Kabur Ke London

1130 Kata
“Buat apa kau mengajakku ke sini hah?” Grace lagi-lagi menghela napasnya dengan panjang akibat kelakuan Edward yang tak pernah berubah setiap mereka bertemu. Apakah memang Edward ditakdirkan untuk menjadi monster di hidup Grace? “Karena aku tidak suka dengan siapapun orang yang ada di hidupmu, maka aku akan membawamu pergi dari mereka. Seperti mereka yang membiarkanmu pergi tanpa memberitahuku.” Masih ingat soal kejadian Grace ternyata. Padahal tidak ada yang tahu di mana Grace berada selain Ibunya. Dan Edward selalu bersikap seolah mereka memiliki andil untuk membawa pergi Grace. “Itu sudah berlalu.” “Dan ini balasannya.” “Kenapa kau selalu menjadi seseorang yang pembenci?” tanya Grace tak habis pikir. “Mereka bahkan tidak tahu aku di mana pada saat itu.” “Dan kau bersikap seolah kau benar dengan cara seperti ini?” tanya Edward. “Dengar, waktu itu mungkin saja anak buahku belum bisa menemukanmu. Tapi, suatu saat, jika kau berpikir untuk pergi dari sini, itu adalah hal yang sangat tidak cantik.” Lalu kemudian Edward meninggalkan Grace di kamar ini sendirian dan menyetel sandi pada pintu ini hingga membuat Grace tak bisa keluar dari sini. “EDWARD! KENAPA DI KUNCI?!” teriakan dari Grace membuat Edward tersenyum tipis. Sial. Ternyata benar. Edward tidak mau kehilangan Grace dengan menggunakan berbagai banyak cara dan serapih mungkin agar Grace tak berani kabur dari sini. Grace mendengus. Apa yang membuat Edward bersikap seperti ini lagi Tuhan? Apakah Grace tak bisa keluar dari sini karena Edward adalah takdir terakhirnya? Tapi Grace tidak mencintainya. “Edward! Aku mau pulang ke rumah. Aku kangen ibu,” lirih Grace dari balik pintu. Namun sayang, Edward sudah tak bisa mendengar perkataan Grace kali ini karena laki-laki itu sudah masuk ke ruang kerjanya di kamar sebelah. “Tidak. Kau tetap di sini. Bersamaku, selamanya.” “Kau benar-benar egois Edward!” “Memang. Lalu kenapa?” tanya Edward menatap ke arah Grace dengan tatapan anehnya. “Aku bukan istrimu.” “Akan.” “Jadi stop seolah kita saling mencintai dan aku harus menuruti semua keinginanmu. Itu sama sekali tidak akan pernah terjadi.” Edward masih dengan santai hanya mendengarkan ucapan-ucapan aneh dan tak berfaedah sama sekali dari Grace. “Terserah kau saja.” Edward pergi. Meninggalkan Grace sendirian di sini dan menguncinya dari luar. ••• Kevin dan Marsha akhirnya sudah tiba di salah satu tempat yang akan mereka tempati beberapa hari ini. Kevin memesan hotel untuk mereka berdua sembari menghubungi Edward atau beberapa orang suruhan Edward untuk memberitahu di mana tempat tinggal seorang Edward dan Grace. Dua manusia itu memang perlu diberi pelajaran lebih agar lebih bisa mengontrol dan lebih membiasakan jika pergi itu ‘izin’ pada teman-teman Grace berhubung mereka masih belum sah menjadi seorang suami dan istri. “Kita makan malam dulu di sini.” “Di hotel ini?” tanya Marsha pada Kevin dan dibalas dengan anggukan oleh pria yang kini mengenakan topi hitam itu. “Tapi kita memangnya tahu di mana Edward dan Grace berada?” tanya Marsha mulai bingung. “Kita coba saja beberapa saat.” “Beberapa saat maksudnya?” “Kita coba mencari tahu tentang Edward di berbagai media atau tidak kita datangi hotel atau apartemen atas nama Edward satu per satu di kota ini.” “S-satu per satu?” tanya Marsha kaget. “Iya. Tidak ada cara lain. Kita juga tidak punya petunjuk apa-apa kan selain kita tahu mereka ada di sini.” Benar juga. Amanda bilang hanya sebatas Grace dibawa pergi sama Edward. Itupun Amanda dengar pembicaraan dari orang tua Edward yang tak sengaja saat Amanda ingin pergi ke luar. “Lalu kita akan mulai dari mana?” ••• Berbeda dengan Kevin dan Marsha yang tengah mencari hotel serta kebingungannya ketika ia harus kembali mencari Grace, Amanda maupun David yang kini baru saja tiba di bandara London hanya berdiri dengan canggung. Dia ke sini hanya sebatas mencari tahu keberadaan Grace. Dan sekarang, benar! Dia saja tidak tahu gadis itu di mana. David menatap ke arah depan dengan pikiran-pikirannya sedangkan Amanda yang kebingungan harus mulai dari mana hanya berdiri dengan canggung di sebelah pria itu. “Ada berita apa?” “Kata mamanya Edward, biasanya Edward di apartemen.” “Sebelah mana?” tanya David lagi. Amanda menggeleng. Jujur, dia tidak tahu di mana karena mereka memiliki info saja hanya separuh dari banyaknya yang biasa mereka harusnya ketahui. “Oke, kita kabari Kevin dan Marsha dulu.” David menelfon Kevin untuk menanyakan keberadaannya. Setelah Kevin memberitahu keberadaan mereka berdua, akhirnya Amanda nyusul bersama David yang saat ini sibuk menenteng beberapa tas miliknya dan milik Amanda. ini di antara mereka masih banyak kecanggungan, namun semua itu ia tak akan lupa jika Amanda adalah seorang perempuan. Mereka menggunakan taksi ke sana namun di tengah perjalanan, tak sengaja mereka melihat salah satu orang berjas hitam dengan pin perusahaan Thomas Corp yang terpampang di salah satu bagian dadanya. Amanda menatapnya hingga ke belakang. “Kenapa?” tanya David yang melihat Amanda terlihat kaget. “Barusan sepertinya itu salah satu pasukan Thomas.” ••• Mereka tak langsung ke hotel namun mereka mengikuti jejak orang yang tengah dicurigai oleh mereka. Mereka sama-sama naik mobil sekarang masuk ke daerah elit di London hingga berhenti di sebuah apartemen. Di sana, banyak sekali pengawal Thomas yang berjaga. Bisa dipastikan Grace dan Edward sudah ada di sini. Tidak akan mungkin jika tidak ada di sini sedangkan pasukannya sudah banyak yang berjaga di sini. “Ah, benar. Ternyata mereka di sini.” Amanda berujar setelah mengechat pesan masuk yang ada di ponselnya. Diandra mengiriminya pesan jika Grace dan Thomas ada di sini. Meski belum terlihat Grace di sana, namun ini sudah kemungkinannya. “Apa yang kita harus lakukan?” tanya Amanda pada David yang masih terdiam menatap ke arah depan sana. “Kita sewa apartemen di sini.” “Mana mungkin? Mereka tahu aku! Mana bisa aku ke sana?!” sungutnya. “Bisa-bisa Edward tahu aku mengikutinya sampai di sini.” “Kita menyamar. Kau tak akan lupa dengan cara menyamar seperti apa kan?” tanyanya. “Aku yakin mereka tidak akan mengenali kita, ketika kita memakai ini.” David memberikan sebuah topi dan kacamata pada Amanda lalu mereka sama-sama memasangnya. Keluar dari taksi dan menuju ke lobi apartemen sana. Salah satu dari mereka menghadangnya, mereka refleks berhenti. “Kalian siapa? Dan mau apa di sini?” Amanda menoleh ke arah David mengatakan jika laki-laki itu saja yang menjawabnya. “Kami sudah membeli salah satu dari apartemen ini.” “Apa kalian tahu siapa kami?” “Kami dari negara seberang, kami tidak tahu kalian siapa. Dan tolong jangan halangi jalan kami!” Mereka akhirnya minta maaf dan memberikan izin pada kedua orang itu untuk kembali melanjutkan perjalanannya. “Oke, kami minta maaf.” •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN