Hugo sudah memakai kimono hitamnya dan berjalan tertatih sambil memegang perutnya. Terlihat darah segar terus merembes dari kimononya tapi ia hanya menahannya dengan gumpalan kain agar darahnya tidak keluar lagi.
“Hugooo.” Teriak seorang wanita yang baru saja keluar dari rumah dengan cemas. “Kau tidak apa-apa? Lukamu….” Wanita itu mencoba menyentuh luka Hugo namun tangannya ditepis kasar hingga wanita itu terjatuh.
“Akh.. Hugo..” Wanita itu memegang lengannya yang terluka akibat tergores di tanah.
“Nyonya Emily…” Seru Melia iba pada istri sang penguasa yang sudah ditelantarkan begitu lama sejak kehadiran Melia.
Hugo melirik marah pada Emily sebelum memindahkan tatapannya pada Melia.
“Sudah puas bermain, Melia? Kau sudah lelah? Lihatlah kau berkeringat. Apa kau masih ingin berlari? Bukankah jauh lebih baik kau menyimpan energimu untuk melayaniku?” ucap Hugo sambil menyeringai kejam.
“Tidak, Hugo. Ini sudah berakhir. Aku sudah tidak kuat lagi. Kau selalu menyiksaku. Aku mohon lepaskan aku.” Seru Melia memelas.
“Melepaskanmu? Aku terlalu memujamu Melia. Aku tidak mungkin melepasmu. Kau akan terus memuaskan aku selama apapun yang aku mau.”
“Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya lagi, tuan Hugo. Aku akan membawa Melia.” Seru Jack yang segera berdiri di depan Melia dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng.
Hugo hanya tertawa keras melihat sikap sok pahlawan yang ditunjukkan oleh Jack. Sementara Melia hanya bisa terus menegang kuat-kuat tangan pria itu.
Tap tap tap tap
Terdengar suara langkah kaki Constantine yang berlari keluar mengejar Emily. “Nyonya… Hekh..” Constantine menutup mulutnya dengan tangannya saat melihat Melia di sana dan Melia dapat melihat jelas air mata Constantine yang tidak dapat dibendungnya.
Constantine masih mencoba menenangkan bayi Melia yang menangis keras. Sedangkan Emily sudah bangkit dan berusaha menghampiri suaminya lagi lalu memeluk kaki Hugo.
“Hugo, sayang. Tolong hentikan ini. Biar aku mengobati lukamu. Biarkan Melia pergi.” Pinta Emily memelas.
“Kau tidak tau apa-apa, Emily. Sejak bertemu Melia aku sudah kehilangan hasratku pada wanita lain, termasuk KAU. Aku tidak akan pernah melepasnya. Dia akan terus memuaskan aku sampai waktunya ia mati.” Teriak Hugo.
“Hugo jangan.” Emily masih memeluk satu kaki Hugo sambil menangis.
“Nyonya Emily….hiks... maafkan aku. Aku membuat Anda begitu menderita.” Melia merasakan wajahnya sangat panas dan air matanya keluar tanpa henti hingga membasahi kimononya.
“Ayolah Melia kemari. Kembali padaku sayang. Ranjangku sudah menunggu untuk dihangatkan lagi, Melia. Melia aku sangat memujamu kau tau itu. Aku bahkan bisa menyingkirkan semuanya hanya demi kau seorang Melia.”
“Tidak Hugo. Kau psikopat. Kau b******n. Kau bahkan lebih buruk daripada binatang.” Teriak Melia lantang.
Drew yang mendengar itu mendengus marah dan mengacungkan pistolnya ke arah Melia.
Hugo melihatnya dan mengedipkan matanya sekali ke arah Drew. “Tidak apa Drew. Selama itu Melia, ia boleh mengatakan apa saja asal ia kembali padaku.”
“Aku mohon Hugo jangan. Hiks, lepaskan Melia.” Emily terus menarik kaki Hugo dan pria itu menghempaskannya dengan kasar. Membuatnya terpelanting ke tanah untuk yang kedua kalinya. Emily terus merangkak lagi dan memeluk tubuh Hugo hingga tanpa sengaja menekan luka di perutnya. Hugo menghempaskan tubuh Emily lagi dan dengan gelap mata ia menyambar pistol di tangan Drew dan..
Dorrr. Hugo menembaknya satu kali di kepalanya. Hugo tidak pernah meleset.
“Akhh…Nyonya Emily……” teriak Melia histeris. Tubuhnya bergetar dan merinding melihat berapa mudahnya Hugo menghilangkan nyawa istrinya sendiri. Wanita yang sangat mencintainya.
“Nyonya Emily….” Teriak Constantine sambil menangis keras. Constantine terus menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya. Matanya menyipit akibat banyaknya air mata yang menggenang di matanya.
Kepala Emily mendongak akibat tembakan di kepalanya, matanya masih membelalak dan seketika tubuh itu tergolek tak bernyawa.
“Ahhhh.” Teriak Melia sambil menangis. Ia sedikit membungkuk sambil bersandar pada Jack. “Kau psikopat Hugo. Kau lebih rendah dari binatang.”
Hugo terus mendekati Melia dengan tertaih sambil memegang luka di perutnya dengan tangan kiri dan memegang pistol di tangan kanannya.
“Kau lihat Melia? Aku bahkan menyingkirkan istriku sendiri. Itu demi kau. Aku menginginkanmu. Hanya kamu Melia. Kembali kemari.” Teriak Hugo.
“Tidak tuan Hugo. Tidak lagi. Aku tidak akan meninggalkan Melia.” Teriak Jack lantang sambil memeluk erat Melia.
Hugo menampilkan senyuman bengisnya dan mengarahkan pistol ke kepala Jack. “Begitukah? Kalau begitu aku juga harus menyingkirkanmu.”
Dor. Satu tembakan lagi dilesatkan mulus ke kepala Jack.
“Ahhh.. Tidak….” Teriak Melia saat kepala Jack mendongak dan seketika pelukannya melonggar dan tubuh pria itu roboh di hadapannya.
“Jackkkkkk……” Melia menangkap tubuh Jack yang terkulai lemah. Lalu Melia bersimpuh memeluk Jack, menutup matanya yang membelalak. Air matanya meluncur tidak tertahankan saat ia memeluk erat kepala kekasihnya itu di dadanya.
“Ah aku sangat cemburu pada mayat itu. Aku berharap kau juga bisa memelukku seperti itu, Melia sayang.” Hugo masih tertawa tanpa perasaan.
“Semua sudah mati. Istriku dan kekasihmu. Tidak ada halangan lagi untuk kita. Kemarilah Melia.” Hugo kembali maju mendekati Melia.
“Kau psikopat gila, Hugo.” Seru Melia sambil terus memeluk tubuh kaku Jack.
“Ayolah, kau yang menyebabkan semua ini, Melia. Kalau saja kau melakukan tugasmu seperti biasa, Emily dan kekasihmu itu tidak perlu kubunuh. Tapi kau yang membuatku melakukan ini. Kau tau kan aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkanmu kembali.”
“Tidakkk. Kau menyalahkan aku atas tindakanmu yang biadab itu.” Melia menggeleng kuat-kuat.
“Jangan mendekat. Atau aku akan menembakmu.” Melia bangkit berdiri, meraih pistol di sampingnya dan memegang pistol itu dengan kedua tangannya yang gemetar.
“Ah aku belum membuat perhitungan karena kau mencuri pistolku, Melia sayang.”
“Jangan mendekat, Hugo. Aku benar-benar akan menembak, Hugo.” Melia masih memegang pistol itu erat-erat. Sementara tubuhnya bergetar dan air matanya terus mengalir.
“Kau tidak akan melakukannya Melia. Kau tidak akan menembak.” Hugo masih terus maju mendekati Melia sambil sesekali meringis memegang lukanya. Terlihat darah segar berceceran sedikit demi sedikit dari perut Hugo.
Melia agak goyah dari posisinya. Ia mundur perlahan sementara Hugo terus maju mendekatinya.
“Sudah kubilang jangan mendekat, Hugo. Atau akan menembak Hugo. Aku bersumpah akan menembakmu, Hugo.”
“Kau tidak akan menembak, Melia sayang. Hahahah..”
Hugo terlalu menakutkan. Suaranya, auranya, tatapan matanya, semuanya terlalu menakutkan bagi Melia. Ia menyiksa demi kesenangannya dan membunuh tanpa perasaan. Melia sudah tidak tahan lagi, dan Melia sudah memutuskan walaupun harus mati, mereka akan mengakhirinya bersama.
Dor!!!
Dor!!!
Bunyi tembakan dilepaskan sebanyak dua kali menembus d**a sang penguasa.
“Akhhh…” Hugo berteriak saat tubuhnya tertembus timah panas dari pistol yang dipegang Melia. Wanita itu menembaknya dua kali. Tembakan pertama sedikit meleset di dadanya, tapi tembakan kedua tepat mengenai jantung sang penguasa.
Hugo membuka mulutnya dan tubuhnya terhuyung akibat tembakan di dadanya. Perlahan ia jatuh terkapar bersimbah darah sembari meremas dadanya menahan sakit. Ia membelalak menatap Melia dengan marah sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya.
Drew berlari menangkap tubuh Hugo yang mulai lemas lalu pria itu berteriak dengan suara lantang namun Melia tidak bisa mendengar teriakannya, Melia masih terlalu kaget dengan apa yang dilakukannya.
Apa? Apa yang dikatakan Drew?
Melia tidak mendengar, tapi ia hanya bisa merasakan perintah Drew. Karena tiba-tiba puluhan timah panas diberondong ke arah Melia.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Tubuh mungil Melia terguncang berkali-kali akibat tembakan yang bertubi-tubi dari segala arah. Tidak ada suara, tidak ada perlawanan.
Mata Melia masih membelalak ke depan, melihat Constantine yang masih berteriak histeris sambil mendekap erat bayinya. Mulut Melia membuka tapi tidak ada udara yang bisa masuk ke dalamnya. Tubuhnya mendadak lemas. Dan ketika rohnya sudah terlepas dari raganya, tubuh itu pun lunglai dan tergolek di tanah.
“Meliaaaa…..” Constantine menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan menenangkan bayi yang terus menangis di gendongannya.
Sementara seorang pria muda yang saat itu masih berusia 13 tahun menatap nanar. Tak percaya melihat kematian ayah ibunya tepat di depan matanya.
Sambil terus menangis, Constantine menghampiri tuan mudanya dan dengan gemetar ia memeluk serta menutup mata pemuda itu.
Constantine menangis sekeras-kerasnya dan memeluk erat dua anak di pelukannya yang dalam sekejap mata menjadi yatim piatu akibat peristiwa mengerikan itu.
Sementara sang pria muda menepis kasar tangan Constantine. Kilatan tajam di matanya menatap mayat-mayat bergelimpangan di hadapannya. Ia melihat semuanya, tidak ada yang terlewat dari pandangannya. Bagaimana hidupnya dan ibunya menjadi hancur dan tersiksa sejak w************n itu masuk ke kehidupan ayahnya. Dan di sana mereka malah saling bunuh.
Mereka pantas mati, dan pria muda itu berharap mereka akan tetap saling bunuh di neraka. Itu yang pantas mereka dapatkan.
Tatapan pemuda itu beralih menatap ke dalam sepasang mata bayi yang kini sudah terdiam itu. Mata hazelnya menatap tajam dengan ekspresi yang sulit dimengerti. Tidak ada ekspresi iba, tidak pula merajuk. Semakin dalam ia menatap mata sang bayi, semakin besar juga kebencian membuncah dalam hatinya.