Marsha berjalan ke arah bangunan yang dijadikan restoran bernuansa american classic dan dirancang dengan begitu estetik setiap pojok dengan lampu temaram yang begitu mewah.
Hari ini dia berniat untuk memberikan informasi paa Kevin soal Grace yang selama satu minggu ini tak memunculkan batang hidungnya.
Baru saja ia masuk, matanya sudah disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya kelilipan karena polusi mata ini.
“Itu ceweknya?” tanya Marsha pada dirinya sendiri.
“Cukup cantik. Tapi...,” ujar Marsha menggantungkan ucapannya. “Kalau dibandingkan sama aku, ya tetap. Aku adalah pemenangnya.”
Terlihat di sana, wanita itu bergelayut manja di lengan Kevin. Namun anehnya, Kevin hanya membalasnya dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
“Tapi kenapa Mr. Kevin seperti tidak mau dan tak nyaman?” tanyanya lagi dalam hati.
Marsha enggan untuk masuk ke dalam dan memilih menunggu wanita itu keluar dari sana baru dia masuk ke dalam dan menemui Kevin.
Walaupun di luar panas, akan lebih panas lagi kalau dia masuk. Dia itu tidak suka orang yang dia suka bahagia saat dirinya ada di sana. Biarkan saja dia bahagia tapi jangan sampai dia tahu karena itu membuatnya tidak ingin menolehnya lagi dan hatinya akan terasa sakit.
Marsha akhirnya pergi membeli minum di pinggir jalan ini. Tak peduli panas, dia sudah terasa haus. Niat awalnya dia ingin beli minum di dalam yang enak dan segar itu. Tapi kalau pemandangan di dalam seperti tadi, bukannya adem malah makin panas dan minuman sesegar apapun tetap saja terasa panas di tenggorokan dan hatinya.
Cukup lama dia di luar, duduk di bawah pohon yang rindang ini. Wanita itu tak terlihat akan meninggalkan tempat ini. Ah, apakah perjuangannya akan sia-sia sama seperti dulu?
“Perempuan itu kenapa belum keluar-keluar ya?” tanya Marsha pada dirinya sendiri. “Apa sampai malam mereka di sana? Dan aku? Apa iya aku tunggu di sini sampai dia benar-benar pulang? Apa aku pulang saja?”
Marsha mulai bertanya-tanya soal ini. Tapi sudah sayang sekali. Tiga jam menunggu di sini kenapa harus pulang? Kalau tahu begini harusnya Marsha pulang sejak tadi kan?
Marsha menatap restoran itu lagi. Kali ini sudah banyak pengunjung yang datang karena jam segini sudah memasuki jam makan siang. Tapi, wanita itu belum keluar-keluar juga. Apakah memang perempuan itu mau jadi pelayan juga di sini?
“Apa aku masuk saja?” tanya Marsha lagi. “Soal nanti ada orang itu, aku bisa berhadapan dengannya langsung.”
Tanpa berpikir panjang lagi, gadis itu akhirnya pergi memasuki restoran yang sudah ramai pengunjung menikmati lunch hari ini.
Dengan cepat, mata Marsha menjelajah ke setiap sudut mencari tempat duduk.
Dan... Dia akhirnya menemukannya. Tempat yang berada pada pojok ruangan dan terlihat tertutup.
Marsha menghampiri tempat itu dan menarik kursi di sana namun sebuah tangan dengan bersamaan menarik kursi yang sama. Marsha mendongakkan kepalanya dan benar saja. Perempuan itu ternyata yang menghancurkan moodnya hari ini.
Pertama, saat tangannya bersentuhan dengan lengan Kevin. Kedua, perempuan ini juga yang menghilangkan mood makannya hari ini.
Mau dia apa?
“Saya lebih dulu di sini. Sorry,” ujar Marsha membuat wanita itu menatap ke arah Marsha dengan tatapan tajamnya.
“Ini tempat saya. Tempat ini adalah milik saya dan saya bayar di sini.”
“Saya juga bayar. Lagi pula, jika tempat duduk ini di booking, harusnya ada tulisan jika meja ini sudah di pesan. Dan sekarang lihat. Di sini tidak ada tulisan apa-apa.”
Wanita itu akhirnya berubah gelagapan. “Tapi, tapi saya sudah di sini sejak tadi.”
“Dan saya lihat sejak tadi kursi ini kosong dan masih bersih. Anda tidak usah berbohong.”
“Iya memang. Itu karena saya sedang ke ruangan pacar saya dan saya membooking tempat ini pada pacar saya.”
Mendengar hal itu mata Marsha sedikit memanas. Dia pikir dugaannya akan salah dan yang diberi informasi oleh Grace adalah salah namun kenyataannya memang benar. Marsha benar-benar merasa perasaannya tak akan bisa dibalas jika sudah ada hati yang perlu Kevin jaga untuk saat ini.
Marsha mencoba menepis pemikiran-pemikiran aneh yang disebabkan dirinya terlihat lemah di mata perempuan ini. Dia tidak mau terlihat lemah dan perempuan ini bisa seenaknya padanya. Dia tidak akan mau.
Marsha mendongakkan kepalanya tersenyum ke arah wanita ini dan menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. “Oh ya? Kalau begitu, coba katakan pada pacarmu, aku akan memberikan uang yang lebih banyak dari pada apa yang kau bayar untuk satu tempat duduk ini. Dan tolong katakan juga, memilih mood pacarnya atau mau merajakan pelanggannya?”
“Oh. Kau mau bertemu dengan pacar saya? Atau memang kau sengaja mengatakan ini agar kau bertemu dengan pacar saya?” tuduh perempuan ini.
Marsha tersenyum. “Pacarmu kan manager atau mungkin pemilik tempat makan ini. Wajar kan jika seorang pelanggan meminta tolong untuk merajakan pelanggannya di sini? Pelanggan ingin tempat yang tenang dan nyaman kan Nona?”
“Tapi itu namanya kau—“
“Desy? Ada apa ini?” tanya seseorang dari arah belakang membuat keduanya yang sama-sama tak ingin mengalah hingga menjadi bahan tontonan para pengunjung saat ini.
Marsha melirik ke arah sekitar. Ah iya. Dia lupa jika ini tempat umum. Tapi, ini sudah terlanjur. Wanita ini perlu dibuat malu di depan pacarnya sendiri.
“Kevin.” Wanita itu terlihat memekik kaget.
“Aku menyuruhmu untuk pulang. Kenapa kau masih di sini dan bertengkar dengan pelangganku?” Pertanyaan dari Kevin mampu membuat wanita bernama Desy ini bungkam untuk beberapa saat.
“Ah, ini pacarnya? Atau wanita yang hanya mengaku-ngaku sebagai pacar?” tanya Marsha menyanggah pembelaan yang ingin diutarakan oleh Desy.
“Diam kamu!” desis Desy melirik tajam ke arah Marsha lalu kembali menatap lembut penuh takut ke arah Kevin.
“Ini ... Aku mau makan di sini. Aku mau ambil tempat ini ternyata dia menyela dan lebih dulu duduk di tempatku. Padahal tempat yang lain banyak.”
“Ah, sorry! Justru aku yang lebih dulu di sini. Kenapa kau memutarbalikkan fakta?” tanya Marsha masih dengan santainya. “Saya pelanggan dan harusnya jika kau mau tempat ini, sudah sejak awal. Jangan sampai ketika pelanggan itu ingin di sini dan dicela seperti ini.”
Kevin terlihat tengah meliriknya sekilas. Mungkin laki-laki itu sempat mengingat wajahnya. Namun pria itu tak menegurnya sama sekali.
“Desy? Meja lain masih banyak. Kenapa kau tak mengalah saja untuk kali ini?” usul Kevin menatap datar ke arah wanita yang kini memakai mini dress warna biru ini.
“No. Aku mau di sini. Kenapa kau juga tidak membelaku? Aku tidak akan bisa makan jika tempat duduk saja tidak aku suka.”
“Kalau begitu, kau bisa makan di luar. Restoran lain banyak. Bukankah kau biasa makan di tempat lain? Kenapa semakin merumitkan perihal tempat makan saja?” tanya Kevin tak habis pikir.
“Aku tak mempermasalahkan dia di sini. Moodku sedang baik di tempat ini. Kenapa kau tak menerima ini? Aku juga bisa beli dengan harga yang mahal.”
“Ini bukan soal harga.”
“Terus apa?” tanya Desy. “Tentang gadis itu yang membuatmu bisa menyalahkan aku di tempat ini?”
Sungguh. Ini terlalu berlebihan dan terlalu drama. Soal tempat makan saja wanita ini seolah-olah merasa tersakiti apalagi nanti soal rumah yang menurutnya tidak nyaman? Apa perempuan ini akan berguling-guling di tanah?
“Kita bahkan tidak pernah kenal. Kenapa kau menyalahkan pelangganku?”
Ya, kita memang tidak pernah kenal. Bahkan pria ini hanya tahu Marsha hidup baru-baru ini. Lalu apa salahnya? Semuanya memang benar.
“Sejak kapan dia menjadi pelangganmu? Kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya? Apakah kau sengaja mengatakan ini agar aku pulang dan tidak ada di sini? Atau memang kau memiliki perasaan padanya?” tanya Desy penuh drama.
Sungguh. Marsha benar-benar muak dengan drama ini.
Hanya karena meja makan ini, semua seolah Marsha yang salah. Padahal niatnya hanya bertemu dengan Kevin untuk menjelaskan alasan Grace tidak masuk beberapa hari ini. Kenapa malah dia s**l bertemu dengan wanita yang penuh drama seperti ini?
Apakah ini sebuah karma atau memang sebuah cobaan?
“Sejak...”
“Kenapa semuanya menjadi drama? Kita hanya berdebat tentang meja makan ini. Kenapa kau menjadi menyudutkan aku yang tak tahu kau ini siapa dan kita saja baru bertemu kali ini. Harusnya jika kau pacar yang baik, jaga image dan jaga nama baik pacarmu. Bukan malah seperti orang yang merasa paling tersakiti. Memangnya jika pacarmu membela seorang pelanggan itu hal yang salah? Lalu yang benar apa? Kau ini tidak bisa berkaca? Pelanggan itu raja. Wajar saja jika pemilik harus rendah hati mengalah daripada nama baik dan restoran ini tercoreng. Jangan bersikap kekanakan. Usia kita sudah dewasa harus introspeksi diri.”
Marsha menatap ke arah Kevin. “Saya ke sini hanya ingin menyampaikan pesan dari salah satu karyawan Sir saja. Berhubung suasana saat ini belum kondusif, saya pikir kita akan berbicara lagi beberapa hari lagi setelah suasana ini mulai tenang.”
Lalu setelah ini, Marsha keluar dari restoran disertai tatapan kagum dan salut oleh para pelanggan restoran siang ini.
Kevin menatap ke arah di mana perginya Marsha. gadis itu memang hanya perlu sesuatu. Tapi karena sikap Desy yang terlalu kekanakan membuat semuanya terasa rumit layaknya benang yang sudah kusut.
"Sudah puas membuat heboh siang ini di tempat kerjaku?"
•••
To Be continued