Terpesona Dan Jatuh Cinta

1336 Kata
Bagus. Kata itu yang membuat seorang Grace menoleh tepat ke arah Marsha yang sedang makan pisang goreng cokelat yang masih tersisa beberapa potong di kotak itu. Gadis ini paham soal ini tidak sih? Kenapa seolah kata ini adalah hal yang biasa saja. Edward Thomas bagi Marsha memang hal luar biasa yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Grace dapat melihatnya dari pandang mata seorang Marsha ketika Grace mengatakan ‘Edward Thomas’ adalah orangnya. Tapi berbeda lagi sekarang. Tentang Marsha mengatakan ini hal yang bagus. Tetapi Marsha tidak tahu kan jika Gracia ini adalah seseorang yang penakut dan tidak mau berkembang dengan baik dia maunya stuck dan diam di tempat. Iya takut apa yang dia lakukan itu akan menjadi bumerang untuknya padahal itu belum tentu terjadi. “Apanya yang bagus Marsha? Ini benar-benar tidak bagus sama sekali. Kau tahu kan aku tidak suka dipaksa ataupun ditawarkan seperti ini. Aku ingin sebuah tantangan dimana jika aku waktu aku harus mengajarnya, harus mendapatkannya dengan cara apa pun. Bukan dengan cara seperti ini.” “Tapi, ini beda persoalannya. Kesempatan tawarkan oleh namanya Edward Itu adalah sebuah keajaiban dan mungkin saja tidak akan pernah kau dapatkan lagi besok atau ke depan. Orang kaya seperti mereka tidak pernah suka menunggu dan tidak pernah suka jika tawarannya ditolak. Kau tahu apa? Harga diri mereka yang menjadi taruhannya. Masa iya ya orang keluarga Thomas ditolak oleh eh seorang Grace Natalie yang tidak memiliki apa-apa dan orang lain tidak tahu kau.” “Dan jika kau tolak, itu sama saja kau menolak harta karun yang ada di depan mata demi sebuah kerikil kecil yang tidak punya apa-apa. Kalau aku jadi kau, aku pasti akan menjawabnya saat itu juga. Aku akan mengatakan ‘iya’ pada mereka karena aku tidak tahu masa depanku seperti apa jadi kesempatan ini mungkin adalah kesempatan yang paling terbaik di dalam hidup aku.” Kata-kata Marsha itu ada benarnya juga. Ah, bukan ada benarnya tapi memang benar. Dia tidak bisa menolak kesempatan yang diberikan kan yang menurut dirinya belum saatnya tetapi menurut Tuhan ini adalah saatnya. Rezeki itu bukan kita yang mencari atau memberikan pasti ada orang lain yang ikut andil dalam rezeki yang Tuhan berikan. Contohnya saja, Grace butuh uang untuk kesejahteraan panti yang ia tempati saat ini. Dan Tuhan mengirim Edward di waktu yang tepat. Walaupun memang lain sisi dia merasa tidak enak dengan orang yang membantunya dulu. Orang itu adalah Kevin. Pria itu adalah pemilik restoran tempat ia bekerja hingga saat ini. “Tapi masalahnya, bagaimana dengan ibu? Ibu sudah mewanti-wanti untuk tidak terlalu dekat dengan keluarga Thomas. Dan Chika aku bekerja di sana otomatis aku dekat dengan mereka. Walaupun ini hanya sebatas pekerjaan saja, tetapi bekerja sama dengan aku dekat dengan mereka setidaknya satu langkah lebih dekat dengan mereka daripada kalian semua. Aku sebenarnya tidak bangga sama sekali ditawarkan seperti ini. Aku orangnya suka tantangan bukan tawaran. Dan masalah yang kedua, tentang Kevin aku bekerja di sana sudah beberapa bulan belakangan ini, dia baik dan dia mampu kok menolong aku di saat aku masih dalam kesusahan seperti dulu. Gaji yang dia bayarkan sudah cukup sebenarnya untuk keperluanku dan anak-anak panti. Tapi, makin ke sini tagihan dan kebutuhan panti memang benar-benar sedang meningkat dan semakin membengkak. Aku memikirkan itu saat aku ingin menerima tawaran Edward, tapi aku juga tidak mau ibu sedih karena dia merasa aku tidak mendengarkan apa yang dia bilang. Padahal, aku benar-benar dilema sekarang.” Prinsip menjauhkan piring nasi goreng yang sudah habis itu ke depan. Meminum segelas es teh yang masih tersisa setengah dan meneguknya dengan sekali tegukan hingga habis tak tersisa. Begitu pula dengan Marsha yang sudah menghabiskan sekotak pisang goreng dan es teh. Tak terasa mereka sudah 15 menit di sini, jam pelajaran sudah berakhir semenjak 15 menit mereka ada di sini. Ya, hari ini pelajarannya hanya 2 dan tibalah saatnya dia harus pulang dan melanjutkan pekerjaannya di restoran hingga tengah malam nanti. Perihal tugas-tugasnya, Marsha sudah berjanji untuk membuatkannya tugas dan beberapa catatan agar ia bisa mengulang pembelajaran hari ini yang sempat tertinggal besok. Saat pikirannya sudah mulai pulih kembali. Grace akhirnya mengajak Marsha untuk pulang. Walaupun ujungnya perempuan itu mengajak Marsha ke tempat kerjanya, tapi setidaknya dia merasa lebih tenang dan nyaman jika ada temannya seperti Marsha walau tidak ikut membantu ia bekerja tapi setidaknya jika restoran itu sedang sepi, mereka bisa berbicara lebih lama dari ini. “Pulang yuk!” “Aku ikut kau ke restoran saja. Siapa tahu, aku memiliki inspirasi untuk memulai membuka hati dan memantapkan hati aku untuk menikah.” Grace mengernyit. “Memangnya kau sudah memiliki calon?" Marsha menggeleng sembari menampilkan giginya yang terlihat bersih itu di depan Grace. Gadis itu akhirnya mendelik. “Kau ini! Kupikir kau akan meninggalkanku dan menikah lebih dulu.” “Mana mungkin! Hei, aku masih ingin menjadi wanita karir ya mohon maaf.” “Seperti yang aku ucapkan, aku hanya berpikir bukan mendoakanmu menikah muda.” “Jalan!” ajak Marsha. Ia akhirnya berdiri dan diikuti oleh Grace. Namun sebelumnya, Marsha membayar pesanan mereka ke ibu kantin kampus ini. Grace hanya mengikuti langkah Marsha. Ke mana pun gadis itu pergi, mau naik apapun, Grace hanya mengikutinya saja. “Hari ini kita mau naik bus umum?” tanya Grace pada Marsha. Marsha mengangguk. “Iya, sudah lama aku tidak menaiki kendaraan itu. Jadi, mumpung ayah tidak menjemputku, kita naik saja sekarang. Bagaimana? Kau setuju kan?” Grace mengangguk. Dia tidak akan menjadi masalah mau naik apa saja yang terpenting, ia bisa pergi bekerja dan tidak diajak berputar-putar dulu oleh bapak sopir bus ini. “Ayo naik!” ajak Marsha pada Grace ketika sebuah bus berhenti tepat di depan mereka. Grace akhirnya naik dan duduk di samping Marsha yang berada di pinggir dekat jendela. Perjalanan dari sini ke tempat yang dituju oleh keduanya memakan waktu tiga puluh menit dan membuat kedua pasti akan bosan jika tidak diselingi oleh candaan dan pembicaraan yang lebih berbobot sebagai penghilang rasa bosan. Tak lama dari mereka berbicara itu, akhirnya mereka turun di pertigaan sebelum restoran tempat ia bekerja. Sekitar 100 meter dari pertigaan ini, restoran itu berada. Tetapi, rasanya kenapa Grace merasa tidak enak seperti ini? Dia kurang memiliki keberanian untuk pergi menemui Kevin. Dia benar-benar tidak enak. “Kok berhenti?” tanya Marsha ketika melihat Grace tiba-tiba berhenti berjalan lima langkah. “Aku kenapa rasanya tidak enak begini ya ke restoran hari ini?” tanya Grace pada Marsha. “Tidak enak kenapa?” tanya Marsha lagi. “Aku kan sempat minta resign tapi malah tak diperbolehkan. Ini bagaimana caranya aku menampakkan mukaku ke hadapan Kevin?” tanya Grace lagi. “Aku—benar-benar tidak akan enak.” “Hih. Seseram apa memangnya seorang Kevin itu?” tanya Marsha. “Dia sudah om-om?” “Belum. Dia masih berumur 27 tahun seumuran dengan Edward.” “Kok bisa tahu Edward seumuran dengan Kevin?” tanyanya lagi. “Apa kau secinta itu diam-diam pada Edward?” “A-apa?!” pekik Grace tak terima. “Mana pernah aku mencintai seorang Edward? Aku masih normal dan suka orang yang seumuran.” “Memangnya Edward terlihat tua? Kulihat di postingannya sama sekali tidak ada wajah tua. Malah seperti awet muda.” “Iya, aku sadar. Dan ku akui memang Edward tampan dan lebih tampan Edward daripada Kevin. Tapi, aku benar-benar tidak suka dengan pria tampan seperti Edward itu. Dia begitu berbahaya,” ujarnya. “Berbahaya seperti apa?” tanya Marsha tak mengerti. “Seperti—“ Tak sempat menyelesaikan ucapannya, Grace dikejutkan dengan kehadiran Kevin yang tiba-tiba saja ada di hadapan kedua orang yang tengah bercakap-cakap ini. “Pak Kevin? Sore!” “Sore. Lanjut kerja ya Grace!” balas Kevin pada Grace dan diangguki oleh wanita itu. Berbeda dengan Grace, Marsha malah terlihat begitu sedang terpesona pada ketampanan yang dimiliki oleh Kevin. Setelah Kevin pergi, Marsha menatap ke arah Grace. “Dia Pak Kevin?” tanya Marsha dengan penuh berbunga-bunga. “Iya,” jawab Grace. “Memangnya kenapa?” “Sepertinya aku mulai jatuh cinta pada pria itu. Kau harus membantuku untuk bisa dekat dengannya!” •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN