“Amanda di London.”
Kata-kata itulah yang menjadi pembuka percakapan di antara mereka setelah sepuluh menit mereka memutuskan untuk diam saja.
Grace sudah tidak akan kaget lagi karena dia tahu soal ini.
“Aku tahu.”
Edward menoleh ke arah Grace dengan cepat.
“Kenapa kau tak memberitahuku?” tanya Edward sedikit kesal.
“Karena aku juga baru tahu tadi siang.”
“Lalu dia sekarang di mana?” tanya Edward lagi. Tak habis pikir dengan isi otak Grace yang menyembunyikan ini.
“Aku tidak tahu. Dia hanya menyapaku selepas itu kami kembali berpisah.”
Edward diam. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Aiden.
“Ada kabar?”
‘Nona Amanda satu apartemen dengan tuan.’
Kaget. Tentu saja. Kenapa tidak ada yang mengenali Amanda satupun jika memang Amanda benar-benar berada di Apartemen yang sama dengannya. Ah, s**l!
“Amanda satu apartemen dengan kita. Kau bertemu dengan Amanda di mana?” tanya Edward menoleh ke arah Grace.
“Toilet lantai dasar.”
•••
Amanda mendapatkan kabar dari Marsha jika mobil Edward beberapa menit yang lalu berpapasan dengan mobil taksi yang ditumpangi Marsha untuk bertemu dengan Amanda.
“Jadi mereka mau ke mana?” tanya Amanda. “Dari tadi aku di luar makanya tak tahu mereka mau ke mana.”
“Edward tahu kau di sini?” tanya Marsha lagi. “Kalau begitu, kau pasti sudah dicurigai oleh banyak orang.”
“Grace yang tahu.”
“Jadi kau sudah bertemu dengannya?” tanya Marsha kaget. Menggebrak meja dengan sedikit pelan.
“Iya, kami bertemu dengan tidak sengaja.”
“Lalu apa kata Grace?” tanya Marsha.
“Aku hanya menyuruhnya diam. Jika suatu saat Edward ada informasi soal aku dan keberadaanku, mungkin itu suatu kebetulan. Karena aku tidak tahu kalau seandainya mamanya Edward yang kasih tahu bukan Grace.”
Marsha mengangguk. Tiga hari di sini hanya untuk bertemu dengan temannya saja susah sekali apalagi bertemu dengan orang lain? Ah, Marsha tahu soal Edward berkuasa. Tapi dia juga tidak harus membatasi geraknya juga kan?
“David baru kasih kabar. Grace dan Edward ada di sebuah restoran. Mereka sedang makan malam.”
•••
Setelah acara meeting, Edward mengajak Grace untuk mencari keberadaan Amanda. Sebenarnya, dia ataupun pasukan Aiden sekalipun tidak ada yang tahu di mana tempat inap Amanda sebenarnya. Entah memang sengaja di sembunyikan atau memang mereka belum bertemu dengan Amanda.
Terakhir mereka bilang, Amanda keluar. Lalu mereka kehilangan jejak dan pada akhirnya mereka kehilangan kontak.
Mereka kembali berjaga di Apartemen dan mencoba mencari tahu di mana ruangan atau kamar yang di sewa oleh Amanda. Edward bilang, Amanda tak akan membeli sebuah apartemen di tempat yang mungkin Amanda akan jarang kunjungi.
Mereka hanya mendapat informasi Nona Amanda memang tidak membeli maupun menyewanya. Amanda hanya ikut tinggal dengan seorang lelaki. Edward yang mendengarnya itu terlihat sangat marah. Bagaimana tidak, Edward tidak tahu siapa cowok yang dekat dengan Amanda selama ini tapi sekarang tiba-tiba saja Amanda ke London bersama seorang pria.
“Selepas ini, kau harus menemaniku mencari Amanda.”
“Kenapa kau tidak meminta nomor ponsel milik pria itu?’ usul Grace membuat Edward menolehkan kepalanya. Ada benarnya juga ternyata.
“Ah, kau benar.”
Edward lalu kembali menghubungi Aiden untuk mencari nomor ponsel Amanda ataupun pria itu pada pihak apartemen di sini.
Keduanya kini sudah berada di dalam lobi. Hendak naik, namun rung ketika melihat Amanda di ujung jalan sana.
“Itu Amanda,” ujar Grace hingga dengan refleks Edward menoleh ke seberang jalan.
Gadis itu kini tengah menggunakan mantel tebalnya. Brerlarian hingga ia tak sadar jika Edward sudah ada di depan lobi menunggunya.
“Bagus ya! Ke London sendirian, tahunya sama pria.”
“Eh, a-apa?”
***
Kini Kevin tengah main ke apartemen David. Marsha sudah tertidur di sofa sana, sedangkan Amanda tengah mampir ke tempat makanan sebelum ia pulang ke Apartemen.
Kevin yang tertidur di bantal atas ranjang kamar David dan David yang tengah bermain game di ruang utama. Marsha tidur di sofa kamar Amanda sudah tiga puluh menit yang lalu.
Menunggu Amanda pulang ternyata lebih melelahkan ya.
Ponsel David berdering yang sengaja ia letakkan agak jauh dari jangkauannya karena tengah di charger.
David dengan langkah gontainya akhirnya berdiri dari duduknya dan menghampiri ponselnya.
David mengernyit ketika melihat siapa orang yang berani mengganggunya yang tengah sibuk main.
Amanda. Nama itu yang tertera di sana.
“Halo? Kau di mana?”
‘Ke lobi sekarang, Dave. Aku sedang dalam masalah.’
Mendengar nada panik dari suara Amanda yang terdengar panik, membuat David juga ikutan panik. Membangunkan Marsha lalu Kevin lalu keluar ke arah lobi untuk menemui Amanda.
***
Bagaimana keadaan Grace?
Pertanyaan itu jelas selalu akan kembali muncul dalam benak seorang Ibu yang tinggal di sebuah panti.
Hidup mereka memang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi, ini seperti menjual Grace kan?
Hidup mereka membaik karena pengorbanan seorang kakak untuk adik-adiknya. Namun di satu sisi lainnya ini merupakan sebuah kesengsaraan bagi Grace.
Nova beberapa kali juga menghubungi Marsha namun tak ada jawaban. Diva juga sempat menghubungi Amanda namun nomor ponsel gadis itu belum aktif-aktif.
Sialnya, semua sosial media milik keduanya juga off sama seperti milik Grace.
Apakah ini yang dinamakan keanehan? Seolah mereka sengaja menyembunyikan Grace.
“Belum ada kabar dari Kak Grace, Bu?” tanya Tasya—seorang anak panti yang duduk di pangku oleh Nova.
Tersenyum. Walau bagaimanapun juga, Tasya masih kecil. Jangan sampai dia juga memikirkan apa yang tengah terjadi di usianya yang masih kecil seperti ini.
“Kak Grace mungkin masih sibuk.”
“Kalau kak Marsha sudah bertemu dengan kak Grace?” tanya Tasya lagi.
“Sepertinya sudah. Kita berdoa saja agar kak Grace mau mengaktifkan ponselnya dan Tasya bisa ngobrol sama dia.”
Tasya mengangguk. Lalu kemudian dia pamit untuk mengerjakan tugas-tugas yang belum selesai bersama kakak-kakaknya yang lain.
Tasya sudah bisa melakukannya sendiri walau usianya masih tujuh tahun. Kepintaran Tasya sama dengan kepintaran Grace ketika dia masih kecil.
Mudah-mudahan saja Tasya mampu mengobati rindunya karena Grace yang tidak pernah ada waktu untuk diizinkan ke sini oleh pihak Thomas.
Lalu Lia datang bersama anaknya. Tak hanya itu, Lia juga membawa suaminya ke sini. Meski masih besok hari weekend, Lia pasti akan menginap sejak hari ini sampai hari Minggu besok. Mungkin karena rumahnya paling jauh dan terpencil makanya Lia sengaja ke sini lebih dulu dari pada adik-adiknya yang lain.
“Loh? Suami kamu udah pulang kerja jam sore segini?” tanya Nova pada Lia.
“Tidak. Suamiku sedang bekerja di rumah makanya pekerjaannya lebih cepat selesai hari ini.”
Ah, Nova akhirnya mengangguk. Kemudian Lia kembali bertanya soal kabar terbaru Grace, Marsha dan Amanda.
“Ada kabar dari mereka?” tanya Lia.
“Tidak. Semuanya menolak panggilan telefon dari ibu.”
•••
TBC!