“Brengsek.” Ivan mengumpat pelan, tapi cukup tajam untuk memantul di dinding kaca gudang tua itu. Napasnya berat, bahunya naik turun, sementara layar ponsel di tangannya menampilkan daftar properti terakhir yang baru saja mereka periksa, ternyata hasilnya tetap sama, kosong! Tak ada tanda-tanda Santi. Seolah wanita itu lenyap begitu saja, seperti menguap, ditelan bumi tanpa jejak. Jeremy berdiri di sebelahnya, tangan bersilang di d**a. “Kita mau ke mana lagi? Semua lokasi udah kita sisir.” Nada suaranya datar, tapi jelas ada frustrasi di baliknya. Ivan memejamkan mata sebentar, berusaha menahan amarah yang sudah di ujung. “Papa udah telepon barusan,” katanya pelan. Ia menatap kosong ke luar jendela. Kota Jakarta terbentang di bawahnya, sunyi, hanya lampu jalan dan bayangan kendaraan

