Marsha Si Pejuang Cinta

1080 Kata
Aneh. Ini benar-benar aneh. Kenapa bisa seorang Marsha bisa mengatakan jatuh cinta hanya dengan tatapan mata Kevin yang terbilang hanya sebatas lima detik. Lihat saja kelakuannya kali ini. Marsha memang menemaninya tapi bukan mengajak Grace berbicara. Melainkan gadis itu menanyakan tentang semua apa yang disukai oleh seorang Kevin. Tentu saja yang menjadi objek pertamanya adalah Gracia Natalie. Padahal, Marsha tahu jika Grace tak begitu peduli pada semua orang tentang apa yang dia suka atau apa yang menjadi pusat perhatiannya. Melayani pelanggan hanya sebatas ‘ingin pesan apa atau mau minum sekalian’. Tidak ada lagi yang ditanya pada pelanggan selain itu. Ini makanya terlalu mudah bagi Grace untuk bekerja di sini. “Sha! Aku sedang bekerja. Kenapa kau selalu bertanya tentang Pak Kevin padaku?” tanya Grace mulai bosan pada pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh Marsha tiap ia mendapat break sebentar. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Beberapa jam lagi restoran ini akan ditutup dan Marsha juga sudah disuruh pulang tidak mau. Kadang, Grace sering merasa ngeri pada Marsha yang kalau disuruh pulang tak mau. Ayah Marsha terkenal menjadi sosok Ayah yang tegas namun memanjakan Marsha sangat-sangat. Jujur, ketika Grace bertemu dengan ayah Marsha suka menangis dalam diam karena ia akan mengingat tentang ayah dan ibunya yang sampai saat ini Grace tidak tahu mereka ada di mana ataupun siapa orangnya. “Sebentar saja!” Marsha menarik tangan Grace yang sudah ingin pergi menjadi kembali duduk di tempat ini. Kursi putih yang Marsha pesan sejak tadi. “Sudah lima belas menit aku di sini dan topik pembicaraan kita hanya pada satu objek. Apa itu bisa dikatakan sebentar?” tanya Grace mulai resah. “Dan jangan lupakan yang kau jawab ‘aku tidak tahu’ ya Grace!” “Iya aku ingat. Karena kau itu sepertinya salah narasumber. Karena aku tidak tahu tentang dia.” “Kau bekerja di sini. Memangnya kau sedetik pun tak melirik ke arah pria tampan dan bijaksana itu?” tanya Marsha lagi. “Ayolah! Jangan munafik. Kau pasti sempat ada rasa pada bosmu kan?” Grace menggeleng keras. “Tidak!” “Masih mau bohong?” tanyanya lagi. “Kurang cukup bohongnya? Dan bodohnya banyak orang percaya begitu saja. Termasuk aku, memang.” “Aku menganggapnya teman. Dan ya, aku memang sempat kagum padanya. Lalu ada masalah?” tanya Grace sembari mendelikkan matanya. “... Tapi bukan Pak Kevin. Aku mengagumi seorang Pak David.” “Mereka orang yang berbeda?” tanya Marsha melongo. “Berbeda. Mereka kembar dan yang mengelola restoran ini memang dua orang yang berbeda.” Sial. Kalau seperti ini bagaimana caranya Marsha menentukan siapa yang dia pilih? Sedangkan Marsha belum tahu siapa David dan dia hanya bertemu dengan Kevin. Grace bilang mereka kembar. Otomatis wajahnya akan sama. Hei! Bagaimana ini? “Jadi ... Siapa yang akan kau pilih?” ••• “Edward! Kenapa meminta perpanjangan waktu? Kau tahu kan akhir-akhir ini banyak projek yang kita bangun?” tanya Rey pada Edward yang baru saja selesai mengangkat telfon dari seseorang. Edward yang semula kesal akibat laporan anak buahnya hanya menatap ayahnya dengan tatapan tak peduli. Ia hendak pergi meninggalkan ruang kerja namun bariton suara Rey menginterupsi pendengarannya. “Jangan sampai Daddy berubah pikiran atas penawaran ini pada Grace ya!” “Plin-plan,” balas Edward. Hanya satu kata membuat pria paruh baya itu menatap punggung putranya yang kian menjauh dan meninggalkan Rey sendirian. “Kenapa dengan Edward?” tanya Diandra saat wanita paruh baya itu menatap ke arah Edward yang sudah menutup pintu ruang kerja milik sang anak. “Kenapa kau bertanya padaku?” tanya Rey ketus. “Tanyakan saja pada anakmu ini.” “Kau ayahnya. Dan kau yang terakhir bersama Edward.” Rey mendengus. Memang susah kalau sudah menjadi orang tua. Banyak yang sensitif dan membuat semua yang bilang hanya dengan ucapan lembut dibilang kasar dan ketus. “Sudahlah. Yang jelas, aku mau Grace masuk kantor besok dan tak ada alasan apapun. Karena apa? Thomas Corp tidak suka penolakan.” ••• “Edward?! Ayahmu bilang jika besok Grace harus masuk ke kantor.” “Grace kuliah, mom.” “Sekolah bisa online kan?” tanya Diandra. “Mommy rela sekali jika meminta izin pada dosennya soal ini. Mommy bersedia walau besok sekalipun.” “Mom! Masalahnya Grace saat ini masih kerja di—“ “Wait! Kerja? Apa maksudmu?” tanya Diandra memotong pembicaraan Edward. “Jadi, Grace part time?” Aduh. Edward keceplosan. Padahal dia baru saja dapat kabar soal ini dan belum tahu kejelasannya. “Nanti Edward cerita. Tapi saat ini, Edward belum bisa menjelaskan sedetail-detailnya pada Mommy. Terserah kalian mau bilang apa pada Edward.” Setelah mengatakan itu, Edward pergi ke luar dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Diandra ikut keluar dan merasa khawatir, Diandra menyuruh beberapa orang yang ada di pintu depan untuk mengikuti Edward ke mana dia pergi malam ini. “Cepat kalian susul Edward dan jangan kembali jika kalian belum memastikan Edward baik-baik saja. Kemudian laporkan pada saya!” “Baik!” ••• “Marsha?! Sebentar lagi aku akan menutup restoran ini. Apa kau belum mau pulang?” tanya Grace yang melihat temannya ini masih setia menunggu di meja depan stage dengan kepala bergerak kanan ke kiri beberapa kali. “Kau sedang cari siapa?” tanya Grace lagi. “Pak Kevin.” “Memangnya kenapa? Jangan aneh-aneh deh. Aku sudah bilang, jangan cari perhatian di tempat kerjaku. Bisa-bisa kita diomongin banyak karyawan di sini.” “Biarkan saja. Yang terpenting, aku bisa dekat dengan Kevin.” “Ngaco! Kau bisa kena omel pacarnya!” Marsha menoleh cepat ke arah Grace. Terkejut namun sedetik kemudian kembali menetralkan raut wajahnya dengan baik. “Terus? Masih pacar kan? Jadi, masih ada banyak waktu untuk aku mendekati Pak Kevin kan?” tanya Marsha lagi dengan percaya dirinya. Demi apapun, Grace benar-benar malu. Tadi di ruangan makan Grace mendengar banyak bisik-bisik yang sedang membicarakan soal Marsha yang mencintai Pak Kevin dan dianggap sebagai lelucon serta hanya halusinasi. “Memangnya kau ini tidak tahu apa yang dikatakan oleh mereka?” tanya Grace. “Aku tidak peduli. Yang jelas, aku tidak akan mau menyerah.” “Tidak seperti ini maksudnya! Kenapa kau selalu merepotkan dirimu sendiri?!” “Justru itu. Ini suatu kesenangan dan hiburan yang kupilih. Setidaknya, aku bisa merasakan jatuh cinta pada—“ “Stop! Jatuh cinta tidak ada masalah. Hanya saja, tempatmu jatuh cinta itu yang bermasalah!” “Memangnya aku peduli? Selagi dia belum beristri, aku akan tetap mendekatinya.” •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN