Bukan Amanda namanya jika dia tidak berusaha mempertahankan apa yang menjadi keinginannya. Ah, memang benar. Jika ini memang bukan urusannya ataupun haknya.
ang Amanda juga merasa kasihan pada Grace harus terus berada dalam lingkup Edward walaupun laki-laki itu bukan orang yang patut untuk diajak bertengkar oleh Amanda.
“Edward! Mau sampai kapan kau terus-menerus seperti ini?” tanya Amanda dengan posisi sebalnya pada pria ini.
“Ini sama sekali bukan urusanmu.”
“Tapi Grace temanku.”
“Dan aku juga temanmu. Kau tak memedulikanku kan?” tanya Edward balik. “Kau hanya memikirkan perasaan Grace. Sedangkan aku? Kau tak tahu kan betapa aku tidak bisa jauh dari Grace?”
“Bucin!” semburnya. “Itu bukan perasaan manusiawi, tapi pribadi.”
“Lalu apa bedanya denganmu?” Edward kembali bertanya.
“Beda. Grace tidak sepenuh hati mengikuti keinginanmu. Sedangkan kau dengan segala hal yang kau mau selalu kau lakukan. Sesuka hatimu!”
“Jelas. Karena aku, Edward Thomas. Siapa yang berani menolak keinginanku? Semua orang tak akan pernah bisa membantah, menolak atau apapun itu.”
“Edward!” ketusnya. “Kau tetap saja seperti dulu. Egois, keras kepla, tidak mau ngalah apalagi tidak mau bersikap seolah kau salah.”
“Dan jangan lupakan denganmu, Manda. Kau juga sama. Kau itu keras kepala. Suruh jangan berurusan dengan mereka, kau tetap lakukan. Memangnya aku tidak tahu apa yang kau lakukan semalam?” ujar Edward skakmat.
“Ingat, kau takkan pernah menang.”
***
Kesombongan seorang Edward adalah hal yang tak sama sekali ia sukai. Memang benar dan ada benarnya. Mau bagaimanapun juga, dia takkan menang. Namun ketika semua dia lakukan dengan baik, mungkin saja semua akan berhasil sesuai dengan rencananya.
Hari ini, Amanda dan Grace tengah bersiap-siap merapikan semua barang-barangnya untuk mereka pergi ke Paris sore ini.
“Man, bisa tolong bantu aku ketemu dengan Marsha?” pinta Grace tiba-tiba pada Amanda disela rapi-rapinya.
“Ah, bisa. Tapi bagaimana caranya? Aiden ada di luar kamar ini.”
“Kita bisa izin pada Edward.”
Amanda menghela napasnya. Aneh sekali idenya. Tentu saja Edward takkan pernah mengizinkan hal itu terjadi.
“Bagaimana caranya? Tidak akan mungkin.”
“Bisa. Kita asal izin saja pada Edward. Soal iya atau tidak, yang penting kita sudah izin.”
“Lalu Aiden apa kabar?” tanyanya. “Kamu kalau kasih ide jangan aneh dan jangan setengah-setengah.”
“Bilang saja pada Aiden, kalau sudah izin tapi belum dibalas. Kita jangan bilang mau ke Marsha, tapi keluar sebentar. Lari siang atau semacamnya.”
“Memangnya bisa?” tanya Amana masih ragu.
“Bisa kok. Kata siap tidak bisa?”
“Oke, baiklah. Kita coba.”
Lalu kemudian Grace mengeluarkan ponselnya dan mulai menulis pesan untuk Edward lalu cepat-cepat dia keluar kamar. Namun sembari itu juga, Amanda menelfon Marsha lalu akhirnya gadis itu mengangguk. Menyebutkan tempat yang akan mereka tempati untuk mereka bertemu dengan singkat.
“Marsha setuju dan sudah sharelock.”
Grace mengangguk. Keluar dari kamar dan bertemu dengan Aiden yang sedari tadi duduk di dekat pintu bersama beberapa orang lainnya.
“Nona Grace dan Nona Amanda hendak kemana?” tanya Aiden pada keduanya dengan alis yang menyatu, kebingungan.
“Mau keluar sebentar.”
“Tenang saja. Kami sudah izin pada Edward.”
“Tap-“
Belum selesai Aiden berbicara, Amanda langsung memotong ucapannya.
“Ah, Aiden. Kami buru-buru. Beberapa jam lagi kita akan ke airport kan? Makanya kita harus bur-buru keluar agar tidak pulang terlambat.”
Tanpa menunggu jawaban dari Aiden, Amanda menarik tangan Grace lalu mereka pergi dari sana.
Menemui Marsha di sebuah cafe.
Namun, tanpa keduanya sadari. Ternyata seseorang sudah ada di sana, mengawasi gerak-gerik keduanya.
***
Edward baru saja menyelesaikan meetingnya hari ini. Dan meeting selanjutnya akan dilaksanakan lusa di kota Paris. Makanya hari ini Edward sudah buru-buru menyelesaikan semua kegiatannya.
Jika meeting belum selesai, Edward menyuruh kliennya untuk menyelesaikannya di Paris saja. Karena janjinya pada Grace hari ini, mereka sudah pindah ke Paris.
Amanda memang memiliki pengalaman buruk di kota itu. Namun, mungkin saja jika ada Edward dan Grace, semua trauma masa lalu Amanda akan hilang.
Ya, mungkin tak semua. Namun, sebagian.
“Mr. Edward? Can you have time to me?” tanya seorang wanita yang kini tenah menatap ke arah Edward seperti tengah tertarik ada seorang pria.
“I’m busy.”
“Ah, kapan kita bisa berbincang lebih lama selain di jam kantor?” tanya wanita itu lagi membuat Edward mengernyitkan keningnya heran.
“Buat apa? Kita memiliki masalah apa sebelumnya selain persoalan pekerjaan?” tanya Edward balik. “Jika kau ingin meminta waktu hanya untuk merayuku, mungkin itu takkan pernah terjadi aku mencintaimu.”
Rasanya, wanita itu seperti sudah terkena mental. Memang. Edward orangnya setia. Dia tidak akan pernah menjadi seseorang yang menyakiti wanita yang sudah ia taruh separuh jiwanya untuk seorang Grace.
“Ah, tidak, sir.”
Wanita itu dalam diamnya, tersenyum ke arah Edward. Mengatakan bahwa ini tidak ada hubungannya dengan perasaannya. Walaupun itu adalah sebuah kebohongan yang dikatakan olehnya.
“Lalu tentang apa? Kita bisa membicarakannya di sini kan? Tanpa harus ke kafe atau restoran manapun?’ tanyanya lagi.
“Memangnya kenapa kalau kita meeting di luar? Apa ada yang marah?” tanyanya lagi.
“Tidak.”
Edward memang tidak memublikasikan keberadaan Grace pada semua orang karena ia pikir ini belum saatnya semua orang tahu. Baginya, ia adalah orang yang berhak memiliki privasi yang tak harus semua orang tahu tentang apa yang ada di baliknya.
“Kalau begitu, bagaimana jika sekarang juga kita ke kafe untuk terakhir kali saya meminta ini?” pintanya.
Edward terlihat masih tengah berpikir panjang sebelum pada akhirnya mengiyakan ajakan seorang karyawan itu.
Wanita itu tersenyum senang lalu kemudian mengatakan jika dia akan kembali sepuluh menit lagi karena harus ke dalam untuk mengambil tas dan dompetnya di ruangan kerjanya.
“Oke. Wait a minute.”
Sembari menunggu, Edward ternyata melupakan ponselnya dan lupa menaruhnya di mana. Kemudian, Edward kembali berjalan ke dalam untuk mencari keberadaan ponselnya. Siapa tahu ponselnya tertinggal di ruangannya.
Dan ternyata benar. Ponselnya berada di meja kerjanya.
Edward mulai melihat apa ada pesan atau laporan dari apartemen. Namun Aiden tidak mengiriminya pesan. Hanya Grace saja yang mengiriminya pesan jika dia pergi ke luar sebentar bersama Amanda. Lalu Amanda memang sempat menelfonnya juga.
“Sir, mari!”
Wanita itu ternyata menyusulnya ke dalam ruangannya.
Niatnya, Edward menelfon balik Aiden namun keburu wanita itu memintanya untuk segera berangkat jika tidak mau kehabisan tempat duduk di restoran atau cafe yang mereka tuju.
Ah, sudahlah.
Edward mulai menjalankan mobilnya ke tempat yang diarahkan oleh wanita itu.
Jika Aiden cerdas, ia pasti tahu apa yang harus dia lakukan.
•••
To Be Continue