Amanda masuk ke dalam rumah. Setelah dia diantar oleh Edward ke kantor, Amanda langsung memesan taksi dan pulang ke rumah. Di perjalanan menuju rumah, Amanda harus memikirkan penawaran dari Edward tentang untuk sementara waktu dia tinggal di mansion Thomas.
Sebenarnya tidak enak juga. Dia bukan siapa-siapa bagi keluarga Thomas. Dia hanyalah sebatas sahabat dari Edward yang sudah sejak lama berteman.
Mereka memang dekat. Tetapi kedekatan itu tidak membuat Amanda menjadi sosok yang tidak tahu diri seperti yang sering terjadi.
Dianggap anak bukan berarti dia harus bersikap seenaknya kan?
Mommy Edward itu baik. Meskipun dia memiliki hanya seorang anak laki-laki tunggal, dia tidak pernah mengekang apa keinginan Edward sama sekali. Perlu diketahui juga, Edward menjadi seseorang yang arogan akibat sifat ayahnya yang menurun pada dirinya.
Jika kalian katakan bahwa Edward adalah seseorang yang berbahaya dan menyeramkan, itu memang benar.
“Man? Baru pulang?” tanya Diva yang baru saja datang dari arah dapur.
Amanda juga bertemu dengan Reno di teras rumah dan mereka hanya saling sapa walau hanya kata ‘hai’ yang terlontar dari mulut mereka.
Reno sudah menganggap Amanda itu adiknya sendiri. Setelah orangtua Amanda bercerai, Amanda menjadi seseorang yang pendiam, rasa kesepian dan merasa jika dunia ini sudah tidak lagi berjalan dengan semestinya. Karena Amanda anak tunggal, maka Amanda sangat menyayangkan sikap orang tuanya yang hanya memikirkan egonya masing-masing. Merek tidak memikirkannya sama sekali. Itulah yang menjadikan Amanda sosok orang yang begitu tertutup.
Amanda trauma. Kegagalan dalam rumah tangga orang tuanya, membuat Amanda berpikir bahwa dia akan bernasib sama dengan mereka. Salah mencari pasangan adalah ah alasan utama kegagalan mereka.
Dari kisah kedua orang tuanya, Amanda merasa jika dia tidak bisa hanya mengandalkan perasaannya saja. Tapi dia juga harus melibatkan Tuhan dalam cinta mereka.
“Habis makan siang di restoran teman.”
“Wah, kamu sudah punya teman di sini? Waktu kakak tanya siapa teman kamu, kenapa kamu hanya bilang cuma Edward temanmu?” tanya Diva penasaran dengan jawaban dari Amanda.
“Kita temanan. Cuma tidak sedekat Manda dan Edward.”
Diva berpikir. Edward bisa menerima pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Apakah karena Edward melihat sosok Amanda di diri Grace atau memang Edward mencintai Grace dengan tulus?
“Wah, kalau begitu, Edward beruntung sekali memiliki teman sepertimu.”
“Kenapa begitu?” Amanda mengernyit.
“Pengertian, pandai masak, perhatian dan cantik.”
Amanda terkekeh. “Kami itu berteman sudah lama. Kami tidak peduli jika orang lain menganggap kami berteman hanya sebuah settingan atau ketulusan. Yang menjalani ini semua kan kami. Orang lain tidak perlu tahu apa alasan kami masih tetap berteman sampai sekarang. Yang jelas, selama kami tidak pernah merusak kebahagiaan orang lain, itu akan lebih baik. Semua orang tidak akan merasa terganggu dengan hubungan kami.”
Amanda menatap makanan yang ada di meja. Makanan yang dimasak oleh Diva untuk makan malam.
“Kapan kakak ke pasar? Menunya banyak sekali.”
“Tadi pagi.”
“Kenapa banyak menu? Apa kak Reno suka pilih-pilih makanan?” tanya Amanda mencibir.
“Tidak begitu. Malah yang sering pilih-pilih makanan adalah kakak.”
“Tidak masalah sebenarnya. Asal jangan mencela makanan saja.”
Akhirnya keduanya hening hingga pada suatu ketika Amanda membuka suaranya lagi.
“Kak...”
“Kenapa?” tanya Diva yang tengah merapikan piring-piring dan menaruhnya ke dapur.
"Ada yang akan aku katakan. Bisakah kakak panggilkan Kak Reno ke sini?” izin Amanda dengan sopan kepada istri sepupunya itu.
“Boleh.”
Diva keluar dari dapur lalu memanggilkan suaminya yang ada di ruang tengah berkumpul di ruang makan.
“Ada apa?” tanya Reno tiba-tiba. “Apa yang akan kau katakan adik kecil?”
“Siapa yang kecil? Aku sudah besar!” Amanda terlihat mencibir.
“Ah, baiklah. Ada apa anak manis?” tanya Reno lagi.
“Tadi Amanda ada waktu makan siang bersama Edward, dia memberikan saran jika rumahku belum selesai direnovasi, aku bisa tinggal di mansion Thomas bersama kedua orang tua Edward. Apakah kau izinkan aku tinggal di sana untuk sementara waktu?” tanya Amanda pada Reno.
Ini adalah hal yang sulit. Reno sebenarnya tidak masalah jika itu memang kemauan adik kecil ini. Hanya saja, dia takut Amanda kenapa-kenapa. walaupun Edward bisa melakukan apapun untuk keamanan adik sepupunya satu-satunya, Tetapi sebagai seorang kakak yang baik, dia harus memikirkan apa yang terbaik untuk adiknya. Tidak ada yang bisa membuat adiknya menangis. Apakah itu hanya sebuah kesengajaan atau ketidaksengajaan sekalipun.
“Bagaimana?” tanya Amanda masih setia menunggu jawaban dari kakaknya itu.
Amanda itu anak tunggal. Ayah dan ibunya berpisah dan sampai sekarang mereka belum bisa bertemu dengan baik itu ayah atau Ibu Amanda sekalipun.
Keduanya seolah menghilang dan tak bisa ia temui lagi dan tak bisa ia temui lagi. Seperti apa kehidupan selanjutnya dari ibu dan ayah Amanda setelah 15 tahun mereka berpisah.
Terakhir kali Reno mendapat kabar dari Ibu Amanda itu sekitar 10 tahun yang lalu. Dan ayah Amanda hingga sampai saat ini belum bisa ia hubungi. Seolah mereka tengah bersembunyi dibalik masa depan dan mengubur luka dalam hati Amanda kecil.
“Sebenarnya boleh. Tapi, kau jangan berulah di sana.”
“Tenang saja aku akan menjadi di gadis baik-baik di sana.”
“Ah, baiklah. Jika kamu merasa tidak betah di sana, kau bisa kembali ke sini kapan saja.”
Amanda mengangguk lalu kemudian memeluk sepupunya itu. Tak lupa juga memeluk Diva dan mengatakan terima kasih sudah memberikannya tempat tinggal yang layak. Sungguh sebenarnya dia tidak merasa tidak enak di sini. Semua fasilitas untuknya lengkap. Tidak ada yang kurang di sini bahkan kasih sayang pun Diva berikan padanya walaupun umur mereka tidak terpaut jauh. Diva benar-benar seorang wanita yang dewasa dan seorang ibu yang luar biasa.
"Ya sudah Amanda ke kamar mau siap-siap.”
“Kapan pindahnya?” tanya Reno pada Amanda.
“Mungkin besok atau lusa.”
“Ah, kalau begitu, kau hati-hati.”
Amanda meninggalkan ruang makan dan pergi ke kamarnya. Mengambil kopernya lalu memasukkan baju-bajunya ke dalam koper lagi agar pada saat dia dijemput oleh orang suruhan Edward semua bajunya sudah selesai dibereskan.
Sebenarnya dia tidak tega juga meninggalkan sepupunya itu mengingat mereka baru bertemu beberapa hari yang lalu saat Amanda memutuskan pulang ke New York lagi setelah beberapa tahun tidak kesini dan tidak bertemu dengan Reno.
Terakhir mereka bertemu saat Amanda wisuda sarjana pertamanya 2 tahun yang lalu. Waktu itu belum ada Diva. Reno pergi untuk menjadi wali dan mengunjunginya beberapa hari. Rasanya ia begitu terharu melihat Reno dengan lapang d**a pergi ke tempat yang tak semestinya dia datangi.
Ponsel Amanda berdering membuat Amanda cepat-cepat membuka pesan yang masuk ke benda pipih itu.
Diandra: Nanti malam makan malam di rumah ya, Nak.
•••
“Bagaimana?” tanya Edward pada Aiden.
Aiden yang baru saja kembali dari panti, langsung pergi menemui Edward yang tiba-tiba saja menyuruhnya untuk bertemu di tempat seperti biasa.
“Nona Grace belum bisa ditemui Tuan.”
“Sampai kapan?” pertanyaan itu seolah menjadi momok untuk Aiden agar lebih keras lagi berusaha untuk Grace mau mengikuti prosedur yang sudah ditandatangani oleh dirinya dan Edward beberapa waktu yang lalu.
“Kami mohon untuk memberikan waktu beberapa hari lagi, Tuan.”
“Jika kau masih gagal?” tanya Edward menoleh ke arah Aiden.
“Maka Tuan bisa turun tangan sendiri.”
“Baiklah. Saya tunggu perkembangannya sampai tiga hari kedepan.”
Aiden mengangguk lalu ia berpamitan undur diri karena harus melakukan tugasnya yang lain.
Brak.
Edward menggebrak meja yang ada di depannya. Hancurkan beberapa botol yang ada di sekitar meja itu dan menjatuhkannya ke lantai hingga terpecah menjadi beberapa bagian bahkan ada yang hancur.
Ia memang benar-benar sudah seperti kehabisan akal. Tingkah Grace yang membuatnya semakin geram dan sekaligus benci pada dirinya sendiri.
Grace itu adalah orang di masa lalunya. Jika orang di masa lalunya saja tidak mau berteman dengannya lagi, apakah sikap Edward selama ini begitu salah dimata semua orang?
Sibuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja belum dipastikan terjadi, sampai melupakan bahwa ponselnya berdering beberapa kali sebelum pada akhirnya di dering ketiga Edward menyadari itu.
“Iya, mom?”
‘Cepat pulang!’
“Edward sedang sibuk, Mom.”
‘Pulang atau jangan pulang sekalian.’
Diandra mematikan ponselnya. Edward sendiri juga merasa aneh. Kenapa Diandra akhir-akhir ini seolah posesif padanya.
Tapi memang akhir-akhir ini juga Edward seperti orang yang sedang kalang kabut. Tidak punya arah, hampir stres atau bahkan nyaris gila semenjak Grace hilang kabar.
Apakah mommynya merasakan hal ini juga padanya?
Dengan langkah yang terlalu gontai, Edward mengayunkan langkah kakinya untuk keluar dari ruangan ini dan masuk ke dalam mobil lagi diikuti oleh beberapa bodyguard yang ada di belakang mobilnya.
Edward melajukan mobilnya menembus malam dengan kecepatan mobil yang begitu standar. Malam ini tak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang di depannya.
Tit... Tit...
Sial. Mobilnya terjebak di antara mobil-mobil lain dan tak bisa keluar ataupun putar balik.
Menatap jam tangan yang ada di tangan kirinya. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam sedangkan dia masih terjebak di sini.
Ponsel yang sedari tadi berdering tak ia hiraukan. Mungkin saja, ibunya yang meneleponnya untuk segera sampai di mansion. Padahal dia tidak tahu jika dia sudah pulang dan terjebak macet di sini.
Ah, andai saja sejak tadi Edward memilih memakai helikopter nya saja. Pasti dia tidak akan terjebak macet di sini.
“Cepatlah!”
Edward berdesis. Menggeram karena kesal hingga merapatkan gigi-giginya satu sama lain.
“Iya mom. Ini lagi ada di jalan. Macet.”
‘Kau bisa suruh orang di depan untuk mengantarmu pulang ke sini.’
“Edward tidak mau,” tolak Edward membuat Diandra mendengus kesal.
“Ya sudah. Terserah kau saja.”
30 menit kemudian akhirnya jalan raya ini pun sudah mulai berjalan dengan normal. Melajukan mobilnya lebih cepat dari sebelumnya bahkan ini bisa dikatakan standar paling tinggi dalam mengemudi.
Edward biasanya tidak pernah mengemudi kencang seperti ini. Namun karena keadaan ibunya yang sudah tidak sabar untuk dia pulang dan jam-jam sudah menunjukkan waktu setengah delapan malam di mana waktu itu sebentar lagi memasuki waktu Diandra tidur.
Sekitar 45 menit kemudian akhirnya dia sampai di mansion.
Seseorang membukakan pintu untuk Edward lalu dengan cepat ia masuk ke dalam dan menemui Ibu serta ayahnya di sana.
Edward juga terkejut ketika melihat Amanda sudah ada di sana. Apakah Amanda diundang oleh Diandra? Tapi, baguslah kalau begitu. Amanda pasti tidak akan kesepian lagi di New York ini. Karena kehadiran Diandra dan Rey adalah pengganti kesepiannya dan kerinduan Amanda pada sosok orang tua.
Seperti yang kita ketahui, Amanda memang anak tunggal dari keluarganya. Namun the bahagia tidak bisa memeluk Amanda. Sejak berumur 10 tahun, Amanda sudah kehilangan kasih sayang itu dari kedua orangtuanya. Ayahnya tidak tahu di mana dan ibunya juga tidak tahu di mana.
Edward pernah diceritakan oleh Amanda, ibunya terakhir mengatakan jika dia bekerja sebagai model dan pengusaha parfum salah satu negara terbesar di dunia. Mengetahui kesuksesan ibunya itu, Amanda sama sekali tidak merasa senang. Karena dalam beberapa wawancara yang pernah Amanda tonton tentang ibunya, beliau mengatakan jika anaknya hilang.
Dari situlah Amanda pada sikap ibunya.
Yang hilang itu bukan Amanda. Tapi yang menghilang itu adalah mereka. Amanda tetap di kota ini, besar di sini dan sampai kapanpun akan kembali di sini pulang. Sama halnya dengan alasan Amanda pulang pada musim ini. Seseorang yang berarti di hidup Amanda selain Reno kini menjauhi Amanda dan menghilang.
Sampai saat ini pun, Amanda yakin mereka akan bertemu.
“Loh, Man? Di sini?” tanya Edward pada Amanda yang tengah minum teh hangatnya.
“tadi mommy menelponku. Makan malam di sini, aku putuskan ke sini langsung.”
Mengangguk-anggukkan kepalanya. Paham betul. Diandra sangat menginginkan anak perempuan. Namun beberapa kejadian yang menimpa Diandra beberapa tahun silam membuat Diandra memiliki trauma tersendiri.
Diandra sempat diopname karena keguguran yang menimpanya saat Edward masih berumur 15 tahun.
Di saat Edward masih berumur 2 tahun, kakak Edward juga sempat meninggal dan membuat Diandra trauma.
Maka dari itu, alasan Diandra berbuat protektif pada Edward dan melakukan apa saja yang diinginkan oleh anak satu-satunya itu, tak lain karena ingin membalas keinginan kakak Edward yang belum tercapai.
“Sekarang kalian sudah makan?” tanya Edward basa-basi. “beberapa jam saat aku mau ke sini jalanannya benar-benar macet. Baru sampai di sini jam sekarang karena itu.”
“apa ini salah satu alasanmu lagi?” tanya Diandra memekik.
“Tidak. Edward benar-benar terkena macet mom!”
“Ah, sudahlah. Terserah kau saja.”
“Kapan mommy tidak menaruh curiga padaku?” tanya Edward mendelik. “Aku berkata jujur pun Mommy tak pernah mempercayaiku.”
“Mami akan percaya jika kau membawa kekasihmu kesini lagi.”
Tunggu! Apa Amanda tidak salah dengar? Kekasih? Memangnya sejak kapan Edward memiliki kekasih?
Bahkan mereka sering bersama pun akhir-akhir ini, Edward tidak pernah menyinggung soal kekasih kekasihnya itu. Apa memang Edward atau Edward hanya mengada-ngada?
Tapi mana mungkin Diandra akan percaya begitu saja jika Edward mengatakan ini? Sepertinya benar. Edward memang memiliki kekasih. Tetapi siapa perempuan beruntung itu?
“Kekasih? Siapa? Kau bahkan tak pernah cerita ini padaku sebelumnya.”
“Ah, yang benar saja. Masa Edward tidak memberitahumu sama sekali? Tega sekali kau boy!”
“Amanda belum ketemu orangnya. Nanti akan Edward perkenalkan jika kita sudah bertemu.”
Amanda menunjukkan jari jempolnya ke arah Edward lalu dijawab dengan anggukan oleh laki-laki itu.
“Jadi... Kapan kita bertemu dengan gadis beruntung itu?”
•••
Setelah Marsha menceritakan semuanya pada Grace, akhirnya dia memberanikan diri untuk keluar rumah dan bertemu dengan Kevin di restorannya.
Sebelum itu, Grace harus melewati interogasi dari beberapa orang yang berjaga tepat di depan pintu.
“Saya mau kerja. Kalian kalau mau di sini, di sini saja. Saya tidak akan kabur lagi.”
“Maaf Nona! Nona kami akan ikuti kemana pun karena ini adalah tugas kami sebagai bodyguard Nona.”
“Saya tidak pernah merasa jika saya membayar anda dengan uang saya sendiri.”
“Tetapi Tuan kami yang membayar kami. Jadi ini adalah tugas kami dan kami tidak akan menghianati Tuan kami satu kali pun.”
“Tapi saya punya privasi. Kasihanilah adik-adik saya yang enggan untuk keluar rumah karena takut pada kalian. Jangan buat adik-adik saya menjadi trauma keluar rumah. Saya mohon jika kalian ingin menjaga saya, tunggulah di depan gerbang atau tidak ikuti saya dari jauh.”
“Tapi Nona! Saya benar-benar tidak bisa mengizinkan Nona pergi sendirian.”
“Saya bersama Marsha.”
“Marsha? Apakah yang Nona maksud itu adalah teman Nona yang kemarin ke sini?” tanya salah satu bodyguard itu lagi.
Grace mengangguk. “Kau benar. Ku rasa kalian sudah tahu dia kan?”
Tanpa mau mendengar penolakan dari bodyguard itu, Grace cepat-cepat keluar dari pintu gerbang dan masuk ke dalam taxi.
Beberapa orang yang ada di dalam mobilnya, langsung mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Grace. Iya menjemput Marsha di rumahnya.
Waktu perjalanan ke sana butuhkan waktu 37 menit sebelum pada akhirnya ia sampai di sana.
Marsha ternyata sudah menunggunya di depan gerbang. Setelah Marsha masuk, taksi itu kini melajukan kecepatannya lagi ke arah restoran.
Restoran yang bernama Sky restaurant berada tak jauh dari kampus Marsha dan Grace. Hanya membutuhkan waktu 5 menit ke restoran ini, mereka akhirnya sampai di tempat yang mereka tuju.
Setelah membayar, keduanya turun dari taksi dan masuk ke dalam restoran.
Di dalam, beberapa pelayan yang mengenal Grace menanyakan keadaannya dan dari mana saja dia.
Setelah lama bercakap-cakap dengan beberapa orang ini, Grace akhirnya pergi ke ruangan Kevin yang ada di pojok.
Setelah mengetuk pintu dan mendapat jawaban dari Kevin, mereka akhirnya masuk ke dalam dan duduk di kursi yang berada di hadapan Kevin.
“Grace? Kapan kau kembali. I miss you.”
Ternyata bukan Kevin. Namun orang itu adalah—David.
•••
To Be Continued...