Grace tak bisa membayangkan jika dia akan menjadi seorang istri dari Edward.
“Selamat ya kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri.”
Kalimat itu menjadi awal dari semua kisah hidup Grace saat ini dan mungkin selamanya.
Usianya masih 22 tahun dan dia harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya—bahkan impian indahnya tentang menikah seolah sirna begitu saja.
Angin bulan Oktober meniup rambut indah milik gadis yang baru saja menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya hari ini.
Dua hari lalu, ia baru saja melangsungkan pernikahan dengan seorang pria. Grace tidak mengenal orang itu siapa. Dia juga tidak tahu kenapa bisa dia harus menjadi suaminya, pendampingnya, tempat keluh kesahnya dan menjadi tempat kepalanya bersandar di bahu pria itu—nanti.
Baru saja mereka menikah dua hari, kelakuan laki-laki itu layaknya seorang majikan yang kejam memperlakukan babunya seenaknya. Bukan. Dia memang seperti ratu namun jiwanya seolah menjadi majikan.
Mereka memang tinggal di rumah yang sama. Satu atap dan mereka bertemu di rumah ini setiap hari. Tapi mereka—ah bukan mereka tapi Edward Thomas memilih untuk memisahkan tempat tidur mereka. Alasannya hanya satu agar Grace benar-benar bisa nyaman. Lucu juga kata-katanya.
Edward di kamar utama sedangkan grace tidur di kamar tamu dekat dengan kamar utama rumah berlantai tiga ini.
Dengan segala fasilitas yang ada, harusnya grace senang dan merasa dirinya sudah beruntung menjadi seorang istri dari seorang Billionaire muda.
Tapi tidak pada kenyataannya. Semua hal manis yang dilakukan oleh Edward padanya hanya sebuah kepalsuan.
Pernikahan ini bagi Grace mimpi buruknya.
Katakan saja kalau saat ini Kanaya sedang bermimpi dan jika ia bangun, dia terbangun dengan kenyataan yang tak sama sekali sama dengan mimpi buruknya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Edward pada Grace yang duduk terdiam di sini beberapa jam terakhir.
Grace terperanjat kaget. “Kamu sudah pulang? Sini jasnya. Akan aku siapkan air panas untukmu sebentar lagi.”
Jas yang dikenakan oleh Edward dilempar begitu saja tepat di depan wajah Grace tanpa berprikemanusiaan sama sekali.
Tega.
Grace menghela napasnya panjang ketika Edward sudah berlalu dari hadapannya.
Dengan cepat ia pergi ke belakang untuk menaruh jas Edward ke keranjang sebelum pada akhirnya ia cuci besok.
Grace terdiam. Bau parfum khas pria itu masih menempel di jas ini. Perlahan, grace mencium jas Barra sembari terisak.
Mau sampai kapan Edward bersikap seperti ini?
Dua hari menikah, rasanya grace sudah tidak kuat. Bagaimana dengan hari-hari selanjutnya? Akankah dia bisa tegar?
“GRACE! JANGAN LAMA! AKU GERAH, PANAS!”
Teriakan dari Edward membuat Kanaya menghapus air matanya cepat dan meletakkan jas itu ke dalam keranjang cucian lalu ia bergegas menyiapkan air panas untuk Edward.
Setelah Edward mandi, pria itu langsung ke ruang makan untuk makan malam. Grace dan beberapa asisten rumah tangga di sini sudah menyiapkan semuanya di atas meja.
Ketika baru saja ia akan menemani Edward makan malam, gadis itu dihentikan oleh suara hp milik Barra yang menampilkan nama ‘love’.
Grace tidak tahu dia siapa. Yang pasti, dua hari terakhir dia tinggal di sini, Kanaya sering melihat nama itu setiap saat menghubungi pria itu.
“Halo?”
‘...’
“Oke. Kita makan di sana saja ya hari ini.”
Setelah menutup telfon itu, Edward beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruang makan.
“Mau ke mana? Kamu belum makan loh!”
“Aku sibuk ada kerjaan. Kamu makan saja sendirian.”
Setelah mengatakan itu, Edward berlalu meninggalkan gadis dengan beberapa luka yang tergores di hatinya yang tanpa sengaja di buka lebar oleh pria itu tanpa sadar.
•••
Tertidur di sofa. Grace terbangun ketika waktu menunjukkan pukul 3 pagi dan dia masih berada di sofa karena menunggu seseorang yang sampai tengah malam belum menampakkan batang hidungnya sama sekali.
Grace bangun dari sofa dan menyadari sesuatu menyelimutinya. Sebuah jaket denim yang terakhir dipakai oleh Edward keluar rumah saat makan malam.
“Edward pulang?” tanya Kanaya pada dirinya sendiri.
Dengan cepat dia bergegas naik ke lantai tiga untuk mengecek keberadaan pria itu. Pria yang semalaman dia tunggu dan berakhir dia tertidur di sofa panjang ruang tengah.
Ketika ingin membuka pintu kamar Barra, dia lupa kalau kamar di rumah ini menggunakan smart lock untuk membukanya.
Lantas, Grace berpikir. Yang paling mungkin dijadikan kode untuk membuka pintu ini mungkin saja ulang tahun Edward kan?
Grace mencobanya memencet beberapa digit nomor dengan menggunakan tanggal lahir Edward tapi kenyataannya, tidak bisa.
Kode salah.
Berpikir ulang. Apa mungkin menggunakan tanggal pernikahan mereka? Karena kalau ulang tahun Grace pun, Edward mana tahu? Mereka saja menikah secara mendadak dan tak pernah disangka-sangka.
Tapi ... Ah, bagaimana kalau kita mencobanya?
0110 dan... Benar.
Pintunya terbuka membuat Grace bergegas masuk dan mengecek keadaan Edward di dalam. Terlihat, Edward tengah tertidur dengan selimut yang sudah ada di mana-mana. Sepatu berceceran di bawah, tv pun masih terlihat menyala. Apakah Barra setiap hari bersikap seperti ini sebelum menikah? Atau ini sebuah triknya agar Grace memilih mundur dari pernikahan ini?
Setelah mengecek keberadaan Edward, Grace akhirnya keluar dari kamar menuju kamarnya sendiri.
Melanjutkan tidurnya hingga pagi menyingsing dan matahari menyapanya lewat celah gorden yang terbuka sedikit.
Kanaya membuka matanya. Badannya rasanya seakan ingin patah karena semalam dia sempat tertidur di sofa dengan posisi yang tidak mengenakkan.
Membuka gorden dan menyiapkan pakaian miliknya sebelum ia turun untuk makan pagi dan membangunkan Barra.
“Edward? Bangun!”
Grace membangunkan pria itu namun pria yang masih setia bergelayut di balik selimutnya hanya mendengus lalu menutup matanya lagi untuk melanjutkan tidurnya.
“Kamu harus kerja.”
“Berisik.”
Edward berujar dengan dinginnya. Ah, ayolah. Barra baru sampai di kamar ini jam satu dini hari. Apakah tidak ada waktu yang paling menyenangkan untuknya hari ini?
“Edward?”
“Kamu bisa diam tidak? Aku capek, ngantuk, mau tidur!”
“Tapi...”
“Diam atau kamu aku usir!”
Setelah mengucapkan itu, Edward tidur lagi dan membuat Grace terdiam di sana.
“Baiklah. Aku sudah menyiapkan semua perlengkapan mandi sampai sarapanmu. Hari ini aku mau ke luar sebentar.”
“Hm.” Sahutan dari Barra membuat Grace berpikir jika lelaki ini menyetujui apa yang dia ucapkan.
Grace berbalik badan namun bariton suara khas milik Edward mampu menginterupsinya dan membuatnya berhenti seketika.
“Siapa yang mengizinkanmu keluar rumah?"
Grace cepat-cepat menggelengkan kepalanya dengan keras.
Apa Edward akan bersikap seperti apa yang dia pikirkan tadi? Apa ini hanya sebuah trik untuk dia dijadikan babu?
•••
Edward pulang ke rumahnya dan disambut oleh Amanda yang ada di di ruang tamu bersama Diandra.
"Kau sudah pulang?" Pertanyaan dari Diandra membuat Edward hanya menganggukkan kepalanya lalu bergegas masuk ke dalam kamar untuk mandi.
"Tumben sekali anak itu," celetuk Diandra namun dirinya masih acuh.
"Memangnya seperti apa biasanya mom?" tanya Amanda penasaran. "Setahu Amanda Edward itu orangnya terlalu serius namun dia juga terlihat seperti seseorang yang perhatian."
"Iya. Itu menurutmu. Tapi kalau dalam rumah, dia benar-benar cuek dan dia tidak pernah heboh walau dikasih berita apapun dan sebagus apapun oleh daddy-nya."
Amanda menganggukkan kepalanya paham. Mungkin, yang ditunjukkan oleh Edward padanya tak sama dengan apa yang terjadi di dalam rumah ini.
Semua orang memiliki pribadi yang berbeda.
Ngomong-ngomong, iya juga penasaran dengan siapa kekasih Edward saat ini. Apakah orang itu benar-benar mencintai Edward atau orang itu hanya menginginkan harta dari anak tunggal ini.
Sebenarnya Amanda juga tidak masalah jika Edward mencintai seseorang itu. Justru ia memang berasa senang sekali karena bebannya untuk mempertemukan dengan cinta sejatinya akan selesai.
"Ah, perihal kekasih Edward, memangnya benar Edward memiliki kekasih?" tanya Amanda pada Diandra.
Diandra menutup buku yang ada di pangkuannya lalu menatap Amanda dengan tatapan berkerut.
"Memangnya kau belum diberitahu oleh Edward?" tanya Diandra pada gadis itu.
Amanda menggeleng. Selama Edward dan Amanda bersama, mereka tidak pernah membicarakan soal-soal yang bersifat pribadi karena keduanya benar-benar menjaga privasi masing-masing.
Bukan karena Amanda sok misterius, tapi memang Amanda benar-benar ingin bersikap seolah ia benar-benar men-support apa yang Edward lakukan tanpa harus mencelanya.
Laki-laki itu butuh support bukan cemoohan yang seperti orang katakan pada laki-laki yang beranjak dewasa dan mencari suksesnya sendiri.
"Namanya Grace. Dia adalah anak Panti asuhan sekaligus teman masa kecil Edward waktu ayahnya mengajak Edward ke sana untuk mencari teman. Tahu sendiri kan Edward itu anak tunggal. Kakaknya sudah tidak ada semenjak Edward masih kecil."
Amanda tahu ini. Memang sempat bercerita tentang yang siapa sebenarnya orang-orang yang benar-benar membuat Edward mencintai dirinya sendiri dan bersikap pemimpin sejak kecil.
Edward juga mengatakan jika dia adalah salah satu harapan orang tuanya. Jujur saja, mendengar hal itu Amanda sangat salut padanya. Masih kecil sudah mengatakan hal yang begitu tidak manusiawi.
Edward dan Amanda berteman karena memiliki luka yang sama.
Amanda kehilangan kasih sayang orang tuanya dan Edward kehilangan jati dirinya sendiri. Bisa dikatakan Edward itu tertekan sejak kecil.
"Ini fotonya."
Diandra memperlihatkan sebuah foto dimana Grace, Diandra, Rey dan Edward menikmati makan malam berapa hari yang lalu.
"Cantik."
Tapi tunggu. Di rumah Reno ada foto yang wajahnya mirip sekali dengan orang yang bernama Grace di foto ini.
"Ini..."
"Kenapa? Kau mengenalnya?"
Amanda menggeleng. Tapi Diva pernah bilang dia punya adik perempuan. foto itu dengan foto yang di rumah Diva itu sama. Apakah kekasih Edward itu adalah adik dari Diva?
Oh ya. Diva juga bilang dia berasal dari panti asuhan.
Apakah panti asuhan yang dimaksud oleh Diandra itu adalah Panti asuhan tempat tinggal Diva selama ini?
"Panti Asuhan Cinta Kasih?" tanya Amanda refleks.
"Kau tahu tempat itu?" Tanya Diandra.
Amanda mengangguk. Lalu pada akhirnya, Amanda mengatakan jika sepupunya menikah dengan salah satu anak dari Panti asuhan Cinta Kasih tempat yang sama dengan Grace tinggal.
Diandra memang sedikit kaget. Tapi tidak masalah. Daripada Diandra nantinya salah kaprah, lebih baik dia ceritakan saja kan semuanya?
"Yah katanya selama sepuluh hari Grace menghilang. Dan di panti dikepung oleh beberapa puluh orang yang dari tim Thomas. Dan waktu itu juga, Diva takut untuk pergi ke sana. Dia takut katanya Grace terancam bahaya bahkan sampai beberapa anak-anak panti yang lain terlihat begitu takut untuk keluar hanya sebatas main atau sekolah."
Diandra geram. Ia tidak menyangka Edward akan melakukan hal bodoh ini. Dia tahu Edward memang mencintai Grace bangun tidak bisakah caranya lebih baik? Bukan membuat trauma orang lain.
Edward memang benar-benar sikapnya kekanak-kanakan.
"Awas saja anak itu," geram Diandra.
Sepanjang mereka berbicara, Diandra sempat menanyakan apakah ada seseorang yang mampu membuat hati Amanda menjadi lebih baik?
Hei apa-apaan ini?!
Amanda mengatakan memang beberapa tahun yang lalu dia sempat bertemu dengan seseorang yang mampu membuatnya bersikap bahwa hidup ini lebih berharga daripada harus memikirkan apa yang sudah terjadi dan tak bisa dikembalikan. Tapi Amanda juga tidak akan berbicara jika orang itu memilih mundur sebelum dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ya mungkin saja orang itu sedang lelah. Banyak tugas yang diberikan oleh dosennya berdampak pada masalah mereka. Yang seharusnya kecil malah dibesar-besarkan.
It's oke. Tidak apa-apa. Amanda yakin suatu saat nanti mereka akan bertemu lagi. Jika bukan hari ini mungkin besok.
Soal takdir siapa yang tahu kan?
"Edward!"
Edward menoleh. Baru saja ia ingin pergi, langkah kakinya sudah dicegah oleh panggilan suara dari mamanya.
"Kenapa?"
"Stop menjadi orang yang terlihat berkuasa."
Edward mengernyit tak paham. Lalu kemudian matanya melirik ke arah Amanda yang gadis itu malah terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Amanda mengatakan apa saja pada mami?"
"Amanda tidak mengatakan apa-apa. Jelas-jelas kamu yang salah!"
"Edward tidak pernah melakukan apapun!"
"Lalu dengan mengepung Panti asuhan itu dengan beberapa pasukanmu itu gunanya apa?"
Sebentar. Dari mana mamanya tahu tentang ini? Amanda harusnya juga tidak akan tahu soal ini. Edward benar-benar mematikan akses orang rumah untuk tahu apa saja yang dia lakukan selama ini.
"Kalian tahu dari mana?" tanya Edward heran.
"Kau tak perlu tahu. Yang jelas, sebelum papamu tahu, berhenti untuk mengganggu ketenangan orang lain. Kau dikasih kebebasan apapun jangan jadikan ini sebagai kekuasaanmu. Kesombonganmu itu yang akan menghancurkanmu nantinya."
Edward tak menjawab dia memilih diam dan keluar dari rumah ini kemudian mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar. Tujuan utamanya hari ini adalah dia harus bertemu dengan Grace.
•••
Cincin itu sudah tersemat di jari manis seorang gadis yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan penuh senyum. Entahlah. Kevin tak bisa menerka apa yang ada di pikiran gadis itu. Yang pasti, dia benar-benar tak bahagia dengan cara ini. Dijodohkan dengan orang yang selama ini tidak ia inginkan, siapa yang mau?
Semua orang yang memenuhi bagian ballroom hotel berbintang lima kota New York ini akhirnya bertepuk tangan guna memberikan selamat kepada kedua pemuda yang masih memasuki usia dewasa ini.
Alasan pertama kenapa Kevin harus bertunangan dengan gadis ini adalah Daddy-nya yang meminta dan kondisi Daddy Kevin yang mulai menurun. Dia mau Kevin memiliki pasangan. Namun bukan cara seperti ini sebenarnya yang diinginkan oleh Kevin, tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi dan Kevin harus menerima.
Alasan kedua, agar Kevin ada untuk menjadi seseorang yang playboy dan berganti pasangan setiap minggunya sebenarnya ini hanya sebuah taruhan masa kuliahnya dulu seblum pada akhirnya ia tobat. Daddy dan Mommy Andrew begitu malu ketika mengatakan jika anaknya suka bergonta-ganti pasangan tiap pertemuan dengan klien atau kerabat.
Lalu dengan inisiatif kedua belah pihak, akhirnya Kevin dijodohkan dengan anak gadis dari teman Daddy-nya. Bagi Andrew itu tidak berkelas sama sekali. Dia bisa mencari pasangan sendiri tanpa harus diberikan list perempuan yang ia akan seriuskan.
Gadis di hadapannya adalah Desi Putriana. Gadis dengan segudang cinta untuk Kevin dan perjuangan cinta yang tinggi pada orang yang sudah sejak dulu ia sukai. Namun dia tak menyangka terjebak ke dalam perjodohan. Hanya untuk urusan bisnis kedua belah pihak? Lelucon macam apa itu. Namun dia benar-benar bahagia walaupun caranya agak kurang bisa terima sebelumnya.
“Selamat ya, Nak.” Ucapan selamat dari Orang tua Desi membuyarkan lamunan Kevin yang terus menatap seorang gadis dengan setelan dress hitam di bawah stage sana. Ternyata gadis itu masih saja mau bertemu dan menghadiri undangannya. Ia pikir gadis itu akan menahannya untuk tidak melanjutkan pertunangan itu. Ternyata dugaannya salah besar.
Baik Desi maupun kevin mengangguk. “Iya, terima kasih.”
Kevin masih menatap gerak-gerik gadis itu di atas sini. Baiklah. Mungkin ia harus ekstra mengawasi gadis itu. Siapa tahu melihat dia sudah memiliki pasangan gadis itu akan sedih atau malah terlihat senang dengan ketiadaan dirinya di hidup gadis itu.
“Kau kenapa?” tanya Desi menepuk pundak Kevin.
Kevin terlonjak kaget. “Tidak apa-apa.”
“Kau masih mencari gadis itu? Ingat, kita sudah menjadi tunangan. Dan jangan sekali-kali kau lepas cincin itu.”
Peringatan dari Desi tak sama sekali ia gubris. Masa bodoh dengan semua ini. Kevin tetap akan mengejar gadis itu. Dan Kevin tahu sendiri jika dirinya bertunangan hanya sebatas membantu orang tua.
“Masa bodo.”
Kevin berdecak. Memang Desi tahu soal Kevin yang menyukai sahabat dari salah satu karyawannya sendiri tapi dia tidak bodoh membiarkan orang yang ia suka mencintai orang lain. Meski cara Desi harus berbeda, namun ini adalah hal yang tepat untuk menutupi rasa sukanya.
“Bisa tidak, untuk malam ini saja kita bersandiwara?” pinta Desi membuat si pria bersurai hitam itu menggeleng.
“Jika itu tentang perasaan aku pada dia, aku tidak bisa.”
“Ck! Kau bebal sekali!”
“Kenapa memangnya? Apa karena pertunangan ini kau akan berhenti menjadi kembang kampus seperti sebutanmu?” tanya Kevin. “Ingat, tak ada yang tahu soal hubungan kita. Jadi bersikaplah seperti biasa.”
Benar juga. Tidak ada yang tahu soal dirinya yang sudah bertunangan. Lagi pula, reputasinya bisa hancur hanya karena sebuah berita ‘pencinta godaan laki-laki Kampus' insaf.
“Iya, aku tahu. Aku akan tetap menjadi pencinta wanita kampus seperti yang kau mau.”
“Bagus dan jangan banyak bertingkah seolah aku dan kau ada perasaan yang sama.”
Desi acuh. Masa bodoh sebenarnya soal itu. Tapi bagi dia, sebuah cincin melekat di jari sudah menjadi hal yang luar biasa kan?
Seorang Desi yang terkenal banyak pacar bisa memiliki pasangan dan tunangan di usia dini? Apa itu sebuah tanda keajaiban?
“Baik, akan aku lakukan seperti biasa. Tapi...,” ucap Desi menggantungkan ucapannya.
“Jangan aneh-aneh!”
“Kau harus memasakkanku seperti layaknya kau adalah calon suamiku. Tapi memang akhirnya akan seperti itu,” ucap Desi tersenyum ke arah Hana.
Sialan.
Andrew selalu mencari kesempatan dalam kesusahan dirinya memang.
“Tidak mau.”
“Ah, tidak mau? Baiklah. Bagaimana jika aku memberitahu ke semua orang jika kita akan Backstreet di Kampus?” usul Desi.
Kevin berdecak. “Maumu sebenarnya apa? Ayo bilang sebelum aku habis kesabaran!”
Kevin masih menatap gadis itu membuat Desi kesal sendiri. Sudah susah-susah dia mengalihkan perhatian Kevin darinya kenapa masih tetap saja Kevin menatapnya? Apakah pesona seorang pencinta lelaki miliknya kurang bagus daripada pesona softgirl milik gadis itu?
“Hanya itu sebenarnya untuk saat ini.”
“Lalu untungnya bagi aku jika aku menuruti semua kemauanmu apa?” tanya Kevin berkacak pinggang.
“Hm, sepertinya kau akan menjadi satu-satunya orang yang akan dekat denganku dan orang yang paling beruntung jika kau dan aku menikah nanti. Bisa dibayangkan bagaimana cantiknya dan tampannya anak kita nanti?” ujar Desi dengan percaya dirinya. .
Kevin rasanya ingin menenggelamkan wajah Desi saja. Kenapa sikap Desi semakin hari semakin absurd seperti ini?
“Bodoh! Bukannya aku suka kamu, yang ada aku ilfeel padamu, Bodoh!”
“Dan aku suka panggilan itu.”
“Ck! Tidak bisakah kau berucap denganku yang penting saja? Aku malas meladenimu!”
“Dan aku suka mengganggumu.”
Kevin harus sabar. Baiklah. Ini hanya ujian kecil darinya. Tidak masalah yang penting dia bersikap baik saja di depan semua orang pada gadis pencinta lelaki seperti ini.
“Dengar! Aku malas meladenimu, jadi terserah kau saja. Atur saja semaumu!”
•••
Dari sebelah kanan panggung, seorang gadis menatap mereka yang tengah bertukar cincin dengan penuh senyuman luka.
Orang yang ia cintai itu sudah milik orang lain. Bagaimana rasanya jika menjadi gadis cantik seperti ini?
“Bagaimana rasanya? Apa kau baik-baik saja?” tanya sahabatnya itu.
Gadis itu hanya tersenyum. Namun banyak luka yang tertoreh di sana.
“Biarkan saja. Jodoh tak akan ke mana kan?” tanya gadis itu seolah tengah membahagiakan dirinya sendiri.
“Kau kuat, semangat ya!”
Marsha menyemangati dirinya sendiri. Mencintai dalam diam sepertinya akan selalu berhadapan dengan luka dan air mata kan? Jadi, nikmatilah.
•••
To Be Continued