Hana dan Zahra sudah sampai di rumah beberapa menit yang lalu. Mereka tengah menonton televisi bersama diruang tengah. Biasanya kalau saat-saat seperti ini pasti Zahra yang kena marah oleh Mommynya. Dan yang membuat mereka mengernyitkan keningnya saat tidak ada kehadiran Calista sejak beberapa menit mereka sudah sampai di rumah.
“Tumben sekali Mommy tidak pulang.”
Zahra juga sempat berpikir. Biasanya jam sembilan wanita paruh baya itu sudah pulang dan ketika melihat Zahra belum pulang pasti marah.
“Kenapa diam, Dek?!” tanya Hana menoleh ke arah Zahra yang terdiam.
“Mommy kira-kira ke mana ya, Kak?” tanya Zahra kemudian. “Biasanya nunggu kita di depan. Apa Mommy mencari kakak ya?”
Zahra tidak mau berbesar kepala dan memperbanyak harapan jika Zahra yang dicari oleh Calista. Sudah kebal rasanya sepuluh tahun tidak memiliki dan tidak mendapat kasih sayang Calista di hidupnya. Meski Mommy-nya berbuat acuh dan bersikap seolah tak peduli namun percayalah jika Zahra tak bisa membencinya.
“Kau ngomong apa?! Jika memang Mommy mencariku, itu berarti kau juga tengah dicarinya. Karena kita bersama.”
“Tapi beda cerita, Kak.”
“Sama. Kau anak Mommy juga.”
“I know. Tapi beda rasanya, Kak.”
“Sama, Dek. Sudahlah! Jangan pikirkan Mommy! Lebih baik kau tidur karena besok kita harus wisuda.”
Zahra mengangguk. Namun ketika mereka hendak beranjak tidur, suara Calista terdengar begitu menyeramkan.
“DARI MANA SAJA KALIAN?!” teriak Calista marah. Matanya nyalang bertanda ia tengah benar-benar kesal sekaligus marah.
Capek-capek dia mencarinya namun malah pulang tanpa ada kabar.
Zahra menunduk. Sedangkan Hana terlihat biasa saja. Memang karakter Hana sama seperti Darwin ketika dimarahi Calista dulu. Tak jauh beda. Selalu menatap mata orang yang bicara seolah tengah tidak ada apa-apa.
“Makan malam, Mom.”
“HANA! MANA PONSELMU?!” tanya Calista begitu marah. Menatap ke arah Zahra yang sudah menunduk dan terdiam.
Anak itu benar-benar berbeda dengan Hana. Berbakti dan takut. Ini yang tidak ia suka. Seolah Calista tengah melihat sosok dirinya di masa lalu ketika dimarahi oleh Mamanya. Namun Calista benar-benar tidak bisa mencintai Zahra lagi seperti saat mereka masih kecil. Karena bagaimana pun juga, kesalahan yang ada di masa lalunya membuatnya harus membenci Zahra.
Membenci Zahra. Iya, membenci. Dia sangat membencinya.
“Ada di tas.”
“Tidak aktif?” tanya Calista. Dingin.
“Sengaja, Mom.”
“Kamu tahu kan ada acara apa sekarang?” tanya Calista menyilangkan tangannya ke depan.
“Aku tahu. Tapi Hana tidak peduli.”
“HANA!”
“Mom, Hana tidak suka Andrew. Berhenti bersikap seolah Hana harus mencintainya. Hana tidak akan pernah bisa.”
“HANA! KAM–“
“Mom, tolong ngertiin Hana kali ini!”
•••
Acara wisuda sudah selesai dilakukan. Hana senang sekali karena Mommynya mau untuk berfoto bersama dengan Zahra, Darwin dan dirinya. Sebenarnya tidak terlalu suka namun entah mengapa ketika Darwin mengatakan sesuatu pada Calista. Perempuan paruh baya itu akhirnya setuju.
Zahra sendiri seperti tidak nyaman. Karena tatapan seorang Calista yang tetap seolah dirinya musuhnya.
“Za nginep di rumah Daddy, ya?!” ucap Darwin membuat Hana dan Calista menggeleng berbarengan.
“Tidak boleh. Kalau Za ke rumah Daddy, Hana juga ikut.”
“Kok?!” Darwin terlihat bingung. “Hana kan mau makan siang berdua sama Daddy.”
“Nah, iya. Jadi Za tidak apa-apa kan kalau ke rumah Daddy.”
Zahra menggenggam tangan Darwin sangat erat.
“Tidak bisa!” tolak Calista tiba-tiba.
“Memangnya kenapa? Zahra anakku juga.”
“Tapi Zahra kan–“
“Sudah, stop! Zahra mau nginep di rumah Yasmine saja,” putus Zahra final.
Yasmine adalah sahabat Zahra dari tiga tahun yang lalu. Walau Yasmine belum wisuda, namun mereka sama kan? Mereka akan tetap bersahabat. Tidak ada perbedaan. Kecuali sikap Zahra yang memang seperti ini.
Keluarga Andrew juga ada di sini. Mereka terkejut melihat Zahra yang ternyata adalah kembarannya Hana. Ekspresi mereka terlihat biasa saja pada Zahra membuat gadis itu terlihat insecure. Dia merasa meski Andrew bersamanya sekalipun, pasti mereka tidak akan mau.
Andrew juga ada di sana. Melihat Zahra yang kali ini berpakaian formal seperti ini, membuat mata Andrew tak bisa berkedip. Benar-benar aura seorang designer Zahra sudah benar-benar keluar.
Gadis ini begitu cantik sekali. Padahal kali pertama dan kedua bahkan ketiga saja tidak seperti ini. Zahra benar-benar berubah. Namun tetap saja, Andrew terpikat pada Hana meski tatapan ketus itu ada. Ah, aura pecinta wanitanya seketika terlecehkan.
“Hana juga harus bertemu keluarga Andrew.”
“Iya, Mom. Nanti. Hana masih mau lunch bersama Daddy!” ujar Hana berusaha untuk dimengerti.
“Hana! Mommy hanya ma–“
“Mom, tolong ngertiin Hana! Kali ini Hana memang benar-benar ingin berbicara dan ingin dekat dengan Daddy.”
“Tapi kamu bisa kapan pun!”
“Tidak bisa. Jika mau, besok juga bisa bertemu mereka.”
Hana menarik tangan Darwin otomatis melepas genggaman Zahra pada tangan pria paruh baya itu. Kini, tinggal Calista dan Zahra di kursi itu. Para tamu undangan dan lainnya sudah pulang. Hanya tinggal mereka berdua.
“Calista!” panggil seseorang ketika Calista ingin meninggalkan Zahra sendiri.
Perempuan itu menoleh. “Eh, Shafa?”
“Hai, lagi apa kamu ke sini? Anakmu wisuda juga?” tanyanya.
Calista mengangguk. “Iya. Anak kembarku wisuda bareng.”
“Ah, Hana dan Zahra?” tanya wanita itu lagi. Menoleh ke arah Zahra yang masih berdiri di belakang Calista. “Ini? Hana atau Zahra?”
“Zahra, Tante,” jawab Zahra tersenyum.
“Ah, kau cantik sekali. Di mana Hana? Kau lulusan apa, Nak?” tanyanya lembut.
“Designer.”
“Ah? Benarkah? Wah, bagus sekali. Bukannya sekolah itu sulit? Anakku saja tidak mau yang perempuan.”
“Anakmu yang mana yang wisuda?” tanya Calista memotong pembicaraan Zahra dan Shafa.
Shafa adalah teman lama Calista. Zahra tahu dia dan tahu anaknya. Dulu mereka sempat dekat namun karena Zahra yang pindah ke Apartemen beberapa tahun waktu SMA, membuat mereka tak kembali dekat.
“Langit yang wisuda Hukum.”
“Ah, congrats ya!”
“Ah, kau juga.”
Calista tertawa. Bukannya ia tidak mau membiarkan Zahra berbincang dengan Shafa. Namun dia malas sekali pada Shafa yang suka mengejar Zahra untuk menjadi menantunya. Dia tidak mau. Zahra harus sekolah dan lebih sukses darinya kalau bisa. Memang ini alasan Calista agar Hana saja yang menikah. Toh, soal otak Zahra bisa diandalkan kan?
“Hm, Cal?!” panggil Shafa.
“Mom, aku mau pulang duluan ya.” Calista mengangguk. Lalu kembali menoleh ke arah teman lamanya itu. Sepertinya ia masih menyukai Zahra dan mengejar Zahra.
“Kenapa?”
“Bagaimana kalau Langit dan Zahra disatukan?” usul Shafa.
Benar-benar ide gila!
•••
Mereka sudah ada di sebuah Mall di kota Swiss. Kota yang begitu indah dengan lampu jalanan yang begitu terang di malam hari.
Kali ini adalah kali pertamanya jalan berdua dengan Ayahnya sendiri meski sudah dua puluh tahun usianya. Sejak perceraian antara keduanya, ia sudah tidak sesering ini untuk pergi berdua bahkan bertiga dengan Zahra.
“Dad, nonton, yuk!” ujar Hana masuk ke arah Bioskop.
Darwin menggeleng. “Daddy tidak mau.”
“Dad! Ayolah! Jangan takut. Tahu tidak, keinginan pertama yang ingin Hana mau bersama Daddy ya nonton bioskop!”
“Daddy bukan anak muda lagi sayang,” ucap lelaki paruh baya berumur sekitar 45 tahun itu.
“Tapi di sini tidak ada aturan kalau sudah tua tidak boleh menonton kan?” ucap Hana lagi. “Ayolah, Dad! Kita hanya berdua. Jangan seperti Zahra yang tidak mau!”
“Kamu ajak temanmu saja jangan Daddy.”
“Ah, mereka tidak asik. Sukanya hanya ya semacam kisah romantis dan lelaki dingin seperti Kenzo.”
“Kenzo?” Darwin mengernyit. “Memangnya kau kenal sampai mana soal anak Daddy? Kenzo bukannya orangnya hanya berteman dengan lelaki saja?”
“Memang benar. Tapi aku adalah Hana. Si ratu kepo. Jadi, Hana tahu karena Hana selalu mau tahu soal lelaki dingin pujaan hati para wanita.”
‘Termasuk Hana juga.’ Hana membatin. Ah, sampai kapan ia harus menuruti kemauan Mommynya daripada kebahagiaan dirinya sendiri?
“Jadi kerjaanmu hanya mencari tahu kehidupan orang lain? Apa untungnya?” decak Darwin.
Tak habis pikir sekali dia dengan seorang putri yang terlihat anggun dan welcome. Ternyata suka ikut campur kepada kehidupan orang lain dan itu adalah anak tirinya sendiri? Atau memang Hana ada perasaan pada anak tirinya itu?
“Hana? Daddy boleh bertanya? Kamu–“
“Dad, nanti saja tanyanya,” sanggah Hana cepat. “Hana sedang mau menonton dan tolong temani Hana dua jam di dalam.”
Darwin menggelengkan kepalanya. Ah, anak itu benar-benar seperti Calista. Jika maunya, ya harus dituruti. Apalagi saat hamil mereka. Banyak mau sekali. Entah itu mau menonton konser, ikut pertunjukan drama di China, Jalan-jalan di Paris dan pernah juga menginap di hotel satu bulan di Las Vegas. Alasannya hanya mengatakan “Ini permintaan anakmu. Kalau kau mau marah, silakan marahi saja anakmu nanti saat lahir.”
Heh! Mana ada orang seperti itu? Biasanya orang hamil juga mau makanan namun Calista berbeda. Dia malah ingin makanan yang tidak bisa didapat di waktu malam. Seperti makan sate di Indonesia, makan nasi padang dan sempat ingin umroh ke Makkah saat usia kehamilan tujuh bulan. Memang suka ngada-ngada dari dulu berawal dari Ibunya makanya anaknya juga ikutan.
“Dad, ayo!” Hana menarik tangan Darwin memasuki Bioskop yang menayangkan tantangan film thriller. Ah, dia bukan takut tapi suka gregetan kalau tidak sesuai espektasi. Makanya dia malas sekali menonton Bioskop genre thriller.
Dua jam setelah menonton film, mereka akhirnya keluar dan ikut Hana untuk mencari perlengkapan seperti buku, baju bahkan sweeter musim dingin.
“Sudah lama kau di sini kenapa belum selesai juga?” decak Darwin. Dia benar-benar kesal sendiri ketika dia sudah satu jam berdiri mengikuti langkah Hana yang ke sana kemari mencari barang-barang.
“Ah, kau ini kapan selesainya?!” tanya Darwin lagi. “Daddy sudah lelah menunggumu!”
“Sabar dulu, Dad. Hana sedang mencari sweeter buat Zahra. Dia pasti akan kedinginan kalau di New York.”
Anak ini terlalu baik.
Hana memperdulikan Zahra ya? Ah, betapa romantisnya anak kembarnya ini. Dia bahkan masa bodo dengan dirinya yang masih banyak keperluan namun masih sempat-sempatnya membelikan Zahra barang yang dibutuhkan.
“Kenapa tidak kau ajak Zahra saja?!” ujar Darwin. Mengikuti langkah Hana.
“Uang Zahra pas-pasan, Dad. Uang belanja dari Mommy lebih kecil dari aku. Makanya aku suka kasihan kalau Zahra diajak ke Mall dan makan di Restoran.”
Astaga. Ada apa ini? Apa yang selama ini Darwin pikirkan? Zahra akan baik-baik saja dengan sikap Mamanya sendiri yang tak adil? Bukankah itu sudah salah besar? Hana dan Zahra perlakuannya berbeda. Memangnya dia tidak sadar sama sekali?
“Jadi–“
“Iya, Zahra tidak seperti Hana. Makanya Hana yang menanggung semua perlengkapan dan keperluan Zahra. Demi Zahra merasa tidak dianaktirikan.”
•••
Selesai belanja, Hana dan Darwin kini sudah duduk di sebuah Restoran Jepang. Makanan khas Jepang ini benar-benar enak dinikmati saat malam apalagi sushi yang menjadi makanan favorit Hana setiap hari. Hampir tiap hari dia makan, hampir setiap saat dia tidak pernah merasa bosan.
“Hana? Jadi kamu mau kasih tahu Daddy apa?” tanya Darwin membuka suaranya.
“Ah iya, Hana lupa.” Hana mengeluarkan sepucuk surat untuk Darwin baca. “Jadi Hana dan Zahra mau berangkat ke New York, Dad.”
“Buat apa?” tanya Darwin sambil membaca surat itu. Surat undangan Beasiswa milik Zahra dan Hana.
“Kalian masuk Beasiswa?” tanya Darwin tak percaya. Ah, bukan tak percaya hanya saja aneh. Zahra ternyata diundang bukan mengajukan diri.
Rasa senang bercampur aduk di hatinya. Dia senang setelah tahu soal ini. Soal Zahra dan Hana yang sangat membanggakan dirinya dan sedih karena dia akan kehilangan kedua putrinya. Tinggal berbeda negara bukanlah hal yang diinginkan olehnya.
“Dan lagi, Hana minta bantuan Daddy.”
“Apa itu?”
“Hana mencintai anak Daddy, Kenzo.” Tanpa babibu, Hana langsung mengatakan itu secara spontan dan begitu jelas. Dia tidak mau lagi seolah dirinya tidak suka, tidak peduli dan dia ingin Zahra senang.
“Sejak kapan?” tanya Darwin. Sebenarnya kaget namun berusaha biasa saja.
“Sejak tiga tahun yang lalu. Tapi Kenzonya yang tidak mau.”
“Tidak mau? Maksudnya tidak suka?” tanya Darwin meminta penjelasan.
Hana mengangguk. “Iya. Kenzo benar-benar menutup diri dan menghindari Hana terus. Makanya Hana kesal jadinya Hana mau saja tunangan dengan Andrew.”
Jadi hanya sebatas kekesalan? Ah, dia paham sekarang.
“Tapi ada satu hal yang membuat Hana ingin memutuskan pertunangan ini.”
Darwin mengernyit. “Ada satu hal? Apa itu? Kau mau putus dengan Andrew? Bagaimana dengan Mommymu?”
“Itu urusan yang begitu gampang, Dad.”
“Gampang apanya, Hana?” Jelas ini urusan sulit dan tidak akan mudah. Melihat Hana dan Andrew bertunangan saja jelas membuat perempuan paruh baya itu bahagia. Memangnya ini segampang apa urusannya?
“Daddy tinggal suruh Kenzo nikahi Hana saja. Gampang kan?”
•••
Tinggal di Apartemen semalaman adalah hal yang begitu menyenangkan. Berdua saja dengan Yasmine bisa cerita tentang dirinya yang selama ini sudah terlihat sibuk dengan urusan skripsi. Niat awal ke rumah Yasmine, malah ke Apartemennya. Entahlah, ia belum sempat pamit pada Mommynya untuk tinggal di Apartemen untuk semalam. Hanya Hana saja yang tahu tentang ini.
Hana hanya bilang untuk langsung pulang besok pagi. Padahal besok pagi niat Zahra mau ke Mall berdua dengan Yasmine. Apakah hal ini akan terlaksana?
“Za, bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Yasmine. Mereka tengah menikmati makan malam dengan sebungkus mie instan ala anak rantau.
“Perasaan yang mana?” tanya Zahra pura-pura tidak tahu.
Dia malas jika sudah membahas perasaan dirinya pada Andrew. Yang tahu Zahra suka Andrew hanya Hana dan Yasmine. Entah karena apa, niat awalnya hanya ingin berdiam diri saja biar semua orang tahunya Zahra hanya perempuan dingin yang tidak suka ditemani. Padahal keadaanlah yang membuatnya harus seperti ini.
“Perasaanmu pada Andrew tentu saja.”
“Oh,” sahut Zahra.
“Bagaimana?” tanya Yasmine memutar matanya malas. Sok tidak tahu maksudnya adalah hal yang sering dilakukan oleh Zahra.
“Tidak kenapa-kenapa.”
“Sudah ikhlas?” tanya Yasmine lagi. “Kalau kau tidak ikhlas, tinggal kau katakan saja pada Kakakmu suruh batalkan pernikahan itu.”
“Hanya karena demi perasaanku? Ah, yang benar saja. Mommy sudah melakukan persiapan itu hampir setengahnya selesai.”
“Tinggal batalin saja semuanya. Belum foto prewedding dan sebar undangan kan?” tanya Yasmine santai. “Dengar, memangnya kamu mau jika kakakmu menikah dengan orang yang sudah kau kagumi bertahun-tahun dan berakhir dia menjadi kakak iparmu bukan suamimu?”
Zahra berpikir. Dia tidak mau itu terjadi. Tapi memikirkan Mommy-nya dia jadi tidak tega menghancurkan kebahagiaannya.
“Bagaimana dengan Mommy? Aku bisa mengatakannya pada Mommy untuk pergi dari rumah dan hidup sendiri setelah ini.”
“Yakin bisa?” tanya Yasmine meragukan. “Meskipun kau tidak pernah diharapkan kebahagiaannya, tapi yakin saja Mommymu tidak akan mau kau meninggalkan dirinya.”
“Tap–“
“Za, kini saatnya kau yang minta keadilan pada Mommy-mu sebagai anak. Sebagai layaknya anak semestinya. Berhak bahagia dan berhak mendapatkan apa yang kau mau bukan yang dia mau.”
“Yasmine! Ini tidak semudah itu.” Zahra sudah putus asa. Yasmine sepertinya tahu pembicaraan keluarga Andrew dan Mommynya waktu Hana dan Darwin sudah pergi.
“Dengar! Aku tahu rencana pernikahan Hana dan Andrew akan dipercepat satu minggu jadi minggu depan. Dan aku tahu kau pasti hancur mendengar kenyataan ini kan? Jadi tolong jangan jadi perempuan lemah disaat-saat genting seperti ini. Kau harus kuat! Kau harus raih kebahagiaanmu sendiri.”
“Masalahnya Andrew tidak tahu aku dan tidak suka aku!”
“Apa bedanya dengan Hana yang tidak suka dengan Andrew? Kalian berada di posisi yang sama. Bagaimana perasaan Hana jika tahu soal ini? Apa mereka akan tetap melaksanakan pernikahan itu? Hei! Hana suka Kenzo kan? Kenapa tidak kau minta tolong saja sama Kenzo.”
“Tidak mau.” Zahra menolaknya dengan tegas. “Aku tidak mau melibatkan orang lain soal ini.”
“Ini sudah mepet. Memangnya kamu mau ini terjadi dan kamu akan menjadi adik ipar Andrew?” tanya Yasmine dengan volume suara yang sudah meninggi.
Lagi-lagi Zahra menggeleng. Dia tidak mau dan tak akan pernah mau. Dia belum siap apalagi bertemu setiap hari dengannya.
“Aku sudah bilang, untuk kali ini kau harus egois dan jangan pernah mau mengalah pada Mommymu. Ajak Hana dan diskusikan dengannya. Aku yakin dia akan paham.”
•••
“Hana sore tadi ke mana sama Darwin?” tanya Viona–Mami Andrew.
Mereka tengah melaksanakan makan malam dua keluarga. Katanya juga akan memberikan sebuah pengumuman untuk mereka.
Hana, Darwin dan Calista hadir. Kecuali memang Zahra yang tidak ikut.
“Makan siang di Mall.”
Setelah permintaan Hana itu, Darwin tidak bisa berjanji akan hal itu terjadi. Tergantung kemauan Kenzo sebenarnya. Dia belum juga bertemu dengan Kenzo karena hari itu Darwin masih sibuk dan Kenzo tadi sore tidak ke rumahnya jadi tidak bisa bertemu. Menunggu waktu yang pas dulu.
“Adikmu mana?” tanya Andrew dengan suara keras membuat semua orang di sana menoleh ke arah Andrew.
“Kau kenal dengan adiknya Hana?” tanya Leo–Papi Andrew.
“Tidak. Hanya sebatas tahu.”
“Mau apa sama Zahra? Jangan macam-macam ya!” Hana sudah siap dengan garpu di tangannya. Siap memakan Andrew.
“Hana!” tegur Calista. “Diam! Yang baik sama calon suami.”
Calon suami? Gila saja. Mana mau dia sama Andrew yang modelnya seperti ini? Dia bahkan tidak akan mau dengan orang modelan seperti Andrew. Lebih baik dia berjuang untuk Kenzo yang sukanya game dan dingin pada dirinya. Lebih baik dan lebih berkualitas.
Hana diam.
“Galak sekali. Adikmu dingin sekali. Tanya nama saja sudah seperti tanya ke macan.”
“Bagus. Ilmuku dipakai juga untuk orang gila sepertimu.”
“Kau ini benar-benar menyebalkan ya, Han!”
“Bodo amat.”
Zahra sudah cerita tentang Andrew yang mengganggunya beberapa kali sampai dia hampir menangis karena diganggu terus. Padahal waktu itu katanya Zahra sedang tidak ingin diganggu makanya diam. Tapi malah lebih emosi yang menggagunya adalah orang yang ia suka dan kagumi bertahun-tahun.
“Ingat, Hana. Calon suami.” Andrew masih terus menyindir Hana membuat gadis itu memutar bola matanya malas. Lama sekali dia makan malam namun dia benar-benar ingin pulang.
Zahra Gracia: Kak, aku di Apartemen Yasmine ya!
Hana melihat pesan itu membuatnya lega. Sedari tadi makanan yang ia makan tidak tersentuh karena berpikir Zahra pasti belum makan dan ada di mana dia.
Hana sangat menyayangi adiknya makanya dia akan terus membuat hal yang menyenangkan untuk membahagiakan adiknya. Apapun itu.
“Hana, adik kamu ke mana?” tanya Leo lagi. Meneruskan pertanyaan Andrew.
“Di rumah temannya.”
“Habis ini, adik kamu mau lanjut ke mana?” tanya Leo lagi.
“Lanjut di New York lewat beasiswa.”
“Ah, Kira-kira minggu depan belum berangkat kan?” tanya Viona lagi.
“Memangnya kenapa?” tanya Hana lagi.
“Pernikahan kalian karena dipercepat satu minggu jadi minggu depan.”
•••
TBC!