Menari Dibawah Hujan

3110 Kata
Zahra masih bingung dengan sikap Mommynya ketika melihatnya tadi. Seolah dia adalah orang yang paling tak tahu apa-apa tentang segalanya. Di meja makan, Calista hanya diam saja. Tak mengatakan sesuatu atau apa pun itu. Biasanya Calista selalu mewanti-wanti untuk selalu belajar, lulus tahun ini. Stres? Tentu saja. Namun Calista pasti bilang, “Kalau hanya diminta seperti itu stres, bagaimana dengan biaya kuliah kamu selama ini? Memangnya kau menanggungnya?” Zahra waktu itu hanya diam saja. Berbeda dengan Hana yang pasti tak akan pernah setuju dengan kata-kata ini. Memangnya Zahra robot? Atau sekadar boneka Calista saja? Saat ini, Hana dan Zahra tengah mengerjakan proposal untuk bab selanjutnya. Ternyata begitu melelahkan ya. Meskipun mereka berbeda jurusan, tapi akan lebih meringankan pikiran Hana ketika Zahra ada di sampingnya. “Kak, Mommy kenapa? Tumben sekali diam saja.” Zahra memberanikan diri untuk bertanya. Bukan apa-apa, takut saja kalau Calista kenapa-kenapa. Nantinya pasti dia juga yang susah. “Tidak apa-apa. Memangnya dia kenapa?” tanya Hana. Berusaha tidak ada apa-apa. Meski di pikiran Hana berkecamuk tentang pertanyaan ‘kenapa Zahra selalu diasingkan? Kenapa Zahra diperlakukan dengan tidak adil seperti Calista memperlakukannya dengan baik?’ “Tumben sekali diam saja. Biasanya Mommy diam pasti ada masalah.” “Mungkin masalah kantor,” ucap Hana beralibi. “Kantor? Sampai mengacuhkan makanan yang diberikan oleh Zahra? Tidak biasanya.” Ah, ayolah! Jangan sampai Zahra tahu kalau Calista diam ketika membahas Zahra. Biasanya memang Zahra yang mengambilkan Mommynya lauk dan nasi ke piring Calista. Namun tadi di meja makan terasa berbeda. “Ah, sudahlah, Za. Harusnya kau bersyukur bisa makan malam dengan nikmat tanpa briefing dari Mommy!” Hana terkekeh. Dia meminum cokelat dingin tiba-tiba saja rasanya meneduhkan. Pantas saja semua orang suka cokelat. Selain pembangkit mood, tempat melarikan diri dari stress, ternyata cokelat bisa membuat semua orang merasa bahagia. Rasanya yang enak juga bisa membuat mood membaik membuat semua orang suka pada yang namanya cokelat. Entah itu makanan atau minuman yang diminum Hana saat ini. “Tapi aneh saja rasanya, kak.” Zahra melanjutkan revisinya sambil rebahan. Laptopnya menyala dengan Hana yang sibuk mendengarkan lagu sambil menyelesaikan tugasnya. “Sudahlah! Kau jangan pikirkan Mommy. Harusnya kau berpikir saja bagaimana caranya kau bisa keluar dari rumah ini setelah lulus nanti.” ••• Zahra dan Hana menyelesaikan kelas bersamaan. Sehingga Hana bisa pulang tanpa menunggu Zahra menyelesaikan kelasnya. Ternyata enak juga pulang dengan adik sendiri meskipun dia tahu kalau ia memiliki tunangan. Tak semudah saat dulu mereka berangkat sekolah SMP, SMA bersama. Sekarang karena adanya Andrew, Hana jadi sembunyi-sembunyi hanya untuk bertemu dengan Zahra atau sekadar memberikan semangat untuk Zahra dengan memeluknya ketika Adiknya tengah ingin melakukan kuis. “Za, kamu ke mobil dulu ya!” ucap Hana menelpon Zahra yang saat ini memang sudah ada di depan kelasnya hendak pulang. ‘Oke.’ Jawaban dari Zahra adalah penutup pembicaraan mereka. “Bagus ya kau tak memberiku makan siang dan kau mau pulang dengan cowok lain?” tanya Andrew menampakkan wajah merajuknya. Hana mendengus. “Kau tak pantas menampilkan wajah seperti itu!” Andrew mengacak-acak rambut Hana membuat perempuan itu mendengus kesal. “Bisa diam tidak?” “Ish! Kenapa kau begitu menggemaskan?” tanya Andrew gemas. Mencubit pipi Hana dengan lembut namun gemas. “Aw!” Hana mengaduh. “Kau benar-benar menyebalkan!” Andrew tertawa. “Iya, aku tahu. Aku memang menyebalkan namun membuat kau rindu padaku juga bisa.” Hana menoyor kepala Andrew dengan kesal. “Siang-siang jangan kebanyakan halu!” ••• Ketika Hana hendak ke parkiran menemui Zahra, dia malah bertemu dengan Kenzo yang sedang bermain basket di lapangan. Tentu saja ide cemerlang Hana muncul. Dengan langkah yang penuh percaya diri, Hana ke kantin untuk membeli minuman dan roti. Rencananya Hana ingin simulasi untuk menjadi pacar atau bahkan istri yang baik untuk Kenzo nanti. “Terima kasih, Bu.” Hana tersenyum kepada sang penjual lalu pergi berlalu untuk ke lapangan lagi menemui Kenzo. Ah, rasanya kalau Kenzo tidak bisa Hana lihat sehari saja pasti tidak bisa karena terkadang satu tatapan datar Kenzo membuat semangat Hana bisa lebih meningkat dari sebelumnya. Bisa dikatakan juga, Kenzo adalah orang yang membuat Hana bisa bertahan untuk tersenyum ketika dunia tengah membercandainya lagi. Hana dengan langkah percaya diri, mendongakkan kepalanya dan bersikap acuh pada semua orang yang menyoraki Kenzo dengan penuh kagum, suka bahkan tergila-gila. Hana duduk di pinggir lapangan tepat di mana tas dan beberapa perlengkapan Kenzo ada di sana. Dengan santainya, Hana duduk hingga tak melihat bahwa ada seseorang yang sudah lebih dulu menunggu Kenzo di pinggir lapangan. Dia adalah Keira. Perempuan dari jurusan Komunikasi itu sudah sejak dulu dikatakan dekat dengan Kenzo. Tapi memang dasarnya Hana yang masa bodo itu selalu mengabaikan kenyataan bahwa Kenzo tengah dekat dengan seseorang. Kabar seperti itu hanya sebatas angin lalu bagi Hana. Dia tak peduli siapa pun orang yang dikabarkan dekat dengan Kenzo, yang penting hati Kenzo tetap kosong dan menunggu Hana untuk mengisinya. Tidak apa-apa kita percaya diri asal dalam kepercayaan dirinya ini adalah hal yang positif. “Ngapain kau di sini?” tanya Kenzo dingin menghampirinya untuk mengambil minum di dalam tasnya. “Ini minumannya. Pakai yang ini saja dan ini roti buatmu. Semangat ya!” ucap Hana memberikan minuman serta makanan itu pada Kenzo. Kenzo menerimanya. Lalu menatap Hana dengan tatapan tak biasa. “Kau tengah meracuniku?” “Meracunimu? Untuk apa?” tanya Hana terkekeh. Sefrustasi-frustasinya Hana tidak kunjung mendapat hatinya Kenzo, dia tak akan rela untuk meracuni orang yang begitu ia cintai hanya karena frustasi. “Karena–“ “Eh, Keira!” Kenzo melambaikan tangannya ke arah Keira. Gadis itu akhirnya menghampiri Kenzo yang masih bersama Hana. Hana kesal. Bisa-bisanya Kenzo memanggil orang lain sedangkan dirinya saja ada di sini. Sehat? Dengan kesal, Hana menarik napas lalu membuatnya kasar. Berbalik menatap ke arah Keira yang berdiri di belakang Hana. “Kau yang namanya Keira?” tanya Hana berusaha untuk sabar dan tenang. Sebenarnya dia tidak kesal atau apa. Hanya saja Keira sudah mengalihkan perhatian Kenzo padanya membuat Hana kesal setengah mati. Jika saja Hana tak ingat bahwa Zahra menunggunya pulang, Keira sudah pasti ia tantang adu mulut. Keira mengangguk. Tatapannya terlihat biasa saja. “Temani Kenzo hari ini. Tapi besok, jangan harap kau mendapat kesempatan itu lagi.” ••• “Lama sekali kamu,” ujar Zahra mendengus. Dia sudah menunggunya lebih dari empat puluh lima menit namun Hana baru saja sampai di tempat parkir. Padahal dia sudah terburu-buru tadi untuk ke parkiran hanya takut Hana menunggu lama. Ternyata Hana belum juga datang membuat Zahra mau tak mau harus menunggunya di dalam mobil dengan camilan yang ada. Di mobil, baik Hana atau Zahra selalu menyediakan kantong makanan atau camilan beberapa bungkus plastik besar agar dia ketika sudah ingin makan bisa langsung makan tanpa harus keluar mobil untuk membelinya. Meski kadang Hana dan Zahra jam masuk bimbingan tidak sama, tapi mereka sebisa mungkin saling menunggu. Karena ketika mereka memakai mobil berbeda pasti Mommynya selalu menyalahkan Zahra jika Hana pulang terlambat atau apa pun itu. Padahal Hana selalu menegur Calista untuk tidak selalu menyalahkan Zahra dalam hal ini. Zahra tak ada salah apa-apa namun selalu disalahkan takutnya akan nekat pergi dan tak mau kembali ke rumah. Lalu, siapa yang repot? Pasti Hana akan sedih dan merasa gagal menjadi kakak untuk Zahra. “Iya-iya, maaf, Dek.” Hana tersenyum seolah tak ada apa-apa. Dengar! Hana selalu berbuat ulah seperti ini pasti kalau di rumah Zahra lagi yang salah. Memang kadang Zahra harus selalu menuruti apa mau Mommynya tanpa harus memikirkan keinginannya sendiri. Tapi tidak seperti itu konsep dalam berkehidupan. Boleh menghargai dan menuruti namun tidak dengan menentang kemauan sendiri. “Kak, ke Kafe yuk!” ajak Zahra. “Kebetulan semalam aku ke sana dan tahu tidak, ada Andrew di Kafe itu.” “Apa? serius?” tanya Hana kaget. “Iya. Dia sempat menyenggol aku tapi ya aku refleks kan jadinya aku duluan minta maaf dari pada nunggu dia peka.” Kebiasaan. Zahra tidak salah selalu minta maaf. Menjadi orang baik tidak sampai harus mengorbankan harga diri juga. Zahra terlalu polos atau memang Zahra yang tidak mau memperpanjang urusan memang tak jauh beda. “Jadi kau yang minta maaf lebih dulu?” tanya Hana sedikit tak percaya. “Kau apa-apaan! Aku tidak suka ya kamu merendahkan diri kamu sendiri seperti itu!” Hana jadi emosi sendiri. Menurut Hana, kalau yang salah bukan kita jadi tidak sepantasnya kita minta maaf lebih dulu. Karena bagaimana pun juga, yang salah akan merasa menang ketika kita menyerah. Itu sangat tidak dibenarkan oleh Hana. “Dari pada memperpanjang masalah lebih baik menyelesaikannya kan?” tanya Zahra lagi. “Lagi pula, Andrew tidak tahu aku.” “Memang. Tapi kamu yang tahu dia dan mencintai dia.” “Ah, sudahlah, Kak. Jangan perpanjang soal perasaanku.” Hana menghela napasnya panjang. “Jangan perpanjang? Bagaimana caranya untuk tidak perpanjang kalau seperti ini? Kau tahu, hal seperti inilah yang membuat perempuan terlihat lemah di mata laki-laki.” Benar memang. Namun bukan ini maksudnya. Zahra hanya tidak ingin kesan pertama pada Andrew untuknya itu jelek. “Tapi aku belum selesai bicara,” ujar Zahra menyanggah. Hana menoleh. “Ada lagi?” Zahra mengangguk. “Dia meminta untuk diantar pulang. Jadi, aku turuti saja.” Hana yang tengah minum air mineral jadi tersedak ketika mendengar itu. “Kau bercanda?” “Aku serius, Kak. Tiba-tiba saja dia masuk ke dalam mobil dan memintaku untuk diantar pulang. Dari pada aku pulang terlambat, ya sudah aku ikuti saja maunya.” Penjelasan dari Zahra tentu saja membuat Hana menggelengkan kepala. Gila! Andrew bisa-bisanya membuat wanita yang tidak ia kenal menjadi polos hanya karena ucapan tak berbobotnya. A“Kenapa kau tak menolak?” tanya Hana heran. “Kau bisa menariknya keluar mobil dan selesai.” “Tapi dianya yang kekeh untuk minta diantar pulang.” “Za, lain kali kau jangan menjadi orang yang terlalu baik dan polos seperti itu,” ujar Hana mengingatkan. Jujur saja, orang seperti Andrew memang tidak patut untuk di baikkan oleh Zahra. Dan Zahra tidak bisa bertemu dengan orang seperti Andrew karena itu bisa dimanfaatkan. “Hm, baiklah.” ••• “Mbak, cokelat panas dua, ya!” Zahra memesan dua gelas cokelat panas sembari memegang ponselnya. Hana membuka laptopnya untuk mengerjakan proposal selanjutnya. Tadi pagi, Hana bilang dosennya selalu mengeluh ketika proposal yang disuruh selalu tidak lengkap. Entah itu Hana langsung ke bagian inti tanpa pendahuluan atau apa, kadang juga dosennya menyuruh untuk benar-benar membuatnya dengan benar dan revisi mandiri. “Gila, Za, dosennya killer. Untuk apa aku menunggunya di kelas kalau ujungnya harus revisi sendiri? Itu bukannya tak berguna ya?” Hana berdecak kesal. Sedangkan Zahra hanya menggelengkan kepalanya. “I don't know, Kak.” “Ck! Memangnya kau tidak disuruh revisi?” tanya Hana. Zahra menggeleng. “Bukan revisi proposal tapi penggunaan kalimat dan typo.” “Ah, enak sekali kau!” Hana mengembungkan pipinya kesal. Dan seperti Zahra ini masa iya disia-siakan oleh Mommy-nya? Jujur kalau seperti ini, yang bodoh bukan dosennya namun Mommy-nya. “Coba lagi. Siapa tahu kita bisa ke London bersama.” “Kenapa tidak jauh sekali? Hei, ini saja Swiss. London tidak naik pesawat bisa sampai,” cibir Hana. “Hm, aku ada kabar baik untuk itu.” “Kabar baik apa?” Hana berubah antusias. Cokelat panas pesanan mereka sudah ada di hadapannya. Namun mereka masih asyik mengobrol satu sama lain. “Aku mendapat beasiswa di dua universitas dunia.” Hana terlonjak kaget. Hana benar-benar senang dengan kabar ini. Dia sayang Zahra jadi mau apapun keberhasilan Zahra, dia akan tetap senang meski dirinya berada di bawah Zahra sekali pun. “Ah, sebentar! Benarkah? Kapan kau daftar?” Zahra menggeleng. “Aku saja kaget. Katanya bukan aku yang menawarkan diri tapi mereka yang menawarkan diri untuk aku. Memangnya aku sepintar itu ya sampai mereka merelakan mencari informasi tentang aku?” Hana menoyor kepala Zahra pelan lalu kemudian ia mengelusnya. “Kalau seperti itu namanya kamu hebat, sayang!” “Ah, masa?” “Iya. Coba lihat! Aku saja baru mendapat beasiswa karena aku yang menawarkan diri tapi kamu malah mendapatkannya tanpa perjuangan. And i so proud of you, sist.” Hana memeluk Zahra dengan erat. Merengkuhnya seolah ia tengah menenangkan jiwa Zahra untuk tenang. Ingatlah, Zahra masih ada masalah dengan Mommynya. Sedangkan Daddy mereka? Tentu saja hanya berkata, “terserah” mau bagaimana pun cara Zahra mendapatkannya. Masalah terberat Zahra adalah orang tuanya. Jadi, kalau Zahra sakit selain itu juga pasti Hana tak akan menerimanya. “Tenang saja, Kakak akan cari cara untuk kamu bisa kuliah di sana. Percayalah! Ini akan berjalan dengan baik.” ••• “Hujan,” keluh Zahra ketika ia baru saja selesai melakukan bimbingan di pagi hari jam sembilan ini. Zahra bisa bernapas lega karena hari ini dia bisa bekerja dengan baik dan bisa bersantai untuk hari ini. Zahra menengadahkan tangannya untuk merasakan tetesan air hujan yang begitu keras menghantam bumi ini. Percikan yang didapat membuat Zahra merasa hujan enggan untuk berhenti dan membiarkannya melakukan pekerjaan lain di luar kampus. Sebuah jaket tersampir di bahu Zahra membuat gadis bernetra cokelat itu menoleh ke arah seseorang. Tatapan dinginnya kembali muncul. Namun lelaki yang dengan beraninya menyampirkan sebuah jaket itu malah terlihat biasa saja. Seolah sudah kebal dengan sikap kedinginan yang dikeluarkan oleh Zahra sebelum-sebelumnya. Padahal mereka baru bertemu kembali setelah beberapa hari. “Kau pasti kedinginan.” Bukannya tersenyum lembut seperti yang dipancarkan oleh Kenzo–lelaki yang menyatakan dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama pada Zahra, gadis itu hanya melirik lelaki yang memiliki sejuta pesona dengan sinis. Dengan gerakan cepat, Zahra membuka jaket itu dan memberikannya pada Kenzo lagi. Tanpa basa basi atau sebatas berucap, ‘Terima kasih atas tawarannya.’ Kata Hana, orang yang tidak dikenal harusnya diabaikan. Sikap tidak enakan hanya membuat orang merasa dirinya dibutuhkan. Hah! Zahra masih berdiri di depan Kenzo yang menatapnya dengan tatapan keheranan. “Kenapa kau tidak mau memakai jaketku? Apa ini bau?” Kenzo mencium aroma jaketnya sendiri. Tidak berbau. Lalu kenapa Zahra menolak jaket yang harumnya semerbak ini? “Ini tidak bau!” Sekali lagi Kenzo mengendus aroma jaketnya. Ah, tidak ada yang aneh. Tapi kenapa gadis ini tidak mau? Andai saja bukan gadis ini yang ditawarkan olehnya sebuah jaket kesayangannya, pasti banyak yang mau. Sungguh perempuan ini benar-benar unik dan langka. “Kau mau pulang?” Belum sempat Zahra menoleh, bahunya sudah dekap oleh seseorang dan membawanya pergi. Tangannya kekar dan terlihat nyaman. Siapa ini? ••• Andrew berjalan ke arah koridor milik anak-anak Design. Kata beberapa temannya, anak-anak design cantik-cantik semua dan modis. Sebelas dua belas dengan Hana yang bukan anak design namun penampilannya rapih dan enak dilihat. Tidak bisa dikatakan lebay karena benar-benar stylish-able. Andrew tidak tahu Hana ada di kelasnya atau tidak. Yang penting dia harus mencari anak design yang bisa dia jadikan calon atau korban pemberi harapan palsu Andrew selanjutnya. Koridor sangat sepi dan di luar hujan masih lebat. Itu tandanya dia harus berdiam diri di Kantin saja agar lebih nyaman. Namun belum juga sampai di Kantin, Andrew melihat Kenzo yang tengah berdua dengan seorang gadis yang kelihatan polos tapi penampilannya sangat modis dan paham style. Tidak urakan dan jatuhnya cantik dan fashionable. Meski terlihat begitu polos dengan dandanan tipisnya namun itu seperti lucu bagi Andrew. Ah, apa mungkin Kenzo menyukai gadis seperti itu? Ah, tunggu! Sepertinya ia sempat melihat gadis ini. Tapi Andrew tiba-tiba hilang ingatan siapa gadis itu dan di mana dia bertemu. Cukup lama Andrew berpikir namun ia tak mengingatnya. Masa bodolah dia mau bertemu atau tidak sekali pun, Andrew tak peduli. Andrew langsung menghampiri gadis itu dan merangkulnya berjalan menjauh dari Kenzo. “Drew, tunggu!” cegah Kenzo yang melihat Andrew ingin menjauhkan gadis yang baru saja ia mau ajak kenalan sebagai pendekatan pertama. “Apa lagi?” tanya Andrew mengernyit. “Kau kenal dengan gadis ini?” Kenzo berpikir kalau Andrew pasti tahu siapa gadis ini mengingat Andrew yang pacarnya suka berganti setiap minggu sekali bahkan seminggu tiga kali. Andrew menggeleng. “Tidak. Tapi mulai hari ini, dia menjadi gebetanku yang ke seratus.” Sial! Bukannya menjawab dengan benar, Andrew malah bermain-main dengannya. Mau mati sepertinya ini anak. “Jangan main-main, Drew! Dia sepertinya ketakutan.” Peringatan dari Kenzo tak ia hiraukan. Andrew berpikir mungkin saja Kenzo hanya ingin menakut-nakuti dirinya saja. Namun ketika ia menoleh ke arah gadis polos itu, Andrew terkejut dengan ekspresi yang dipancarkan oleh gadis ini. “Kau tak apa-apa?” tanya Andrew. Tangannya yang semula ada dibahu gadis itu akhirnya beralih menempelkannya di pipi Zahra. Zahra sendiri shock bukan main. Dia sendiri merasa ini begitu mengejutkan. Dalam jangka waktu bersamaan dirinya seolah diperebutkan oleh dua lelaki tampan sekaligus. Gila! Tolong sadarkan Zahra sekarang juga! Salah satunya adalah orang yang disukai oleh Zahra dan tentu saja orang yang sekarang tunangan bersama kakak kembarannya sendiri. Namun dia merasa jika ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu. Apalagi saat bertemu di bawah hujan, penampilan Zahra yang sudah sedikit basah dan sekarang bersama lelaki asing. Mana tahu Zahra siapa dia. Tidak kenal dan tak tahu namanya. Zahra menggeleng. Tak menjawab. Tetap dengan sikap dingin yang sering ditampakkan oleh Zahra seperti sebelum-sebelumnya. “Kau tak bisa bicara? Kenapa kau diam saja?” Andrew menatap manik mata cokelat milik Zahra. Namun gadis itu dengan sigap menoleh ke arah lain. “Kenapa kau tidak mau menatap aku?” tanya Andrew heran. ‘Karena aku takut semakin jatuh hati padamu, Drew!’ batin Zahra menatap ke arah lantai yang terkena cipratan air hujan yang begitu deras. Zahra berbalik arah ingin pergi dari sana untuk pergi menemui kakaknya. Saat ini, entah mengapa ia malas sekali bertemu dengan Andrew atau lelaki asing yang ada di depannya ini sekalipun. “Kau mau ke mana?” tanya Andrew dan Kenzo bersamaan. Zahra menoleh ke arah mereka. Malas sekali meladeni keduanya. Terlalu ikut campur padanya seolah mereka mengenalnya. “Bukan urusan kalian,” sahut Zahra lalu pergi. “Namamu siapa?” tanya mereka berbarengan lagi. Zahra menghela napas berat. Kenapa mereka selalu ingin ikut campur dengannya? Apa alasan mereka selalu ingin tahu tentang dirinya? Zahra tak menoleh lagi. Berlalu begitu saja tanpa menoleh kembali ke arah belakang. Hana harus tahu tentang ini. Tentang semua yang terjadi sepanjang satu jam berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Sepertinya hari ini begitu melelahkan. Hana mungkin sudah menyelesaikan bimbingannya. Setibanya Zahra di depan kelas Hana, gadis itu belum keluar. Cukup lama setelah lima belas menit Zahra menunggu Hana di sana, akhirnya gadis itu keluar dari kelas. “Eh, Zahra?!” tanya Hana menatap Zahra dengan mata yang berbinar. Namun berbeda dengan Hana, Zahra malah sebaliknya. Menatap dengan sendu mata kembarannya. “Kau kenapa?” tanya Hana heran. Zahra memeluk Hana dengan erat. “Kak, Andrew hadir lagi di depanku!” ••• TBC!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN