Setelah Seminggu Grace Menghilang

1105 Kata
Sudah seminggu dari kejadian itu, Grace benar-benar tak bisa dihubungi seolah gadis itu benar-benar menghilang. Hampir setiap hari itu juga Edwar mencari keberadaan Grace ke panti. Sedangkan orang-orang panti itu sendiri, tidak ada yang tahu kecuali Ibu Nova yang sengaja tak memberi tahu keberadaan anak gadis yang selama ini sudah menjadi tulang punggung di panti itu. Aiden serta pasukannya terus mencari keberadaan gadis itu yang hilang bak ditelan bumi. Aiden sudah mencari gadis itu ke beberapa temannya. Seperti Marsha atau teman-teman di sosial media berteman dengan Grace. “Tolong kerjasamanya. Katakan pada say di mana Ibu menyembunyikan Nona Grace?!” sentaknya. Aiden seperti sudah kehilangan kesabaran dan selama seminggu ini sudah cukup dibuat untuk memutar otak untuk mengetahui dengan siapa gadis itu tinggal sekarang. “Saya benar-benar tidak tahu anak saya di mana. Dan selama satu minggu ini saya juga tidak bertemu dengan anak saya. Kalian belum puas memberikan trauma pada anak-anak say yang lain? Kelakuan kalian yang bersikap seenaknya seperti ini yang membuat anak saya shock dan trauma.” “Jangan berkilah. Kami tahu anda dan nona Grace bersekongkol untuk menyembunyikan keberadaan Nona dari jangkauan tuan kami.” Nova masih bersikeras untuk tetap mempertahankan drama ini. Bagaimanapun juga, Grace tidak boleh tahu kalau d sini adik-adiknya trauma dengan pengepungan dan drama ini. Grace sudah cukup berkorban dan sekarang waktunya dia yang berkorban. “Kalau begitu, tolong sampaikan pada tuanmu! Jangan jadi pengecut. Cari anak saya sendiri jangan meminta tolong pada orang lain.” ••• “Grace? Kau tak apa?” tanya Marsha ketika mereka tengah melakukan video call berdua. “Aku tak apa. Memangnya ada apa denganku?” tanya Grace memperlihatkan senyum tipisnya ke arah Marsha yang mencebikkan bibirnya. “Apa kau sudah scan catatanmu? Coba kirim padaku!” Marsha menggeleng lalu tersenyum seolah ia tengah meminta permohonan maaf pada Grace. “Belum. Aku sibuk.” Grace mendelik. Seminggu mereka tak bertemu, apa memangnya yang dilakukan oleh gadis itu? Bukankah ia hanya keluar pergi main dan diam di rumah nonton film Korea? “Apa memangnya kesibukanmu?” “Mencari cara bagaimana caraku untuk bertemu dengan Kevin dan dia menjadi pangeran di hatiku.” Grace terlihat berdecak. Sangat aneh bagi Grace jika melihat Marsha, sahabatnya sendiri jadi seseorang yang begitu tergila-gila pada pesona pada Mr. Kevin. “Kau masih waras kan?” tanya Grace lagi. “Jangan bilang obat warasmu sedang habis.” “s**l. Aku ini masih waras dan aku tidak butuh obat apapun untuk hal ini.” “Jadi, kenapa kau bersikap seolah kau tengah—“ “Tengah apa?” tanya Marsha lagi menghembuskan napasnya kasar. “Tengah terobsesi pada orang.” “Ya, kau benar. Aku memang terobsesi dengan cinta Kevin. Memangnya kenapa?” tanya Marsha. “Memangnya salah jika aku mencintai seorang Kevin? Dia baik, mandiri, sukses dan tampan. Ayah pasti tak akan keberatan untuk ini.” “Aku tidak yakin. Ayahmu pasti mencari cela untuk memisahkanmu dengannya. Jangan lupakan jika kau ini sudah ada yang ‘punya’, nona Marsha!” Grace mengingatkan sesuatu itu. Raut wajah sang gadis menjadi murung dan seakan tersadar jika benar juga. Ayahnya beberapa bulan yang lalu memang sempat bilang akan ada seseorang yang datang ingin berkenalan dengan Marsha lebih dekat. Dan Marsha yakini mungkin saja Marsha akan dijodohkan dengannya. Lalu setelah bertemu dengan Kevin, hati Marsha jadi terpecah dua. Dia ingin tahu siapa orang yang akan menjadi calonnya atau dia yang masih terus berharap pada Kevin yang notabenenya memang bukan siapa-siapa di hidup Marsha saat ini. “Kau benar.” Marsha menundukkan kepalanya, menatap ke bawah sebelum pada akhirnya mendongakkan kepalanya lagi dengan semangat yang sama dengan beberapa menit yang lalu. “Tapi selama janur kuning belum melengkung, kenapa kita tidak mencoba?” Grace berdecak kesal. “Terserah kau sajalah.” ••• Lia mengetuk pintu kamar milik gadis itu. Ya, kamar yang selama seminggu ini ditempati oleh adik perempuan remajanya. Dia adalah Grace Nathalie. Gadis itu selalu ada di dalam kamar sepanjang waktu. Selama seminggu ini juga, suaminya tidak pulang karena sedang bekerja di luar kota. Makanya dia tidak masalah jika ada Grace di sini lama. Bahkan Lia bisa memiliki teman jika Grace di sini. Setelah diizinkan masuk, Lia masuk ke dalam kamar itu dengan Grace yang tengah sibuk dengan pekerjaan kuliahnya yang dilakukan secara online. “Kamu lagi apa?” tanya Lia pada adiknya ini. “Mengerjakan tugas.” “Kenapa?” tanya Grace lagi. “Ada yang ingin kakak sampaikan? Apa kakak disuruh suami kakak buat usir Grace dari sini?” Lia berdecak. Gadis ini memang overthinking yang baik. “Kau ini. Kenapa bisa mas-mu itu mengusirmu? Dia orang baik dan dia tidak pernah membenci kakak yang berasal dari panti. Justru karena ada kau, dia bisa lebih lega jika kakak di tinggal hanya bertiga dengan anak-anak di sini.” “Ku pikir dia berubah pikiran.” “Karena Edward? Suami kakak bahkan tak pernah memiliki hubungan kerja sama dengan Thomas Corp selama ini.” “Kok tumben.” “Iya karena suami kakak mau bekerja dan mengembangkan bisnisnya sendiri. Ketika bekerja, kita punya banyak pilihan. Antara mengembangkan bisnis dengan kenaikan yang signifikan atau mengembangkan bisnis dengan melalui proses yang panjang.” “Dan—grace mau berproses.” “Bagaimana kalau kau bikin usaha saja?” usul Lia pada Grace dan dijawab dengan senyuman serta mata yang berbinar. “Ide bagus.” “Lebih bagus lagi kau ajak Kakak-kakak yang lain.” “Tapi, usaha apa yang sangat cocok untuk kita sedangkan kita saja berbeda rumah bahkan berjauhan.” “Kita pikirkan saja nanti.” ••• “Apa ada kabar dengan keberadaan Grace?” tanya Rey. Edward dalam seminggu ini terlihat lebih menyendiri dan tak mau berbaur bahkan turun langsung ke dalam proyek. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu tapi Rey yakin semua ini masih berkaitan dengan hilangnya Grace. “Belum.” “Anak buahmu payah.” Edward melirik tajam ke arah Rey. “Kalau begitu, cari Grace dengan anak buah Daddy saja jika anak buahku menurut Daddy dianggap payah.” Tapi ada benarnya juga. Memang anak buahnya terlihat begitu payah. Sudah diberikan waktu tapi selama seminggu ini tak ada satupun titik terang yang ditemui oleh mereka. Semuanya nihil dan tak ada perubahan. “Jika Daddy mau, aku bisa saja sejak satu minggu lalu mengerahkan seluruh pasukan Daddy. Tapi sayangnya, Daddy tidak mau. Daddy mau, kau yang berjuang lebih keras lagi. Bukan hanya sekedar modal menyuruh anak buah yang kerjaannya tak bisa profesional.” “Tapi sayangnya, semua fasilitas yang Daddy berikan tak membuat kau lebih pintar mencari pasukan. Apa perlu Daddy turun tangan menyeleksi pengawal-pengawalmu juga?” ••• To Be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN