Sky Restaurant (Mencari Sosok Itu)

1202 Kata
Setelah mereka berada di sana, pengunjung sudah mulai ramai. Mereka masuk ke dalam restoran dan memilih tempat duduk yang jauh dari kerumunan pengunjung. Bagian pojok restoran adalah tempat terbaik untuk mereka menjaga privasi. Beberapa menit mereka duduk di sana, seorang pelayan menghampiri mereka dan menanyakan mereka memesan apa. Amanda memesan semua menu yang menggunakan bahan utama kepiting dan segelas jus strawberry sebagai minumannya. Sedangkan Edward memesan sebuah nasi goreng dan s**u coklat sebagai minumannya. Amanda mulai mengamati setiap sudut restoran ini. Desain yang ada di restoran ini sungguh membuatnya mengingat sosok yang sudah beberapa lama ini tak bisa ia temui. Bukan Amanda yang menjauhinya namun seseorang itu yang berusaha menjauh darinya. Amanda sendiri tidak tahu apa salahnya. Hanya sebuah kejadian dan itu sebuah kesalahpahaman yang membuat mereka menjadi terpisah seperti sekarang. Amanda begitu merindukan sosok itu. Dia adalah pelipur lara Amanda di saat semua orang hanya menginginkan Amanda yang pintar tanpa perlu menerima kekurangannya. Sementara itu, Edward memikirkan tentang Grace yang baru saja pulang dari tempat persembunyiannya. Edward memang tidak tahu di mana selama ini Grace berada. Bahkan anak-anak buah yang di sewa oleh Edward pun tak berhasil menemukan keberadaan gadis itu. Seolah gadis itu tengah bersembunyi dan menolak atas keberadaan Edward di hidupnya. “Permisi, ini makanannya, Tuan.” Beberapa orang pelayan itu mengantarkan makanan pesanannya. Ada beberapa orang bukan hanya 1 orang pelayan yang tadi menanyakan, ‘mau pesan apa?’ Satu, dua bahkan lima orang itu dengan serentak menundukkan kepalanya. Sepertinya beberapa orang pelayan itu mengenali Edward Thomas. Terbukti dengan mereka yang tak berani menatap lekat mata Edward ketika tak sengaja mata mereka bertemu. Mereka langsung menundukkan kepalanya dan tersenyum dengan sungkan. “Ada yang bisa saya bantu lagi?” tawar salah satu orang yang ada di sana. Amanda menjawabnya dengan ucapan, “tidak, terima kasih atas tawarannya.” “By the way, tempat ini bagus ya?” komentar Amanda ketika mereka tengah sibuk memakan makanan yang mereka pesan tadi. Tapi sayangnya, selama 30 menit mereka ada di sana, Amanda tak kunjung menemui sosok yang ia ingin temui selama ini. Selama mereka berpisah dan selama sosok itu menghilang di hidupnya. Rasanya ini hanya mimpi. Ketika sosok yang sejak awal menjadi penyemangat hidupnya, sudah menghilang dari hidupnya. Seolah sosok itu membenci dirinya sama seperti mereka yang membenci kekurangannya. Selama beberapa tahun ini, Amanda hanya mengakui bahwa sosok yang paling baik dari yang terbaik sepanjang jalan hidupnya adalah dia dan tentu saja Edward Thomas. Bukan. Bukan seolah Amanda tidak memiliki siapa-siapa. Tapi jika dibandingkan dengan orang terdekatnya sekalipun, mereka kalah posisi dengan Edward dan dia. Dia itu begitu spesial bagi Amanda. Tidak ada yang bisa menandingi keistimewaan dirinya. Bahkan sosok di masa lalu Amanda pun, dia tetap adalah pemenangnya. Dia seorang pria, berwajah tampan, baik hati dan dia adalah sosok terbaik. Tapi sayangnya, semua hancur tiba-tiba. Hanya sebuah kesalahpahaman yang menghancurkan semua impian Amanda dengannya. Butuh waktu untuk Amanda bisa berdiri layaknya dia sendirian. Dia memang memiliki keluarga tapi hanya dengan sosok itu Amanda merasakan apa itu pentingnya keluarga. Kasih sayang yang dia berikan mampu membuat Amanda merasa bahwa dia istimewa. “Kau lihat apa?” tanya Edward ketika melihat Amanda yang menoleh ke sana kemari seolah tengah mencari seseorang. “Kau tahu siapa yang memiliki restoran ini?” tanya Edward lagi. Amanda menggeleng. “Tidak.” “Lalu kenapa kau tahu soal restoran ini?” tanya Edward seolah masih tak percaya dengan jawaban yang Amanda berikan. “Aku tahu dari internet. Kebetulan ulasannya bagus-bagus jadi kupikir tak ada salahnya kan kita coba ke sini?” ujar Amanda. “Lalu kau sendiri pernah ke sini sebelumnya?” Edward menggeleng. “Aku memang tahu tempat ini. Tapi, aku tidak pernah ke sini sama sekali. Karena ada satu hal yang membuatku enggan untuk ke sini.” “Jadi, kenapa kau bisa tahu soal jalan dan tempat ini? Padahal aku belum mengatakan tempatnya di mana dan kau dengan lancarnya mengarahkan mobilmu ke sini dan itu tepat.” “Aku sempat melewatinya beberapa kali. Dan banyak partner kerjaku memberikan reviewnya tentang restoran ini. Jadi aku sudah tidak asing lagi dengan tempat ini.” “Iya kau benar. Hampir semua teman-temanku yang ada di sini, merekomendasikan tempat ini sebagai tempat yang paling terbaik yang dimiliki oleh New York. Dan sekarang, aku mengajakmu kesini hanya karena aku tidak mau datang ke sini sendirian.” Sebenarnya tidak. Kan itu alasan utamanya Edward! Anda ingin sekali mengatakan tentang seseorang itu pada Edward. Tapi karena dia tahu, Edward akan marah dan merasa Amanda adalah orang yang paling disakiti oleh seseorang itu, lebih baik jangan. Karena dia tidak mau dua orang yang begitu berarti hidup Amanda bertengkar hanya karena dirinya saja. “Man?” panggil Edward. “Kau tak apa?” Amanda menggeleng. “Aku tak apa-apa.” “Kau ada masalah atau kau memang sedang menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Edward curiga. “Aku tak apa-apa. Aku baik kita lanjutkan saja makannya.” “Oke, fine.” Mereka melanjutkan acara makan mereka setelah beberapa perdebatan terjadi hingga tibalah saatnya mereka harus kembali. Edward dengan urusan soal Grace yang belum kelar dan Amanda yang akan mencari cara agar dia tahu di mana orang yang ia kenal sekaligus pemilik restoran ini berada. Karena sepanjang mereka makan di sini, tak ada satupun orang yang mengatakan siapa yang memegang restoran ini. Dan yang dia tahu adalah Restoran ini milik orang itu. Ah, dia harus mencari tahunya sendiri tanpa harus Edward yang lebih tahu dulu. “Kita pulang yuk!” Edward mengangguk. Kemudian setelah Edward mengeluarkan kartu kreditnya, mereka keluar dari sana. Sebenarnya dia belum puas karena dia belum menemukan penunjuk apa-apa dengan makan siang di sini. Edward sebelum menjalankan mobilnya sempat memberikan pesan pada Aiden tentang rencana mereka selanjutnya. Barulah setelah itu, Edward mengantarkan Amanda pulang. “Rumahmu di tempat yang sama kan?” tanya Edward pada Amanda. Amanda kaget. Edward belum tahu kalau untuk sementara waktu dia tinggal di rumah sepupunya bukan di rumah tempatnya dia dibesarkan oleh kedua orang tuanya sebelum pada akhirnya mereka berpisah. “Ah, kau antarkan saja aku ke kantormu. Kebetulan taksi yang menjadi langgananku sudah menunggu di sana.” “Kau batalkan saja itu.” “Mana bisa seperti itu?!” ujarnya. “Ini tidak semudah kau yang menjadi bos perusahaan taksi itu.” “Aku bahkan bisa membeli saham di sana jika kau mau.” “Dan aku tidak mau itu.” “Jika begitu, katakan. Di mana kau tinggal.” Amanda sebenarnya tidak mau memberi tahu ini pada Edward secepat ini. Tapi, jika dia terus-menerus menolaknya, Amanda juga kasihan pada Edward. “Numpang.” “Ha? Apa?” tanya Edward kaget. “Apa aku salah dengar?” “Sayangnya tidak.” “Bagaimana bisa kau numpang? Katakan padaku! Di mana kau menumpang tinggal?!” desak Edward membuat Amanda melirik sinis ke arah pria itu. “Sepupu.” “Ah, malu! Orang kaya, punya sahabat sultan. Masa kau numpang di rumah sepupu yang tempatnya sempit dan tak seberapa itu?” desis Edward mencela Amanda. “Kau menyelaku?” sinis Amanda. “Dengar ya, Edward Thomas! Aku tidak bangga memiliki harta berlimpah jika sombong sepertimu.” Edward terkekeh. “Oke, baiklah. Untuk sementara waktu, bagaimana kalau kau tinggal di mansionku bersama Mommy dan Daddy?” ••• TBC!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN