Brak.
Edward menggebrak meja kerjanya. Bukan, ini bukan rumah milik Thomas namun ini tempat di mana Edward mengumpulkan beberapa pengawalnya di sini untuk berdiskusi atau rapat.
“Maaf, Tuan. Nona Grace seperti tahu kami mengepungnya di panti dan akhirnya Nona Grace balik arah dan naik angkutan umum taksi. Sampai saat ini, nona Grace sedang dalam pencarian pasukan saya.”
Edward yang sudah tak tahu harus apa, hanya diam saja. Memikirkan bagaimana caranya dia menemukan Grace, mengatakan pada mommynya tentang ini juga tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Ah, apakah ia harus bersikap kasar pada Grace agar dia mengerti jika dia tak begitu berbahaya jika dia mau menuruti keinginannya?
“Aku tidak mau kegagalan hari ini membuat kau dan pasukanmu yang lain lengah. Kuanggap, kegagalan hari ini adalah simulasi agar kau bisa lebih profesional menerima perintah dari saya!”
Edward menyadari jika dia juga masih butuh Aiden dan pasukannya untuk mengurus dan memantau Grace di sini saat dia harus bersikap profesional pada pekerjaannya.
“Maafkan kami tuan. Kami berjanji akan melakukan hal semaksimal mungkin untuk ini. Kami menyadari semua ini kesalahan kami.”
Aiden menundukkan kepalanya. Ia benar-benar takut jika Edward sudah kehilangan kesabaran membuat Edward bersikap lebih berbahaya dari pada ini.
Pada kenyataannya, kekuatannya belum seberapa dengan Edward yang memiliki banyak akses di mana-mana yang dapat membunuhnya kapan saja.
Aiden merasa, masalah ini adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan selama pengabdiannya pada keluarga Thomas.
“Sekali lagi kau membuat kesalahan seperti ini, akan kuhabisi kau dan pasukan-pasukanmu satu per satu,” lirih Edward dengan nada rendahnya. “Sekarang lakukan apa yang ku mau dan aku tidak mau lagi mendengar kegagalan darimu.”
•••
Ketika melihat Edward keluar dari salah satu gedung yang terlihat sepi dan hampir tak melihat rumah di sekitarnya, Amanda mulai merasakan merinding di sekujur tubuhnya. Kenapa bisa Edward berada di tempat seseram ini? Apakah dia tidak bisa menyewa lahan atau membangun lahan yang lebih baik daripada ini?
Mobil Edward keluar dari pekarangan itu dan disusul oleh beberapa mobil di belakang mobil pemuda itu.
Kalau bukan karena dia penasaran, dia juga tidak mau melakukan hal seperti ini. Ini terlalu ekstrim baginya yang terlahir menjadi seorang perempuan.
“Sir, tolong ikuti mobil di depan itu ya! Jangan sampai kita kehilangan jejaknya.”
Sopir taksi itu mengangguk tanpa bersuara.
Sepanjang perjalanan, Amanda terlihat menghembuskan napas kasarnya. Ya, dia seolah tengah menantang adrenalinnya. Malam-malam seperti sekarang, dia harus pergi mengikuti seseorang yang otaknya tak pernah di pakai kalau bersikap apa-apa. Ah, seorang Edward memangnya pernah bersikap selayaknya dia akan baik-baik kalau tidak nurut pada perintah orang tua.
Setelah makan malam yang dianggap gagal oleh kedua orang tua Edward itu, kemudian pria berusia dua puluh tujuh tahun itu langsung pergi dan tak lama dari sana Amanda juga pamit pulang karena beralibi taksi sudah menunggunya di depan.
Mobil Edward sekarang memasuki tol dan masih berlanjut ke arah perumahan kota New York. Sialnya, Amanda tidak tahu tempat apa ini dan siapa yang akan di temui oleh Edward di sini.
“Mau ke mana dia?”
•••
Waktu Grace baru saja turun dari taksi yang membawanya pergi dari rumah Marsha tiga puluh menit yang lalu kini sudah sampai di dekat panti tempatnya ia tinggal.
Namun, baru saja ia keluar nyatanya ada beberapa orang yang berjaga di depan pintu gerbang pantinya dan orang itu terlihat memakai seragam serba hitam dengan pin berwarna putih keemasan yang ia ketahui itu milik Thomas.
Sebelum beberapa orang itu menyadari kehadirannya, cepat-cepat Grace masuk lagi ke dalam taksi dan meminta si sopir itu untuk membawanya pergi dari sana.
Sial. Kenyataannya, Edward benar-benar tidak bisa kalau apa yang dia inginkan tak sesuai dengan apa yang terjadi. Semua dia lakukan seolah dia adalah orang yang paling berkuasa di sini.
Edward ternyata tak main-main.
Grace tak tahu harus ke mana setelah ini. Dia tidak mau semua orang yang ada di panti menjadi shock akibat ulahnya dan urusannya pada Edward.
“Iya, Bu?”
‘Kamu di mana, Nak? Di luar kenapa banyak pengawal?’
“Ibu jangan keluar ya! Grace janji buat jaga diri. Tapi Grace nggak bisa pulang malam ini.”
‘Kamu mau ke mana memangnya?’
“Grace... Nggak tahu mau ke mana.”
‘Ya Allah...’
“Ibu baik-baik ya di rumah. Jaga adik-adik. Besok kalau Grace benar-benar bisa pulang, Grace pulang kok. Cuma malam ini sepertinya Grace belum bisa pulang.”
‘Hati-hati ya!’
Setelah itu Grace kembali mematikan ponselnya agar dia tak di ketahui siapapun apalagi pengawal-pengawal milik Thomas.
Namun sebelumnya, Grace mengirim pesan pada Marsha jika misal dia belum bisa keluar dari persembunyiannya, untuk jangan sampai bocor jika Grace kabur dari rumah dan tak ada satupun orang yang tahu dia di mana.
“Aku harus pergi ke mana?” lirih Grace. Dia tahu mobilnya tengah diikuti oleh salah satu orang yang sudah menyadari atas kekaburannya dari sana. Dan mungkin kabar ini sudah sampai di telinga Edward.
“Mau ke mana lagi dik?” tanya sopir taksi itu yang ikut kebingungan harus ke mana membawa Grace yang terlihat dari raut wajahnya sangat bingung dan ketakutan.
“Jalan saja, Sir. Nanti kalau saya sudah ada keputusannya saya kasih tahu.”
“Ini sudah setengah jalan, Dik. Lagipula mobil tadi sepertinya sudah tidak mengejar kita.”
Grace menoleh ke belakang. Benar. Ternyata orang itu sudah kehilangan jejaknya. Ah, apakah dia sudah aman?
Tapi... Kenapa bisa? Bukankah mobil yang ia tumpangi tak begitu ngebut? Apa iya sebegitu tak bisa dikejarnya mobilnya?
“Habis ini belok kiri ya!” pinta Grace pada sopir itu dan dijawab dengan anggukan oleh pria paruh baya itu.
Setelah itu, dia meminta untuk berhenti sebentar ke tempat jual pulsa karena Grace berpikir ia untuk sementara waktu akan ganti kartu sembari dia merenungkan semuanya. Dia tidak suka diganggu, maka mungkin dengan cara ini dia bisa menenangkan diri.
Grace memutuskan untuk pergi dan bermalam di rumah salah satu kakak perempuannya yang rumahnya cukup jauh dari rumah panti dan termasuk pedalaman juga.
Sebelumnya ia sudah minta izin pada kakaknya itu dan di izinkan oleh suaminya. Mungkin kalau suaminya adalah mata-mata Thomas pasti Lia sudah bilang jangan ke sini. Tapi berhubung suaminya ini memiliki pekerjaan dan kantor sendiri, buat apa dia menjadi cepu pada Thomas? Yang namanya rezeki sudah ada yang atur. Kita tidak bisa memilih atau apapun itu.
Taksi yang ditumpangi oleh Grace akhirnya berhenti di rumah Lia dan kebetulan juga Lia sudah menunggu kedatangan adiknya ini di teras rumah.
Dengan cepat dan sedikit berlari, Lia menghampiri pagar dan membukakannya untuk adik tersayangnya.
Dua anak Lia tengah bermain di teras rumah karena mengingat malam ini masih menunjukkan jam delapan malam. Belum terlalu larut untuk ia pergi ke sini. Lagi pula, sekitar rumah Lia hanya ada dua rumah saja dan lainnya hanya bangunan usaha, perkantoran dan warung serta supermarket.
“Adik? Kau tak apa-apa?” tanya Lia pada adik perempuannya itu.
Grace menggeleng. “Tidak.”
“Syukurlah jika kau baik-baik saja.”
Lia mengajak Grace masuk dan menunjukkan kamar tempat malam ini Grace tidur. Suami Lia ternyata tak ada di rumah karena sedang ada kerjaan di luar kota.
“Bagaimana ceritanya kau bisa di sini?” tanya Lia. “Ibu pasti sendirian dan mengkhawatirkanmu.”
“Maaf. Tapi aku belum siap untuk pergi dari panti.”
“Apa maksudmu?” tanya Lia mengerutkan keningnya.
“Jadi, dalam perjanjian itu aku harus pergi dari panti dan tinggal di mansion Thomas. Itulah sebabnya aku tidak mau jawab dan tak berani menolak permintaan Thomas. Aku hanya pergi satu hari saja semua pengawal Thomas dikerahkan di sekitar panti apalagi jika aku pergi dan parahnya lagi aku tak mau dengan sikap Edward apa mungkin Edward akan menghukumku dan mengancamku lebih dari ini?”
“Jadi, surat perjanjian itu ada?” tanya Lia pada Grace dan dijawab dengan anggukan oleh perempuan itu.
“Kapan perjanjian itu kau tanda tangani?” tanya Lia.
“Malam di mana hanya ada aku dan Edward di restoran itu.”
“Kenapa kau tak membacanya lebih dulu?” tanya Lia mulai frustasi.
“Aku tidak tahu jika aku dijebak seperti ini. Makanya aku diam saja.”
“Isi dari perjanjian itu yang lain apa?” tanya Lia. “Apa kelangsungan hidup Panti juga terancam?”
“Aku harus tinggal dengan Thomas dan menikah dengan Edward jika suatu saat nanti hal yang tak diinginkan terjadi diantara kami.”
“Apa maksudnya? Apa Edward sebenarnya sudabmh menyukaimu dari lama?” tanya Lia pada Grace.
Grace menggeleng. “I used to think that.”
“Jadi apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” tanya Lia. “Apa yang bisa kakak lakukan?”
“Mungkin beberapa hari ini, aku akan tinggal di sini sebelum aku siap untuk menghadapi Edward yang mungkin beberapa hari ini akan meneror aku dan mengancamku dengan membawa-bawa nama panti dan Ibu. Tapi, aku benar-benar butuh waktu untuk ini.”
“Baiklah. Kakak bantu carikan solusi untukmu dan akan kakak hubungi ibu untuk tidak terlalu mengkhawatirkan dirimu karena kupikir kau akan aman di sini.”
Lia kemudian memeluk erat sang adik untuk memberikan rasa tenang pada adik satu-satunya itu.
•••
TBC