Bertemu

2000 Kata
I miss you. Kata-kata itulah yang pertama kali diucapkan oleh David.Marsha yang tidak tahu siapa orang yang ditemui ini hanya menoleh ke arah Grace yang terdiam dengan sejuta arti. Marsha tak bisa menafsirkan apa maksud dari tatapan Grace tersebut. Tapi yang jelas, Marsha benar-benar bingung kali ini. Dia ada di sini tapi dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ah, andai saja semua tak seperti ini. “Dave?” Grace berujar tak percaya. “Sejak kapan kau ke sini lagi?” “Long time no see.” Bukannya menjawab, orang yang dipanggil dengan nama Dave itu hanya berujar ‘long time no see’ pada Grace. Ah ini benar-benar tidak jelas. “Orang ini siapa?” bisik Marsha pada sahabatnya ini. Marsha yang kebingungan dan Grace yang sepertinya tengah bingung kenapa orang ini sudah ada di kota ini lagi. tengah“David. Kembarannya Kevin,” jawab Grace sambil menoleh ke arah sahabatnya. Marsha walaupun sudah bersahabat lama dengan Grace namun Marsha tidak tahu-menahu tentang siapa saja orang yang dikenal oleh Grace di sini. Marsha mengangguk. Wajahnya hampir sama dengan Kevin namun ada beberapa yang berbeda di antara mereka seperti contohnya warna bola mata mereka yang berbeda. Kevin dengan mata abu-abunya sedangkan David dengan mata birunya. Mereka memang berbeda. Walaupun dikatakan kembar, namun sifat mereka pasti akan berbeda 180 atau hanya 90 derajat saja. Marsha menatap lekat bola mata David yang warnanya biru laut dan dan bisa dikatakan cukup indah untuk dipandang. Tetapi melihat kepribadian dua bocah kembar ini sangatlah berbeda. Kevin yang cuek dan David yang humoris. Mereka benar-benar berbeda. “Ada apa? Apa kau membutuhkan bantuan atau kau membutuhkan Kevin?” tanya David pada Grace. “Ah tidak saya hanya ingin bertemu dengan pak Kevin.” “Apa ini berhubungan dengan pekerjaan? Kudengar kau selama 10 hari ini tidak masuk bekerja kan?” tanya David pada Grace dijawab dengan anggukan oleh gadis itu. “Memangnya kau habis dari mana?” tanya David lagi seolah pria itu ingin tahu. “Ceritanya panjang pak.” “Oke. Kevin sedang mengantar Desi ke bandara. Kebetulan Desi akan pergi ke rumah sepupunya beberapa hari ini mungkin besok sudah akan kembali lagi ke sini kita urusannya cepat selesai. Apa kau butuh bantuan?” tanya David menawarkan diri. “Ah, tidak.” “Kalau begitu, kita akan pergi lebih dulu. Maaf untuk saat ini saya masih belum bisa bekerja atau mungkin tidak akan bisa lagi. Maaf sebelumnya,” ucap Grace lalu pergi meninggalkan David di ruangannya. Sepanjang perjalanan mereka di sini, Grace hanya diam. David datang ke sini lagi. Tumben sekali. “Dia beneran kembarannya Pak Kevin?” tanya Marsha masih merasa tak percaya. Mengangguk. “Iya. Menangnya kau tak melihat kemiripan di antara mereka?” “Bola matanya saja yang berbeda.” “Perpaduan yang sempurna bukan?” tanya Grace menggoda Marsha membuat gadis yang berjalan di sampingnya itu mencubit gemas lengan milik Grace. “Tapi aku tetap dengan pendirian.” “TERSERAH!” ••• Keesokan harinya, Grace benar-benar sudah bersiap untuk pergi ke kampus karena Grace benar-benar sudah merindukan suasana kampus di sana. Makanan, suasana kampus serta kelas yang sangat-sangat ia rindukan serta beberapa orang yang mampu menambah moodnya di kelas. Grace tidak pergi bersama dengan Tasya namun mereka ketemu langsung di kelas. Dengan segala celotehan dan keceriaannya, mampu membuat Marsha merindukan gadis itu setiap saat. Ketika Marsha benar-benar sudah mengantuk di kelas maka ada Grace yang mampu mengagetkan Marsha untuk kembali membuka matanya ketika dosen mata kuliah tengah mengajar. Grace tak bisa membayangkan jika dia tidak bisa kuliah di sini lagi akibat dia harus bekerja menjadi sekretaris dari Edward Thomas. Banyak orang bilang jika menjadi sekretaris Edward adalah sebuah impian iya yang tak mungkin dan tak akan bisa dia tolak. Menjadi sekretaris Edward adalah sebuah anugerah yang paling terindah di kehidupan mereka. Namun lain halnya dengan Grace yang sama sekali tidak pernah berpikir ke arah sana. Mendengar namanya pun hanya sebuah pintasan beberapa detik kemudian akan hilang di otaknya. Bukan bermaksud Grace itu jual mahal, tetapi rasanya bagi Grace itu tidak akan mungkin sebenarnya. Berhubung karena keinginan semua anggota keluarga Thomas itu, hidupnya seolah tidak akan setenang dulu. Ingin menolak pun rasanya tak akan pernah bisa dan tak akan pernah mungkin. “Tugas sudah selesai belum?” tanya Marsha pada Grace yang baru saja duduk di bangkunya. Mereka duduk bersampingan namun jika ada sebuah kerjasama mereka tak pernah menjadi satu tim atau kelompok. “Sudah dong.” “Wah, hebat. Tumben.” “Harusnya kata itu cocok untukmu bukan untukku.” Grace mencibir membuat Marsha mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Beberapa menit kemudian akhirnya dosen pengajar kelas pertama sudah masuk dan mulai mengajar bab selanjutnya. Beberapa jam kemudian akhirnya jam pertama sudah selesai dan dosen itu memberikan tugas lalu keluar dari kelas ini. Setelah jam pertama selesai, mereka akhirnya pergi ke sebuah kantin di lantai 3 fakultas ini. Grace seperti biasa menatap ke arah kaca di mana di bawah sana terlihat lapangan luas fakultas yang dihiasi oleh banyak bunga serta tanaman-tanaman hijau lainnya. Grace menyuruh Marsha untuk memberikan makanan untuk mereka. Marsha memesan 2 nasi goreng dengan 2 es teh lalu kemudian mereka menunggu di tengah-tengah keramaian kantin di jam-jam makan siang. Setelah makanan mereka datang mereka dengan khusyuknya memakan makanan itu tanpa ada yang berbicara satupun. Dan disaat makanannya sudah hampir habis, Desi pacar dari Kevin datang dan menemui mereka berdua. Seketika itu juga wajah Marsha kembali murung dan masam. “Kenapa?” tanya Grace pada Desi. “Kau ini siapa?” “Harusnya temanmu yang satu ini pastinya tahu aku siapa kan?” tanya Desi pada Grace sembari melirik ke arah Marsha yang membuang muka kearah lain. “Saya tidak kenal.” Jawaban Marsha itu membuat Grace yang semula menatap Desi menjadi tertegun dan sedikit terkejut. “Tunggu!” “Kau ini siapa? Apa kau mengenalku sebelumnya?” tanya Grace baik-baik. “Kupikir kau tak akan mengenalku tetapi temanmu yang satu ini pasti tahu siapa aku sebenarnya.” Desi melirik ke arah Marsha namun gadis yang ada di depan Grace itu sama sekali tak menoleh kearah Desi sedetikpun. “Halo? Aku sedang berbicara denganmu.” Diam. “Apa kau tuli? Atau kau memang ingin menantangku?” tanya Desi dengan sedikit kesal. “Ini kantin mohon untuk sedikit merendahkan nada bicaramu.” “Kau ternyata belum tahu aku ya!” Karena malas berurusan dengan orang seperti Desi, Marsha menarik tangan Chris untuk keluar dari kantin ini dan membayar uang makan yang mereka pesan tadi. “Kau kenal siapa dia?” tanya Grace sedikit bingung. Marsha yang sudah lelah menahan kekesalannya akhirnya melepas tangan Grace dan berteriak sekencang-kencangnya. “Hai! Kau kenapa?” tanya Grace mulai bingung. “Dia pacarnya Kevin.” ••• Amanda mulai pindahan dari rumah Reno ke rumah Edward. Diandra sendiri sudah tahu bahwa Amanda akan pindah ke sini. Tentu saja Diandra membuka pintu lebar-lebar untuk Amanda bagaimanapun juga Amanda adalah sahabat satu-satunya untuk anaknya. Walaupun Grace adalah teman masa kecilnya, namun gadis itu sendiri tidak tahu jika teman masa kecilnya itu adalah Edward. Dari beberapa apa pertanyaan yang Diandra tanyakan pada Edward, dia mengatakan kita gadisnya itu tidak mengenalinya sama sekali bahkan mengaku dia tidak pernah kenal dengan seorang yang bernama Edward. Tentu saja Edward kecewa dengan jawabannya itu. Tapi bagaimanapun juga Cinta pertamanya tetap gadis itu. Tak ada satupun orang yang mampu mengubah rasa cintanya pada Grace yang semakin hari semakin bertambah dan mungkin tak akan pernah terganti. Percayalah. Rasa cinta seorang laki-laki akan begitu sulit untuk berpindah ke lain hati. Edward bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Dia akan mencintai seseorang itu sampai benar-benar dia mendapat hatinya atau mungkin dia yang akan menyerah nantinya. Menyerah dalam hal mempertahankan perasaannya. “Welcome home, Nak.” Amanda terkekeh. Ternyata tak ada yang berbeda di antara Diandra yang dulu dengan Diandra yang sekarang. Walau wajahnya sudah mulai keriput di mana-mana, namun rasa kasih sayang Diandra tetap sama, “Terima kasih, mom.” Amanda tersenyum ke arah Diandra. “Senang sekali bisa di terima dengan baik oleh keluarga bahagia ini.” “Ah, kau bisa saja. Semua akan tetap sayang padamu, Nak.” Amanda tersenyum. Amanda jadi merindukan sosok mamanya yang dulu seblum keluarga mereka terpecah menjadi banyak bagian seperti sekarang. “Bagaimana harimu sekarang?” tanya Diandra sambil menunjukkan jalan ke arah kamar yang akan di tempati oleh gadis itu. “Baik. Bersyukur sekali bisa bertemu dengan keluarga yang benar-benar baik padaku dan bisa membimbingku ke arah yang benar.” “Ah kamu bisa aja.” “Tapi maaf ya Edwardnya sudah keluar dari rumah sejak tadi pagi. Jadi rumah ini sangat sepi dan tak ada satu pun di sini selain mommy dan para pelayan.” “No problem.” Amanda masuk ke dalam kamar. Ruangan bernuansa american classic itu sama seperti restoran yang sama dengan yang dimiliki oleh orang yang sangat ia cintai itu. Sungguh. Suasana seperti inilah yang mampu membuat Amanda semakin tidak bisa move on pada sosok yang begitu ia rindukan kehadirannya. Edward memang belum tahu siapa dia. Tapi setidaknya Edward tak akan tahu dia terluka karena kehilangan dirinya. Kehilangan dia adalah hal yang paling ia sesali. Ponsel Amanda berdering membuat pikiran-pikiran yang merajalela di otaknya buyar seketika. Ternyata Edward menelfonnya. “Kenapa?” tanya Amanda sedikit menurunkan suaranya. ‘Ada apa denganmu?’ “Memangnya aku kenapa? I’m fine.” ‘Suaramu sepertinya sedang tak baik-baik saja.’ “Aku tidak kenapa-kenapa.” ‘Benarkah? Lalu kau ada di mana sekarang?’ “Di mansionmu.” ‘Syukurlah. Kau jangan kemana-mana jika memang itu tak perlu dibutuhkan. Paham?’ Amanda menghela naps panjang. Terlihat sekali dia tengah jengah dengan celotehan yang dibuat oleh Edward. “Sudah tak ada yang kau tanyakan lagi kan? Biarkan aku mandi karena tubuhku sudah sangat lengket.” ‘Hati-hati.’ “Harusnya kau yang hati-hati.” *** Jika bukan karena mamanya yang menyuruh Kevin untuk menjemput Desi di kampusnya, iya tak akan mau ke sini dan bertemu orang-orang menyebalkan seperti pacar terpaksanya itu. Kevin menunggu gadis itu di dalam mobilnya. Ia pikir mana mungkin Desi tidak mengenal mobilnya yang hampir setiap hari dia naiki. Tentu saja bukan hal yang baru kan untuk Desi? Baiklah. Sudah hampir 1 jam dia disini dan Desi belum juga kelihatan batang hidungnya. Apakah memang sengaja gadis itu menyuruhnya di sini sedangkan dia masih ada satu jam lagi atau 2 jam lagi kelasnya. Sial. Mentang-mentang David ada di sini dan orang tua hanya Allah menyuruhnya fokus untuk mengurusi Desi kekanakan dan tak bisa berdiri sendiri di kakinya sendiri. Kevin melirik ke arah kiri dan terlihat disana Desi tengah bersama dua orang gadis yang ia ketahui salah satunya adalah Grace dan satunya lagi adalah sahabat Grace yang beberapa hari yang lalu sempat bertengkar dengan Desi di restorannya. Semenjak kejadian itu, Marsha tidak pernah ke restorannya lagi. Padahal dia penasaran apa yang ia katakan padanya. Kevin turun dari mobilnya dan menghampiri ketiga gadis itu. “Ada apa ini?” tanya Kevin pada ketiga gadis yang sepertinya tak pernah menghiraukan ucapan-ucapan yang diucap oleh Desi. “Sayang? Akhirnya kamu mau jemput aku juga.” Desi merangkul lengan Kevin dan kebetulan Marsha melihat itu. Lucunya, Marsha sama sekali tak pernah tertarik dengan pancingan-pancingan yang diberikan oleh Desi agar Marsha tertarik. “Loh memangnya sebelumnya tidak pernah dijemput?” tanya Grace dengan polosnya. Marsha terkekeh. “Duh, polosnya kamu Grace!” “Diam kalian!” desis Desi membuat keduanya akhirnya tertawa dengan puas. “Aku tak perlu banyak basa basi mengatakan ini itu padamu. Aku hanya ingin mengatakan pada kalian eh bukan. Tapi kami mengajak kalian untuk makan malam bersama kami di rumah Kevin. Apa kalian bersedia?” Marsha terbengong. Are you seriously? Setan mana yang merasukimu otak dan pikiran Desi seperti ini? Ah, sudahlah. Grace ingin menolak namun dengan cepat Marsha menjawab tawaran itu dan mengatakan, “Iya kami akan ikut.” Justru jawaban yang dikatakan oleh Marsha membuat Grace sedikit tercengang. dia memang tak masalah. namun apa kabar dengan hati Marsha nantinya? Bukan di restoran lagi namun di rumah Kevin. Apa-apaan ini?! Marsha pasti sedang bercanda. ••• To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN