“Tenanglah, Dek.” Hana mencoba menenangkan Zahra yang masih menangis tersedu-sedu di pelukannya.
Jujur saja, Hana tidak mau Andrew bersikap seperti ini. Memang, dia yang membuat perjanjian itu kalau Andrew boleh bermain perempuan. Namun, tidak dengan Zahra juga. Sudah berusaha untuk tak mempertemukan Zahra pada Andrew, malah Andrew yang mendekat pada Adiknya. Setan memang!
“Lalu aku harus apa?” tanya Zahra masih memeluk kakaknya erat.
“Tidak harus melakukan apa pun. Diam saja. Abaikan mereka.”
“Ck! Sudah susah-susah move on dan tak mengikutinya lagi, kenapa aku harus bertemu lagi dengan cara dia yang mendekat? Kenapa tidak dia menjauh atau hilang saja sekalian.” Zahra berdecak. Benar-benar kesal dengan semua hal yang terjadi sepanjang hidupnya.
Zahra sudah berusaha melupakan Andrew sejak tahu Hana akan menikah dengan Andrew setelah lulus dan sekarang? Andrew-lah yang mendekatinya. Enak saja! Zahra sudah tidak mau lagi dengan Andrew dan berurusan dengannya.
Hana juga benar-benar kesal. Kenapa harus Zahra yang menjadi sasaran Andrew? Bukankah banyak mahasiswi lain yang bisa dijadikan mangsanya? Hana benar-benar tidak terima dengan ini.
“Tenang saja, Dek. Nanti kakak urus anak itu.”
Mereka sekarang tengah berada di mobil. Pulang adalah tujuan paling utama sekarang. Selain karena Zahra yang hatinya tengah tidak baik-baik saja, Hana juga ingin membuat pelajaran pada Andrew.
“Kita pulang sekarang!” titah Hana. Kali ini, Hana yang menyetir sedangkan Zahra tengah mendengarkan lagu kesukaannya melalui earpod.
“By the way, Mommy nanti langsung ke Bandara. Sebulan bekerja di Barcelona.” Hana mengucapkannya dengan nada senang yang tak terkira.
“Kakak senang?” tanya Zahra mengernyit. Biasanya memang begitu. Ketika Mommynya tidak ada di rumah pasti Hana sangat senang apalagi sebulan seperti ini. Makin senang lagi dia.
“Tentu saja. Bayangkan saja! Aku bisa kemanapun yang aku mau.”
“Begitu?” tanya Zahra bingung sendiri. Dia bahkan tidak bisa berekspresi apa-apa. Mau ada tidak adanya Mommy mereka di rumah akan terlihat sama saja.
“Dek, hidup itu jangan dibawa ribet. Kalau Mommy tidak ada, harusnya kau bisa senang meski sedikit.”
“Hm, iya, Kak.” Zahra hanya menyahut dengan singkat.
“Dengar, Dek. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan dari pada ketidakhadiran seorang Mommy!” ujar Hana melirik ke arah Zahra yang hanya diam saja. Sedangkan Hana masih saja fokus menyetir. “Apalagi besok weekend.”
“Terus kenapa?” tanya Zahra tak mengerti.
“Tentu saja ada hal yang lebih baik. Kita bisa keluar dengan bebas mau kapan pun.”
“Tap–“
“Dek, tolong, ya, jangan membantah lagi. Aku melakukan ini semua demi kamu bahagia. Jadi, sebulan ini, kau harus menuruti apa perintah kakak! Abaikan saja perintah Mommy. Biarkan saja. Nanti kakak yang tanggung kalau dimarahi!” Hana menatap ke arah Zahra dengan senyum yang terus terukir indah di sudut bibirnya.
“Hm, baiklah. Semoga tidak ada kejadian aku harus dihukum.”
“Kau jangan takut! Kakak yang tanggung kalau itu sampai terjadi.”
•••
“Gawat! Andrew kenapa ada di rumah, Dek?!” tanya Hana panik.
Mobil Andrew terparkir di halaman rumah mereka. Mobil sport keluaran baru itu terparkir sejak sebelum mereka tiba di rumah. Memang mereka tadi ke Supermarket lebih dulu untuk membeli bahan-bahan makanan sebagai teman begadang mereka nanti malam.
Rencananya nanti malam mereka akan marathon nonton drama series Thailand. Jadi, mereka sengaja membeli banyak stok camilan di kulkas mini kamar tidur Zahra.
“Mana Za tahu. Kita harus bagaimana?” tanya Zahra ikutan panik. Bukan apa-apa, selain Zahra yang malas sekali bertemu dengan Andrew, mereka memang tidak memberi tahu bahwa Hana memiliki saudara kembar.
“Hm, bagaimana? Duh, kakak juga bingung, Dek.”
Hana menjambak rambutnya sendiri. Benar-benar tidak bisa dan tak tahu harus bagaimana. Otaknya buntu dan Hana hanya menatap mobil itu dengan panik.
“Lagi pula ngapain dia ada di sini?!” tanya Hana menatap Zahra yang bingung sendiri.
“Za tidak tahu.”
“Ini pasti karena Mommy! Tidak salah dan tidak bukan!” Hana mengerucutkan bibirnya kesal.
“Jadi? Zahra lewat mana?” tanya Zahra. “Coba kakak telepon Bibi buat buka pintu dapur. Biar Zahra lewat sana saja.”
“Hm, Za, kamar kamu ada di atas. Mau lewat mana? Ya kali kau tidur di kamar Bibi?!”
Benar juga. Kamar Zahra dan Hana ada di atas. Lalu tangganya terlihat dari ruang tamu. Bagaimana caranya ia ke dalam?
“Atau Kakak keluar saja dulu. Ajak ke mana pun Andrew sementara Za ke kamar.”
“Jadi, kau mengorbankan Kakak?” tanya Hana melototkan matanya ke arah Zahra.
Zahra hanya nyengir. Menampakkan gigi bersih nanti putihnya ke arah sang Kakak. “Sekali- kali kakak keluar sama Andrew!”
“Heh! Kenapa jadi kakak? Harusnya kamu!”
“Tidak bisa, Kak. Aku tidak bisa dan tidak akan mau lagi. Dia itu–“
“Baiklah. Demi cinta seorang kakak pada adiknya. Kakak akan melakukan apapun untuk kamu!”
Hana mendesah. Repot sekali kalau perjodohan tanpa cinta dan lelakinya disukai oleh banyak orang termasuk adiknya sendiri. Lagi pula, kenapa Andrew memilih dikenal seperti itu? Bukankah itu hal yang tak mengenakkan? Memang dasarnya saja seorang Andrew si penebar pesona handal.
Hana Putriana Garcia: Ikut aku beli sesuatu ke Supermarket, yuk!
•••
Hana keluar dari mobil menatap ke arah Zahra yang sudah bersiap-siap untuk menutup diri agar tak ketahuan Andrew yang sudah keluar dari rumah.
“Lama sekali kau!” ujar Andrew kesal. Menatap Hana yang berdiri di depan mobil miliknya.
“Ayo cepetan!” Hana masuk lebih dulu ke Andrew yang membuat si pemilik mobil itu menatapnya kesal.
Mobil miliknya bisa-bisanya diambil alih oleh wanita galak seperti dia. Tapi, kembali lagi, dia adalah tunangannya sekarang.
Andrew akhirnya juga masuk ke dalam dan menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah milik Hana.
Sementara itu, Zahra keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan beberapa belanjaan Hana dan Zahra.
“Eh, Non, dari tadi di mobil?” tanya seorang Bibi berkewarganegaraan Indonesia itu.
“Iya, Bi. Sembunyi.”
“Oh, iya, untung saja Bibi tidak bilang kalau di sini Non Hana sama Non Zahra.”
Bibi ini benar-benar mengerti kalau dirinya disembunyikan oleh Mommynya sendiri. Bahkan foto di ruangan ini saja hanya ada foto kecilnya. Semua foto Hana dan Zahra sejak umur tiga sampai sekarang malah berjejer di ruang TV lantai atas. Seolah Zahra hanya boleh menampilkan identitasnya pada orang-orang itu di pantai atas. Sangat berbeda sekali dengan Hana bukan?
“Iya, Bi. Jangan dikasih tahu ke siapa-siapa, ya, meski itu Andrew sekalipun!”
•••
“Mau beli apa?” tanya Andrew yang melihat Hana hanya celingak-celinguk ke arah makanan dan camilan tanpa mengambil salah satunya.
Andrew sendiri sudah risih karena dilihat banyak orang. Reputasinya menjadi pecinta wanita menjadi buruk karena ikut masuk ke dalam supermarket seperti ini.
Sedangkan Hana memang bingung mau beli apa. Semua yang dia butuhkan sudah dia beli bersama Zahra tadi. Lagi pula, Zahra buat apa menyuruhnya pergi berdua tak jelas seperti ini? Sudah untung dia tidak ketahuan kalau ini hanya sebuah alasan saja.
Tapi ada untungnya juga, dia bisa mengerjai Andrew kalau seperti ini. Anak Mommy seperti Andrew pastinya kan tidak pernah ke Supermarket seperti ini. Baguslah. Sekali-kali dia bisa mengerjai Andrew karena dia hadir di hidup adiknya lagi dan membuat sebuah tangis Zahra kembali.
“Aku juga tidak tahu. Makanya tunggu dulu.”
“Heh! Kau mau mengerjaiku? Kita sudah satu jam hanya berkeliling di bagian sini tanpa mengambil barang-barang satu pun. Kau tiba-tiba tidak ada uang? Biar aku yang bayar, tenang saja! Asal cepat sedikit. Aku malu,” omel Andrew membuat gadis itu hanya menatapnya dengan datar.
“Berisik!”
“Kau benar-benar menyebalkan, Han!”
“Bodo amat!” ujar Hana memeletkan lidahnya ke arah Andrew.
Andrew benar-benar gemas sekali. Ingin rasanya dia memakan Hana hidup-hidup. Tapi dia juga senang. Akhirnya Hana mau diajak jalan-jalan seperti ini. Biasanya gadis itu tak akan mau. Untung saja Mommy Hana menelponnya untuk segera ajak Hana jalan-jalan biar tidak kesepian.
“Han, ke Mall yuk!”
“Buat apa? Mau ngapain? Stok skincare aku masih banyak!” jawab Hana ketus.
Hana memang kejam. Orang mengajak baik-baik pasti diketusin seperti ini.
“Aku tidak mengajakmu beli skincare. Kita nonton.”
“Kita bisa nonton di aplikasi online. Jadi tidak perlu ke bioskop!”
Andrew berdecak. Pasti Hana banyak alasan lagi. Memang seperti ini kalau orang jatuh cinta namun gadis yang ia suka berbeda dengan gadis yang pernah ia pacari dulu-dulu. Dasar tidak peka!
“Ya sudah, ayo cepat!”
Hana tahu, Andrew pasti kesal dengan kelakuannya yang seolah tak peduli. Namun ini memang kenyataan. Dia benar-benar tak akan peduli sama sekali dengan Andrew yang mengajaknya ke mana pun. Karena memang Hana tidak suka dan tidak mau pergi dengan Andrew sekalipun.
Di mata Hana, Andrew hanya pengganggu langkahnya untuk mengejar Kenzo. Karena pertunangan s****n itu, Hana jadi tidak bebas bersama Kenzo. Tapi ngomong-ngomong, Hana jadi kangen Kenzo. Tadi waktu mau pulang niatnya mau ke Kenzo dulu tapi malah Zahra yang menangis, jadi dia harus mengutamakan Zahra. Dia harus kuat agar Zahra baik-baik saja dengan ketidakadilan seorang Ibu pada mereka.
Hana yang dimanja, bukan berarti Hana harus semena-mena dengan Zahra bukan? Justru hadirnya Zahra dan Hana, harus saling melengkapi.
Daddy Hana dan Zahra hanya hadir di pertunangan Hana. Orang tua mereka bercerai sejak beberapa tahun yang lalu. Alasannya hanya karena perselingkuhan. Mungkin karena itulah Mommy-nya membenci Zahra. Jika dipikir-pikir, wajah Zahra begitu mirip dengan Daddynya. Tentu saja bukankah dulu ia menjadi model saat remaja? Tampan.
“Kita makan yuk!” ajak Hana tiba-tiba.
“Tumben sekali.”
Komentar dari Andrew membuat Hana menoleh. Bukan apa-apa, Andrew bukannya harusnya antusias ketika ia mengajak makan berdua?
“Kenapa? Tidak mau? Baiklah aku ajak Kenzo saja.”
“No! Oke, kita makan!” Andrew menarik tangan Hana saat gadis itu ingin mengambil ponselnya dari tas selempang yang ia pakai.
“Oke. Ayo cepat!”
•••
Mereka sudah sampai di restoran Rusia. Ternyata tidak begitu buruk Restoran yang di pilih oleh gadis ini. Sesuai selera dan berkelas.
“Kenapa? Terlalu murah?” cibir Hana membuat Andrew menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Aku suka pilihan ini. Terlalu estetik. Ya, aku suka.”
“Bagus kalau begitu.”
Hana memesan makanannya tanpa menunggu persetujuan Andrew. “Siapkan uangnya. Ada uang kan?” tanya Hana sengaja menguji kesabaran seorang Andrew si lelaki pencinta wanita.
“Booking restoran pun aku bisa.” Dengan congkak, Andrew memamerkan kekayaannya pada Hana. Namun Hana merasa biasa saja. Karena ia pikir bodo amat mau Andrew anak orang kaya, mau memiliki uang sendiri, mau pintar atau apa pun juga Hana tidak akan mencintai Andrew seperti Zahra mencintai lelaki ini. Dia bukan Zahra dan Zahra bukan Hana. Selera mereka memang sangat berbeda.
“Aku tidak butuh itu. Aku ingin makan bukan mau foya-foya.”
Makanan mereka akhirnya sudah sampai juga di hadapannya. Andrew terkejut ternyata selera makan Hana tak jauh berbeda. Banyak makan dan suka udang. Yang biasanya mereka orang lain alergi udang, mereka malah suka udang. Apa memang benar jika mereka memang ditakdirkan bersama?
“Kau suka udang kan?” tanya Hana. Semoga saja Andrew tidak suka udang sama seperti Zahra yang alergi udang.
“Suka.”
Hana terbelalak. Apa katanya? Dia suka udang? Bukankah–wait! Jadi dugaannya selama ini salah? Hana berdecak dalam hati. Sia-sia jika dia berniat mengerjai Andrew habis-habisan.
“Jangan pura-pura suka kalau memang tidak suka.”
“Aku benar-benar suka. Mau bagaimana?” tanya Andrew. “Lihatlah!”
Andrew memakan makanan itu dengan begitu lahap. Dan Hana hanya menganga. Jadi dia salah sasaran dan salah strategi.
Gila! Bagaimana ini? Dia tidak mungkin makan banyak di depan Andrew. Makanan yang banyak seperti ini benar-benar membuatnya kalap dan alhasil dietnya akan sia-sia. Mana makanannya semua dari udang lagi. Kan Hana bisa khilaf kalau seperti ini.
“Ayo, dimakan!”
Hana mengangguk. Dia tidak boleh makan. Pesanannya memang sebanyak ini ya? Berapa yang harus ia bayar? Bisa-bisa dimarahi Mommynya kalau seperti ini.
“Hm. Sepertinya ini akan menghabiskan banyak uangmu.”
“Tidak masalah. Asal tidak mubadzir.”
“Tapi masalahnya aku sedang diet.”
Andrew yang masih memakan makanannya itu terkekeh. Ternyata ini hanya trik untuknya? Dan Hana sedang diet? Ah, ia pikir Hana sedang tidak gemuk buat apa dia diet?
“Buat apa kau diet?” tanya Andrew. “Kau itu sudah kurus. Buat apa diet lagi? Bisa-bisa kau akan kurus tinggal tulang.
Sialan. Omongan Andrew benar-benar membuatnya sakit. Tapi memang sih Andrew kalau ngomong selalu pedas tapi akan tetap pedas rasanya meski mendengar ucapan pedas Andrew berkali-kali.
“s****n kau!”
•••
“Dek, masa aku salah strategi sih?!” sungut Hana ketik ia sudah sampai di rumah tepatnya Zahra yang sudah mau bersiap untuk menonton drama Thailand.
“Salah strategi bagaimana?” tanya Zahra bangkit dari tidurannya.
“Iya, aku salah strategi. Kupikir Andrew alergi udang,” ujar Hana kesal. Duduk di samping Zahra dengan tangan memangku bantal.
“Terus? Kan Andrew suka udang, Kak.”
“Loh? Kenapa jadi kau yang lebih tahu?!” tanya Hana heran. “Padahal kakak yang jadi tunangannya Andrew.”
Zahra terkekeh. Tidak tahu saja kalau Zahra menjadi intel dan stalking semua kegiatan Andrew selama ini lebih dari yang Hana tahu.
“I know. Cause I love him so much.”
“Iya tahu. Tapi Kakak baru sadar kalau kamu bisa lebih suka mencari tahu sendiri daripada tahu dari orang lain.”
Zahra mengangguk. Menurutnya, kalau tahu dari informasi yang dia dapat dari ahli dan dia tahu sendiri faktanya itu lebih baik daripada dia harus menyuruh orang untuk melakukan ini semua. Karena menurut Zahra itu bukan hal yang baik. Terlalu ketahuan kalau dia suka sama seseorang. Cara itu sering dilakukan oleh seorang Hana pada Kenzo. Katanya Hana suka dia sejak pertama kali dia menolongnya waktu ospek. Tapi, Zahra tidak tahu siapa. Meski katanya most wanted juga di Universitas ini, tapi dia pikir masa bodo. Dia tidak suka mengikuti berita terupdate dan mengurusi kehidupan orang lain. Hidup Zahra saja sudah tidak benar, apalagi harus mengikuti kehidupan orang lain yang menurutnya tidak berpengaruh pada hidupnya sama sekali.
Tipe Zahra sekali kalau tidak suka ghibahin orang lain. Suka menjelek-jelekkan orang lain dan suka sekali mencari kesalahan terkecil pun dari orang itu. Memangnya apa gunanya?
“Informasi dari orang itu belum tentu benar, Kak.”
“Ah, iya, juga ya.”
Hana menganggukkan kepalanya. Pantas saja dia suka sekali mencintai dalam diam dan bertahan hingga hampir tiga tahun.
Coba saja, Hana menjadi Zahra. Mungkin dia tidak akan bisa menjadi seperti Zahra. Tidak tahu hal yang dilakukan oleh Kenzo saja, Hana sudah kelimpungan mencari informasi lebih. Bahkan Hana sempat mengikuti Kenzo sampai ke Apartemennya saat Kenzo sedang tidak enak badan untuk memastikan bahwa Kenzo baik-baik saja. Meskipun yang ia tahu dan pedulikan itu tetap Keira. Menyebalkan sekali dia bukan?
“Jadi bagaimana? Rencana balas dendam kakak kurang berhasil?” tanya Zahra lagi. Memainkan laptopnya dan membuka sebuah series yang masih ongoing.
“Ganti strategi saja coba,” ujar Hana. “Bantu pikirin!”
“Aku suka tidak tega buat ini.”
“Ah, kau ini! Sekali-kali kau coba kerjain seorang Andrew!”
“Aku tidak tega, Kak. Aku bukan Kakak yang suka tega sama semua orang.”
“Hm, tapi kak! Bukan hanya Andrew yang hadir tadi pagi. Ada satu cowok yang mengajakku dan sampai memakaikan jaketnya padaku.”
Hana menoleh. Jadi bukan hanya Andrew? Ada lagi? Ah, pasti ini ada orang iseng yang ingin berkenalan dengan adiknya. Ah, ini tidak bisa ia biarkan begitu saja.
“Siapa?” tanya Hana penasaran. Mengernyitkan keningnya.
Zahra menggeleng. “Mana Za tahu, Kak. Aku saja baru tahu dia ada di Kampus ini.”
Tidak berguna juga jika dia menanyakan orang pada Zahra. Memangnya Zahra akan tahu? Memangnya Zahra akan peduli siapa dia dan tujuannya apa? Dengar! Andrew dikenal Zahra saja sudah lebih dari cukup. Itu pun karena waktu Ospek mereka sempat dari regu.
“Yah, aku tahu pada akhirnya tidak ada gunanya juga aku bertanya padamu, Za.”
•••
“Eh, ada calon pacar dan masa depan aku,” ujar Hana ketika melihat Kenzo melewati tempatnya.
Hana kini tengah berada di Koridor kelas Andrew untuk memberinya makanan. Dan untungnya juga, Hana belum memakan makanannya. Jadi, ia bisa memberikannya juga pada Kenzo. Tapi... Ini bukan Hana yang masak kebetulan. Karena mau bekal apa pun juga pasti yang masak adalah Zahra.
“Sudah makan belum sayang?” tanya Hana menghampiri Kenzo yang ada di depan pintu.
“Andrewnya sudah keluar sejak dua puluh menit yang lalu.”
Baguslah. Jadi ada alasannya kalau makanannya ia berikan pada Kenzo meski tak enak sudah memberikan makanan hasil Zahra pada orang yang tak ia kenal.
“Kenapa langsung bilang Andrew? Padahal aku tidak bilang apa-apa.”
“Kan kau tunangan Andrew wajar kalau cari Andrew. Yang tidak wajar kalau kamu mencari saya.”
“Nah niat awalnya memang cari Andrew. Tapi berhubung Andrew katanya tidak ada, jadi bisa kamu makan saja bekal ini.”
Hana memberikan makanan itu pada Kenzo. “Anggap saja balasan sudah mengizinkan aku untuk berjuang lebih keras.”
•••
“Hai, gadis aneh.”
Andrew menyapa Zahra lagi setelah gadis ini baru saja menyelesaikan bimbingannya. Zahra terkejut dengan kehadiran seorang Andrew yang lagi-lagi ke kelasnya seolah sudah tahu aku siapa.
Zahra hanya meliriknya. Tidak berguna sekali ia menoleh pada orang seperti Andrew. Bisa-bisa acara move on ala Zahra hanya sebatas wacana reuni yang tak tersampaikan.
Zahra tak menghiraukan Andrew yang terlihat ingin sekali tengah mengajak ngobrol seorang Zahra.
“Tunggu!” Andrew menahan tangan Zahra membuat gadis itu mau tidak mau menoleh padanya.
“Namamu siapa?” tanya Andrew. “Aku tidak akan pergi sebelum aku tahu siapa kamu.”
“Sepenting apa namaku di hidupmu?” tanya Zahra ketus.
Jujur, Zahra senang dengan keberadaan Andrew di depannya tanpa ia pinta. Namun dengan Andrew yang seolah ngebet ingin bertemu dengan gadis ini.
“Tidak terlalu penting.”
“Kalau begitu, kau kasih nama panggilan sendiri saja untukku.”
“Itu sebuah kode untuk memanggilmu sayang?” tanya Andrew membuat Zahra malu sendiri. Sebenarnya ini bukan seperti itu mau Zahra. Kenapa menjadi mengarah seperti ini?
“Aku tidak bermaksud untuk itu.”
“Lalu? Apa kamu sayang aku?” tanya Andrew. “Kamu begitu misterius membuat aku merasa bahwa aku harus bisa mendapatkanmu.”
“Tidak jelas sekali hidupmu.” Zahra langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan Andrew sendirian.
Ia sebenarnya senang sekali. Bahkan dia ingin loncat-loncat hanya karena senang dengan ucapan Andrew tapi dia menahan untuk tidak merusak reputasi gadis dingin dalam dirinya. Masa bodo soal ini. Yang jelas Zahra senang akan ini.
•••
TBC!