“Madam… kemana semua satpam dan ajudan? Kenapa tak satu pun terlihat?” tanya Steve dengan suara tertahan, pandangannya menyapu setiap sudut ruangan yang gelap. Hazel menelan ludah, suaranya rendah tapi cukup jelas. “Aku yang liburkan mereka. Besok tanggal merah… setiap tahun selalu begitu. Mereka baru masuk setelahnya.” Ucapannya bergema di udara yang dingin, dan justru membuat segalanya terasa serba salah. Loli tiba-tiba merasakan panas dingin menjalar dari tengkuk hingga ke ujung jari. Butiran keringat dingin mulai bermunculan di pelipisnya. Sesuatu di dalam benaknya seperti terpicu—sebuah kenangan kelam yang selama ini terkubur dalam diam. Bukan karena ia sengaja menekannya. Tapi karena rasa sedih dan sakitnya terlalu dalam, tubuhnya sendiri memilih untuk mengubur memori itu jauh di

