Abrar baru saja selesai packing. Tak terasa, lusa ia sudah harus meninggalkan Indonesia. Ia mengehembuskan nafasnya kasar. Sampai sekarang ia masih bertanya-tanya. Sanggup kah ia meninggalkan Alayya? Segala hal yang menyangkut Alayya membuat nya lemah. Entah mengapa rasanya sangat sulit bejauhan dengan gadis mungil itu. Jangan kan berjauhan, sehari saja ia tidak mendengar suara Alayya rasanya seperti ada yang hilang. Menurut nya Alayya mempunyai pesona tersendiri. Pesona itu secara misterius menarik dan membuat Abrar selalu memikirkan nya. Abrar tersadar dari lamunan nya ketika mendengar suara deringan dari ponsel nya. Abrar tersenyum saat melihat nama si pemanggil. "Halo" "Lagi apa?" "Packing" "Ooh. Aku ganggu ya? Yaudah aku mati'in dul-" "Udah selesai. Baru aja" Terdengar

