Ketiga orang itu kini sudah ada di luar menemui Amanda yang kini berdiri tepat berhadapan dengan ketiganya. Di samping Amanda, kini berdirilah Grace dan Edward.
Ketiganya benar-benar kaget. Mereka pasti tak pernah bisa menyangka jika sebenarnya yang di maksud Amanda itu adalah dia ketahuan oleh Edward.
“Kenapa? Kaget?” tanya Edward pada ketiganya.
Baik David, Kevin maupun Marsha benar-benar terdiam. Dalam hati Marsha sendiri, ia benar-benar ingin sekali memeluk gadis itu dan mengatakan jika dia benar-benar merindukannya.
“Grace...”
“Kau diam! Jangan sentuh Grace!” sentak Edward menatap tajam ke arah Marsha yang sudah ingin maju untuk memeluk sahabatnya itu.
“Jangan halangi sahabat Grace untuk bertemu dengan orang yang selama ini kau sembunyikan dari orang tuanya!” ujar Amanda menatap tajam ke arah Edward.
“Kau diam. Kau dan tiga orang menyebalkan ini sama saja!”
“Ya karena ini salahmu!”
“Aku tidak salah. Kau yang salah!”
“Edward...”
Edward menempelkan telunjuknya ke bibir. “Diam. Jangan memancing emosiku!”
David dan Kevin kini beralih saling menatap satu sama lain. Belum ada penjelasan apa-apa dari mereka.
Keduanya hanya saling pandang dan mengatakan hal yang menurut mereka benar namun keduanya masih tetap terdiam.
•••
Amanda akhirnya pindah ke apartemen punya Edward dan tentunya baik David, Kevin maupun Marsha belum diizinkan untuk bertemu dengan Grace. Dan otomatis, ketiganya harus di apartemen ini hingga mendapat izin dari keturunan Thomas itu.
Arogan, kasar, keras dan tidak mau mengalah.
Marsha menjadi menyesal sendiri ketika dia ingat menyuruh Grace untuk mau bertemu dengan Edward ataupun menerima permintaan orang tua Edward itu. Sungguh, dia menyesal. Jika saja ia bisa memutar waktu kembali, dia pasti akan mendukung Grace untuk menolaknya.
“Kenapa harus Grace sih yang dicintai Edward arogan itu?!” kesal Marsha. Membanting ponselnya ke kasur.
David dan Kevin yang baru saja duduk di sofa hanya menggelengkan kepalanya.
“Besok kita coba lagi.”
“Mana mungkin seorang Edward memberikan hal itu secepat dan semudah itu, Dave?!”
Marsha benar-benar kesal. Dia memang sahabatnya namun dia malas jika manusia satu itu menentang dan menjauhkan dirinya dari ini.
“Aku juga baru tahu kalau Amanda adalah sahabat Edward.”
“Nah! Baik aku atau kau, kita sama-sama tidak ada yang tahu kan?!” kesalnya. “Lagi pula Grace juga baru mengatakannya beberapa hari sebelum kejadian ini.”
“Jadi, rencana kita selanjutnya apa?”
•••
“Edward? Kau tak seharusnya begitu pada teman-teman Grace seperti itu.” Amanda menegur Edward yang langsung berlalu begitu saja.
Edward tak mau ambil pusing tentang apa yang akan ditegur oleh seorang Amanda di sini. Walau terkesan sangat mengganggu, namun dia juga tidak sudi jika Amnda berteman dengan mereka.
“Ed!”
“Aku belum selesai bicara padamu!”
“Edward!”
“Jika kau terus-terusan seperti ini, apa kau tak malu pada mereka? Kau seolah tak memiliki sopan santun sama sekali tahu tidak?” ujar Amanda membuat Edward berbalik menatap balik ke arah Amanda yang berdiri tepat di belakangnya.
“Kalau kau memang tidak mau aku berteman dengannya, setidaknya kau mengizinkan Grace untuk bertemu dengan teman-temannya.”
“Teman Grace hanya Marsha. Kau tahu, aku kecewa padamu. Kenapa kau tak bilang jika kau memiliki teman tidak tahu diri seperti David itu hah?” Edward menatap tajam ke arah Amanda.
“Karena aku kesepian. Aku memang berpendidikan di sana. Tapi aku butuh tema. Tidak mungkin kan kalau aku menyuruhmu ke aku sedangkan kita hanya berteman?” tanya Amanda. “Kita hanya teman. Sama seperti aku dan David. Kita memiliki satu sama lain.”
Edward sepertinya mulai paham. Terlihat dari tatapan mata Edward yang mulai sendu.
Dari kecil, baik Edward ataupun Amanda memang ditakdirkan berdua dan tak ada teman yang lain. Sebelum Amanda tahu jika Edward tak memiliki teman sama sekali itu karena Edward sempat kehilangan teman yang semula selalu ada.
“Kau tahu, aku sendirian. Setelah kejadian itu, aku jadi seperti menutup diriku sendiri dari mereka. Bagimu mungkin biasa karena kau sudh dari awal memang membiasakannya, tapi agi aku yang dari SD sudah banyak teman jadi tidak memiliki teman sama sekali.”
Amanda menghela napasnya panjang. Satu per satu air matanya mulai turun melewati pipinya. Dan... sebuah pelukan akhirnya didapat oleh Amanda di sela tanisannya.
“Don’t cry, you not alone, Man.”
•••
“Amanda? Bagaimana? Apa kau dimarahi oleh Edward?” tanya Marsha pada Amanda di dalam telefon.
Terdengar Amanda menghela napasnya dengan begitu berat. Mungkin dia juga tidak tahu harus bagaimana caranya agar dia dan dua temannya ini bisa bertemu dengan Grace serta memastikan bahwa dia akan baik-baik saja.
Grace memang tak mengeluh tentang dia baik atau dia buruk di sini. Dia tidak ada komentar apapun. Namun sebagai seorang sahabat yang sudah beberapa tahun berteman, pastilah Marsha akan tetap mengkhawatirkan temannya itu.
“Belum bisa ya?”
Marsha menghela napasnya dengan berat. Dia sudah seperti kehilangan ide untuk ini. Kenapa Edward harus ada di hidup sahabatnya? Kenapa harus Grace yang menjadi sahabat masa kecil Edward? Apakah ini memang karena takdir atau memang Edward yang memaksa takdir itu?
‘Aku belum berhasil. Karena selama dua jam aku di sini, Grace belum keluar.’
“Jadi? Kau juga tidak bertemu dengan sahabatku?” tanya Marsha mulai lelah.
‘Pintunya di kunci. Dan di depanku ada penjaga.’
“Jadi kita harus apa sekarang?” tanya Marsha. “Aku sudah kehilangan ide sekarang.”
‘Kau sabar saja. Kudengar, tadi Edward bilang mau ke Paris. Jadi, otomatis kita juga ikut Edward.’
“Jadi... Kami harus berpindah tempat juga?” tanya Marsha menepuk jidatnya sendiri. Mulai capek dan lelah dengan semua ini.
‘Iya, mau tidak mau ‘kan?’
“Tapi sekarang ada apa lagi di Paris? Habis ini mau ke mana? Tidak bosankah pindah-pindah?” kesalnya.
Merenggut dan mencebikkan bibirnya adalah hal yang dilakukan oleh Marsha jika sudah kesal.
Ketika panggilan itu ditutup, Kevin masuk ke dalam kamar Marsha dan menatap gadis itu yang tengah setengah membelakangi pria itu.
“Kau kenapa?” tanya Kevin dengan nada lembutnya.
Jujur, berhari-hari Marsha di sini bersama Kevin dan David tak mampu merubah hatinya untuk terlihat biasa saja ketika mereka saling berpandangan, eye contact ataupun bersentuhan sekalipun secara fisik. Hati dan pikiran Marsha tetap saja tidak akan baik-baik saja.
Ah, capek rasanya. Kalau bersikap seolah dia biasa saja sekarang dengannya sedangkan dirinya tidak sebaik itu sekarang.
Marsha meresponnya dengan sedikit terkejut membuat Kevin mengernyitkan keningnya. “Kenapa?”
“Kak Kevin kenapa ke sini?” tanya Marsha gugup.
Jantungnya berdebar dengan cepat dan begitu tak beraturan. Sesak nafas dan seperti ingin hilang saja dari sini karena jujur moodnya tengah tidak bagus, penampilannya begitu kucel karena memang sedang tidak bisa berpenampilan bagus karena mereka akan tidur dan hari sudah mulai malam.
“Kabar Amanda?” tanya Kevin. Tanpa menjawab pertanyaan Marsha.
“Iya. Katanya dua hari lagi kalau tak salah akan ke Paris.”
“Kenapa mendadak?” tanya Kevin.
“Entah. Amanda hanya mendengar kata Edward pada seseorang di telefon.”
“Ah, baiklah. Kau tidur saja dulu. Besok kita akan mencoba bertemu dengan Edward lagi.”
•••