Menghilangnya Grace

1114 Kata
“Jadi, dia tidak ada di sini?” tanya Edward membuka jendela mobilnya sedikit menatap Aiden—pengawal pribadinya serta tangan kanannya selama tiga tahun ini. Aiden menundukkan kepalanya. Kemudian dia menggeleng namun tak berani menatap ke arah Edward yang sudah terlihat marah. Terlihat dari raut wajahnya yang memerah, rahangnya yang mengeras dan lihatlah! Kepalan tangannya yang begitu kuat memukul jok depan mobil itu. “Maaf, Tuan. Anak buah kami juga benar-benar kehilangan jejak Nona Grace sejak ia pulang dari kampusnya. Terakhir kami pantau, mereka ada di kantin tengah makan di kantin lantai dua bersama satu orang temannya.” Edward menolehkan kepalanya ke arah Aiden. “Temannya? Yang mana lagi?!” “Gadis yang bersama nona semalam sejak di restoran.” “Siapa dia?” tanya Edward pada Aiden. “Marsha. Anak pemilik salah satu partner kerja Thomas dulu sebelum tuan menjabat sebagai CEO.” “Siapa nama ayahnya?” tanya Edward. “Cari tahu dia siapa, anaknya di mana dan cari tahu beserta alamat rumahnya. Aku yakin, Grace ada pada gadis itu.” “Baik. Saya akan kerahkan seluruh pengawal untuk mencarinya.” ••• “Amanda, kamu datang dari mana dek?” tanya Diva saat melihat Amanda baru saja masuk ke dalam rumahnya. “Dari kantor Edward.” “Kok cepat sekali?” tanya Diva. Diva sudah memaklumi jika Reno mengizinkan Amanda tinggal di rumahnya untuk beberapa waktu sampai rumahnya benar-benar sudah bisa ditempati akibat di renovasi beberapa ruangan hingga mengganti wallpaper dinding di rumah itu. “Edward ternyata ada meeting makanya dia pergi dulu. Tapi, nanti malam katanya dia menyuruhku bertemu di rumahnya.” “Oh.” “Bang Reno mana kak?” tanya Amanda ketika tak melihat sepupunya itu tak ada di rumah. “Dia masih kerja. Dua jam lagi mungkin sudah pulang. Biasanya hari ini dia tidak ada lembur sama sekali.” Amanda meresponnya dengan anggukan. Sudah biasa jika Reno pergi dan Diva sendiri bersama anaknya yang masih kecil ini di rumah hanya berdua. Namanya Vava, balita berumur tiga tahun itu sedang aktif-aktifnya bermain dan membuat semua mainan yang sengaja di simpan oleh Diva kembali di rusak dan di buat berantakan seisi rumah. “Vava tidur?” tanya Amanda pada Diva yang sibuk merapikan mainan anaknya itu. Diva mengangguk. “Baru saja tidur. Kalau kamu ada di sini, pasti kamu risih karena kerempongan kakak dan Vava yang sering berargumentasi dan tak akan selesai-selesai.” “Tidak masalah. Aku waktu pergi ke panti asuhan dekat kost juga sering main sama anak-anak kecil yang masih seumuran dengan Vava.” “Suka tidak?” tanya Diva. “Kalau kamu itu sudah punya anak, pasti akan merasakan ini juga.” “Ah, aku masih kecil seperti ini mana bisa mengurus anak seperti kakak yang sepertinya sudah jago sekali.” “Ah, ini juga karena pas kecil sering main dengan anak kecil. Maklum dulu kakak juga dari panti asuhan. Makanya adik-adik kakak banyak dan beragam.” Usia Amanda masih dua puluh lima tahun. Memang sudah saatnya bersuami, tapi Amanda ini anaknya suka menjadi orang yang memiliki pendirian sendiri dan tak mau menjadi ekor seseorang. Dia wanita karir, dia tidak suka di rumah jadi pantas jika Amanda untuk umur seperti sekarang masih belum berpikir ke arah sana. “Setelah kuliah, kamu mau di sini apa mau di negara itu?” tanya Diva pada Amanda. “Kamu mau berkarier kan?” Amanda mengangguk. Jika ia ditanya soal ini, jujur saja Amanda bingung. Dia mau menjadi ibu tapi dia juga tidak akan secara mudah melepaskan dirinya sebagai wanita karier hanya karena seorang laki-laki yang berstatus suaminya dan seorang anak yang menjadi buah hatinya. “Sepertinya untuk saat ini aku lebih suka bekerja.” “Wah, bagus sekali. Kamu pasti sukses. Kamu pintar melebihi siapapun makanya aku berpikir jika kau fokus karier pun pasti banyak pria antre karena ingin mendekatimu.” Amanda terlihat terkekeh. Mendengar pujian ini, sungguh membuat Amanda lebih merasa dia semakin ingin meneruskan pendidikannya dan cepat-cepat lulus agar menjadi wanita karier yang sukses seperti Edward. “Kapan-kapan, bolehkah Amanda ikut ke rumah kakak?” ••• “Bagaimana?” tanya Edward setelah melihat Aiden menghadap ke arahnya. “Gagal lagi?” “Salah satu tim saya pergi ke kantor Mr. Nando. Dan meminta alamat rumahnya pada karyawannya tapi gagal. Ternyata Mr. Nando benar-benar menjaga privasinya. Jadi...” “Gagal?” tebak Edward lalu ia terkekeh. “Sudah kutebak. Kau ini memang benar-benar tak bisa kuandalkan!” “Tetapi, tuan. Ada satu informasi yang mungkin saja sedikit membuat Tuan lega.” “Apa itu?” tanya Edward. “Tadi kami juga pergi ke panti dan orang sana mengatakan jika Nona Grace ada di rumah temannya yang bernama Marsha. Sesuai prediksi kami sebelumnya.” “Lalu, kenapa kau tak meminta alamatnya, hah?” tanya Edward melirik ke arah Aiden tajam. “Maaf, Tuan. Kami tidak bisa meminta alamatnya karena mereka bilang tidak tahu soal itu. Jadi, mungkin malam nanti, Nona Grace akan pulang.” “Kalau begitu, tunggu di sana dan ajak dia ke rumah. Jika menolak, kalian yang akan mendapatkan hukumannya.” ••• “Di mana gadismu?” tanya Diandra ketika melihat Edward masuk ke dalam ruangan makan yang sudah dihuni oleh Edward, Rey, Diandra dan Amanda di seberang Edward. “Kapan datang, Man?” tanya Edward mengalihkan pembicaraan. “Makan sana!” “Edward! Jangan mengalihkan pembicaraan!” Edward menatap sinis ke arah Rey yang membuat Amanda berada di tengah-tengah mereka menatap tiga orang itu dengan bingung. “On the way!” “Bohong?” tanya Diandra langsung menatap manik mata Edward yang terlihat gelisah. Biasanya jika Edward tak berbohong atau sedang bahagia, mata Edward terlihat bersinar dan terlihat seperti orang jatuh cinta pada umumnya. Hanya dengan tatapan mata yang berseri. “Nanti Mommy akan tahu.” “Kalau begitu, kita tunggu saja gadismu datang.” Edward membelalakkan bola matanya. Ya, dia menoleh ke arah Rey yang meletakkan alat makannya kembali ke atas piring dan duduk diam. “Kasihan Amanda kalau kita harus menunggu orang.” “Ya, kalau mau makan kita harus bertemu dan berkumpul di sini bersama gadis pilihanmu.” “Tapi ini akan membutuhkan waktu yang lama, Dad!” “Percepat!” “Tapi...” Jadi, seseorang yang dimaksud Edward adalah seseorang yang menjadi pengisi hatinya saat ini? Jadi, Edward sudah memiliki penghuni di hatinya? Tapi kenapa orang di kantor mereka tidak tahu? Apa memang sengaja agar dia tidak sakit hati? Tapi... Karena inilah perasaan sesak itu ada. Amanda merasakan sesak itu. Benar-benar tak bisa ia kendalikan sekalipun. Apakah benar jika Amanda sudah jatuh hati pada teman dekatnya ini? Edward Thomas: Bagaimana? Bisa buat Grace ke sini? Aiden: Nona Grace kabur dari kami. Shit. ••• TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN