Bab. 7 - Pencuri Kecil

1105 Kata
Hari-hari berikutnya, Meisya lalui dengan bekerja di toko kue tersebut. Sebenarnya dia sangat risih dengan sikap dari putra sang majikan, tetapi Meisya tidak memiliki pilihan lain jika harus berhenti bekerja di sana. Tentu tidak akan mudah baginya untuk bisa mendapatkan pekerjaan seperti sekarang. Tidak terlalu berat, tetapi upahnya cukup lumayan. Setelah melihat jika ada karyawan baru yang cantik di toko mamanya, setiap hari Juan pasti datang ke sana. Pemuda itu seperti tidak memiliki kegiatan lain saja, padahal dia adalah seorang mahasiswa. Jika karyawan wanita yang lain merasa senang dengan kehadiran Juan yang tampan dan terkenal royal, berbeda dengan Meisya yang justru merasa tidak nyaman. Tatapan pemuda itu yang membuat Meisya merasa tidak nyaman karena Juan menatapnya dengan lapar. "Sya. Kamu dipanggil Mas Juan, tuh, disuruh ke ruangan Nyonya," kata salah seorang teman Meisya ketika gadis itu baru saja hendak makan siang. "Aku, Mbak? Aku sendiri atau sama Mbak Kesi?" tanya Meisya memastikan, seraya menunjuk wanita di hadapan. "Kamu sendiri, Sya. Udah, buruan sana! Jangan sampai Mas Juan marah karena kelamaan nunggu kamu." "Ada apa, ya, Mbak, kok, Mas Juan manggil aku? Apa aku berbuat salah?" Meisya nampak khawatir. Temannya yang bernama Kesi itu mengedikan bahu. "Aku juga enggak tahu, Sya. Makanya buruan ke sana biar kamu tahu ada apa dan enggak penasaran lagi." Kesi mendorong pelan punggung Meisya agar segera pergi untuk menemui Juan. Ragu, Meisya mengayun langkah menuju ke ruangan yang berada di samping kanan toko. Meisya kemudian mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati itu dengan pelan. Terdengar seruan suara bass dari orang yang berada di dalam, menyuruhnya untuk masuk. Meisya memutar knop lalu membuka pintu perlahan. Netranya langsung memindai seisi ruangan yang cukup lebar dengan desain interior yang terlihat nyaman. Ada satu set meja kerja di sana, juga sofa single yang berada di sudut ruangan. Meisya melihat Juan duduk dengan santai di sofa dan tersenyum menyambut kedatangannya. "Masuklah, Sya, dan tutup kembali pintunya!" Juan memerintah dengan suaranya yang terdengar tegas. Meisya melangkah masuk dengan perasaan cemas. Entahlah, setiap kali berhadapan dengan Juan, dia merasa terancam. Padahal selama lebih dari seminggu dia bekerja di toko kue tersebut, Juan belum pernah sekalipun menyakitinya. Hanya tatapan Juan saja yang seperti mengulitinya dan itu membuat Meisya khawatir sendiri. "Duduk, sini!" Perintah Juan lagi, seraya menepuk ruang kosong tepat di sampingnya. "Saya berdiri saja, Mas," tolak Meisya dengan halus. Sebagai karyawan, Meisya tentu merasa sungkan jika harus duduk bersebelahan dengan putra sang majikan. Selain itu, Meisya juga merasa tidak nyaman duduk berdekatan dengan Juan. "Maaf, tidak sopan rasanya jika saya duduk di sana," lanjut Meisya yang tak ingin Juan berpikir bahwa dia berani menolak perintah dari putra semata wayang majikannya. Terdengar Juan berdecak kesal. "Aku bilang duduk, ya, duduk, Sya!" Suara pemuda itu mulai meninggi. Sepertinya Juan marah atas penolakan Meisya. Meisya masih mematung di tempatnya, tak berani menatap pemuda itu. Hal itu membuat Juan semakin marah. Pemuda itu segera beranjak lalu mendekati Meisya. "Aku hanya menyuruhmu untuk duduk, Sya! Apa susahnya, sih, menuruti keinginanku? Aku bahkan tidak minta macam-macam, seperti jika dengan karyawan mama yang lain!" Juan berjalan memutari tubuh Meisya dengan tatapan nyalang ke arah gadis itu, membuat Meisya semakin terintimidasi. 'Apa maksud perkataannya tadi? Tidak memintaku macam-macam, seperti pada karyawan lain? Minta apa memangnya?' Dalam hati, Meisya bertanya-tanya sendiri. 'Aku harus menanyakannya pada Mbak Kesi. Dia pasti mengetahui sesuatu.' Tangan Juan yang tiba-tiba melingkar di pinggang ramping Meisya, membuat gadis cantik itu terkejut, dan reflex menyentak tangan kekar Juan. "Kurang ajar! Kamu berani menolakku, Sya!" "Maaf, Mas. Saya rasa, apa yang Mas Juan barusan lakukan itu tidak sopan, dan saya keberatan." Tegas, Meisya menjawab. Sebagai gadis yang dibesarkan di keluarga seorang pimpinan perusahaan, tentu Meisya diajarkan untuk bisa bersikap tegas. Meisya juga tidak perlu merasa takut karena dia tidak bersalah. Hanya saja, satu yang menjadi kekhawatiran Meisya, bagaimana jika setelah kejadian ini dia lalu dipecat? Juan berdecih, mendengar penolakan Meisya yang diungkapkan secara terang-terangan. "Aku tahu, kamu bekerja di sini karena butuh uang, kan? Aku akan memberimu lebih jika kamu mau menuruti keinginanku, Sya." "Saya memang butuh uang, Mas, tapi saya hanya mau melakukan pekerjaan yang baik, dan halal." Juan terbahak mendengar jawaban Meisya. Suara tawa pemuda itu sampai menggema di ruangan yang tertutup tersebut. Meisya sampai dibuat merinding, mendengar tawa Juan. "Bulshit! Pekerjaan yang baik dan halal itu hanya omong kosong semata, Sya! Nanti setelah kamu merasakan enaknya dan mendapatkan bayaran tinggi, kamu juga bakal ketagihan! Bahkan, kamu akan memohon padaku agar kubuat melayang meski tak kubayar sekalipun, sama seperti Listy dan Dinda!" Netra Meisya membola, setelah dapat menangkap apa yang dikatakan oleh Juan. Meisya mulai meningkatkan kewaspadaan. Dia harus segera meninggalkan tempat ini, sebelum hal yang tak diinginkan terjadi. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, bukan? Apalagi saat ini, mereka berdua berada di ruangan yang sama, hanya berdua, dan tertutup pula. Baru saja Meisya hendak melangkah mundur, tubuhnya sudah ditarik ke dalam pelukan Juan. Meisya seketika memberontak. Sekuat tenaga, gadis itu mencoba untuk melepaskan diri. Akan tetapi, apa yang dia lakukan sia-sia belaka. Tenaganya yang tak seberapa kuat, tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan tenaga Juan yang rajin berolahraga. "Lepaskan saya, Mas! Saya tidak mau! Saya tidak seperti mereka!" Meisya terus memberontak dan itu membuat Juan semakin mengeratkan pelukan agar mangsanya tidak terlepas. "Diam, kelinci kecil! Kamu tahu enggak, Sya. Aku sudah menantikan ini, sejak pertama kali melihatmu. Kamu membuat aku penasaran, Sya. Tangan dan kakimu aja seputih ini, bagaimana dengan bagian dalamnya." Satu tangan Juan mulai meraba lengan Meisya, sementara tangannya yang lain masih mencengkeram dengan erat pinggang gadis itu agar tidak terlepas. "Pasti menggairahkan jika melihatmu telanjang, Sya." Pemuda itu menengadahkan wajah Meisya agar melihat ke arahnya, membuat gadis berambut panjang tersebut dapat melihat kabut gairah di mata Juan. Meisya menggeleng kuat. "Tidak, Mas! Tolong, lepaskan saya! Saya tidak mau melakukannya! Ini tidak benar, Mas! Sadar, Mas!' Juan tidak mempedulikan penolakan Meisya. Pemuda itu mendekatkan wajah, hendak mencium bibir Meisya. Namun, secepat kilat Meisya membuang wajah, hingga hanya angin yang kemudian menampar bibir Juan. "Sialan kamu, Sya! Kamu benar-benar menolakku? Dasar, gadis miskin tak tahu diri!" Juan menyentak tubuh gadis itu dengan kasar hinga Meisya tersungkur ke lantai keramik yang dingin. "Cepat keluar dari sini!" usir Juan kemudian. Sakit, itulah yang dirasakan oleh Meisya. Akan tetapi, ini masih lebih baik, daripada dia harus dipaksa untuk melayani putra majikannya. Meisya segera bangkit, sebelum Juan berubah pikiran lalu menerkamnya seperti seekor serigala yang kelaparan. Baru saja Meisya membuka pintu ruangan sang majikan, bertepatan dengan mamanya Juan yang hendak masuk ke ruangannya. "Apa yang kamu lakukan di ruanganku, Sya?" "Dia mencuri uang di laci, Ma. Beruntung, aku memergokinya, dan menggagalkan aksi pencuri kecil itu!" sahut Juan, seraya tersenyum miring ke arah Meisya. bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN