Andrew memasuki ruangan bernuansa khas anak laki-laki dengan dinding berwarna abu-abu dan aksen bintang di langit-langit kamarnya. Ini adalah kamarnya.
Di dalam sudah ada Kenzo yang tertidur di kasurnya dengan sepatunya yang ikut naik membuat Andrew berdecak. Benar-benar kelakuan orang ini membuatnya benar-benar merasa bahwa pria ini tidak memiliki sopan santun yang cukup. Pantas saja tidak ada yang mau pacaran dengannya. Kecuali tunangannya sendiri. Ya, dia tahu kalau Hana mencintai dan tergila-gila pada Kenzo sebelum dirinya suka pada gadis itu.
Lagi-lagi otaknya terngiang-ngiang kata-kata dari Hana bahwa sampai kapan pun Hana tidak akan merubah perasaannya pada Andrew selain sebatas tunangan terpaksa. Makanya Hana membenci Andrew ketika ia merecoki kehidupan nyata Hana dan melarangnya untuk dekat dengan Kenzo.
Tapi memang perasaan Andrew sudah sedalam ini pada Hana. Demi gadis itu bahagia, Andrew rela mencari gadis lain untuk menghibur hatinya. Meski tak bisa membahagiakan seperti Hana ada di dekat Andrew, tapi setidaknya kebahagiaan semunya sempat terlaksana.
“An, aku peringatkan kepadamu jangan pernah kau mainkan perasaan gadis yang kita temui di Fakultas Desain.”
Peringatan dari Kenzo jelas membuat Andrew mengernyit. Dia paham jika Kenzo pasti memiliki perasaan lebih kepadanya. Tidak mungkin Kenzo akan mengatakan itu padanya jika memang gadis itu begitu berharga untuknya. Dulu-dulu, dia tidak begitu. Jadi bukankah ini saatnya Kenzo mulai merasakan itu?
“Hm,” sahut Andrew hanya berdeham. Bodo amat dan tak peduli dengan apa yang diucapkan oleh Kenzo, lelaki itu memilih memainkan game di ponselnya.
“An, aku serius kali ini.” Kenzo memaksa Andrew untuk mendengarkannya. “Aku merasakan bahwa gadis itu lemah dan butuh perlindungan.”
“Tahu apa kau tentang gadis itu? Dia hanya asing bagi kita. Berhenti memikirkan orang lain. Pikirkan saja mau Mamamu itu.”
Benar. Sekarang Kenzo pusing dengan pertanyaan Mamanya untuk mencari pasangan sebelum dia lulus kuliah sudah memiliki kekasih sedangkan orang yang dia suka seperti gadis yang dua kali ia temui dan bersikap sama. Dingin.
“Bagaimana bisa aku memenuhi permintaan Mama jika orang itu seperti gadis itu?” ujar Kenzo.
Tunggu! Gadis itu? Ah, apakah Kenzo mencintai orang asing itu? Dingin, tak tersentuh, dan anti sosial. Yakin gadis itu akan mau mencintai Kenzo dengan waktu yang cepat?
“Waktunya mepet. Gadis itu sepertinya sudah akan lulus.”
“Iya. Tapi aku takkan menyerah.”
“Bagaimana aku bantu kau dengan cara aku yang mendekatinya lebih dulu?” usul membuat lelaki itu menggeleng.
“Tidak! Itu artinya aku mengorbankan orang yang aku cinta pada buaya sepertimu!”
“Kenapa? Kau takut jika dia akan mencintaiku bukan kau?” tanya Andrew dengan congkak.
“Tidak. Aku bisa membuatnya cinta padaku kembali.”
“Yakin? Yang kulihat, gadis itu tidak ada rasa respect sama sekali padamu. Kau yakin kau bisa menaklukkan dia?” tanya Andrew sangat ragu. Ya, sepertinya dia benar-benar ragu untuk ini.
Sedikit ragu. Kenzo saja tak percaya diri dengan dia akan bisa menaklukkan orang seperti gadis dingin itu pantas saja Andrew sangat meragukan ini.
“Begini saja. Aku kasih kau kesempatan berjuang sendiri untuk menaklukkan hati gadis itu selama satu minggu. Jika masih tetap sama, aku yang akan turun tangan sendiri untuk ini.”
•••
“Mau aku bantu?” tanya seseorang dari belakang Zahra ketika ia ingin mengambil buku di rak paling atas. Alhasil, dia tidak sampai dan perlu bantuan.
Zahra menggeleng. Dia gengsi minta tolong apalagi dengan lelaki yang sama dan entah sudah berapa kali mereka bertemu dan kentara jika lelaki ini memang tengah mengejarnya.
“Ayolah! Kau akan meruntuhkan seisi rak ini kalau kau tetap bebal seperti sekarang.”
Zahra menarik napasnya jengah. Malas sekali mengatakan ini pada pria ini. Lalu gadis itu berbalik menatap ke arah laki-laki ini berdiri. “Lebih baik aku tidak membacanya.”
Zahra kembali ke mejanya dan mengemaskan semua peralatannya lalu pergi dari perpustakaan dengan langkah cepat. Zahra pergi ke arah parkir dan masuk ke dalam mobil menunggu Hana yang masih ada kelas beberapa menit lagi berakhir.
Semoga saja lelaki itu tidak akan menemuinya lagi. Dia benar-benar risih.
“Hah!” Akhirnya, Zahra bisa bernapas lega di dalam mobil ketika melihat lelaki itu sudah tidak mengejarnya lagi.
Sedangkan di tempat lain, Kenzo menatap ke arah Zahra yang mulai masuk ke dalam mobil. Lama sekali ia menunggu dan memperhatikan Zahra di sini. Namun ia belum berani mendekat ke arah gadis itu meski banyak kesempatan yang bisa ia lakukan selama belum ada orang yang melihatnya.
Setelah memantapkan diri untuk maju selangkah lebih maju dan hendak mendekat ke arah Zahra yang mobilnya saja sedari tadi tidak bergerak sama sekali.
Namun baru satu langkah ia maju, tiba-tiba saja seorang Hana masuk ke dalam mobil yang sama dengan Zahra membuat pria itu mengernyitkan keningnya.
Mereka saling kenal? Atau mereka sepupuan?
•••
“Dek, kau tumben sekali di sini ada apa?” tanya Hana ketika ia baru saja masuk ke dalam mobil.
Tadi Hana menelponnya untuk lebih cepat pulang. Dengan nada ketakutan membuat Hana benar-benar khawatir dan seolah Zahra tengah dalam bahaya. Dan benar saja, Zahra bercerita tentang orang itu dengan nada takut. Ah, jelas ini membuat Hana khawatir saja.
“Memangnya pria itu siapa? Apa dia berkuliah di sini?” tanya Hana. Menenangkan Zahra yang terlihat ketakutan dan tidak tenang.
“Maybe.”
“Dia apain kamu?” tanya Hana lagi.
“Dia sepertinya ingin ikut campur deh, Kak. Soalnya tadi dan kemarin lelaki itu seperti memaksa mendekatiku.”
“I know. Tapi masak kamu belum tahu juga siapa laki-laki itu,” ujar Hana.
Bingung juga kalau Zahra saja tidak tahu siapa orangnya. Bagaimana caranya ia melakukan hal ini? Ah, kenapa permasalahan Zahra yang diketahui banyak orang menjadi dirinya yang pusing dan bingung sendiri?
“I don’t know, Kak. Tapi aku tahu dia anak bisnis. Karena dia sempat membaca buku tentang bisnis tadi.”
Memang tadi Kenzo tengah ada di Perpustakaan untuk melakukan pencarian beberapa sumber untuk laporannya nanti. Tapi malah bertemu dengan Zahra dan dia sekalian saja ingin menolong gadis itu namun ternyata tawarannya di tolak.
“Bisnis?” tanya Hana berpikir. “Berarti dia sekelas dengan Andrew?”
•••
Satu bulan berlalu...
“ADEK GAWAT! MOMMY BALIK HARI INI!” seru Hana membuat Zahra yang tengah mempersiapkan baju yang akan ia pakai dua hari lagi untuk wisuda.
Zahra yang terlihat biasa saja dengan kabar ini hanya menoleh dengan tatapan datarnya. “Lalu? Kan memang begitu.”
“Ha? Tunggu! Jadi kau sudah memberi tahu Mommy tentang kau yang sudah sidang skripsi?” tanya Hana cengo. Dia benar-benar tidak tahu jika Zahra sudah memberitahu Mommynya lebih dulu. Ia pikir dengan caranya yang memberitahu akan membuat Mommy-nya lebih sadar jika Hana mencintai Zahra lebih dari rasa sayang Calista pada adiknya itu.
“Not me.”
“Terus?” tanya Hana penasaran.
Zahra mengangkat kedua bahunya tidak tahu. “I don’t know.”
“Kenapa kamu tidak bilang ke Kakak lebih dulu jika Mommy sudah tahu?” tanya Hana berdecak.
Dua hari yang lalu Zahra sudah selesai sidang dan dinyatakan lulus sedangkan dirinya akan sidang besok. Mommy-nya dengan penuh wanti-wanti sudah mengatakan akan melakukan apa pun untuk Hana agar dia wisuda bersama Zahra.
Entah apa yang ada di pikiran perempuan setengah baya itu, namun dia merasa bahwa ini benar-benar membuat Hana tidak nyaman. Ada perasaan yang tidak enak dibenaknya akan kepulangan Ibunya kali ini.
Hei, Hana! Wake up! It’s okay!
Selalu terngiang dibenak Hana tentang Zahra dan masa depannya. Selalu terngiang tentang kebahagiaan Zahra nantinya jika ia harus benar-benar menikah dengan Andrew. Semua hal bukan hanya dua hal.
Zahra must be happy! Please makes Zahra is happines!
“Its okay, Kak! I’m fine. Seharusnya kakak senang jika Mommy akan datang ke acara wisudaku.”
Benar juga. Mommy-nya jarang sekali mau berurusan dengan Zahra dan pendidikannya. Zahra masuk satu besar di sekolahnya pun, Mommy-nya akan peduli? Hei! Sepuluh tahun belakangan ini wanita paruh baya itu mana peduli?
Dan Hana selalu bilang, “don’t worry! I'll be there for you, Sist.”
“Hm, baiklah, Dek! Ayo kita cari baju!” ajak Hana membuat Zahra yang masih sibuk mencari baju kebaya di dalam lemarinya menjadi tersentak.
“Eh! Mau ke mana kak?” tanya Zahra mengernyit.
“Ke butik.”
“Buat?”
“Cari baju kita. Sepertinya aku akan wisuda denganmu nanti.”
Zahra menghentikan langkahnya dan terpekik. “Wait! Apa kakak bilang? Kita akan wisuda bareng?” tanya Zahra tak percaya.
Ah, bukan hal yang terlalu menghebohkan jika Hana adalah gadis berprestasi. Tapi, apakah ini terlalu tiba-tiba? Really? Dia akan wisuda dengan saudara kembarnya sendiri?
Ah, Zahra akan lebih senang dengan ini. Persetan dengan kehadiran Mommy-nya yang hanya ingin melihat kebahagiaan Hana atau dirinya sendiri. Yang jelas, dia tidak akan mau menyia-nyiakan ini semua.
“Ayo!”
•••
“Oh, God! Look! You’re very beauty!” Hana memuji penampilan Zahra yang kebetulan tengah memakai baju setelan kebaya masa kini dipadukan dengan rok batik yang terlibat pas dikenakan oleh gadis bermata cokelat itu.
“Ah, thank you!” ucap Zahra terlanjur senang. Memeluk erat Hana yang terlihat berlinang air mata. Ah, bukan. Ini bukan linangan air mata kesedihan melainkan ini air mata yang begitu ia kebahagiaan.
Impiannya melihat Zahra bahagia akan terlaksana dalam hitungan hari. Bukan tentang pernikahan. Kebahagiaan utama bagi Hana adalah melihat adik kembarnya lulus dengan prestasi dan gelar yang begitu ia banggakan.
“Dan kalau Mommy masih tidak luluh dengan penampilanmu ini, Mommy benar-benar keterlaluan.”
“Ish! Biarkan saja. Itu hak Mommy, Kak. Jangan terus-terusan marahi Mommy apalagi membencinya. Kita tidak tahu apa salah aku pada Mommy tapi kan Mommy tahu apa yang menjadi kesalahanku selama sepuluh tahun belakangan ini apa,” ucap Zahra. Mencoba melapangkan dirinya untuk menerima alasan yang menjadi tolak ukur kesalahannya.
“Baiklah. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kau memang gadis yang baik. Segala macam kesalahan orang akan kau maafkan begitu saja. Tolong berikan perasaan maaf itu padaku sedikit agar tak ada dendam lagi.”
Zahra terkekeh. “I know, Kak. Cukup menerima saja sudah bisa membuat Kakak memiliki keberkahan diri dari kenikmatan maaf.”
Mereka pergi dari Butik untuk menemui Mommy-nya di Bandara. Namun Mommy-nya bilang Zahra tidak boleh ikut. Tapi memang dadar Hana yang tak pernah menurut apapun itu, akhirnya Hana menyembunyikan itu semua dari Zahra. Masa bodoh dengan Zahra yang akan mencak-mencak jika Mommy-nya marah. Hana tidak peduli dengan Mommy-nya yang akan marah. Yang dia mau, Zahra harus mendapat perlakuan yang sama.
“Kak, bukankah kita harus memberitahu Daddy juga untuk wisuda kita?” tanya Zahra membuat Hana yang menyetir menjadi menepuk jidatnya sendiri.
“Hah! Benar juga. Kenapa Kakak tidak kepikiran?!” tanya Hana. “Bodoh!”
“Apa kita perlu melakukan itu besok setelah kakak selesai sidang?” tanya Zahra. “Jujur saja, aku mau di wisudaku harus ada mereka berdua. Lengkap.”
“Ah, kau tenang saja. Daddy pasti mau datang. Secara kau dan Daddy memiliki kemiripan. Cerdas dan bijaksana.”
“Ah, kakak bisa saja. Bukankah jika kita kembar, kita juga sama?” tanya Zahra mencoba untuk terlihat biasa.
“Yah, tapi kupikir kau benar-benar gadis cerdas tapi memang mereka saja yang selalu mengelak kemampuanmu.”
“Biarkan saja. Aku akan tetap baik-baik saja.”
•••
“Ada hal yang Mommy ingin bicarakan padamu Hana lusa sehabis wisuda. Tapi sebelum itu, besok malam kau akan makan malam ke rumah Andrew. Dan Mommy harap kau tidak menolak atau membantahnya.”
Hana mendongakkan kepalanya dari arah majalah yang ia pegang ke arah Mommy-nya. Ya, mereka tengah duduk bersama.
Zahra yang menatap ke layar laptop yang tengah mendesain sesuatu di sana tetap diam. Dia tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Mommy-nya lusa. Pasti tak akan jauh dari kata pernikahan Hana dan Andrew.
Ah, lelaki itu entah mengapa selalu hinggap di otaknya akhir-akhir ini. Bahkan semenjak ia ingin pergi masuk untuk melakukan sidang skripsi, bisa-bisanya Andrew lewat begitu saja di benak Zahra.
Ck! Lelaki itu memang benar-benar membuatnya gila saja.
“Tidak mau. Hana mau belajar.”
“Besok sudah sidang. Jangan sampai Mommy dibuat malu lagi olehmu.”
“Mom, Mommy tahu kan Hana tidak suka Andrew apalagi cinta!” sungut Hana. Ia malas sebenarnya mengatakan ini entah berapa kali.
“Mommy tahu. Tapi Andrew cinta kamu dan cinta juga bisa hadir karena waktu.”
“Dan Mommy kira itu gampang? Itu sulit, Mom.”
“Tapi Mommy melakukan ini semua karena Mommy sayang kamu. Mommy mau anak Mommy bahagia.”
‘Bahagia? Dengan mengorbankan kebahagiaan Zahra?’ batin Hana.
Ia begitu kesal dengan kata ‘demi membuat Hana bahagia’. Ini bukan kebahagiaan melainkan ini benar-benar sebuah p********n. Di mana dia yang harus satu rumah dengan orang yang tidak pernah terpikirkan sekalipun oleh Hana untuk menjadi teman hidupnya.
“Dengar, Mom! Jika Mommy tetap melaksanakan sesuatu hal yang Mommy mau dan yang tidak disukai Hana, percayalah akan ada kejadian Mommy akan kehilangan segalanya.”
•••
Akhirnya Hana bisa bernapas dengan lega ketika ia dinyatakan lulus dengan nilai yang begitu baik. Baik di sini tidak mengecewakan meskipun bukan yang terbaik.
“Za! Akhirnya aku lulus juga!” ujar Hana terpekik dan sontak memeluk Zahra dengan erat.
Zahra sendiri sudah sejak Hana masuk ke ruangan sidang menunggunya di luar. Menunggu kakaknya adalah hal yang ia impikan selama ini.
Beberapa tahun Hana mencintai Zahra lebih baik dari orang tuanya sendiri membuat Zahra merasa bahwa ia harus menjadi versi terbaik dalam diri.
“I know. Tapi jangan dipeluk sampai seperti ini juga,” keluh Zahra yang tak bisa bernapas akibat pelukan dari Hana.
Hana tertawa. Menampilkan gigi-giri rapinya. “Ups! Sorry!”
“It's okay. Untuk kali ini, kita makan bakso saja di warung Mang Ujang untuk lunch.”
Benar juga dia memang butuh makanan yang merakyat untuk sesekali. Bakso satu mangkok juga tidak akan membuatnya menjadi hilang reputasi.
“Lunch? Boleh juga. Sekali makan malam kita–“
“Bukankah kakak ada janji ke rumah Andrew?” tanya Zahra mengingatkan.
Hana berdecak. Kenapa selalu ia ingatkan?
“Bisakah kau jangan ingatkan aku tentang itu? Pikirkan saja perasaanmu bagaimana untuk Andrew sekarang.”
Kini Zahra yang terdiam. Dia malas sekali mengatakan jika membenci hal ini. Dia membenci Mommy-nya yang dengan mudahnya menjodohkan Hana dengan Andrew. Padahal Hana tidak mau dan yang suka Andrew adalah Zahra. Tidak bisakah Mommy-nya menurunkan egonya untuk kebahagiaan anaknya?
“Hm. Ya, semakin menjadi.”
“Dan Kakak masih berpikir caranya untuk menggagalkan semuanya.”
•••
“Dek, habis ini kita ke rumah Daddy kan?” tanya Hana setelah mereka sudah sampai di meja warung bakso Mang Ujang.
Zahra mengangguk. Dia merindukan Daddy-nya. Meski dia sama saja dengan Mommy-nya, tapi seorang anak bukanlah akan tetap merindukan sosok Ayah dan Ibu sekalipun mereka sudah tak peduli?
“Jangan lemah di depan Daddy!” ujar Hana berkali-kali ketika Zahra bertemu dengan Darwin–Daddynya.
Zahra mengangguk. Meski Zahra akan merasa sesak saat Daddynya bertanya, “apa Calista menyakitimu?”
Ah, ayolah! Zahra benar-benar rapuh ketika Daddy-nya bersikap lembut. Namun dia tidak bisa berkata apa-apa ketika pertanyaan itu terucap. Ah, bisa dikatakan juga Zahra takut Daddynya akan marah sama Mommy-nya.
“Dek! Jangan sampai Daddy tahu jika kau akan pergi sekolah di New York!” ucap Hana lagi.
“Kenapa? Bukankah ini hal yang–“
“Tidak! Aku tidak mau kau jauh dari kakak!”
Jauh? Memangnya apa yang akan dilakukan Daddy-nya jika benar-benar dia masuk ke Universitas terkenal di Dunia.
“Kak, ini hanya New York. Bukankah kakak akan ke London?!” tanya Zahra.
“Tidak. Kata siapa? Aku akan ikut denganmu.”
“Ikut denganku?” tanya Zahra lagi. “Bagaimana dengan impian kakak di London? Hei, i’m fine! Kakak tak perlu khawatir!”
“No! Walau bagaimanapun juga, aku tetap akan dekat denganmu meskipun impianku harus pupus sekalipun. Lagi pula aku sudah menemukan beasiswa di Universitasmu. So, still together.”
Benar-benar menyebalkan sekali jika ia harus ikut apa kata Hana lagi soal teman dan circle lingkungannya.
Hana benar-benar kakak yang baik dan menyebalkan.
•••
“Kalian? Tumben sekali kalian ke sini.”
Daddy mereka mempersilakan Hana dan Zahra untuk masuk ke dalam. Kebetulan juga, Daddynya tengah tinggal sendiri. Karena anak tirinya katanya sedang ada di Apartemen. Ya, Daddynya menikah lagi dan istri barunya meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan benar, Hana dan Zahra tidak tahu siapa sebenarnya anak tiri Daddynya.
Hana dan Zahra duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah itu. “Dad?” panggil Hana. “Ada hal yang mau aku sampaikan sama Daddy.”
“Apa itu?” tanya Darwin. “Apa kalian baik-baik saja?”
Zahra mengangguk. “Fine.”
“Lalu ada apa?” tanya Darwin lagi. “Jangan bilang kalau kalian akan meninggalkan Swiss?!”
“Hm, salah satunya.”
Ah, Darwin tetap ingat saja dengan kemauannya untuk tetap pindah ke New York dan melanjutkan studinya.
“Jadi ada beberapa?” tanya Darwin lagi. “Jangan bikin Daddy khawatir.”
‘Dan Daddy hanya takut Zahra kenapa-napa.’ Batin Hana berseru.
Hana benar-benar berada di batas dilema. Pertama, Zahra di benci Mommy dan disayang Daddynya. Kedua, Daddynya memang sempat mengatakan bahwa Zahra akan tinggal bersama Daddynya ketika Mommy-nya tidak bisa menerima kehadiran Zahra. Namun masa bodoh soal itu, Hana menyayangi Zahra. Mau bagaimana pun juga, Zahra harus tetap bersamanya. Ketiga, jika Zahra jauh dari Hana, pasti hidupnya akan tertekan. Namun ketika melihat Zahra tersiksa dengan semua hal yang disuruh dan diperintah oleh Mommynya terkadang Hana merasa menjadi kakak yang jahat.
“Kedatangan kami ke sini hanya ingin memberitahu bahwa kami akan wisuda besok.” Hana mengucapkan itu dengan final.
Zahra diam. Dia tahu ini berat. Meninggalkan Daddy-nya dan Mommy-nya setelah ini. Sakit rasanya ketika membayangkan ini semua.
“Wisuda? Memangnya kalian sudah sidang skripsi? Cepat sekali!” ujar Darwin terkejut. Ini masih tahun ketiga mereka kuliah dan sudah lulus? Ah, si pintar ini membuatnya kagum.
“Kami ngebut,” ucap Hana. “Mommy memaksa kami untuk menyelesaikannya di tahun ketiga.”
Ck! Darwin sudah menduga ini. Dan lihat, jelas saja Zahra terlihat lebih pendiam dari Hana. Dan ia menduga karena tekanan dari Calista. Lain kali dia akan berbicara dengan Calista soal ini.
“Dan kami mau Daddy datang ke wisuda kami besok.”
Darwin mengangguk. “Baiklah. Kalian tenang saja. Daddy akan datang.”
“Congratulation, Nak!” Darwin memeluk kedua putrinya dengan sayang. Waktu sepuluh tahun membuatnya tersiksa dan merasa bersalah dengan kedua putrinya. Membiarkan mereka bersama seorang penggila harta dan sekarang Hana mendapat imbasnya. Harus dijodohkan dengan orang yang sama sekali tidak ia mau.
“Thank you!” ujar keduanya serempak.
“Assalamu’alaikum.”
Ketika mereka yang tengah menangis di pelukan seorang Ayah, suara itu menginterupsi mereka dan refleks melepas pelukannya dari Darwin.
“Waalaikumsalam, Kenzo!” ujar Darwin tersenyum.
Pria muda itu tersenyum ke arah Darwin dan mengernyit ketika melihat kedua gadis yang membelakanginya.
Hana menyentak. Dia seolah kenal dengan suara lembut dan dingin ini. Dengan cepat, Hana menoleh ke belakang dan menganga.
Kenzo?
•••
TBC!