Kenzo melebarkan matanya ketika melihat siapa orang yang berada di rumah Ayah tirinya itu. Dan lebih tidak percaya lagi ketika orang di samping Hana menoleh ke arah Kenzo. Gadis yang selama ini menjadi incaran dirinya dan Andrew karena sikap dingin dan anti sosial gadis itu.
Sebentar, jangan katakan mereka adalah anak-anak kandung dari Ayah tirinya yang sengaja disembunyikan olehnya beberapa tahun belakangan ini semenjak ia menjadi Ayah tirinya.
“Kenzo?” tanya Hana masih tak percaya. Menatap lekat mata Kenzo yang menampakkan ekspresi biasa saja seolah dia sudah tahu tentang ini.
Tapi kenyataannya, Kenzo tidak tahu apa-apa.
Berbeda dengan Hana, dia masih merasa shock dan tak percaya dengan apa yang ada di depannya. Kenzo ternyata anak tiri Daddy-nya. Dan sialnya baik Hana maupun Zahra tidak tahu tentang ini selama beberapa tahun Daddynya menikah bahkan istrinya pun meninggal. Ibu Kenzo meninggal. Ya, Hana sempat tahu ini saat Kenzo seminggu tidak masuk Kampus.
Sedangkan Zahra hanya diam saja. Meski kaget, namun dia berusaha biasa saja seolah dia tidak tahu siapa pria di depannya ini. Meskipun sebenarnya tahu dan ingat betul siapa dia, namun Zahra harus terlihat biasa saja.
“Kalian saling kenal?” tanya Darwin membuat kedua orang itu menoleh.
Hana mengangguk dan Kenzo diam saja.
Seolah tengah mendapat keuntungan lebih, Hana ingin memeluk Kenzo di saat itu juga seperti yang sudah ia lakukan sejak tiga tahun ini. Rasanya pada Kenzo memang seaneh ini. Selalu merasa senang dan nyaman ketika mereka bersama.
Tapi Hana menahan itu. Ada Zahra dan Darwin di sini. Dia tidak mau di cap sebagai orang yang terlalu Agresif apalagi tahu dia anak tirinya Darwin.
“Dad, ini siapa?” tanya Hana seolah tak tahu.
“Anak tiri Daddy.”
“Anak tiri?” tanya Hana masih tidak percaya. Menoleh ke arah Kenzo lalu tersenyum.
“Iya. Istri Daddy memiliki anak seumuran denganmu. Dan orangnya Kenzo.”
“Jadi selama ini–“
“Kenzo tinggal di Apartemen.”
“I know, Dad.”
“Tahu? Dari mana? Tadi kamu masih tanya siapa Kenzo.” Darwin mengernyit. Tidak paham dengan seorang Hana yang kadang terlihat membingungkan dirinya.
“Iya, aku tahu Kenzo bukan tahu kalau dia anak Daddy.”
Darwin menoleh ke arah Kenzo. “Kamu kenal Hana?”
Kenzo menggeleng. “Tidak. Dia sok kenal,” sahut Kenzo dingin membuat Hana melototkan matanya.
“Kamu itu kenapa sih?!” sungut Hana. “Bilang saja kau kenal aku. Apa susahnya!”
Zahra menahan tawanya. Membuat Hana melirik tajam ke arah Zahra. “Diam kau, Za!”
Zahra diam. Tanpa sadar, Kenzo memperhatikan Zahra dalam diam. Lucu juga. Gadis ini pasti dekat dengan Hana. Lihat saja bagaimana cara Hana menatap lembut Zahra meski tengah kesal padanya.
“Kenzo, aku mau–“
“Tidak mau.”
“Aku belum selesai bicara padahal.” Hana menghembus napasnya berat. “Padahal aku hanya ingin kau merahasiakan identitas adik aku dari Andrew.”
Kenzo menoleh. “Kenapa?”
“Ada alasan yang tak harus kau tahu.”
“Baiklah.”
Finally, Zahra bisa menghembuskan napasnya lega. Ah, namanya ternyata Kenzo dan dia adalah orang yang disukai Hana selama ini? Lalu alasannya mengejar dirinya untuk apa?
Zahra memilih diam saja. Seolah Zahra tak peduli soal ini.
“Baiklah, mari makan malam bersama di sini.”
“Tidak bisa,” jawab Zahra singkat.
Darwin menoleh ke arah putri bungsunya. “Kenapa?”
“Mommy bilang Kak Hana suruh dinner di–“ Hana membekap mulut Zahra dengan cepat. Enak saja dia menolak ajakan Daddynya untuk makan malam di saat ada Kenzo juga.
Bisa dikatakan ini adalah alasan dan cara Hana dekat dengan Kenzo. Lewat Daddy-nya mungkin ini akan lebih bebas dan gampang untuk mendapatkan hati Kenzo yang sampai sekarang masih tertutup. Padahal sudah tiga tahun dia mengejar Kenzo namun lelaki itu benar-benar tidak bisa membuka hatinya sama sekali untuk Hana.
“Tidak, kok, Dad. Kita mau.”
Zahra membuka mulutnya dari dekapan Hana. Niatnya agar Mommy-nya tidak marah. Tapi sepertinya Hana suka sekali menentang keinginan Mommynya. Bisa-bisa mereka akan kena marah lagi.
“Kakak! Bukankah kau–“
“Diam, Dek!” Hana menoleh lagi ke arah Darwin. Menatap ke arah Daddynya dengan senyum lebar. “Dinner di mana, Dad?!”
“Tap–“
“Za!” tegur Hana lagi. “Ikuti saja apa kata Kakak.”
Kenzo menatap mereka dengan diam. Zahra sepertinya orangnya benar-benar sopan dan selalu menuruti perintah Mommynya dan Hana yang menjadi penghalang dari semua masalah mereka. Ah, ya, pantas saja mereka kembar terlihat berbeda. Dia semakin menyukai Zahra saja.
“Kita makan malam di Restoran Perancis.”
•••
Calista benar-benar bingung. Jam sekarang sudah menunjukkan pukul enam sore dan kedua anaknya belum juga pulang. Padahal beberapa jam yang lalu katanya sudah pulang dari sidang skripsi Hana sejak jam sebelas pagi. Lalu mereka ke mana?
Raut wajah Calista berubah khawatir dengan keberadaan kedua anak-anaknya. Meski terlihat tak peduli dengan Zahra, Calista masih tetap Ibunya yang menjaga, merawat Zahra sejak kecil. Meski pada akhirnya sejak kejadian itu membuat Calista benar-benar mengabaikan hal-hal yang menyangkut Zahra hingga Hana membencinya. Padahal niatnya bukan untuk Hana benci namun membuat Zahra tahu diri.
Harus dia akui memang Zahra tetap berbakti dan menurut padanya. Bahkan yang membuatnya bangga pada Zahra diam-diam ketika ia dilamar oleh Universitas untuk menyelesaikan pendidikan Sarjana keduanya tanpa seleksi ataupun daftar. Bangga sekali saat itu. Saat dosennya mengatakan itu padanya.
Calista sempat menangis kala itu membuat dirinya seolah melupakan niatnya sejak awal. Dia terlanjur bangga dan bahagia.
Kembali ke awal, Calista terus menelpon satu per satu nomor dari anak-anaknya dengan perasaan begitu cemas dan khawatir.
“Kau di mana, Nak!” gumam Calista.
Tangannya bergetar, keringat dingin dan khawatir. Dia sudah tak peduli dengan rencana makan malam yang diadakan nanti. Satu jam yang akan datang. Yang ia pikirkan adalah anak-anaknya harus dia tahu keberadaannya.
Otak Calista langsung paham dan berpikir apakah Darwin tengah bersama anak-anaknya? Ah, ayolah! Jangan sampai Zahra diambil lelaki itu.
“Ini tidak bisa dibiarkan!”
•••
“Di mana Hana? Kenapa Andrew ke sana tidak ada satu orang pun?!”
Calista menghela napas berat ketika di telfon oleh orang tua Andrew. Dia sedang pusing dengan keberadaan kedua anaknya yang tak ada kabar, kini ditambah lagi soal dinner yang sudah dibuat oleh Andrew dan keluarnya.
“Sorry, saya sedang berada di jalan tengah mencari Hana.”
“Hah? Hana memangnya ke mana?” tanya seorang itu di seberang sana dengan perasaan yang begitu khawatir.
“Saya tidak tahu. Nomor ponselnya tidak aktif dan tidak pamit juga.”
“Iya, sudah. Aku akan bilang pada Andrew untuk ikut mencari Hana, ya,” ucapnya di seberang sana lalu ponsel itu pun terputus.
“Hana, Zahra, kau di mana?!” erang Calista penuh putus asa.
•••
“Makan, Za!” ujar Hana memberikan makanannya dengan porsi yang banyak. Sengaja agar Kenzo melihat betapa dia memperlakukan seorang adiknya yang paling ia sayang dengan baik.
Zahra mendengus. Tumben sekali kakaknya berbuat baik padanya. Padahal dia biasanya Zahra yang mengambil makanan Hana bukan sebaliknya. Ah, Zahra seketika paham. Mungkin saja ini karena lelaki muda di samping Daddy-nya.
“Dasar, modus!”
Hana terkekeh. “Ah, sudahlah. Malam ini aku mau berbaik hati padamu.”
“Dasar tukang modus.”
Hana tak menyahut. Hanya tertawa ringan ke arah Zahra. Sedangkan Darwin menatap kedua putrinya yang terlihat sangat dekat ini dan merasa bahwa ini sudah lebih dari cukup. Bahagia tercampur haru.
Pantas saja Hana seperti tidak mau Zahra tinggal dengannya. Dari mata Hana saja sudah terlihat jika Hana begitu sayang pada Zahra begitu pun sebaliknya.
“Kamu mau juga sa–“
“Tidak usah,” potong Kenzo cepat. Dia memakan makanannya tanpa menoleh ke arah Hana.
“Daddy mau?” tawar Hana membuat Darwin mengangguk.
“Hana suka Kenzo ya?” tanya Darwin membuat pria di sampingnya tiba-tiba tersedak.
“Eh? Kau kenapa, Ken?” tanya Darwin.
Kenzo menggeleng. “Tidak apa-apa.” Mengambil minum lalu meminumnya dengan pelan.
Hana yang melihatnya refleks mengambil tisu untuk mengelap sisa makanan di sudut bibir Kenzo.
Zahra hanya diam saja dan bergumam, “Modus mode on.”
“Apa sih, Za!”
Zahra merasa tak peduli sebenarnya tentang Kenzo yang tidak mencintai Hana balik. Tapi dia risih ketika Kenzo selalu menatapnya membuat Zahra harus berusaha ini akan baik-baik saja. Dengar! Meski tidak nyaman, tapi dia harus berusaha untuk nyaman di depan Daddy-nya kan?
Hana diam. Tiba-tiba saja ide gilanya muncul. Dia tidak berpikir bahwa dia akan bisa mendapatkan Kenzo tapi jalan pikirannya kali ini akan terlihat gila dan tak masuk akal. Tapi ini semua demi kebahagiaan semuanya. Ah, bukan Zahra adalah orang dan alasan pertama Hana menginginkan ini.
“Dad, besok setelah wisuda Hana bisa temani Hana ke Mall kan? Hana mau beli sesuatu untuk Daddy dan Mommy.”
Tumben. Namun Darwin akhirnya tetap menyetujui.
•••
“Kau di mana sebenarnya?!” ucap Andrew dalam hati.
Andrew tengah berada di jalan untuk mencari keberadaan Hana. Dia benar-benar khawatir dan cemas dengan seseorang yang sudah tersemat namanya di dalam hatinya sejak dulu.
“Kalau sampai kau kenapa-kenapa, aku yang akan kena marah Mami!”
Andrew benar-benar hampir ingin putus asa. Jangankan menunggu Hana peka akan perasaannya yang sudah sejak ia bertunangan, Andrew tidak ada rasa yang menggebu untuk mencari mangsa lain dan dijadikan pacar ke ratusan yang sempat ia singgahi.
Maminya terus-terusan menelponnya dan benar-benar khawatir dengan keadaan Hana. Sudah sesayang itukah keluarganya pada Hana? Ah, memang seharusnya seperti ini. Secara Hana memang orang yang begitu baik. Hana juga pintar dan memiliki kelebihan yang tidak ia miliki.
Karena Hana, dia bisa belajar dengan lebih baik dan karena Hana juga IPK-nya lebih tinggi.
“Kenapa, Mi?” tanya Andrew kesal.
‘Di mana Hana?’
“Ini Andrew lagi cari. Sebentar saja. Mami diam saja di rumah. Andrew akan cari Hana sampai ketemu.”
‘Cepat cari mantu Mami!’
“Iya. Mami tenang saja.”
Andrew kembali menelfon ke ponsel Hana dan berkali-kali juga nomornya tidak aktif. Tidak mungkin jika Hana mematikan ponselnya. Dan story social medianya juga aktif sejak jam makan siang di warung tengah memakan Bakso dengan seorang perempuan. Namun wajahnya tertutup rambut lagi pula itu sebuah boomerang.
“Apa aku tanya saja ke tukang Bakso itu ya?!”
•••
Calista sudah mencari kedua anaknya di rumah mantan suaminya namun rumahnya juga sepi. Tidak ada orang. Tidak mungkin juga jika Darwin menyembunyikan kedua anaknya itu di sini.
Dia tidak yakin juga jika Darwin pelakunya.
“Ah, kenapa Darwin juga susah dihubungi?!”
Calista kembali menghidupkan mobilnya dan pergi dari rumah Darwin.
Setelah beberapa menit Calista meninggalkan pekarangan rumah Darwin, dua mobil yang ditumpangi oleh dua pria berbeda generasi dan dua gadis yang begitu cantik dengan perbedaan yang tak begitu menonjol keluar dari mobil dan berpamitan pada kedua pria itu.
“Dad, kami pulang ya? Jangan lupa besok datang.” Hana berujar lalu memeluk Daddy-nya dengan erat diikuti oleh Zahra.
“Zahra besok mau kasih tahu sesuatu.”
“Hana juga ada!” ujar Hana tak mau kalah. “Jangan pilih kasih ya Dad! Kami sama!”
Darwin terkekeh. Ternyata Hana masih sakit hati dengan perlakuan dirinya yang terlihat lebih menonjol ke Zahra. Padahal dia begitu karena untuk menyadarkan Calista agar Zahra juga perlu diperhatikan.
“Iya. Kapan-kapan saja kado buat wisuda kalian. Karena ini salah kalian mengatakannya terlalu mendadak.”
“Iya. Kan aku sayang Daddy.”
Darwin terkekeh. Baiklah. Hana begitu sayang padanya tapi jika ditanya tentang seberapa besar sayang Hana padanya dan Zahra pasti banyak pada Zahra.
Zahra sudah menjadi alasan Hana bisa hidup dengan baik.
“Sayang Daddy? Bagaimana kalau kau harus memilih apakah kau akan memilih Daddy atau Zahra?”
“Tentu saja Zahra,” jawab Hana cepat. “Jangan pisahkan kami, ya, Dad!”
Darwin tertawa. “Ah, iya, kalian kan tidak bisa dipisah. Bagaimana jika nanti kalian menikah?!”
“Dad! Hana masih umur dua puluh tahun.”
“Iya. Baiklah.”
Tatapan Hana kembali pada Kenzo. “Saya–“
“Nama saya Kenzo.”
“Ah, iya, Kenzo. Aku pulang dulu ya!” pamit Hana membuat Kenzo hanya diam saja.
Zahra sudah masuk mobil lebih dulu dan membunyikan klakson mobil. “Cepat kak!”
Hana menggeram. “Berisik, Dek!”
•••
TBC!