Bagaimana pun cara Meisya membela dirinya, tetap saja dia dianggap bersalah. Sang majikan tentu lebih percaya pada putranya, daripada Meisya yang baru bekerja di sana. Meisya hanya bisa pasrah dan harus rela jika dirinya dipecat karena fitnahan Juan.
"Jangan dipecat, Ma. Kasihan kalau dia langsung dipecat."
Perkataan Juan yang diucapkan dengan begitu enteng, membuat Meisya menatap curiga pada pemuda tersebut. 'Apa lagi yang dia rencanakan?'
"Kalau tidak dipecat, nanti dia berulah lagi!" sahut sang mama, yang nampak masih marah pada Meisya. "Tidak-tidak! Pokoknya dia harus keluar dari sini!" lanjutnya seraya menatap tajam ke arah Meisya yang duduk di lantai.
"Beri dia kesempatan, Ma. Tidak ada salahnya 'kan, memberi kesempatan kedua. Siapa tahu dia berubah," bujuk Juan. "Mama jangan khawatir, Juan yang akan mengawasi dia selama dua minggu ini. Kebetulan, mulai lusa Juan liburan semester. Jika dalam dua minggu, dia menunjukkan kinerja yang tidak baik, Mama boleh memecatnya."
"Baiklah, terserah kamu saja."
Juan tersenyum penuh kemenangan karena sang mama berhasil dia bujuk. Sementara Meisya semakin dilanda kekhawatiran. Gadis belia itu takut jika Juan akan membalas dendam karena penolakan darinya.
'Apa. yang harus aku lakukan? Apa sebaiknya, aku berhenti bekerja saja dari sini?'
"Kamu harus tetap bekerja di sini untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kamu, Sya. Jika kamu tiba-tiba mengundurkan diri, maka kasus ini akan aku bawa ke kantor polisi!" ancam Juan yang seolah dapat menebak, apa yang dipikirkan oleh Meisya.
Meisya hanya bisa menghela napas, pasrah.
Hari berikutnya, Meisya tak lagi ditempatkan di depan, tetapi di dapur untuk membantu-bantu di sana. Di hari pertamanya bekerja di dapur, Meisya masih dapat bersantai karena pekerjaannya hanya membantu Baker menyiapkan apa saja yang dibutuhkan oleh wanita seusia Juan tersebut. Akan tetapi di hari berikutnya, Juan yang sudah libur memberinya pekerjaan yang sangat banyak, dan tak membiarkan gadis itu berleha-leha barang sejenak.
Mulai dari membersihkan dapur yang seharusnya dikerjakan oleh rekan Meisya yang lain, sampai membuang sampah di tempat pembuangan yang cukup jauh dari toko kue tersebut. Padahal, setiap sore petugas sampah juga pasti datang untuk mengambil sampah yang sudah terkumpul di tong sampah besar di sudut luar halaman. Selain itu, Juan juga meminta dilayani segala keperluannya, dan meminta pada Meisya agar diantar langsung ke ruangan sang mama.
"Sya. Nih, minum dulu." Wanita yang bekerja sebagai baker itu menyodorkan segelas jus naga kepada Meisya, begitu gadis itu baru saja masuk ke dapur setelah mengantarkan camilan sore untuk Juan.
"Makasih, Mbak Luly." Meisya segera meminum jus tersebut hingga tandas tanpa sisa. Sepertinya, dia sangat kehausan.
"Kalau minum, tuh, sambil duduk, Sya." Wanita yang bernama Luly itu memperingatkan.
"Hehe ... udah habis, Mbak." Meisya tertawa kecil.
"Lagian, buru-buru amat. Santai dulu, sini! Kita ngemil." Luly menepuk bangku kosong di sebelahnya. "Kerjaan kita udah selesai, Sya. Paling tinggal beres-beres dikit, sebentar juga kelar."
Meisya menggeleng. "Aku disuruh Mas Juan membeli bahan untuk membuat nasi kuning. Dia mau makan malam dengan menu itu, Mbak."
"Apa? Nasi kuning? Memangnya, si Juan sedang ulang tahun? Ada-ada aja anak itu." Luly geleng-geleng kepala sendiri, mendengar kelakuan teman lamanya itu.
"Dia, tuh, sebenarnya naksir sama kamu, Sya. Makanya Juan cari perhatian seperti itu sama kamu. Kamu peka dikit napa, jadi orang," lanjut Luly yang dapat menebak jika Juan menaruh hati pada Meisya. "Terima ajalah, Sya, jika suatu saat nanti dia mengungkapkan isi hatinya. Juan baik, kok. Dia juga royal."
Meisya hanya bisa menghela napas panjang. 'Andai Mbak Luly tahu kejadian yang sebenarnya, Mbak pasti tidak akan mendukung teman mbak itu.'
Ya, Luly juga karyawan lain memang tidak ada yang tahu kejadian kemarin karena Juan meminta pada sang mama untuk merahasiakannya.
"Meisya belanja dulu, ya, Mbak. Takut kesorean."
Gadis belia itu segera berlalu meninggalkan Luly, setelah berpamitan untuk berbelanja. Meisya tidak mau jika sampai dia kemalaman berada di toko kue tersebut karena setelah berbelanja, Juan juga menyuruh Meisya memasak untuknya. Beruntung, pasarnya cukup dekat, jadi sore ini Meisya tidak pulang terlambat.
Di hari-hari berikutnya, permintaan Juan semakin aneh-aneh. Sore ini, pemuda itu meminta dibuatkan rujak mangga. Sementara saat ini, sedang tidak musim buah tersebut. Sepertinya, Juan memang sengaja ingin membuat Meisya sengsara.
Luly yang mendengar keluhan Meisya, tertawa terpingkal-pingkal hingga wanita itu menghentikan kegiatannya yang tengah menghias kue. "Jangan-jangan, dia ngidam, Sya," kata Luly, setelah tawanya mereda.
"Entahlah, Mbak. Aku juga bingung."
"Ya, sudah. Sana, cari ke supermarket! Siapa tahu ada."
"Iya, Mbak Luly benar. Aku pergi dulu, ya, Mbak."
Juan yang tidak mau menerima alasan apa pun, membuat Meisya harus berkeliling supermarket yang jaraknya cukup jauh. Beruntung, Meisya mendapatkan manisan buah mangga di salah satu supermarket yang dia datangi. Hari telah mulai gelap ketika Meisya tiba kembali di tempatnya bekerja.
Ragu, Meisya membuka pintu ruang utama karena kios telah tutup, dan semua karyawan sudah pulang. "Mas Juan, Mas!" Meisya masih berdiri di ambang pintu, tak ingin melangkah masuk. Gadis itu meningkatkan kewaspadaan, sambil berdo'a dalam hati agar hal buruk tak terjadi padanya.
"Bawa masuk, Sya! Aku di sini!"
Terdengar seruan dari arah ruangan, di mana Juan biasa melatih otot-otot tubuhnya.
"Maaf, Mas. Manisan mangganya saya simpan di meja sini saja, ya. Saya harus segera pulang," balas Meisya dengan mengeraskan suara agar Juan mendengar.
Meisya melangkah dengan cepat untuk menyimpan manisan yang dia bawa, ke atas meja ruang utama lalu segera berbalik. Satu tujuannya, yaitu segera meninggalkan tempat tersebut untuk menghindari Juan. Namun, baru saja langkah Meisya sampai di ambang pintu, tangannya dicekal oleh seseorang.
"Lepas, Mas! Saya mau pulang," pinta Meisya ketika menoleh dan mendapati Juan tengah menatapnya dengan tatapan lapar. Sementara tangan kekar pemuda itu, mencengkeram kuat lengan Meisya.
"Turuti apa mauku dan aku akan melakukannya dengan lembut atau aku akan memaksamu dan membuatmu menjerit keenakan, Sya." Juan tersenyum seringai.
"Tolong, jangan lakukan itu padaku, Mas. Biarkan aku pulang." Meisya memelas, mencoba mengetuk nurani Juan agar tidak memaksanya.
Akan tetapi, pemuda yang saat ini tengah dirasuki nafsu setan itu segera menyeret lengan Meisya. Gadis itu terus meronta, sambil berteriak. Berharap, ada orang di luar sana yang mendengar teriakannya.
"Diam atau aku akan lebih kasar dari ini!" hardik Juan, menyorot marah pada Meisya yang terus saja memberontak. Juan bahkan dibuat kesulitan karena Meisya menggigit tangannya.
"s**t! Gadis sialan! Kamu sudah menyakiti tanganku!" bentak Juan, sambil mendorong tubuh Meisya dengan kuat dan menjatuhkan ke atas sofa, di ruang utama tersebut.
"Aw! Sakit, Mas!" jerit Meisya karena posisi kakinya melintir.
"Itu belum seberapa! Aku bisa lebih kasar jika kamu terus melawan!" ancam Juan sambil mengungkung tubuh Meisya.
"Tapi tenang aja, Sya. Aku tak setega itu. Aku memang akan membuatmu menjerit, tetapi bukan menjerit kesakitan. Akan tetapi, kamu akan menjerit kenikmatan semalaman bersamaku di sini." bisik Juan di telinga Meisya, lalu memberikan gigitan kecil di cuping gadis itu.
'Tidak! Tuhan, tolong aku. Aku memang bukan gadis suci. Aku sudah pernah ternoda sebelumnya, tapi izinkan aku memohon padaMu, selamatkanlah aku.'
bersambung. . .