“Pagi, sayang!” sapa Desi ketika lelaki yang itu baru saja memasuki kantin Fakultas. Ingat! Ini bukan kantin Fakultas Hana. Tapi wanita itu sepertinya sangat betah sekali di sini. Benar-benar menyebalkan bukan?
Pria yang ia sapa bukan Andrew. Melainkan sahabatnya. Ya, takdir kali ini kata Hana benar-benar kejam. Dia tidak mau bertunangan dengan Andrew namun dia malah ditakdirkan dengannya. Bagaimana caranya ia bisa kabur jika seperti ini?
“Saya bukan Andrew.”
“Aku tahu. Kamu cemburu soal semalam?” tanya Hana berbisik dengan senyuman centilnya.
“Saya bukan siapa-siapa kamu. Buat apa saya cemburu?” tanya lelaki itu dengan ciri khasnya. Dingin.
Tapi bukan Hana namanya jika berhenti menggoda lelaki ini begitu saja. Memangnya ia tak bisa berbuat lebih dari ini? Dengar! Hana bisa dan dia akan tetap berusaha untuk itu.
“Suka nonton bioskop?” tanya Hana basa-basi. Semoga saja dia tidak ketahuan kalau ini sebuah kode.
“Saya tidak suka nonton apa lagi sama kamu.”
Jleb. Sakit sekali rasanya ketika lelaki ini mengucapkan kata-kata itu. Meski bukan pertama kali, tapi rasanya akan tetap sama. Sama-sama sakit dan dia membenci ini.
Hana mendongakkan dagunya. Lalu tersenyum. “Tapi aku suka kamu. Bagaimana?”
Lelaki itu diam. Tidak mengubrisnya lagi. Sibuk memakan makanannya yang sudah agak dingin karena terlalu meladeni Hana.
Sudah mau sampai kapan pun, Hana akan tetap mengejarnya meski ia sudah sekaku mungkin berbicara padanya agar dia ilfeel.
“Zo, kamu belepotan!” Hana mengambil tisu dari sakunya lalu mengelap sudut bibir lelaki ini dengan tisu.
Namanya adalah Kenzo Adrian. Lelaki dengan mata teduh dan senyuman manisnya namun sulit terukir itu mampu memikat hati Hana sudah dua tahun semenjak dia ada di Kampus ini.
Alasan Hana mengulur waktu skripsi adalah Kenzo yang masih satu tahun lagi selesai. Dan Hana mau dia dan Kenzo wisuda bareng. Namun nyatanya, kembarannya tak bisa diajak kompromi. Orang tuanya selalu menggertak Hana untuk melanjutkan skripsi mengikuti jejak kembarannya yang super introvert, tidak asyik dan malas bergaul itu.
“Cepat kerjakan skripsimu! Kau mahasiswi berprestasi.” Itulah gertakan dari Daddynya yang membuat dia harus mau tak mau melakukan skripsi dan bimbingan dengan dosen akhir-akhir ini.
Kembarannya sendiri sudah tinggal sidang karena gadis dengan rambut cokelat itu benar-benar mengikuti apa kata orang tuanya.
“Kau tak ada bimbingan hari ini?” tanya Kenzo setelah menyelesaikan makannya.
Hana tersentak. “Kenapa memangnya? Mau ajak aku jalan?”
“Tidak. Siapa yang bilang!”
“Ah, kupikir itu kode untukku.”
Kenzo menggelengkan kepalanya. “Kau jangan terlalu banyak berkhayal. Kasihan orang tuamu. Mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkan anaknya biar pintar bukan gila.”
Nyelekit sekali perkataannya. Sama seperti wanita yang menjadi kembarannya. Suka ceplas-ceplos ketika sudah bosan jika diganggu oleh Hana.
“Rem mulutnya blong ya?” tanya Hana mencoba biasa saja meskipun sedikit tertampar.
Kenzo mengendikkan bahunya. “Saya harus ke kelas.”
•••
Well, setelah dari Kantin Fakultas Kenzo ia kembali ke Fakultasnya. Dan yang semakin membuatnya kesal adalah seorang Andrew sudah menunggunya di depan kelas.
Hana berdecak. “Kenapa kau di sini? Mana kelasmu?!”
“Kau melupakan sesuatu.”
“Lupa? Aku tengah tidak melakukan kesalahan.”
Andrew menyentil dahi Hana. Sudah bebal, keras kepala dan sekarang adalah suka pikun. Miris sekali Hana ini. Diabaikan sahabatnya menjadi pikun.
“Mana makananku?!” tanya Andrew menengadahkan tangannya pada Hana.
Hana mengernyit. Makanan siapa?
“Makanan apa? Makan ke Kantin.”
“Makanan yang kau janjikan semalam dalam perjanjian kita.”
“Kapan?” tanya Hana. Ia benar-benar lupa bukan karena pura-pura lupa. Tadi pagi malah kembarannya yang masak untuk bekalnya sendiri.
Dan sekelebat Hana memiliki ide cemerlang. “Ah, ya, aku ingat.”
“Jadi mana makanannya?” tanya Andrew lagi. “Cepat aku lapar!”
“Aku akan kirim makanan itu ke kelasmu nanti.”
“Tidak bisa. Aku mau makan sekarang!”
“Bagaimana cara aku kasih, makanannya ada di–“
Hampir saja Hana keceplosan jika dia memiliki kembaran. Bisa-bisa dia akan dibenci oleh kembarannya sendiri sama seperti beberapa tahun yang lalu.
“Di siapa? Itu masakanmu kan?”
“Bawel sekali kau ini!” decak Hana. “Kau ke kelas saja. Aku pergi dulu!”
***
“Jangan dimakan!” Hana datang dengan napas yang ngos-ngosan dan tak beraturan.
Sedangkan orang yang ada di hadapan Hana hanya meliriknya dengan heran. Kenapa dengan anak ini? Jauh-jauh dari kelasnya hanya mengucapkan jangan dimakan? Memangnya ponselnya sudah tidak berfungsi?
“Kau ini kenapa?” tanya gadis ini dengan keheranan.
“Ak–“ Napas Hana masih terus tak beraturan.
“Minum dulu!” Gadis yang tengah duduk di depan meja kantin itu akhirnya menyodorkan minumannya ke arah Hana.
Hana mengambilnya lalu ia meminum minuman itu. “Thank you.”
Setelah ia rasa napasnya sudah mulai normal dan tak lagi ngos-ngosan, Hana menghembuskan napas panjang dan menatap ke arah kembarannya ini.
“Za, makanannya aku bawa ya!” izin Hana menutup makanan Zahra Ardelia Garcia dan mamasukkan ke dalam tasnya.
“Buat apa? Kembalikan! Aku tengah ingin makan!” Zahra menarik makanannya lagi.
“Kali ini saja kau membantuku. Makanan ini khusus Andrew.”
Andrew? Lelaki itu suka Hana kenapa jadi meminta hal yang tak mungkin Hana akan lakukan? Hana tidak suka masak meskipun dia tahu.
“Makanya lain kali masak yang benar buat calon,” cibir Zahra mendorong kotak makan itu pada Hana.
“Seharusnya kau bersyukur bisa dimakan Andrew masakanmu. Sebagai simulasi,” ucap Hana terkekeh. Lalu ia pergi meninggalkan Zahra yang hanya menatapnya dengan tatapan tak mengerti.
“Untung saudara.”
***
“Ini makananmu! Dan jangan ganggu aku!” Hana menyerahkan kotak bekal itu pada Andrew lalu ia pergi meninggalkan Andrew sendirian di kelas.
Ketika Hana baru saja akan keluar dari kelas, Kenzo datang dengan tatapan dingin yang seperti sudah menjadi hal yang biasa. Dingin, datar dan tak banyak bicara.
“Hai, Mas pacar?!” sapa Hana menghadang jalan Kenzo.
Kenzo hanya menatapnya datar. “Minggir!”
“Tidak perlu mengusir. Aku akan tetap cinta kamu meski kamu dingin dan datar seperti ini.” Hana terkekeh sendiri mendengar ucapannya itu. Biasanya dia tidak suka diabaikan. Namun karena sempat ada kata dibenci dan diacuhkan oleh Zahra beberapa tahun yang lalu akhirnya ia bisa terbiasa dan merasa sebekunya salju akan ada masanya untuk cair.
“Tidak jelas.”
“Sama seperti aku yang merasa tak jelas ketika aku tak melihatmu sehari saja.”
“Hei, Hana! Kau kenapa bawel sekali?! Makananku sudah mau habis kenapa kau masih tetap ada di sini? Ke dosen sana!”
“Berisik kau!”
Andrew berdecak kesal. Kenapa bisa-bisanya Hana tak mengetahui jika dirinya tengah cemburu? Apa memang Hana benar-benar tak ada perasaan sama sekali padanya?
“Han! Kurang pedas! Besok masakkan aku nasi goreng yang pedas lagi besok!”
“Tidak mau! Besok ada acara bimbingan. Sibuk!”
•••
Mommy sayang: Han, nanti setelah selesai kuliah langsung ikut Andrew ke rumahnya, ya. Kasihan Andrew sendirian nanti.
Well, Hana benar-benar kesal sekali dengan Andrew yang selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dia tidak mungkin ke rumah Andrew sedangkan dia saja sudah berjanji pada Zahra untuk menemaninya melakukan tugas revisi sidang proposal bab selanjutnya.
Ah, benar-benar anak setan dia.
Setelah melakukan bimbingan dengan dosen, Hana menemui Zahra di Kantin. Perempuan itu merajuk karena belum makan karena makanannya dia berikan pada Andrew. Sebenarnya tidak tega juga ketika melihat Zahra harus menahan lapar sepanjang bimbingan.
Andrew benar-benar msnyebalkan.
“Kenapa, Kak?” tanya Zahra. Masih dengan acara memakan makanannya di meja Kantin. Makanannya masih banyak karena Zahra nambah satu porsi lagi.
Zahra terbiasa memanggil Hana dengan sebutan Kakak karena sejak kecil Hana begitu mencintai Zahra. Hana merasa kasih sayang orang tuanya ke Zahra itu tidak sebanyak kasih sayang orang tuanya pada dirinya. Bisa dikatakan Zahra banyak menanggung beban seperti harus kuliah lulus tepat waktu, harus menjadi Designer sesuai keinginan Mommy-nya dulu dan dia harus menjadi sosok Introvert dan tak banyak mengenal orang lain dari rekan Mommy-nya atau Daddy-nya karena Zahra ditinggal di rumah. Tidak diperbolehkan untuk bersama Hana namun karena sayang Hana begitu besar, Hana tetap memprioritaskan Zahra dari pada dirinya secara diam-diam.
Kalau kedua orang tuanya tahu, tentu saja mereka akan marah dan menyalahkan Zahra. Padahal, banyak hal yang dilakukan oleh Hana yang disalahkan tetap Zahra. Entah ada apa dengan semua ini. Sepertinya mereka sangat membenci Zahra padahal Hana dan Zahra sama-sama lahir di waktu yang sama dan di rahim yang sama.
“Ah, aku harus ke rumah Andrew nanti. Kau tak apa aku tinggal di rumah sendirian?” tanya Hana memegang tangan Zahra yang berada di atas bangku.
It's oke. Zahra harus memaklumi ini.
“Tapi tenang saja. Aku pasti akan menemanimu revisi proposal malam ini.”
Hana mencoba untuk menghibur Zahra. Dia tahu Zahra akan merasa sedih dan kecewa. “Hanya sebentar! Aku janji aku akan pulang jam delapan nanti.”
“Tidak usah, Kak. Aku tak apa jika revisi sendirian.”
“Tidak bisa begitu. Biar kakak yang urus Andrew! Dia anak manja sekali!” kesal Hana membuat Zahra menggelengkan kepalanya.
“Tak apa, Kak. Kita bisa mengerjakan proposal ini kalau bisa besok.”
“Dengar! Kau akan dimarahi Mommy jika selalu menunda hal seperti ini.”
Benar, Zahra akui dirinya akan memiliki masalah baru jika tidak menyelesaikannya sekarang. Mommy-nya tidak akan pernah memaafkan kesalahannya meskipun dia tahu ini hal yang sepele.
“Iya, tapi biarkan saja. Aku kan yang dimarahi sama Mommy? Asal jangan kakak saja.”
Hana terenyuh. Pengorbanan seorang adik yang mencintai kakaknya. Apakah dia masih seegois ini nanti jika harus menikah dengan Andrew? Bahkan dia tahu alasan Zahra bertahan untuk selalu berada di jalan yang benar-benar diinginkan oleh orang tuanya adalah kehadiran Andrew. Meskipun Andrew saja tak akan sadar itu.
“Kau benar-benar gadis yang baik, Dek.”
“Kau juga gadis yang terbaik bagiku, Kak.”
Mereka saling memuji. Bukan untuk meroket namun memang apresiasi seorang kakak ke adik dan seorang adik ke kakak. Mereka saling melengkapi dan mereka akan tetap seperti itu jika perlu selamanya.
“Dengar, meskipun nanti aku akan tetap harus bersama Andrew, tapi itu tidak akan terjadi.”
•••
Zahra berjalan dengan gontai di Koridor fakultas. Hari ini dia harus pulang menyetir mobil sendiri. Hana sudah berpamitan padanya untuk pergi bersama Andrew. Sebenarnya dia tidak cemburu namun merasa selalu bergantung pada Hana itu memang benar. Dia selalu bergantung dengan kakaknya itu. Mungkin karena Zahra tak mendapat cinta dari orang tuanya makanya dia merasa kalau kakaknya sudah cukup baginya.
Saat turun tangga, tiba-tiba saja ada seseorang tak sengaja menabraknya. Alhasil, buku-buku milik Zahra berceceran.
Zahra menghela napasnya lalu ia memungut semua bukunya tanpa mengeluh atau marah pada orang yang tengah menabraknya.
Tiba-tiba saja, sebuah tangan tak sengaja menyentuh punggung tangan Zahra yang sibuk memungut bukunya.
Zahra mendongakkan kepalanya. Menatap seseorang yang tangannya tak sengaja menyentuh tangan milik Zahra.
“Sorry, aku tidak sengaja menabrakmu.” Suara itu menginterupsi Zahra membuat gadis itu cepat-cepat memungut semua buku-bukunya lalu berdiri.
“Tidak apa-apa,” jawab Zahra singkat.
“Kau tak apa?” tanya seorang lelaki itu. “Biar aku bantu membawakan buku-buk–“
“Tidak usah. Terima kasih atas penawarannya.”
Lelaki itu tersentak mendengar penolakannya. Penolakan yang benar-benar membuat lelaki itu menarik tangannya kembali.
“Aku permisi,” pamit Zahra tanpa basa-basi. Lalu ia pergi meninggalkan lelaki yang masih terlihat bingung sendirian.
Sedangkan lelaki itu adalah Kenzo. Dia baru bertemu dengan gadis yang terlihat lebih dingin darinya. Ah, ternyata dia tidak sendirian. Namun entah mengapa Kenzo jadi penasaran sendiri apa yang membuatnya bersikap dingin pada dirinya. Apa memang ia pernah melakukan kesalahan padanya atau memang itu adalah salah satu sikapnya pada orang lain?.
“Aku harus mendapat nomor kontaknya.”
•••
“Aku pulang, ya!” ucap Hana ketika dia merasakan bosan. Sudah tiga jam Hana menunggu Andrew di rumahnya. Tidak ada kegiatan apa-apa. Hanya menemani Andrew yang sekarang tengah bermain game.
“Jangan! Orang tuaku masih belum pulang.”
“Ish! Kau itu anak lelaki tidak seharusnya kau jadi orang penakut seperti ini!” kesal Hana membuat Andrew berhenti memainkan gamenya.
“Semua orang berbeda. Jangan disamaratakan!”
“Tapi kebanyakan laki-laki itu berani bukan penakut sepertimu!”
“Memangnya ada undang-undang kalau laki-laki tidak boleh jadi seorang yang penakut?” tanya Andrew lagi yang tampak kesal diremehkan oleh Hana.
“Memang tidak ada. Tapi harusnya sadar diri! Lelaki pemimpin keluarga,” ucap Hana lagi. “Kau jadi anak Mommy tidak pernah pantas.”
“Lalu? Yang pantas hanya kau?” tanya Andrew. Memainkan ponselnya lagi.
“Iya, setidaknya aku bisa sendiri. Meskipun anak Mommy tidak harus semua hal ia tidak bisa dan perlu bantuan orang lain. Itu namanya menyusahkan!” kesal Hana. “Bagaimana nanti kalau jadi kepala keluarga? Masa iya istrinya yang memimpin!”
“Jadi, kau tengah kode agar aku menjadi orang yang pemberani agar jadi pemimpin keluarga kita nanti?” tanya Andrew menggoda Hana.
Andrew benar-benar senang dengan adanya dia menggoda Hana dan dekat dengannya. Baginya, kebahagiaan yang paling indah adalah dengan dekat dengan Hana dan tertawa dengan tingkah lucu Hana.
Rasanya, Andrew benar-benar merasa gila kalau begini terus.
Bukannya tersipu malu, Hana menggeplak kepala Andrew. “Tidak perlu halu!”
•••
“Kamu ini apa-apaan, Hana!” ujar Calista–Mommynya dengan marah.
Baru saja Hana mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah, orang tuanya yang baru saja tiba di rumah langsung marah-marah hingga membuat Hana menggelengkan kepalanya jengah.
Siapa lagi yang merusak moodnya dengan omelan sang Ibu kalau bukan Andrew yang mengadu yang tidak-tidak. Bukankah dia adalah penyebab dari semua kemarahan yang dikeluarkan oleh Calista? Menantu yang sangat disayang orang tuanya. Belum menjadi menantu sah saja sudah seperti ini bagaimana jika Hana benar-benar hidup dengan Andrew si pria manja dan anak Mommy itu.
“Memangnya ada yang salah ya, Mom?” tanya Hana setenang mungkin.
“Menurutmu bagaimana?” tanya Calista tak habis pikir. Sudah dibuat malu kenapa sekarang masih seolah tak salah apa-apa?
“Aku pikir, aku benar. Andrew sudah besar. Lagi pula di rumah kan ada puluhan pembantu.”
“Hana! Kau ini apa- apaan sih! Andrew takut sendirian.”
“Banyak pembantu, Mom di sana!”
“Hana! Andrew tidak akan mau di rumah ketika ada orang yang dekat dengannya!”
“Mom, kenapa Mommy secemas ini pada Andrew? Dia akan baik-baik saja, Mom. Percayalah!” ujar Hana meyakinkan. “Lagi pula, Andrew masih bukan siapa-siapa Mommy! Kenapa Mommy jadi khawatir seperti ini? Lalu ketika Zahra tidak ada kabar semalaman meski Hana sudah menghubunginya Mommy merasa biasa saja.”
“Diam kamu, Hana! Kita sedang bicara soal Andrew bukan Zahra!”
“Kenapa Mommy selalu mengalihkan pembicaraan ketika aku ngomong soal Zahra?!” sentak Hana mulai emosi.
Dia bahkan merasa aneh saja ketika Zahra diperlakukan seperti robot. Harus menuruti semua kemauan mereka.
“Hana!”
“Kenapa, Mom? Benar kan?” tanya Hana lagi.
“Kau itu benar-benar–“
“Ada apa ini? Kok ribut-ribut malam-malam?”
Baik Calista dan Hana sama-sama menoleh ke arah seseorang yang berdiri di ambang pintu. Tiba-tiba saja, suasana menjadi senyap membuat Hana dan Calista sama-sama terdiam.
•••
Zahra sudah sampai di rumah tepat pada jam empat sore. Lalu Zahra merebahkan dirinya sebentar setelah dia rasa ia begitu lelah. Lelah dengan apa yang sudah terjadi hari ini. Makanannya di makan Andrew karena Hana, itu fine-fine saja. Namun rasanya akan aneh ketika masakannya di makan oleh orang yang dia suka selama ini untuk pertama kalinya.
Setelah membersihkan diri, Zahra berniat untuk pergi ke Perpustakaan Umum untuk mencari bahan bacaan yang dia butuhkan untuk sidang bab selanjutnya.
Dengan membawa mobil sendiri, Zahra meninggalkan rumahnya untuk ke Perpustakaan. Sengaja tidak memberitahu Hana takutnya dia akan khawatir. Bahkan dia merasa baik-baik saja sebenarnya namun dia merasa Hana akan begitu memprioritaskan dirinya daripada apa pun yang tengah ia lakukan saat ini.
Selama satu jam ia menghabiskan waktunya untuk berkutat dengan buku. Baiklah, buku ini sudah lebih dari cukup untuk referensinya.
Zahra akhirnya pulang ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Sudah terlalu malam ternyata. Hana pasti ada di rumah Andrew. Jadi, ia pikir dia tidak perlu terburu-buru untuk pulang.
Zahra memilih berhenti ke kedai kopi untuk membeli kopi cokelat atau sebagainya untuk temannya minum malam ini bersama Hana. Gadis itu sangat suka dengan milk tea. Jadi, Zahra membelikannya juga untuk Hana.
Terkadang dengan hal itu saja mampu saling melengkapi satu sama lain.
“Sorry,” ucap Zahra ketika seseorang tak sengaja menyenggolnya. Meski ia tahu dia tidak salah, Zahra selalu saja mengucapkan ‘maaf' lebih dulu.
Lelaki berhoodie hitam dengan jeans hitam dan sepatu sneakers itu hanya diam saja. Hanya menatap Zahra sekilas lalu pergi.
Zahra diam saja. Dia pikir ini bukan hal yang besar untuknya. Mungkin saja pria ini sedang dalam masalah. Namun tunggu dulu, manik mata biru itu seperti... Andrew?
Zahra menatap lelaki itu lagi di pojok kafe ini. Memesan cokelat panas. Sedangkan Zahra hanya menatapnya dari kejauhan. Andrew kenapa ada di sini? Lalu di mana Hana?
Cukup lama Zahra berpikir pada akhirnya pesanannya sudah selesai hingga ia diharuskan untuk pulang. Namun, sebelum Zahra bangkit tiba-tiba saja seseorang itu beranjak berdiri dan keluar dari kafe.
Aneh sekali Andrew ini. Biasanya orang ke Kafe menenangkan diri. Tapi dia hanya sepuluh menit langsung pergi begitu saja.
Zahra acuh. Merasa ini bukan urusannya. Zahra berjalan ke arah mobil dan masuk ke dalam. Namun tiba-tiba Andrew juga ikut masuk ke dalam. Duduk di sampingnya.
Zahra tersentak kaget. “Kau siapa?”
Damn! Bukankah Zahra sudah tahu dia Andrew? Kenapa masih bertanya?
“Orang yang kau tabrak sepuluh menit yang lalu.”
Apa katanya? Zahra menabraknya? Bukankah dia yang menabraknya lebih dulu? Kenapa jadi sekarang dia yang salah? Aneh sekali.
“Sorry, ya. Bukankah kau yang menabrakku lebih dulu?” tanya Zahra berusaha untuk tidak dingin seperti biasanya.
“Jangan banyak omong! Cepat antar aku pulang!”
Sekarang kenapa malah dia yang memerintah? Hei, dia pikir Zahra adalah Hana? Sebentar, jika ini adalah Andrew, di mana Hana sekarang?
Zahra khawatir, makanya Zahra mengambil ponselnya untuk menghubungi Hana lebih dulu namun sebelum itu, ponsel Zahra sudah diambil alih oleh lelaki kurang akhlak satu ini.
“Aku menyuruhmu antar aku pulang. Bukan main ponsel!”
Zahra menghela napasnya panjang. Baiklah. Setelah ini, dia harus menghubungi Hana. Dia harus tahu kelakuan calonnya ini.
Setelah sampai ke depan rumah Andrew, Zahra terperangah menatap rumahnya yang begitu besar dan mewah.
Ini benar rumah Andrew? Besar sekali. Pantas saja Calista terobsesi agar Hana bertunangan dengan orang ini.
Tanpa basa-basi, Andrew keluar dari mobil tanpa pamit atau ucapan terima kasih sekali pun.
“Dasar pria dingin!”
Tapi tunggu! Zahra kan juga dingin? Lalu apa bedanya Andrew dan Zahra?
•••
“Kenapa, Mom? Benar kan?”
“Kau itu benar-benar–“
Zahra mendengar suara ribut-ribut dari arah luar membuat gadis itu buku-buku ke dalam rumah. Ternyata Hana dan Mommynya sudah bersitegang. Entah apa lagi sekarang yang mereka ributkan.
“Ada apa ini? Kok ribut-ribut malam-malam?” tanya Zahra diambang pintu. Tatapan keduanya akhirnya beralih pada Zahra yang menatap ke arahnya dengan berbeda.
Hana kaget dan Calista yang datar seperti biasa.
Entah ada apa sebenarnya hingga membuat Calista benar-benar seolah membencinya. Zahra yang sudah kebal dengan hal itu mencoba menebalkan wajahnya dan berdiri menghampiri Hana.
Ah, Hana ada di sini. Mungkin Hana pulang lebih dulu makanya Andrew ke Kafe.
Calista tak menjawab. Hanya diam. Lalu ia pergi meninggalkan mereka berdua.
Hana yang menatapnya penuh kasihan ketika melihat tatapan Calista barusan hanya mengelus punggung Zahra.
“Tidak apa-apa, Dek.”
•••
TBC!