Hugo membelalakkan matanya. Ia meringis sakit. “Apa yang kau lakukan, Melia?” Hugo menampar pipinya dengan keras.
Plak.
Rasa perih menyerang wajah Melia membuat air matanya semakin deras. Melia yang masih gemetar memberanikan diri untuk bangkit dari tidurnya dan mendorong tubuh besar di atasnya itu dengan sekuat tenaga. Hugo terlihat cukup terpengaruh oleh tusukannya, karena pria itu sejenak kehilangan keseimbangan dan langsung merebahkan diri ke samping sambil memegang perutnya dan meringis.
Melihat Hugo yang tidak berdaya membuat Melia memajukan dirinya secepat kilat dan mencoba turun dari ranjang. Hugo yang melihat hal itu mencoba bangkit berdiri dan meraih tangannya Melia.
“Meliiiiaaaa.” Seru Hugo geram saat berusaha meraih tangan Melia tapi luput, membuat pria itu jatuh terjerembab di samping ranjang.
Melia masih berdiri sambil berjinjit tepat di depan laci sambil mengatur napasnya, dan melihat Hugo meringis kesakitan. Dengan gemetar, Melia membuka laci kecil di belakangnya, dan langsung menatap pistol itu.
“Me…lliii…aa.” Panggil Hugo saat ia melihat Melia mengambil pistol hitam kecil miliknya itu.
Melia meliriknya sejenak lalu perlahan tapi pasti meraih kimononya yang tergeletak di lantai dan menyampirkannya asal. Ia segera berlari membuka pintu dan menuruni anak tangga itu, dan meninggalkan Hugo yang sedang kesakitan di sana.
Buk…buk…buk..
Suara kaki telanjang Melia yang berlari turun terdengar sangat keras di malam yang sunyi itu. Napasnya tersengal. “Heh heh heh.” Ia terus menoleh ke belakang untuk melihat apa Hugo mengejarnya.
Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan keras Hugo. “Meliaaaaa…..DREW… tangkap wanita itu….”
Hekh.. napas Melia tercekat. Ia membuka mulutnya untuk mengambil oksigen banyak-banyak. Ia mengangkat kimononya agar bisa berlari lebih kencang. Tapi kemudian…
Buk.
Kepanikan membuatnya jatuh menggelinding dan tersungkur di bawah tangga. Kali ini tubuh dan kepalanya ikut terhantam ke sebuah lemari kayu. Ia meringis, memeluk tubuhnya sejenak dan melirik pistol kecil yang terlempar cukup jauh di depannya. Ia merangkak dengan tertatih meraih pistol hitam itu. Masih dengan tubuh gemetar, ia bangkit berdiri dengan cepat.
“Akhh..” erang Melia saat merasakan sakit pada pergelangan kakinya. Kakinya terkilir dan rasa sakitnya membuat Melia kembali jatuh terduduk di lantai.
Seorang pria berlari dalam kegelapan dan menghampiri dirinya. Jack, kekasih hatinya, cintanya, yang seharusnya menunggu di pintu masuk. Tapi pria itu malah menghampiri Melia dengan wajah panik.
“Melia, apa yang terjadi?” melihat Melia duduk di lantai membuat pria tinggi itu panik dan ikut berjongkok di lantai.
Melia memegang bahu pria itu dengan panik. “Jack.. Jack.. aku…aku…” Melia hanya menangis dan tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
Jack hanya mengangguk cepat seolah mengerti. “Kita harus cepat, Melia. Orang-orang tuan Hugo sudah mulai berkumpul.” Seru Jack sambil memegang bahu Melia membantunya berdiri.
Melia hanya bisa mengangguk cepat dengan napasnya yang masih tidak beraturan. “Heh heh heh. Jack…. Aku… menusuknya. Aku melihat banyak darah. Jack.. ia akan membunuh kita…” Melia terus meracau dengan bibir dan tangan yang gemetar. Ia berpegangan pada tangan kokoh Jack saat berusaha berdiri dan menyeimbangkan tubuhnya.
Jack memeluk bahu Melia dan membantunya berjalan. “Tidak apa, tidak apa, Melia. Ayo kita pergi…. Sebelum Drew menemukan kita.”
Jack mengeratkan pegangannya di bahu Melia, memapahnya yang mencoba berlari dengan kaki pincangnya. Sementara tangan wanita itu menggenggam erat pistol milik Hugo.
Jantung mereka masih berdebar kencang. Melia merasakan tangannya berkeringat dan menjadi lembab. Ia terus menggosoknya di piyamanya sambil memegang pahanya untuk menyangga kakinya yang sakit sambil terus mempercepat langkahnya keluar dari rumah besar itu.
Jack menuntun Melia dan melangkah pasti sambil menatap nanar pada halaman luas di depan pintu itu. Entah mengapa perasaannya tak karuan, napasnya tercekat di tenggorokannya. Seolah ia sedang berjalan menuju kematiannya sendiri.
Jack dan Melia sudah merencanakan pelarian ini selama satu bulan. Mereka terus mencari waktu yang tepat, namun tidak pernah mendapatkannya. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk melarikan diri hari ini. Sudah lama Jack mencari jalur pelarian melalui tanah perkebunan yang sangat luas itu. Ia yakin bisa membawa Melia keluar dari neraka ini melalui jalur itu. Mereka akan bersembunyi dan Hugo tidak akan bisa menemukannya.
Namun, satu hal yang mereka tidak tahu, bahwa tidak pernah ada yang lolos dari sang penguasa.
Jack dan Melia keluar melalui pintu kayu berornamen itu. Lalu segera mencoba berlari bersama walaupun Melia melakukannya sambil meringis, ia mengabaikan perih di pergelangan kakinya yang membengkak.
“Ayo, Melia.” Seru Jack yang sedang berlari sambil sedikit menarik tangan Melia.
Mereka berlari ke samping menuju jalan yang akan membawa mereka ke perkebunan. Namun kilatan cahaya aneh nan jauh di sana menggoyahkan mereka. Jack mengeratkan gandengan tangannya pada tangan Melia dan mencoba mencari jalan lain.
Buk..buk..buk..buk
Mereka mencoba berlari ke arah lain agar tidak tertangkap. Namun samar-samar terdengar suara langkah kaki yang mendekat.
Jack tidak dapat mendengar jelas dari mana arah suara itu. Ia hanya bisa mendengar debaran jantungnya dan jantung Melia yang begitu keras seolah jantung mereka akan meloncat keluar.
Jack menghalangi matanya dengan tangan kanannya saat melihat sekilas cahaya yang berkilat-kilat bagai petir. Cahaya itu berasal dari lampu yang dibawa oleh orang-orang suruhan Hugo.
Jack mundur lagi, mendadak tidak yakin akan langkahnya, mereka sudah dikepung.
“Jack, heh heh, aku tidak sanggup. Kakiku…” Melia meringis sambil menangis. Terlihat jelas ketakutan dan kesakitan di matanya.
“Melia, bertahanlah, aku pasti akan membawamu keluar dari sini.”
Melia mengangguk kuat-kuat walaupun rasa perih di kakinya sudah terlalu hebat. Ia hanya bisa menggenggam tangan Jack erat dan memasrahkan dirinya ke manapun kekasih hatinya membawanya.
Jack menatap nanar pada kegelapan di sekelilingnya. Kini suara-suara dan cahaya seolah mengepung dan mendekati mereka. Tidak ada jalan lain lagi. Jack dapat merasakan langkah kaki mendekat dalam kegelapan. Bukan hanya satu atau dua pasang kaki tapi banyak, entah berapa banyak, namun terdengar seperti pasukan yang mendekat.
Jack tidak berani menyalakan senter yang sedari tadi dibawanya. Ia takut cahayanya akan terlihat. Ia hanya menggenggamnya kuat di tangan kanan sambil tangan kirinya terus menggandeng Melia dan membawanya berlari kembali mendekati rumah utama, berharap bisa melarikan diri dari sana.
Buk..buk..buk..buk.. suara langkah kaki mereka berlari dan suara napas mereka yang tidak beraturan “heh heh heh”.
Melia bersumpah ini hal paling menegangkan seumur hidupnya. Ia tidak pernah membayangkan akan berada pada situasi seperti ini. Situasi yang menghadapkan mereka pada pelarian untuk tetap hidup.o Walaupun ia tau, sang penguasa tidak akan membiarkan mereka hidup.
Sambil terus berlari, Melia menggenggam kuat-kuat pistolnya. Ini pertama kalinya Melia menegang pistol. Ia tidak pernah memakainya, tapi ia tau caranya menembak. Ia tidak ingin menggunakannya. Ia benar-benar tidak siap untuk menggunakannya.
Jack berlari sambil sesekali melirik Melia yang berlari bersamanya dengan napas tersengal. Jack terlihat kehabisan napas tapi mencoba menguatkan dirinya. Seketika Jack mempercepat langkahnya. Ia bermaksud menuju gudang kecil di samping rumah besar itu untuk bersembunyi di sana sambil berharap pagi segera menjelang.
Namun ketika ia baru saja melangkahkan kakinya berlari di halaman depan yang sangat luas itu, puluhan lampu sorot langsung menyorot mereka seperti tahanan yang kabur dari penjara.
Seketika lampu-lampu di atas rumah dan pekarangan ikut menyorot mereka. Puluhan pria berpakaian hitam membawa pistol di tangan mereka kini telah nampak dan mengelilingi Jack dan Melia.
“Hekh..” Melia memekik kaget dan langsung mundur saat melihat orang-orang Hugo di sana. Ia mendekat pada Jack yang langsung mempererat pelukan di bahunya.
Jack dan Melia terus mundur hingga mereka menghentikan langkahnya saat para pengawal itu sudah mengelilingi mereka dengan sempurna. Melia membalikkan tubuhnya dan menatap nanar pada pemandangan di hadapannya itu.
Tidak ada suara yang keluar. Mereka hanya menahan napasnya dan membelalakkan mata saat melihat sang penguasa berjalan melewati pintu rumah besar itu, diikuti oleh Drew, pengawal setianya.