Drt...
Ponsel yang terletak di dekat laptopnya berdering membuat dua manusia berbeda angkatan itu menoleh secara bersamaan.
“Dari siapa?” tanya Diandra pada Edward yang menatap layar ponsel dengan tatapan mengernyit dan heran.
“Grace.”
“Coba angkat dan kau hidupkan sepikernya.”
Edward menuruti perintah dari Diandra. Pria dengan setelan jas warna hitam itu akhirnya mengangkat telepon dari Grace yang kini tengah berada di sebuah taman dekat restoran tempat Grace bekerja sebelumnya.
“Halo kenapa?”
‘Selamat siang Pak Edward? Maaf mengganggu kegiatan anda siang ini sebentar. Apakah saya mengganggu kegiatan lunch anda saat ini?’
Edward berdehem. Pria itu menatap kearah maminya yang berada di sebelahnya mendengarkan dan menyimak dengan baik apa yang diucapkan oleh Grace.
Diandra memberikan kode untuk Edward agar menjawab ‘tidak apa-apa’.
“Tidak mengganggu sama sekali. Memangnya ada apa?” tanya Edward pada Grace dengan nada dinginnya.
‘Perihal jawaban saya untuk besok, apakah saya bisa meminta waktu lebih lama lagi paling tidak dua hari lagi untuk saya menjawab penawaran yang anda berikan kepada saya tempo lalu?’
“Kenapa kau meminta waktu lagi? Bukankah itu sudah cukup?”
‘Ya, saya tahu. Hanya saja saya masih membutuhkan beberapa hari lagi untuk mematangkan keputusan saya dan meminta izin kepada Ibu saya agar kedepannya tidak ada kendala-kendala dari keluarga saya entah apapun itu.’
“Kau bisa meminta izin pada ibumu malam ini. Apakah itu tidak cukup?” tanya Edward lagi sembari menatap ke arah Diandra yang memberikan dua jempol untuk sang anak.
‘Iya, saya bisa saja. Tapi, bagaimana dengan kakak-kakak saya apakah mereka akan setuju jika saya melakukan hal ini di satu sisi saya masih berstatus mahasiswa.’
“Kau tenang saja. Kau itu dibayar untuk hari ini jadi tidak ada yang merasa dirugikan kan? Kau bekerja untuk uang dan aku memperkerjakanmu untuk membantuku mengurus perusahaan. Apakah itu sebuah simbiosis mutualisme bukan?” tanyanya lagi.
Diandra tersenyum. Bagus. Tanpa Diandra bicara ternyata Edward bisa diandalkan. Ia tak perlu susah-susah untuk hal ini lagi.
“Saya kasih waktu untuk kau besok sore. Lusa kita bertemu. Bukan hanya kau, tapi aku akan ikut untuk kali ini. Paham?”
•••
Edward akan ikut di pertemuannya dengan Diandra? Mimpi apa semalam? Edward seolah mengintimidasi dirinya sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Aku harus apa?” tanya Grace pada dirinya sendiri.
“Apakah ibu harus tahu ini?” tanya Grace lagi pada dirinya.
“Kak Diva bilang Ibu tidak perlu tahu untuk hal ini. Tapi kenapa rasanya tidak enak sekali?”
“Apa aku sanggup melihat wajah ibu yang murung seperti sebelum-sebelumnya kembali terjadi?”
Grace benar-benar bingung harus bagaimana dan dia tidak tahu harus apa.
Antara dia tidak enak berbohong dengan dia tidak tahu caranya bicara pada Nova nanti seperti apa. Seperti yang diketahui, Nova lebih memilih hidup tenang bersama anak-anak yang ia besarkan di panti daripada ia harus dikenal, hidup mewah namun banyak cobaan. Apakah dengan cara Edward menjadikan Grace seorang sekretaris akan merubah hidup mereka tak tenang dan tak sedamai dulu? Dan ini adalah kesalahannya.
•••