Kepulangan Grace

1103 Kata
Grace sudah lebih baik sekarang. Dia lebih bisa menerima apa yang akan terjadi besok atau lusa yang akan terjadi padanya. Jika memang Edward menyuruhnya pergi dari Panti, ia akan ikut jika pun itu tak bisa dia hindari. Dia takut jika dia terus menerus menolak, ini akan berdampak pada adik-adiknya yang lain. Meski tak semua akan kena imbas, setidaknya Grace tidak memberikan beban untuk yang lain. “Yakin mau pulang? Kamu di sini beberapa hari lagi tidak masalah kok.” Lia terlihat tidak tega dengan Grace. Meskipun yang menjadi ancaman adik-adik pantinya yang lain, tapi Lia juga merasa kasihan pada Grace yang terasa tertekan. Dia memang salah jalan dari awal, tapi bukankah jika salah masih bisa di perbaiki? Grace tersenyum. “Sudah lama Ibu khawatir sama Grace. Takutnya Ibu malah membohongi Grace bilangnya baik-baik saja tapi nyatanya mereka tertekan.” “Ibu kan bisa jaga diri sama adik-adik. Kamu sama siapa kalau merasa terancam?” tanya Lia lagi. “Lebih baik jangan dulu ya!” “Kak—“ “Dik, jangan ya!” “Kak... I’m fine.” “Iya kamu bilang, you’re fine. Tapi kan bisa saja kamu bohong.” “Aku baik-baik saja, Kak.” Grace pamit pergi setelah taksi yang dia pesan sudah sampai di depan rumah Lia. Sebelum Grace pergi, ia memeluk erat adiknya itu. Di panti Lia tahu sudah ada Nova yang menunggunya. Yang selama seminggu ini tak bisa dengan leluasa menelfon anak asuhnya sendiri. Perjalanan dari rumah Lia ke Panti hanya satu jam perjalanan dan kini mobil yang dia pakai sudah berada di pekarangan rumah panti. Terlihat juga di luar, Grace bertemu dengan Aiden serta beberapa anak buahnya berjaga-jaga di luar panti. Dengan cepat, gadis itu langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rumah dengan cepat sebelum Aiden menggapainya dan menyeretnya ke Edward. “NONA BUKA PINTUNYA!” Aiden mengetuk-ngetuk pintu yang baru saja dikunci oleh Grace namun Grace tetap diam saja dan tak memberikan celah untuk Aiden bertemu dengannya. “Nona buka! Atau kami akan panggil tuan Edward ke sini!” “Silakan kalau kau berani dan jangan pernah berharap saya akan ikut dengan kalian,” sahut Grace dari dalam membuat Nova kaget dan langsung keluar kamar. “Grace? Sudah pulang Nak?” tanya Nova memegang kedua pipi Grace serta air matanya yang sudah merembes keluar. “Ibu?” Grace langsung memeluk ibunya dan menumpahkan rasa sakitnya dalam tangisannya di dalam pelukan sang Ibu. “Grace nggak kuat kalau harus pergi dari sini.” “Apa maksudmu?” tanya Nova baik-baik. “Apa yang kau sembunyikan dari Ibu?” Grace menggeleng. Dia ingin mengatakan jika dirinya pernah menyetujui jika ia ingin bekerja di Thomas Corp namun semuanya ia urungkan sejak kemarin karena dia tahu Ibunya pasti marah. “Apa yang ibu tidak tahu dan kakak-kakakmu tahu?” tanya Nova lagi. “Kamu tega sama ibu?” “Bu, bukan seperti itu.” “Lalu seperti apa? Apa yang kamu lakukan?” tanya Nova lagi. “Apa yang membuat mereka mencarimu dalam seminggu ini?” “Apa yang ibu tidak tahu?” Diam. “Apa yang ibu tidak tahu, Grace? Apa kamu tega ibu memikirkan keadaanmu selama ini tiba-tiba orang-orang itu merebut semua ketentraman hidup panti di sini? Apa kamu tega adik-adikmu yang lain ketakutan?” Grace menggeleng. Air matanya tetap luruh dan isakan tangis itulah yang mengiringi keheningan mereka berdua setelah Nova merasa lelah mendesak anaknya untuk jujur. “Apa yang akan kau lakukan sekarang? Ikut mereka?” tanya Nova setelah sekitar sepuluh menit tak ada pembicaraan lagi. “Apa kau mau meninggalkan ibu?” ••• Aiden: Nona sudah kembali ke panti. Membaca pesan itu mampu membuat Edward yang tengah sibuk dengan berkas-berkasnya membelalakkan mata. Senyum yang selama satu minggu ini hampir tak terlukiskan di bibirnya mendadak muncul ke permukaan. Dengan cepat, ia memberikan balasan pada Aiden lalu ia dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya setelah ini ia akan pergi ke panti. “Edward? Aku boleh masuk?” Amanda berdiri di depan pintu dengan tatapan yang begitu sopan. Meskipun mereka berteman, Amanda memang memiliki atitude yang tinggi saat menjadi tamu. Tidak seperti yang lainnya. Yang seolah jika berteman boleh melakukan apapun tanpa persetujuan. “Masuk saja.” Amanda masuk dan duduk di depan Edward. Kursi yang biasa di duduki oleh client. “Ada apa?” tanya Edward masih sibuk dengan pekerjaannya. “Kau sedang sibuk?” tanya Amanda dengan sopan. “Bisakah kita makan siang di luar? Kebetulan aku tidak memasak hari ini. Bagaimana jika kita ke restoran Sky Restaurant?” Edward ingin mengatakan tidak pada Amanda karena dia harus buru-buru untuk pergi ke panti dan bertemu dengan Grace. Namun mendengar nama restoran yang disebutkan oleh Amanda membuatnya kembali berpikir ulang. Dia ingin tahu alasan managernya menolak permintaan resign Grace waktu itu. “Boleh.” Amanda tersenyum. Akhirnya, sebentar lagi dia akan bertemu dengan seseorang itu. Seseorang yang menjadi alasannya untuk pulang ke negara ini lagi sebelum ia menyelesaikan semua tugas-tugasnya yang lain. “Oke, kau selesaikan dulu ini nanti kita ke sana jam dua belas tiga puluh menit saja.” Edward mengangguk. Jika hari ini dia bisa bertemu dengan pemilik restoran itu, sudah dipastikan jika mereka akan ribut besar kalau sampai pemiliknya masih menyuruh Grace harus menjadi waiters di sini. Edward tidak pernah suka menjadikan orang yang dia sayang harus bekerja lebih keras bahkan sampai merendahkan harga dirinya. Setelah menyelesaikan semua yang dia harus kerjakan hari ini, Edward akhirnya turun ke lobi dan menemui Amanda yang ternyata sudah menyuruh bodyguard di lantai bawah itu mengambilkan mobil milik Edward. “Tumben ada inisiatif menyuruh mengambilkan mobilku tanpa aku suruh,” komentar Edward pada Amanda. ‘Karena di Sky Restaurant adalah keinginanku akan tercapai’ “Tidak apa. Karena kita sudah terlambat dan kita tak jadi makan.” “Ah, kau benar juga.” Mereka akhirnya masuk mobil dan Edward menyuruh beberapa pengawalnya untuk ikut serta. Dia tahu jika Amanda ada padanya, ini bahkan akan terjadi apa-apa pada gadisnya itu. Dia takut jika gadis itu dalam berbahaya jika bersamanya. Karena Edward adalah orang berbahaya maka di sekitar Edward akan merasa bahaya juga. He’s a dangerous person. “Man? Katakan padaku, apa yang kau lakukan ke sana? Kau tak pernah suka kepiting dan di Sky Restaurant setahuku dominan makanannya itu kepiting.” “Ah, kata siapa aku tidak suka kepiting?” tanya Amanda mengelak. “Justru sejak aku di luar, aku menjadi suka menu itu.” “Sejak kapan?” tanya Edward. Matanya masih sibuk ke arah depan sesekali melirik ke arah Amanda walaupun hanya sekilas. Sejak dia ada. “Aku tidak tahu pastinya. Yang jelas, seseorang sudah membuatku merubah segalanya.” ••• To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN