Kabar Dari Amanda

1051 Kata
“Jadi sudah ada titik terangnya kan?” tanya seseorang pada seorang pria yang memakai jaket kulit warna cokelat serta topi hitam yang melekat di kepalanya. “Tapi, kau kenapa memakai pakaian seperti ini?” tanya Kevin pada David yang dari tadi menundukkan kepalanya seolah tengah bersembunyi dari kejaran beberapa pasukan Thomas. “Semalam kami menyewa apartemen tepat di tempat di mana Edward dan Grace berada.” “Jadi kau sudah menemukan mereka?” tanya Kevin penuh antusias. “Sebenarnya belum terlalu yakin. Tapi berhubung semua tim Thomas di sana, kemungkinan besar mereka juga ada di sana.” “Kenapa kau bisa yakin? Jadi Grace belum terlihat sama sekali di sana?” tanya kevin lagi. David menggeleng. Belum tentu ada namun kemungkinan besar iya. “Lalu, di mana Amanda?” “Dia kelelahan setelah perjalanan jauh.” Maklum, saat ini mereka melakukan pertemuan begitu sembunyi-sembunyi dan cukup jauh dari tempat mereka berdua. Bukan apa-apa. Ia takut saja penyamaran mereka ketahuan. Taman dan kafe yang buka dua puluh empat jam inilah yang lokasinya terjauh. Mereka hanya berdua. Tidak ada lagi yang ikut. Baik Marsha ataupun Amanda. Dua wanita itu tengah terlelap di tempat yang berbeda. Mungkin cara ini mereka lakukan beberapa kali lagi. “Besok kita harus bertemu di tempat yang sama hanya berdua dan jam yang mungkin orang lain tak akan bisa jangkau. Untuk sementara waktu, kita berempat harus mengabari satu sama lain lewat telfon.” Kevin mengangguk. Lalu mereka pulang ke tempat masing-masing sebelum Amanda terbangun atau Marsha terbangun dan curiga pada mereka. *** “Kau semalam ke mana?” tanya Marsha pada Kevin yang baru saja duduk di tepi jendela kamar hotel punya Marsha. “Tadi aku lihat kau jalan-jalan ke luar malam sekali. Tapi aku tidak ikuti karena kupikir kau hanya keluar sebentar.” Kevin berdehem. Dia mengangguk dan membenarkan jika dia hanya keluar karena ingin buang kebosanan karena sudah seharian di kamar hotel tanpa tahu apa yang akan mereka lakukan di sini. “Tapi info soal Grace sudah tahu kan?” *** Grace hari ini sudah bisa keluar dari kamar apartemennya sendirian. Tentu saja akan ada banyak orang yang mengawasinya dari jauh. Setelah keluar dari pintu lift dan berada di lantai bawah, Grace ingin pergi ke toilet sebentar sebelum benar-benar keluar dari sini untuk jalan-jalan. Selepas mengeringkan tangannya, tiba-tiba dari arah belakang ada yang memanggilnya. “Ternyata dugaan kami benar. Kau ada di sini,” ucap seseorang membuat Grace yang semula ingin langsung keluar menjadi berbalik badan. Grace terkejut. Betapa dia tidak menyangka jika Amanda ada di sini. Di depannya dan sepanjang detik yang sudah mereka lalui hanya dengan sebuah kata ‘kenapa ada di sini?’ “Kenapa kau ada di sini?” tanya Grace yang sudah mulai kehabisan kata-kata. “Ya, aku mengikutimu. Suruhan dari Kak Diva.” Ah, kakaknya itu benar-benar membuat Grace menggelengkan kepalanya. “Mereka pasti khawatir kan?” tanya Grace mulai sedih. Mengingat dia sudah tidak bisa sebebas dulu menjenguk adik-adiknya, Grace seolah menjadi kakak yang tidak berguna. Bagi keluarga mereka, harta itu nomor ke sekian. Tapi, kenapa rasanya jauh dari mereka hampa sekali? “Tentu saja. Kak Diva sampai minta tolong aku dan David untuk mencarimu ke sini. Dan ya, Marsha juga ikut membantu kami.” “Marsha juga ada di kota ini?” tanya Grace dengan speechless. Marsha si gadis cengeng dan heboh itu pasti juga merasakan apa yang sudah dia rasakan ini. Marsha itu orangnya terkesan heboh, berlebihan namun dibalik itu semua Marsha adalah seseorang yang selalu menjadi alasan Grace bisa bahagia selama tugas-tugas yang ada di sini semakin mencekiknya. “Kami berempat. Namun kami berpisah.” “Kenapa begitu?” tanya Grace bingung. “Lalu kenapa kau memakai topi dan penutup wajah?” “Nona!” panggilan dari luar mampu membuat keduanya terperanjat. “Kau sudah di panggil. Kau tenang saja. Aku ada di apartemen yang sama denganmu jadi kau jangan merasa kesepian sambil aku mencari cara agar Edward mau memberitahukan keberadaan kalian dan mengizinkan kita ketemu.” ••• Edward akhirnya pulang dari urusan kantornya. Sebenarnya ia masih ada satu meeting lagi nanti malam. Namun, dia memilih untuk mengajak Grace ikut serta dengannya. Bukan apa-apa. Tapi, ini bukankah sebuah alasan mencintai calon istri? Walau mengajaknya hanya sebatas ikut meeting, tapi perjalanan ke tempat meeting juga ada kesannya kan? Maklum perjalanan mereka ke restoran itu hampir satu jam. Itu pasti akan sangat membosankan bagi Edward. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Grace lalu tiba-tiba Grace tidak ikut dalam meetingnya kali ini, tentu saja akan terasa berbeda. Edward cukup terkejut dengan kabar dari mommynya yang menanyakan keadaan Amanda padanya. Selama tiga hari di London, dia masih tak bertemu dengan seseorang kecuali orang-orang yang memang bekerja dengannya, di pekerjakan olehnya atau membahas tentang pekerjaan dengannya. “Loh? Amanda memangnya ke London kapan?” tanya Edward kembali menlfon mommynya dan menanyakan keberadaan Amanda. “Lusa kemarin. Dia bilang ikut penerbangan malam.” “Edward tidak tahu Amanda di mana. Kami juga tidak bertemu dengan siapa-siapa hari ini.” ‘Lalu Amanda di mana jika kau tak tahu? Tidak mungkin Amanda kembali ke sini.’ “Edward tidak tahu, Mom. Coba mommy telfon dulu. Nanti kalau Amanda belum kasih kabar, Edward saja yang cari dia.” Telefon itu akhirnya menutup telefon yang tersambung pada mommynya. Masuk ke area apartemen dan menemui Grace. “Grace di dalam kan?” tanya Edward pada salah satu penjaga Grace yang berada di lobi. “Tadi nona Grace meminta izin pada kami untuk pergi ke taman sebentar.” “Lalu gunanya kalian di sini untuk apa?” decak Edward. Menatap sinis ke arah mereka. “Cari sampai ketemu dan suruh dia pulang.” Edward akhirnya masuk ke dalam tanpa penjagaan sama sekali di luar. Edward lalu menelfon Aiden untuk mencari tahu di mana keberadaan Amanda dan menyuruhnya untuk gadis itu menghadapnya langsung. Edward menyuruh waiters untuk mengambilkan dan menyiapkan beberapa baju untuk Grace pakai nanti malam. Lalu setelahnya, Edward masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah seharian mereka bekerja. Mandi dengan air panas mampu membuatnya lebih rileks. Beberapa menit kemudian, Edward menyelesaikan mandinya lalu pergi ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Sambil menunggu Grace kembali, Edward mencoba membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya sejenak. Sebelum pada akhirnya setelah beberapa menit berlalu, Grace kembali lalu izin untuk mandi lebih dulu. Kemudian wanita itu siap-siap untuk pergi. *** TBC!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN