Menceritakan Semua Pada Grace

1683 Kata
Marsha ketika dihubungi Grace akhirnya buru-buru menemui gadis yang selama ini ia rindukan kehadirannya. Banyak hal yang saya alami selama ini. Ia ingin berbagi kepada sahabatnya yang baru saja keluar dari persembunyiannya. Setelah pulang dari kampus Marsha langsung pergi ke panti tempat dimana sahabatnya itu tinggal. Sudah lebih dari 7 hari lamanya, iya tak bertemu dengan gadis pencinta cokelat itu. Setelah gadis itu menghubunginya, perasaan yang muncul pertama kali adalah takut. Bukan apa-apa, dia tahu sendiri rumahnya dengan tidak aman untuk gadis itu tinggal. Pasti di luar banyak sekali pengawal yang menjaga di rumah itu walaupun ini bukan kemauannya. Ketika Marsha memasuki pekarangan rumah Panti itu, ternyata benar jika di luar banyak yang menunggu Grace keluar atau kau memang sedang menunggu tuannya datang. “Kok di sini ramai-ramai? Ada apa?” tanya Marsha seolah tidak tahu apa-apa. “Nona mau bertemu dengan siapa?” tanya salah satu zigat yang berjaga di sekitar rumah panti ini. “Saya ingin bertemu dengan sahabat saya. Apakah ada masalah?” tanya Marsha dengan menantang. “Sudah sejak kemarin saat Nona pulang, ia tidak bisa kami temui.” “Karena kalian sudah mengancam privasi sahabat saya. Makanya kalian tidak bisa menemuinya satu kali pun.” “Tetapi kami mendapatkan tugas dari Tuan kami untuk menjaga di sekitar panti ini.” “Dan kalian mau begitu saja? Memangnya kalian belum paham tentang menghancurkan privasi orang lain?” tanya Marsha lagi. “Lebih baik saya masuk ke dalam tanpa harus saya meminta izin dulu pada kalian. Karena kalian itu bukan siapa-siapa kami.” “Tapi nona...” Belum sempat bodyguard itu mencegah Marsha untuk masuk ke dalam, gadis itu sudah memasukinya. Dia langsung dibukakan pintunya oleh Grace tanpa harus mengetuk dulu seperti pengawal-pengawal yang lain. “AAAA GRACE AKU KANGEN!” ujar Marsha dengan lebaynya. “Tak perlu lebay. Aku sudah ada di sini!” desis Grace yang merasa risih dengan kicauan-kicauan mulut sahabatnya ini. “Kau ke mana? Kenapa kau susah untuk dihubungi? Apa kau sudah memiliki teman yang lebih baik?” tanya Marsha sok dramatis. “Tak terlalu lebay. Aku disini, bukankah itu sudah termasuk aku baik-baik saja?” “Ya, benar. Syukurlah kau baik-baik saja sekarang.” Marsha ingin sekali mengatakan sesuatu pada sahabatnya ini. Tapi mengingat shocknya sahabatnya ini pada kejadian-kejadian yang lalu, Marsha juga tidak tega untuk itu. Dia juga tahu. Masalah yang sudah dia dapati, sudah lebih dari cukup untuk menyakiti dan menghancurkan hidupnya. Dia juga tidak bisa berbohong. Jika dia takut untuk kehilangan sahabat satu-satunya ini. Jika sampai Grace benar-benar diambil oleh Edward dan keluarganya, waktu untuk bertemu dengan satu-satunya sahabat dia hanya sedikit. Mungkin dalam satu minggu hanya beberapa jam. Karena tinggalnya Grace tidak di sini, banyak tekanan dari rumah itu, dilarang untuk keluar rumah bahkan dilarang untuk bertemu siapapun termasuk juga ibunya sendiri. Kalau Marsha jadi Grace, tentu saja ia akan memberontak. Tapi sayangnya, Grace itu orangnya polos. Dia tidak suka dapat tekanan yang membuat dirinya nyaris gila. “Grace!” “Hm?” Grace menyibukkan dirinya dengan beberapa tugas-tugas kuliah yang diberikan oleh dosennya melalui Marsha. Hampir sepuluh hari tidak masuk, ia menjadi canggung untuk masuk kuliah lagi besok. Dia takut ditanyakan ke mana saja dia atau bahkan sedang diincar siapa? Orang-orang seperti itulah yang membuat Grace merasa tidak nyaman dengan lingkungannya sendiri. Terlalu ikut campur dalam hidup seseorang itu memang tidak pernah baik ke depannya. Bukan untuk dirinya tapi juga untuk orang-orang di sekitarnya. “Tugasnya hanya ini?” tanya Grace pada Marsha. “Memangnya kau mau lebih banyak lagi?” tanya Marsha mendelik. “Kupikir 10 hari aku tidak masuk, tugasnya hampir 10 kali lipat dari saat aku masuk kemarin.” Kau salah, Grace! Justru 10 hari kau menghilang, ada beberapa kejadian yang membuat Marsha tidak bisa melupakannya seumur hidup. Niat awalnya yang hanya ingin bertemu dengan seseorang dalam hal yang baik, tapi mendapat perlakuan yang tidak pantas. Seolah dirinya rendah di matanya. Padahal dia tidak melakukan apa-apa. Dia hanya ingin makan tidak untuk mencari perkara atau bahkan lebih parah dari itu. “Serem kalau diceritakan.” “Serem kenapa?” Grace mengerutkan keningnya. Mereka ngobrol di dalam kamar milik gadis cantik berusia 22 tahun itu. Gadis yang selama ini terkenal periang, bekerja keras dan bertanggung jawab. Setiap apa yang dia kerjakan, dia lakukan dengan baik bahkan dia melakukannya se-perfect mungkin. Kamar yang ditempati oleh Grace, ternyata sudah direnovasi. Terbukti desain-desain di dinding yang ada di kamar ini sudah berbeda dari sebelumnya saat terakhir kali Marsha ke sini dan waktu itu tengah mengerjakan tugas semester. “Kamarmu baru?” tanya Marsha. Gadis itu menatap langit-langit kamar Grace. Dinding yang bernuansa warna merah muda dengan aksen bintang di sekitar langit-langit kamar membuat buat ini terlihat lebih cantik dan anggun. “Iya, sebenarnya kemarin aku memang menyuruh tukang untuk memperbaiki desain kamarku. Tetapi, Edward yang menyebalkan itu mengacaukan semuanya. Dan pada akhirnya, aku belum sempat merekam dan membuatkan video transformasi antara desain pertama dan desain yang baru.” Aneh. “Kau sudah sampai di mana?” tanya Marsha melihat tugas-tugas Grace yang ternyata sudah hampir selesai ia buat. “Cepat sekali kau mengajarkan ini,” rutuk Marsha dengan speechless. “Kau tak melihat prosesnya dari awal. Jangan menggodaku seperti itu!” “Memangnya kenapa?” tanya Marsha lagi. Masih dengan sikap tidak ada akhlaknya. “Marsha! Kau bisa diam kan?” tanya Grace dengan tatapan sinisnya. “Ya, bisa.” “Kalau begitu, cepat diam!” Setelah ia merasa puas dengan keadaannya pada Grace, Marsha berpikir kembali. Apa mungkin dia bisa mengatakan ini pada sahabatnya sekarang? Tapi kalau dia tidak berbicara sekarang, dan dia mendengarnya langsung dari Mr. Kevin, apa itu lebih baik? “Kalau ingin mengatakan apa?” tanya Grace yang sepertinya sudah mulai curiga dengan tingkah Marsha yang tak biasa. “Ada masalah apa?” “Hm... Tidak ada.” “Kau lagi-lagi berbohong!” “Benar! Aku tidak kenapa-kenapa.” “Kalau begitu, ceritakan apa saja yang sudah kau lewati selama 10 hari ini aku menghilang!” Grace mulai memancing Marsha untuk menceritakan apapun yang terjadi selama 10 hari dia menghilang dan tak pernah menanyakan kabar seseorang Marsha sama sekali. Ditakutkan karena ada mata-mata yang mengintai Marsha sama seperti panti ini yang selalu dijaga oleh pasukan dari Edward. “Aku tidak enak mengatakannya.” “Memangnya aku siapa sampai kau merasa tak enak seperti ini?” tanya Grace mendelikkan matanya. “Ya, kurasa ini kejadian yang begitu mengerikan. Dan sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini.” “Apa itu?” tanya Grace menghentikan fokusnya dari buku. Menoleh dan menatap ke arah Marsha yang tertidur terlentang di ranjangnya menatap langit-langit kamar. “Jadi beberapa hari yang lalu, aku pergi ke Sky restaurant. Aku sebenarnya tidak tahu mau apa. Ingin bertemu dengan pria yang selama beberapa minggu ini menjadi objek pembicaraan kita. Bukan kita sih. Tapi aku. Karena aku berpikir, jika bukan karena aku terlalu mencintainya atau aku terlalu jatuh hati padanya, aku tidak memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.” Jeda sejenak. “Dan beberapa hari itu, ternyata aku bertemu dengannya seseorang yang memang sempat kamu katakan padaku.” “Siapa?” “Pacarnya Mr. Kevin.” “Jadi dia punya pacar?” tanya Grace balik tanya. “Loh! Bukankah kau dulu mengatakan jika sudah memiliki pasangan?” Marsha mendengus. “Ah, ya. Lupa. Kupikir aku hanya membuat lelucon saja agar kau tak terlalu berharap padanya.” Marsha benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa dia dibohongi oleh sahabatnya sendiri hanya karena dia mencintai bos dari sahabatnya sendiri. Mungkin niat Grace emang benar, tapi tidak ada salahnya kan mencintai seseorang yang diatas kita jauh lebih baik, lebih kaya bahkan lebih dari segalanya. Tak ada yang mampu menandingi apa yang sudah mereka dapatkan. Kevin dan David itu memang kembar. Keduanya memiliki sisi positif yang berbeda. David orangnya perhatian dan Kevin orangnya kalem, tidak banyak bicara, tampan tapi tidak murah senyum seperti David. Setahu Grace, David bolak-balik pergi dari New York dan pulang hanya untuk memastikan restorannya aman sedangkan dirinya tengah menjalani pendidikan di luar negeri. Memang sempat bertemu dengan David cuma tidak ada yang bisa menaklukan hati David sama seperti kakaknya yang sulit untuk bisa ditaklukan oleh orang-orang seperti Marsha dan Grace ini. Mereka berbeda dan mereka tak pernah sama. “Lanjutkan ceritanya,” ujar Grace pada Marsha yang wajahnya sudah kelihatan murung karena tahu jika dia tengah dibohongi selama ini. “Malas.” “Ya, Maaf, Sha! Kupikir dengan cara seperti ini kau akan berhenti mengharapkan seorang bapak Kevin. Tapi sepertinya semakin aku membohongimu semakin kau merasa tertantang dengan bapak Kevin kan?” tanya Grace menggoda temannya ini. “Aku marah padamu!” “Maaf. Aku berjanji takkan mengulanginya lagi.” “Kau ini kenapa harus berbohong seperti ini? Terlihat seperti orang bodoh tahu!” “Memangnya benar kau bertemu dengan pacarnya?” tanya Grace mengalihkan pembicaraan. Marsha mengangguk. “Iya. Kita sempat bertengkar sebentar.” Grace tercengang. Ia begitu kaget ketika mendengar jika mereka sempat bertengkar walau hanya sebentar. Menurut Grace, kenapa harus bertengkar di depan umum? Tidak bisakah mereka bertengkar di tempat yang lebih baik setidaknya tidak dijadikan konsumsi publik.” “Jadi, bagaimana cerita awalnya?” tanya Grace mengabaikan rasa terkejutnya untuk sementara. “Jadi, jam makan siang sudah tiba. Waktu aku ingin mencari tempat duduk dan ketika aku menemukannya, aku menarik kursi dan secara tidak sengaja juga pacarnya Kevin datang dan menarik kursi yang sama denganku. Dia mengatakan jika dia sudah membooking tempat itu tapi di mejanya tidak pernah ada tulisan 'booking' yang dimaksud oleh Desy.” Diam sejenak. “Jadi namanya Desy?” tanya Grace pada Marsha dan dijawab dengan anggukan oleh gadis itu. “Dia beralasan jika dia sudah membookingnya lewat Kevin. Tetapi waktu Kevin datang, Kevin mengatakan jika meja itu untuk umum. Dan akhirnya mereka sedikit cekcok sebelum pada akhirnya Desi menuduh jika Kevin membelaku karena Kevin diduga memiliki perasaan padaku. Jujur, aku memang senang jika itu benar-benar ada. Tapi sayangnya tatapan mata Kevin itu padaku, tak terlihat seperti dia tengah menyukaiku.” “Lalu?” “Dan akhirnya aku memilih untuk pergi saja dari sana. Nafsu makanku tiba-tiba tidak ada atas kejadian ini.” ••• TBC!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN