Madam Maya menatap wajah putrinya lekat-lekat. “Kamu serius, sayang?” tanyanya pelan, memastikan. Hazel mengangguk mantap. “Serius, Ma. Di liontin itu memang tertulis nama Mama. Aku ingat banget kalung itu… dulu Mama sering nunjukin ke aku, kan?” ucapnya lembut, sedikit bernostalgia. Maya menarik napas pelan. “Kamu masih punya kontak Madam itu, Hazel?” Hazel menggeleng. “Enggak, Ma. Memangnya untuk apa?” Maya tersenyum samar, tapi matanya tampak dalam, seperti sedang menyusun sesuatu di pikirannya. “Hazel… kalung itu bukan sekadar perhiasan, sayang. Itu simbol keluarga White. Kalung itu akan diwariskan ke putra atau putri yang menikah, dan liontinnya akan diganti sesuai nama pemilik barunya.” “Sepenting itu, Ma?” tanya Hazel, sedikit heran. “Ya iyalah, Mbak. Ntar kalau Mbak Hazel ni

