Mobil hitam meluncur lambat di bawah lampu neon Paris yang berkelip. Di luar, kota itu tampak tak pernah tidur, namun malam ini jalanan menolak memberi ia ruang. Truk, taksi, dan mobil pribadi berjejalan seperti arteri yang tersumbat. Klakson bersahut-sahutan, udara malam berbau bensin dan hujan yang belum sempat turun. Maya menekan pelana jok, pandangannya bolak-balik ke layar ponsel. Sekali lagi ia membaca pesan tanpa nama itu, kalimatnya masih menempel di kepala seperti debu yang tak mau hilang: “Cari saja aku kalau kalian bisa? Atau… kali ini kalian mau kehilangan kedua putri kalian.” Jantungnya berdebar, jari-jarinya mengetip tak karuan. “Oh my God! Apa ada kecelakaan, ya? Kenapa jalanan bisa macet separah ini?” keluh Maya dengan nada kesal, matanya menatap keluar jendela yang dipen

