Mungkinkah rindu ini tak bertuan?
Adakah ia merinduku??
Aku termenung sendiri, pandanganku hampa menatap pintu di ujung ruangan ini.
Memikirkan kembali percakapan dengan dr. Ferry sore tadi, nyatanya semakin membuat hatiku gusar karna pada akhirnya tak menemukan titik terang.
Ku raih Iphone di atas meja lalu membuka kontak number dan mencari nama “Radithya”,
berinisiatif untuk menelfonnya sendiri agar segera menemukan jawaban yang pasti dari berita tentangnya.
“Nutt..Nutt..Nutt.” benar yang di katakan dokter Ferry, telfon Radith memang tidak aktif.
Aku duduk bersandar pada kursi kerja, terdiam, pandanganku belum beralih dari pintu itu,
seperti sedang menantikan kedatangan seseorang, tapi entah siapa. Pikiranku melayang jauh , menembus segala kemungkinan yang akan terjadi. Mengapa seperti ini? sulit sekali rasanya mengecap kebahagiaan.
Baru saja kemarin, aku merasakan suatu kebahgaian yang lama ku nantikan,
namun harus secapat itu ia pergi. Tak hanya luka, kepergianya pun tanpa pesan tapi cuckup memberikan kesan mendalam untuk ku.
“Benarkah semua ini… Radith … Where are you go ??” ucap ku lirih, membayangkan jika semua itu adalah suatu kebenaran yang harus aku hadapi, membuat air mata akhirnya tumpah juga.
Isakan kecil menggema memenuhi ruangan yang pernah menjadi saksi bisu atas kisahnya dengan Radith
Jika ada yang mengatakan aku cengeng, biarkan saja. mungkn dia tidak tau rasanya di tinggalkan tanpa kepastian.
Ah, kepastian... Aku tertawa miris memikirkan itu. Kepastian apa yang hendak Radith berikan,
sedangkan kami tak memiliki kesepakatan apapun. Nanun tetap saja, haruskah ia pergi dari hidupku dengan cara yang mendadak seperti ini. Menyakitkan rasanya.